|Call Center NTMC POLRI (Kode Area) "500669" atau SMS "9119", Darurat Kamtibmas Telp 110 (dari Telkomsel) atau 021-110 (dari selain telkomsel)|

A+ per detik

Sketsa Mamberamo, Papua: Raibnya 17 Orang dan Uang Miliaran di Boat

Oleh: Iwan Piliang,
literary citizen reporter, blog prestalk.com


Di penghujung Juli 2009 di kantor Redaksi Cendrawasih Pos (Cepos) , Jayapura, saya terkesima melihat arsip Cepos pada 4 Maret 2009, menulis berita hilangnya sebuah speed boat dalam pejalanan dari Serui – Mamberamo Raya. Ikut raib 17 orang penumpang - - dua di antaranya anggota IWAPI Papua - - dan uang lebih dari Rp 2,5 miliar. Lima hari setelah peristiwa, terbunuh pendeta Zeith Kiriomah, konon tahu akan peristiwa ini. Di halaman sama, ada berita tentang tewasnya David Hartanto Widjaja, mahasiswa Indonesia di NTU, 2 Maret 2009. Di hari ke lima David tewas, mati pula Zhao Zheng, warga negera Cina. Dua peristiwa tragis dengan kematian lain di hari kelima. Berikut verifikasi awal peristiwa Mamberamo yang tak mengemuka ke media meianstream itu. Entah mengapa?.




SEBUAH speed boat sandar di pelabuhan Serui, Papua 3 Maret 2009. Ukurannya tidak terlalu besar. Dua mesin, masing-masing 40 PK sudah menempel di bagian belakang. Di badan boat melingkar garis oranye. Di Selasa pukul 09 pagi itu, muatannya 6 drum solar, setara 34 jerigen, beras lima karung, mie instan, air mineral, dua karton bir, dua cool box.

Laut tenang, langit biru.

Ada seseorang yang sempat mencatat.

Di badan boat bertuliskan: Saweri Hung Ai U Hupa

Perjalanan menuju Mamberamo Raya yang ditempuh sekitar 10 jam oleh speed boat itu hingga hari ini tidak berujung ke tepian..

“Kamu tak perlulah ikut ke sana,” ujar Suparmu Ibrahim. Kalimatnya kepada Atieka Saraswati, sang isteri, yang kini lenyap entah di mana rimba.

“Yah proyek di Memberamo kan banyak, untungnya bagus, saya mesti ikut, toh Nia ada,” jawab Atieka.

Karena faktor jarak, bank belum merambah Mamberamo Raya, proyek pengusaha di sana harus dibayar tunai. Dan, biasanya, keuntungan yang diperoleh pengusaha juga lebih bagus. Kenyataan itulah yang menggugah wanita pengusaha itu berkeras mara ke Mamberamo Raya.

Atieka anggota Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) Papua. Kepada Suparmu, ia mengatakan bahwa Rahmania, sesama anggota Iwapi, juga turut serta. Suami Rahmania, Sujadi, adalah anggota Polisi di Yapen.

“Kendati ada Nia, saya tetap merasa kuatir perjalanan itu,” ujar Suparmu.

Kekuatiran Suparmu itu lebih kepada rencana keberangkatan yang sudah tertunda sejak Senin.

Dan penundaan itu, dikarenakan seorang pejabat bernama Isak Muabuay, Kepala Bagian Umum, Setda, Pemda Mamberamo Raya, yang mencarter speed boat, mengalami mabuk, kebanyakan minum Miras, di sebuah pub di Serui sejak Jumat malam, 27 Februaari 2009. “Pesta” pejabat itu berlanjut malam Minggu, Malam Senin, sehingga jadwal berlayar Senin pagi harus ditunda Selasa.

Dalam verifikasi saya di lapangan dari 30 Juli sampai 4 Agustus 2009, kebiasaan pejabat pelesir di pub-pub menjadi langgam biasa di Papua.

“Bahkan saya pernah bersama seorang Bupati yang membelanjakan Rp 2 miliar tunai dalam semalam,” ujar Yamin, bukan nama sebenarnya, seorang manager hotel di Jayapura. Yamin biasa menyimpankan uang sang pejabat, membawakan jika dibutuhkan membayar minuman dan perempuan. Uang terendah membayar perempuan Rp 20 juta. Kebanyakan lebih.

Lain ladang lain ilalang, lain pula gaya kehidupan pejabat.

Alam Papua yang kaya, ditambah urusan Otonomi Khusus (Otsus) telah membuat sebuah dilema. Banyak anggaran melimpah ada di tangan pejabat. Otonomi khusus juga telah memberi kesempatan kepada penduduk lokal tampil sebagai pemimpin di daerahnya, namun amat disayangkan bila kesempaatan itu tidak digunakan membangun daerah, meningkatkan taraf ekonomi dan mutu peradaban ranah Papua nan jaya.

Maka ketika memandu konperensi pers di Hotel Papua, 3 Agustua 2009, menyangkut hilangnya 17 nyawa yang sedang menuju Mamberamo itu, saya menggugah kawan-kawan media mainstream Papua untuk mengawal jalannya pemerintahan daerah dan berpihak kepada warga, sesuai dengan amanah yang tertera di dalam elemen jurnalisme. Terlebih untuk kasus raibnya speed boat ini:

Mengapa pula sejak Maret pemberitaannya seakan senyap?

Saya perhatikan Ketua DPR Papua, John Ibo, yang di malam konperensi pers itu ikut mendampingi Suparmu Ibrahim, juga berharap sama. “Kasus ini harus kita ungkap hingga ke akar-akarnya,” ujar John Ibo. Saat itu hadir pula, Yanni, Ketua Iwapi Papua, juga tokoh salah satu tokoh masayarakat dari Mamberamo, Yoel Maitindom.

Dari dua kali pertemuan saya dengan Kabid Humas Polda Papua, Agus Arianto, dapat saya ketahui bahwa motorist yang mengemudikan speed boat bernama Gerson Wanggai alias John Wanggai, terindikasi sosok narapidana yang kabur. Ia membawa asisten yang menahkodai boat itu; Mario Wanggai, Michael Wanggai dan Lambert Wanggai.

Penumpang lain adalah: Ferdian Sunur, pengusaha, Toni Fonataba, Ayub Karobaba, anggota Satpol Air Polres Yapen, Jack Karobaba, PNS, Reba, Erna Samori, Iin dan Nurul Fatimah. Dari list nama ini, dua di antaranya isteri kedua dan adik ipar Isak Muabuay, sang pejabat, pencarter boat.

Deretan nama penumpang di atas hingga tulisan ini saya buat belum tahu nasib dan keberadaannya.

Pada hari kami melakukan konperensi pers di Papua, paginya berita ditemukannya pesawat Twin Otter Merpati mengemuka. Penumpang dan crew-nya tewas 16 orang, dalam perjalanana dari Sentani ke Oksibil. Dari Papua saya simak liputannya meriah di semua teve nasional.

Dalam logika pikir saya, urusan nyawa seakan berbeda aura liputannya. Berbeda meriah antara di udara dan di air atau laut. Padahal nyawa yang hilang sama bahkan lebih jumlahnya.




KORAN Cendrawasih Pos, pada 16 Maret memberitakan sebuah penemuan speed boat di Mamberamo. Menurut Suparmu, adalah Thomas Ondi, Kepala bagian keuangan Setda Mamberamo, yang mengaku memiliki itu boat.

“Thomas juga mengaku bahwa boat yang ditemukan itulah yang dipakai rombongan yang hilang itu,” tutur Suparmu.

Sebagai suami salah satu korban, Suparmu tak tinggal diam, ia mencoba melakukan pencarian. Mulai dari menelusuri perjalanan dengan boat yang bermesin lebih besar, mengajak Angkatan Laut, hingga menelusuri pelosok. Rute dan upaya pencariannya itu ia paparkan di foto-foto di Facebook-nya.

“Dan boat yang ditemukan itu bersih, putih polos, sama sekali tak ada tanda-tanda bekas mesin.”

“ Tidak ada atap, tidak berwana oranye di lingaran badan. Tidak ada tulisan: Saweri Hung Ai U Hupa!”

Begitu Suparmu menceritakan.

Jika demikian, bisa jadi boat itu hanyalah alibi.

Dan Suparmu melihat keanehan lain. “Pada tanggal 5 sampai 8 Maret, handphone isteri saya nyala. Tetapi dihubungi tidak menyahut.”

Sementara dari isteri penguasaha Fredie Sunur yang saya huibungi via telepon mengaku telepon satelit yang dibawa suaminya bernomor 0868811040388, sejak 4 Maret 2009 sudah tak bisa lagi dihubungi.

Selain motorist yang terindikasi narapidana kabur, ada lagi benang merah lain yang sempat dicatat Suparmu.

“Dari cerita penduduk ada salah seorang yang yang turun di tempat perhentian,” ujarnya.

Sosok yang turun itu berinisial JT. Ia pada 9 April 2009 tersangka membunuh pendeta Zeith Kiriomah. “Konon sang pendeta tak berdosa mengetahui bahwa JT menyimpan sejumlah besar uang, hasil kejahatan.”

“Dari yang saya ketahui di lapangan, dua buah cool box yang dibawa, juga berisi uang,” ujar Suparmu. Tentunya dana milik Pemda Mamberamo. Jumlahnya menurut perkiraan di atas Rp 4 miliar.

Selama di Papua pula, saya menjalin kontak dengan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat. Mereka menyanggah menyandera apalagi merampok. Perjuangan mereka, sebagaimana mereka sampaikan secara tertulis, membela kebenaran dan keadilan, bukan melakukan praktek kejahatan. Itu menurut mereka.

Nah, jika demikian siapa berulah?

“Sudah seharusnya kepolisian bergerak, apalagi benang merah yang dipaparkan bisa mengurut masalah, mulai dari napi yang kabur, pejabat yang mabuk, hingga pendeta yang tewas,” ujar John Ibo, Ketua DPR Papua. Dalam waktu dekat DPR Papua akan melakukan dengar pendapat dengan jajaran Polda Papua tentang kasus ini, untuk bisa diusut tuntas.

Sikap Ketua DPR Papua demikian, seharusnya membuat media bisa bekerja lebih terbuka. Media bukan bersembunyi di balik kekuatiran. Akan lebih disayangkan bila kekuatiran hanya urusan tidak kebagian angpau dari pejabat. Hingga di sini, tiada lain sebagai citizen reporter, saya berharap media di Papua, khususnya mengawal kasus ini, selain penegak hukum, kepolisian menyidik hingga tuntas. Sehingga laku bar-bar di ranah kehidupan yang kian hari seakan meninggi, bisa dibersihkan dini-dini! ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar