|Gangguan KAMSELTIBCAR LALU LINTAS hubungi Call Center NTMC POLRI (Kode Area) "500669" atau SMS "9119", Darurat Kamtibmas Telp 110 (dari Telkomsel) atau 021-110 (dari selain telkomsel)|

A+ per detik

Lagi, FPI melakukan pemukulan terhadap aktivis AKKBB




Yesterday at 8:09pm
Kronologi Pemukulan terhadap Mohamad Guntur RomliKesaksian Mohamad Guntur Romli, saksi korban dari AKKBB yang dipukul di dalam ruang sidang, dalam Persidangan Kasus Tragedi Monas Berdarah, Senin 22 September 2008:Senin 22 September 2008 pukul 14.00, saya menjadi saksi kasus Tragedi Monas Berdarah 1 Juni 2008 di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat lantai 3. Ini kali kedua saya menjadi saksi, setelah sebelumnya saya menjadi saksi atas terdakwa Munarman. Saya memberikan kesaksian setelah saksi yang pertama yaitu Sugiono, pemilik truk yang membawa soundsystem yang dirusak oleh massa FPI.

Kesaksian saya kali ini untuk 7 orang Laskar Pembela Islam (LPI). Ruangan sidang yang sempit dipenuhi massa dari FPI. Dalam proses kesaksian saya, terdengar celetukan, hingga hujatan dari arah belakang saya, misalnya, "kesaksiannya palsu", "keluar dari Islam dia", "ntar tungguin di luar setelah selesai", dll. Suara-suara itu bercampur baur dengan teriakan "huuuuu..." dan teriakan-teriakan yang lain.

Ketua Majelis Hakim Bapak Makasau berkali-kali mengetok palu untuk memperingatkan massa FPI, dan mengancam mereka kalau tidak bisa tertib akan menghentikan sidang, dan memberikan sanksi pada mereka.

Setelah saya memberikan kesaksian, Majelis Hakim memberikan kesempatan pada 7 orang terdakwa untuk memberikan komentar/sanggapan terhadap kesaksian saya. Mayoritas dari mereka mengecam kesaksian saya, bahwa saya melihat ibu, orang tua, dan anak-anak dipukul di Tragedi Monas Berdarah itu. Salah seorang terdakwa malah menuding-nuding saya dengan kata-kata "elo..,elo.. gue.. gue". Hakim Ketua langsung memperingatkan dia, agar tidak bersikap seperti preman.Setelah selesai memberikan kesaksian saya dipersilahkan oleh Hakim untuk keluar. Posisi 7 orang terdakwa itu berada di dekat pintu keluar yang biasa dipakai oleh Majelis Hakim, Jaksa, Pengacara, Terdakwa dan Saksi. Nah, ketika saya melewati mereka, seorang dari terdakwa bernama Sunarto menendang kaki saya. Langsung balik badan dan menghadap ke
hakim, saya protes "Pak Hakim, kaki saya ditentang". Tiba-tiba, Subhan yang berada di dekat Sunarto, memukul kepala belakang saya. Kepala saya benjol dan pusing-pusing. Saya terus protes ke Hakim, "Pak saya dipukul".7 terdakwa dari FPI langsung mengepung saya, dan massa FPI yang berada di kursi pengunjung sidang juga mendekat ke arah saya. Keadaan semakin kacau, aparat polisi mulai masuk ruang sidang, dan mengelilingi saya. Subhan dan Sunarto masih berusaha memukul saya lagi. Ketika saya dibawa keluar dari ruang sidang, massa FPI terus mendekat, berusaha menembus pertahanan aparat kepolisian.

Selanjutnya aparat kepolisian mengevakuasi saya turun ke lantai 2 dan masuk ruangan saksi. Massa FPI digiring keluar arena Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, namun mereka masih berkerumun, menunggu saya keluar dari PN Jakarta Pusat. Kami, dari AKKBB, para saksi, pengacara, dan simpatisan berkumpul di lobi lantai dasar PN Jakarta Pusat. Ternyata
seorang teman kami bernama Soleh juga dipukul kepalanya karena berusaha melindungi kawan-kawan dari AKKBB yang berada di kursi pengunjung.

Karena suasana kacau, sidang pengadilan ditunda, termasuk sidang dengan terdakwa Machsuni Kaloko, Komandan Laskar Pembela Islam. Menurut aparat keamanan, massa FPI masih menunggu di jalan, di depan PN Jakarta Pusat.

Akhirnya kami dievakuasi dengan bis dan truk polisi yang membawa kami ke Polda Metro Jaya.

Tujuh terdakwa dari FPI itu tampaknya marah pada saya karena saya menyatakan bahwa saya melihat ibu, anak-anak, dan orang tua dipukuli di Monas. Dan memang benar, ada perempuan-perempuan yang menjadi korban, namanya Oming, Suci, lina, dll. Dan mereka telah memberikan kesaksian pada sidang sebelumnya baik Rizieq maupun Munarman.
Guntur menjadi korban dalam tragedi Monas. Foto ini sebelum dioperasi. Hidung remuk, dijahit puluhan jahitan dan dioperasi selama 3 jam. dirawat inap selama 5 hari


Ucu Agustin wrote
at 8:18pm yesterday
Teh Nong, kata mas santoso coba ajah ntar sewa polisi buat kawal kalian di persidangan. parah! polisi ada tapi nggak ngapa-ngapain, kecuali kalo dibayar. di tempat yang harusnya muliain hukum ajah mereka berani petetangan dan bikin kekerasan, gimana di temapt-tempat lainnya? emang udah pada sedeng tuh orang-orang.

gila! dah dua kali kejadian.
dan polisi diam doangggggggggggggggggg!!

*geram euy sayah.

Jason Iskandar wrote
at 8:56pm yesterday
gila,parah bgt ya...sedih ngedengernya...paraaaaah

Nanang Qodir wrote
at 9:27pm yesterday
Saya sangat mengutuk semua jenis kekerasan yang dilakukan oleh siapapun dan dalam bentuk apapun.

Khusus terkait kasus AKKBB Vs FPI adakah jalan yang lebih jernih dalam menyelesaikan persoalan?saya melihat diantara dua kubu lebih mengedepankan sikap "marah" dari pada kejernihan berfikir. Diantara kedua kubu rasa-rasanya saling memperkuat opini untuk saling menyerang.

Masalah ahmadiyah, kebebasan beragama, demokrasi, keyakinan dll seakan menjadi nomor sekian untuk diperbincangkan. Yang muncul hanyalah sikap saling menyalahkan dan memojokkan satu diantara yang lain

ketika saling menyalahkan adalah buah yang ditanam, masih adakah buah kebenaran yang dapat dipetik?

AKKBB & FPI adalah makhluk Tuhan yang sedang menghadapi masalah. Namun agaknya masih banyak lagi makhluk Tuhan yang menghadapi masalah yang lebih besar.
Kematian 21 orang pasuruan adalah potret nyata masalah bangsa yang menuntut perhatian kita semua

Salam damai

Bonni Rambatan wrote
at 10:29pm yesterday
Iya Mba Nong, sewa polisi aja kaya kata Mba Ucu. Kalo bisa pilih polisi yang non-Muslim, bukannya apa, tapi kita nggak pernah tahu polisi mana yang sebenernya pendukung FPI kalo dia Islam... Cari yang jelas" benci FPI aja, biar mereka nggak cuma diem doank.

Aquino Hayunta wrote
at 10:41pm yesterday
Polisi gimana sih? Nggak bisa jagain saksi ya? Mangkel banget aku denger cerita ini. Ini semakin membuktikan kalau FPI itu preman. Gayanya aja preman.

Nong, kamu dan guntur kok sulit dihubungin lewat HP ya?

Harry Wibowo wrote
at 11:42pm yesterday
Quo vadis Komisi (atau Komite?) Perlindungan Saksi dan Korban?!!
Anda-anda kan komisi yang dibentuk dan digaji negara, dari uang & pajak rakyat. Tugas dan kewajiban kalian untuk melindungi para saksi. Bahkan kalian diberi mandat untuk meng'address' kasus macam ini, dan me'redsress'-nya.

Rubyn Pojoh wrote
at 12:01am

Semakin menegaskan karakteristik yang sesungguhnya.
Akankah organisasi seperti ini masih tetap mau di biarkan ada
di bumi indonesia.......

Sampai kapan,kekerasan demi kekerasan akan di pertontonkan
dan akan jadi pemakluman di negri ini.

TOLAK SEGALA BENTUK KEKERASAN..............!!!!!!!!!!!!!!!!11

Harry Wibowo wrote
at 1:27am
Kutipan (terjemahan) Pasal 20 Kovenan Internasional Hak-hak Sipil dan Politik (1966) yang sudah diratfikasi RI dengan UU No.12/2005
1. Propaganda apapun untuk berperang harus dilarang oleh undang-undang.
2. Segala advokasi kebencian berdasarkan kebangsaan, ras atau agama, yang merupakan hasutan untuk melakukan diskriminasi, permusuhan atau kekerasan, harus dilarang oleh undang-undang.

Taufik Al Mubarak wrote
at 2:20am
Jahat sekali FPI, apa wajah ISlam sudah seperti itu??

Fitri Mohan wrote
at 4:25am
mbak nong, aku sampe nyaris speechless bacanya. emang orang-orang itu sinting bin miring. preman tapi bawa2 nama agama. ngerasa yang paling benar sendiri. dan polisi itu kayak nggak ada giginya kalo udah sama FPI. goblok bener2 goblok.

Mariana Amiruddin wrote
at 5:55am
Semakin jelaslah sekarang! Negara sudah bubar! Guntur, Nong kalau mau keamanan alias perang gw banyak stok 1 orang bisa lawan 10 FPI. Kalau memang negara tdak mau bertindak, kita harus menyatakan perang. Pada sibuk berpolitik sih.

Helga Inneke Agustine wrote
at 7:12am
Nong, teman2 kamu benar, jgn mati konyol smntara pjuangan blm slsi. Sewa polisi aja skalian mbuktikan mreka cm kerja kalo dbyr.... FPI, ini bulan puasa, Islam gak sih?

Ade Wahyudi wrote
at 11:50am
Sedih membaca kronologis ini, apalagi sebelumnya teman-teman lain juga mengalami hal yang sama.

Tapi disisi lain saya kagum kepada Nong, Guntur dan teman-teman AKKBB lainnya yang mau datang setiap persidangan..Meskipun terus mendapat teror dan penganiayaan. Saya yakin kalian semua merasakan takut, tapi kalian melakukan apa yang tidak bisa dilakukan banyak orang termasuk saya, yaitu mengalahkan rasa takut untuk menuntut keadilan.

Lain hal, banyak orang mengatakan jangan serius ngurusin FPI doang..ada banyak masalah lain seperti kemiskinan sehingga puluhan orang mati di Pasuruan. Ada juga kasus porong dsb..

Untuk orang yang berpendapat seperti ini, saya ingin mengatakan bahwa orang-orang seperti Anda ini yang membuat banyak masalah di Indonesia nggak pernah beres. Banyak pelanggar HAM bebas tanpa diadili karena pendukungnya akan bilang, banyak masalah yang lebih penting dari saya urusin yang lain dulu. Pada akhirnya tidak ada masalah yang selesai.

Masalah kemiskinan adalah persoalan lain yang memang harus diselesaikan. Tapi masalah penganiayaan oleh teman-teman AKKBB adalah masalah yang harus diselesaikan juga. Tanpa ada keadilan buat korban maka kekerasan seperti ini akan terus terjadi tanpa sanksi apapun.

Andi Harianto Sinulingga wrote
at 1:17pm
Sudah memang harus diperangi itu, apa yang dilakukan FPI itu jelas sekali bukan Islam, malah mencemarkan ajaran Muhammad SAW yang penuh kasih, damai, melindungi, menjadi rahmat bagi umat manusia. anak2 FPI uyang dilapangan itu tidak mengerti, para pimpinan yang mencuci otak mereka atas nama agama itulah yang kita harapkan mendapat hidayah dari Allah, kalau sudah sangat keterlaluan, maka tidak ada jalan lain, yaitu diperangi. ayoo perangi FPI.

J Heru Margianto wrote
at 1:36pm
FPI Gila! Sepertinya harus dipikirkan cara-cara yang irasional untuk melawan orang-orang yang gak punya otak. Percuma toh dialog dengan mereka wong otak aja mereka gak punya. polisi pun gak berdaya. lantas siapa yang bisa melindungi kita dari perilaku tak beradab itu? kita harus melindungi diri kita sendiri.

SECURITY SERVICE wrote:
Ditawarkan bagi Warga Negara Indonesia yang butuh pengamanan baik dalam keseharian maupun saat berhadapan dengan lembaga pemerintah terutama lembaga "hukum".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar