Jakarta Tanggap COVID-19

Data Pemantauan COVID-19 Nasional dan DKI Jakarta

21 Januari 2020 sampai hari ini

KENTUT






Orang yang TIDAK JUJUR
Orang yang kalau kentut selalu menyalahkan orang lain

Orang GOBLOG
Orang yang nahan kentut berjam-jam sampai sakit perut

Orang yang BERWAWASAN LUAS
Orang yang tahu pasti kapan harus kentut, kapan harus tidak

Orang SENGSARA
Orang yang ingin sekali kentut tetapi tetap tidak bisa

Orang MISTERIUS
Orang yang jika kentut, orang lain tidak pernah ada yang tahu

Orang GUGUPAN
Orang yang sekonyong-konyong nyetop kentutnya sebe-
lum habis...(kentutus interuptus.. ...)

Orang PERCAYA DIRI
Orang yang sangat yakin bahwa bau kentutnya harum...
(kentuta aromatica... )

Orang SADIS
Orang yang kalau kentut lalu dikibas-kibaskan ke temannya

Orang PEMALU
Orang yang kalau kentut lalu malu sendiri sudah terlanjur kentut

Orang STRATEGIS
Orang yang kalau kentut selalu berhasil mengalihkan perhatian
orang-orang di sekitarnya, sehingga tidak memikirkan kentut lagi

Orang BODOH
Orang yang kalau habis kentut selalu menarik napas dalam-dalam
buat nukar kentutnya yang keluar...

Orang HEMAT
Orang yang kentutnya diatur keluar sedikit-sedikit, atau kentut-
nya diputus-putus menjadi paling sedikit 7 potong

Orang SOMBONG
Orang yang senang mencium bau kentutnya sendiri

Orang RAMAH
Orang yang senang mencium bau kentut orang lain

Orang TIDAK RAMAH
Orang yang kalau habis kentut matanya melotot lalu marah-marah

Orang KEKANAK-KANAKAN
Orang yang senang kentut di dalam air sehingga berbunyi
'blekuthuk-blekuthu k'

Orang ATLETIS
Orang yang kentut selalu sambil mengejan

Orang JUJUR
Orang yang selalu mengakui kalau habis kentut...

Orang PINTAR
Orang yang mampu mengidentifikasi bau kentut orang lain

Orang SIAL
Orang yang selalu dikentuti orang lain

Orang KURANG KONTROL DIRI
Orang yang kalau kentut selalu terikut 'ampas'nya

Orang TIDAK IKHLAS
Orang yang mencium kentutnya sendiri, tetapi orang lain
yang 'muring-muring'

Orang SOK AMAL
Orang yang kalau kentut dikeluarkan sekuat tenaga hingga
terikut ampasnya

Orang TIDAK NGGENAH
Orang yang kalau kentut, tempat keluarnya disumpal
peluit atau terompet agar berbunyi nyaring...

Orang TIDAK UMUM
Orang yang kalau kentut selalu dilagukan... .

Orang PENSIUNAN PRAJURIT
Orang yang kalau kentut, diputus-putus sehingga seperti bunyi
senapan

Orang TIDAK SABARAN
Orang yang mengejan untuk kentut, tidak keluar, malah
yang keluar wasir-nya... . hahahahaaaa

Orang SOLO/YOGYA (mohon maaf bagi yang bertanah air
Yogya - Solo)
Orang yang kalau kentut dibuat pelan dan puanjaaaang sekali
sehingga dapat dilagukan seperti tembang Campursari.. .. hussy!

Orang KURANG KERJAAN
Orang yang senang mendiskusikan tentang kentut (seperti yang
baca... hahaha.... sudrun...!)

Orang GENDHENG
Orang yang menginvestigasi ciri-ciri orang lain dikaitkan dengan
performance kentutnya... . (seperti YANG NULIS... hahahahahaaaaa. ...)


Ki Denggleng Pagelaran
http://wfbc. netfirms. com/

TANTANGAN DARI VALENS DOY

PUASA sebentar lagi akan berakhir. Di bulan suci seperti ini saya teringat sebuah tantangan besar yang diberikan guru jurnalistik saya. Namanya Valens Doy. Dia mantan wartawan senior Harian Kompas. Kejadiannya sekitar akhir tahun 2002.
WAKTU itu mendekati Pemilu 2004, mantan KSAD sekaligus Menpen Jenderal R Hartono mendirikan sebuah partai bersama tokoh Golkar Ary Mardjono. Namanya Partai Karya Peduli Bangsa, berdiri 9 September 2002.
Om Valens –biasa saya memanggil dia—yang ketika itu ditunjuk menjadi konsultan Harian Surya meminta saya agar mengerahkan semua kekuatan (wartawan) di Biro Jakarta agar melakukan wawancara khusus dengan R Hartono. “Saya sediakan dua halaman dan wawancara dibuat tanya jawab. Besok sudah harus ada,” pesan Om Valens.
Hari itu juga saya panggil Erik, wartawan Persda. Dia saya perintahkan segera menghubungi R Hartono. Lagi-lagi ia kesulitan mencari kontak personnya. Selanjutnya ia saya suruh mencari alamat rumah R Hartono melalui jaringan wartawan lain. Akhirnya alamat rumah di kawasan Kebayoran Baru ditemukan juga.
Malam itu juga Erik bergegas mendatangi rumah R Hartono. Sesampainya di sana ia bertemu dengan sejumlah petugas TNI yang selama ini menjadi ajudan R Hartono. “Bapak masih ke Bandung. Trus saya harus kemana lagi?” tanya Erik kepada saya melalui telepon. “Tongkrongi sampai pagi. Tunggu beliau pulang dari Bandung,” kata saya.
Sekitar pukul 08.00 pagi, Erik telepon kembali. Ia mengabarkan bahwa R Hartono belum pulang. “Apakah saya harus cabut?” “Okey silakan… “ Selanjutnya saya kirim satu reporter lagi sebagai pengganti Erik. Hasilnya sama saja. Sementara Om Valens sudah krang… kring… ke Biro Surya di Jakarta.
Kepada Om Valens saya katakan bahwa kita sudah tempatkan dua reporter sejak semalam di rumah R Hartono. Tapi beliau masih ke Bandung dan sampai saat ini belum ketemu. “Mas Bec…Boleh tanya enggak? Jarak dari Jakarta ke Bandung jauh tidak? Berapa jam? Lalu naik apa kesana? Masak enggak bisa kirim orang.” Saya katakan, perintah siapppp... dilaksanakan komandan!
Persoalannya dimana posisi R Hartono di Bandung? Itu yang menjadi PR kedua. Semua ajudannya bungkam. Alamatnya juga tak terendus. Saya lagi-lagi telepon ke Om Valens melaporkan perkembangannya. Om Valens tetap tidak mau mendengarkan alasan saya. “Kalian wartawan… pakai akal dong… Masak mencari satu orang saja enggak bisa? Om dulu ketika muda juga begitu. Pokoknya, jika dua hari lagi Om buka koran lalu enggak ada foto dan hasil wawancara dengan R Hartono di Harian Surya, you... saya copot jadi Kepala Biro Surya. Enggak usah jadi bos di Jakarta. Pulang saja ke Surabaya,” ancamnya.
Tantangan itu sudah di depan mata. Persoalannya bukan karena takut dicopot atau tidak. Ini adalah tanggungjawab saya sebagai pimpinan sekaligus wartawan. Seberat apapun tugas, saya tidak boleh setengah-setengah. Semuanya harus tercapai, kalau kita ingin profesional di bidang jurnalistik.
Sejak itu, saya harus memutar otak lagi. Ehm.... Bagaimana ya caranya bisa melakukan wawancara khusus dengan R Hartono? Pikirku, dalam hati. Sejumlah wartawan yang biasa ngepos di Istana Presiden, saya kontak satu persatu. Siapa tahu mereka masih menyimpan kontak personnya. Alhamdulillah, salah seorang wartawan yang biasa dekat dengan Mbak Tutut memberikan kontak personnya. Dia wanti-wanti kepada saya agar tidak menyebutkan namanya kalau R Hartono tanya dari siapa saya mendapatkan nomor handphonenya.
Saya coba mengontak dia. Lagi-lagi HP tidak diangkat. Saya merenung sejenak… mencari ide atau siasat bagaimana caranya sang jenderal mau mengangkat telepon saya. Sambil merokok di ruangan kerja seorang diri… muncul ide baru. "R Hartono harus dikirimi SMS."
Persoalannya kalau isi SMS-nya hanya meminta wawancara, belum tentu ia bersedia meladeninya. Maklum, selain berbintang empat dia juga Ketua Umum PKPB. Untuk itu butuh siasat atau trik yang benar-benar kena. Saya terus mencari akal… bagaimana caranya misi yang akan kami jalankan bisa tembus.
Ehmmm… Tuhan rupanya memberikan ide brilian lengkap dengan kata-kata yang harus saya kirim. Kira-kira begini isi SMS-nya. “Assalamualaikum Wr Wb. Saya selalu berdoa agar Pak Hartono dan keluarga dilindungi Tuhan, diberi kesehatan, diberi umur panjang. Saya bersyukur di era reformasi ini bapak selamat dari fitnah. Banyak tokoh Orde Baru yang kena fitnah.” Di bawah SMS itu saya tulis identitas saya. Tanpa rasa takut, saya tendang SMS itu ke HP sang jenderal.
Setengah jam kemudian HP saya berdering. Rupanya sang jenderal merespon balik. Ia tanya identitas saya. “Anda dapat nonor saya dari mana?” tanyanya. Saya katakan bahwa saya adalah orang yang pernah mengenal Anda ketika Anda menduduki jabatan sebagai Pangdam V Brawijaya, Jawa Timur. Memang dulu ketika ia jadi Pangdam saya sering bertemu dia dalam berbagai kesempatan untuk wawancara. Saya akui, saya kenal nama dan wajah dia, tapi dia belum tentu kenal saya. He..he..he….
“Anda dapat nomer telepon saya darimana?” tanyanya berulangkali. “Lho… saya kan cukup lama bertugas menjadi wartawan di Istana Presiden. Dulu ketika bapak jadi Menpen, saya sering melakukan wawancara dengan bapak. Mungkin bapak lupa dengan wajah saya,” kata saya berbohong.
“Apa maksud kamu kirim SMS?” “Begini Pak… Bapak mestinya bersyukur lho dijauhkan dari fitnah. Selain itu saya mau melakukan wawancara khusus soal partai yang bapak dirikan. Apa ada waktu?” “Okey kalau begitu selesai shalat Jumat kamu datang ke rumah. Tahu alamatnya kan? Saya tunggu ya.... Kantor kamu dimana? Oh… dekat dengan rumah saya.”
Esoknya, saya ajak Dahlan, wartawan Harian Surya di Biro Jakarta. Karena yang didatangi orang besar, kami terpaksa jaga gengsi. Kami berdua rencananya pinjam mobil inventaris kantor. Usai shalat Jumat di Masjid di dekat Harian Kompas, saya kembali menuju ke kantor. Di tengah perjalanan, R Hartono tiba-tiba telepon. “Posisi kamu dimana? Janjian sama jenderal seenaknya. Kemarin kamu kan bilang selesai Jumatan. Kok sekarang belum datang juga?” teriaknya.
“Siap jenderal… saya masih di kantor dan akan meluncur.” “Berapa lama?” “Siap jenderal kira-kira setengah jam.” Selanutnya saya dan Dahlan meluncur ke rumah R Hartono di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta. Sesampainya di jalan yang dituju, saya berhenti tepat di depan sebuah rumah nomor 6. “Lan... silakan turun dan tanya apakah benar itu rumah R Hartono?” Ketika Dahlan --kini menjadi Wapemred Harian Tribun Timur-- turun dari mobil, hati saya sedikit bertanya, “Masak seorang jenderal kok rumahnya biasa-biasa saja? Ah kagak mungkin… Pasti keliru dah…”
Setelah bertemu dengan penghuni rumah Dahlan melapor ke saya bahwa rumah R Hartono ada di seberang jalan. “Okey Kak Lan… sampean jalan kaki saja, saya muter dulu kesana…” Saya lihat dari kaca spion, Dahlan berjalan melewati jalur hijau dan nyeberang menuju ke rumah Hartono.
Di samping pintu pagar rumahnya ada pos penjagaan. Sejumlah anggota TNI terlihat berjaga-jaga.. Ketika saya turun dari mobil, saya lihat Dahlan sedang adu mulut dengan beberapa anggota TNI. Tentara itu sempat membentak-bentak Dahlan. Saya dengarkan inti persoalannya, lalu saya potong. “Maaf… kami sedang puasa. Kami datang kesini atas perintah Jenderal R Hartono…” Para ajudan R Hartono mau memahami ucapan saya, tapi ada jua tentara wanita masih ngomel, mengerutu. Ada kemungkinan, Dahlan slonong boy… alias kurang basa-basi sedikit ketika berhadapan dengan anggota militer.
Baru semenit di depan R Hartono, telepon di penjagaan berbunyi. Rupanya sang tuan rumah memerintahkan kami untuk masuk ke dalam rumah. Selanjutnya kami disuruh masuk ke ruang tamu. Ruang tamunya cukup luas dengan berbagai macam lukisan yang terpajang di dinding ruangan. “Assalamualikum Pak. Apa kabar?” sapaku kepada R Hartono ketika ia masuk ke ruangan tamu lengkap mengenakan peci warna putih dan baju koko (muslim).
“Sebelum Anda wawancara, saya mau tanya. Siapa yang memberi nomer saya kepada kalian ?” Saya jawab seperti semula. “Di Istana Presiden dulu, saya dekat dengan Mbak Tutut Pak… Kami sering melakukan wawancara.” R Hartono terdiam. Ia lalu meminta saya untuk mengajukan pertanyaan. Dua tape recorder –satu sebagai cadangan seandainya kaset rekaman tidak sempurna—saya letakkan di atas meja. Wawancara berlangsung cukup lama, sekitar 1,5 jam.
Setelah itu kami pulang kembali ke kantor. Hasil wawancara itu saya transkrip dengan Dahlan. Side A saya yang mengerjakan, side B Dahlan yang mentranskrip. Selesai menuliskan hasil wawancara, naskah saya tending via FTP ke Harian Surya. Besok, wawancara kami dimuat di halaman dalam satu halaman bersambung. Esoknya lagi, ada satu tulisan lagi di halaman yang sama… Erik, wartawan kami yang membaca tulisan itu terheran… heran… “Kok bisa ya?” Jawab saya pendek. « wartawan kerja bukan dengan dengkul, tapi dengan otak...” Kata-kata itu saya kutip dari H Agil Ali, Pemimpin Umum Harian Memorandum. Saya dulu penah bekerja disana bersama Basuki Subianto, mantan Redpel Harian Surya dan Pemred Banjarmasin Post. Sekarang Basuki menjadi pengusaha dan sudah menerbitkan sejumlah buku diantaranya berjudul : Mengubah Tidak Mungkin Menjadi Mungkin : Pengalaman Berbisnis dengan Sandaran Al-Quran. Bagaimana dengan Om Valens? Dia merasa puas dengan hasil kerja kita, hasil kerja murid-muridnya yang berguru sejak tahun 1989 di Surabaya.... Kini om Valens telah tiada. Ia pergi meninggalkan ilmu dan nama besar di mata murid-muridnya. Terima kasih Om...
(achmad subechi)

Wartawan ... Oh Wartawan


Ditulis Oleh Administrator

Friday, 20 July 2007

Oleh : Rishag Andiko

KabarIndonesia –

Semakin hari semakin banyak saja kisah duka yang dialami oleh para perajin berita (baca: wartawan). Mulai dari kasuspemukulan, penangkapan dan pada musim perang ini bertambah satu lagi yakni: penembakan. Kita dengar juga baru-baru ini berbagai kejadian di Indonesia tentang berbagai kekerasan terhadap kuli disket ini.

Masih segar pada ingatan saya kasus enipuan oleh seorang yang mengaku-aku wartawan. Dan tidak tanggung-tanggung media yang diakuinya adalah majalah berita mingguan TEMPO. Koran Tempo kamis 9 Maret 2006 pada halaman A8 menulis, "Wartawan Tempo Gadungan Disidang". Kejadian itu berlangsung di kota Kediri Jawa Timur dansang "oknum" berhasil menipu 12 orang calon Pegawai Negeri Sipil(PNS).

Indonesia adalah sebuah negara yang sangat-sangat unik. Entah berapa banyak Undang-undang dan Peraturan yang dikeluarkan. Entah berapa puluh Komisi atau Komite yang telah lahir. Dan entah berapa lusin Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) bermunculan. Apalagi setelah tumbangnya rezim orde baru. Namun karakter - ya sudah menjadi karakter - untuk hidup sebagai "pesulap" tetap subur. Semua orang maunya serba cepat dan instan. Sim salabim - Abra kadabra!

Peraturan dan undang-undang biarlah menjadi peraturan dan undang di dalam buku saja. Padahal untuk mencetak buku peraturan dan buku undang-undang tidak sedikit dana yang dikeluarkan dari APBN. Belum lagi biaya rapat sebelum-sebelumnya. Apa sih yang tidak selesai dengan uang? Siapa sih yang tidak perlu uang? "Semua Bisa Diatur", kata seorang kawakan yang juga diplomat dan seorang negarawan, mantan Wakil Presiden (Alm.) Adam Malik. Semua orang maunya serba mudah dan gampang.

Coba bayangkan! Apa jadinya kalau seorang calon PNS melakukan penyogokan untuk bisa menjadi PNS sungguhan? Yang pasti, setelah menjadi PNS yang mereka pikirkan bukanlah pengabdian dan pelayanan. Namun "pengembalian modal" yang telah dihabiskan untuk memuluskan dan meluluskan dirinya menjadi PNS. Dan gilanya lagi, calo mereka adalah wartawan. Wartawannya gadungan pula. Lengkaplah sudah kebobrokan mereka.

Kalau tidak salah, sekitar bulan Maret-April 2002, Media Indonesia pernah memuat hasil survey yang menyebutkan sekitar 45% calo yang berkeliaran di Polda Metrojaya adalah "wartawan". Kontan saja Kepala Humas (waktu itu) AKBP. Anton Bahrul Alam didaulat untuk memberikan penjelasan oleh teman-teman wartawan yang protes. Dengan adanya UU no. 40 tahun 2000 memicu munculnya bermacam-macam media cetak. Ada yang berupa tabloid, koran mingguan, majalah, buletin dan sebagainya. Ada yang bertahan hidup dan terbit terus karena mendapat tempat di hati pembacanya. Ada pula yang senen kemis alias koran tempo yang tempo-tempo terbit tempo-tempo nggak Tidak jelas alias abal-abal. Dan dunia wartawan adalah dunia yang menggairahkan.

Seorang dengan tanda pengenal "PERS" saja bagaikan memiliki "kunci inggris", kemana saja masuk - aksesnya menjadi luas dan lebar. Lancar dan bebas hambatan. Yang diperlukan hanya sedikit mental ekstra berani dan muka tembok. Wartawan sejati sudah pasti gerah dengan tingkah mereka. Oleh karena itu mereka menjuluki dengan berbagai istilah seperti; wartawan gadungan, wartawan tanpa surat kabar, wartawan bodreks, wartawan abal-abal dan sebagainya.

Sebuah kantor dinas Pemda DKI Jaya memasang poster ukuran A3 yang isinya melarang wartawan masuk. Ini menggelikan sekali. Barangkali pejabat di sini sudah kewalahan dan capek oleh ulah wartawan, yang itu tadi - bodreks. Tapi masa bodo! Kehidupan harus terus berjalan. The show must go on. Dapur harus tetap ngebul. Tidak heran kalau zaman dulu - sebelum kebebasan pers - banyak juga orang yang berani mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk bisa menjadi wartawan. Bahkan untuk sekedar punya Kartu PERS, yang sakti itu. Kini setelah kebebasan pers, hanya dengan puluhan ribu rupiah saja bisa memiliki kartu identitas wartawan. Lebih gila lagi bisa dibuat sendiri. Disain dengan komputer lalu tambahkan foto hasil jepretan handphone. Jangan lupa mencantumkan 4 huruf ajaib PERS. Setelah itu dicetak kemudian dilaminasi terus diberi tali. Dengan menggantungkannya di leher maka urusan membuat KTP, SIM, Paspor biasanya menjadi lancar. Berurusan dengan aparat atau birokrat bisa jadi cepat. Bahkan ada yang menggantungkan di kaca spion mobil di bagian dalam. "Sekadar menghindari tilang", demikian alasan mereka. Banyak hal luar biasa bisa menjadi biasa. Bisa melihat Presiden dari dekat. Mau dekat dengan menteri atau anggota DPR? Ikut wawancara dan menikmati

kecantikan artis jelita. Berteman dengan pengacara kondang. Atau sekadar mau nongol di TV tinggal berdiri dibelakang orang yang sedang diwawancarai sambil ikut menempelkan alat perekam. Apa lagi kalau ada "jumpa pers", bisa makan enak, kenyang dan dapat uang pula.

Beberapa media papan atas negeri ini merasa perlu untuk mengumumkan: "Wartawan kami dilengkapi dengan tanda pengenal dan tidak diperkenankan meminta, menerima apapun dari nara sumber". Jelas! Kalau ketahuan? Bisa dipecat. Kalau tidak ketahuan? Ya, Makin Asyik Aja! Menghadiri jumpa pers, konsekwensinya berita itu harus dimuat atau ditayangkan. Secara moral sang wartawan, perajin berita, telah tergadai oleh, sebutlah, uang transport, uang rokok, uang lelah, uang pulsa dan sebagainya. Padahal penayangan sebuah berita adalah hak redaktur atau dewan redaksi. Layak atau tidak sebuah berita bukanlah kewenangan kuli keyboard ini.

Cukup menarik untuk disimak, sebuah kasus pada koran mingguan terbitan Bekasi yang memuat di halaman depannya "Uang Transpor Sudah Diterima tapi Berita Tidak Ditayangkan" dengan sasaran tembaknya kru sebuah stasiun televisi papan atas negeri ini. Kita tentu bertanya, apa jadinya bila wartawan dapat "dibeli", dimana perannya sebagai social controller? Apa manfaat Kode Etik Jurnalistik?

Namun senikmat-nikmatnya jadi wartawan tidak sepenuhnya berjalan mulus-mulus saja. Kasus majalah berita mingguan TEMPO dengan Tomi Winata, misalnya. Juga kasus koran Indo Pos dengan Hercules. Terus, wartawan koran Bernas, Udin yang hingga kini meninggalkan luka dan batu nisan. Pengalaman Bang Regar dan Bung Ferry dari RCTI di markas GAM. Wartawan Metro TV, Meutia Hafid, yang disandera di Timur Tengah.

Terakhir kasus kekerasan yang diterima beberapa wartawan di Papua. Akhirnya kembali lagi, mungkin karena kurang tersedianya lapangan kerja yang memadai menjadikan para pengangguran terdidik, intellectual unemployed, dengan gelar "sarjana" semakin kreatif.

Salah satunya adalah dengan menjadi wartawan. Apakah itu wartawan gadungan, wartawan spesialis jumpa pers, wartawan tanpa surat kabar, wartawan bodreks atau wartawan yang korannya Tempo Tempo Terbit -Tempo Tempo nggak. Entahlah?!

Blog: http://www.kuis-bola.blogspot.com/

Email: redaksi@kabarindonesia.com

Big News Today..!!! Let's see here www.kabarindonesia.com