|Call Center NTMC POLRI (Kode Area) "500669" atau SMS "9119", Darurat Kamtibmas Telp 110 (dari Telkomsel) atau 021-110 (dari selain telkomsel)|

A+ per detik

Dianggap "Rudal", Menara Masjid Tidak Akan Terlihat Lagi di Swiss

Dengan dukungan 22 dari total 26 negara bagian, hasil referendum ini pun resmi menjadi bagian dari Konstitusi Swiss.

Menara tinggi dengan simbol bulan bintang di atasnya adalah ciri khas bangunan masjid. Selain sebagai ciri khas, menara tinggi sebuah masjid biasanya juga berfungsi sebagai medium untuk mengumandangkan adzan pertanda saatnya menunaikan ibadah sholat bagi kaum muslimin. Konstruksi bangunan masjid seperti ini diadopsi oleh komunitas muslim dimanapun di dunia ini. Namun, tidak di Swiss.

Sebagaimana dilansir situs Associated Press, negeri palang merah itu baru saja mengadakan referendum tentang menara masjid. Hasilnya, cukup mencengangkan. Mayoritas warga negara Swiss yang berpartisipasi dalam referendum sepakat untuk melarang penggunaan simbol menara pada bangunan masjid. 57,5 persen dari 2,67 juta pemilih mendukung referendum. Dengan dukungan 22 dari total 26 negara bagian, hasil referendum ini pun resmi menjadi bagian dari Konstitusi Swiss.

Referendum pertama kali digagas oleh Partai Rakyat Swiss. Partai berideologi nasionalis ini menamakan referendum ini "Menara sebagai simbol kebangkitan kekuatan politik muslim yang suatu hari nantinya akan mengubah Swiss menjadi negara Islam". Munculnya gagasan ini juga buah dari `provokasi' kalangan pemerhati HAM yang sempat menggelar unjuk rasa dengan spanduk bergambar menara yang diilustrasikan seperti misil pada bendera negara Swiss, dan sebelahnya terdapat gambar wanita dengan jilbab yang menutupi hampir seluruh bagian wajahnya.

Menara, oleh para pemrotes dianalogikan seperti ajaran Islam lainnya yang menoleransi praktek kawin paksa atau sunat perempuan. `Paranoid' para pemrotes juga dipicu oleh pernyataan Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan yang menyandingkan masjid dengan barak militer Islam. Tayyip bahkan mengatakan "menara adalah bayonet kami".

Sudah bisa ditebak, hasil referendum tersebut menuai kecaman, dari dalam maupun luar negara Swiss. Aksi protes langsung tersulut secara spontan di pelataran gedung parlemen Swiss, tidak lama setelah referendum diputuskan. "Ini bukan Swiss-ku," begitu bunyi salah satu spanduk pemrotes.

Mereka yang tidak setuju, memandang hasil referendum bias dan anti Islam. Kalangan pengusaha khawatir referendum akan merusak citra Swiss di mata masyarakat internasional serta mengganggu hubungan Swiss dengan negara-negara muslim.

"Swiss telah memberi sinyal yang buruk bagi nilai-nilai keberagaman, kebebasan beragama dan hak asasi manusia," ujar Omar Al Rawi dari organisasi Islamic Denomination di Austria. Protes juga dilancarkan oleh organisasi Amnesty International. Referendum ini, diyakini Amnesty, akan dibatalkan oleh Mahkamah Agung Swiss atau setidaknya Pengadilan HAM Eropa.

Pihak pemerintah menyatakan tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menerima hasil referendum. Pemerintah juga menjamin pemeluk agama Islam di Swiss masih bisa menjalankan ibadah di lingkungannya sendiri seperti sedia kala.

Associated Press menulis apa yang terjadi di Swiss adalah bagian dari `tren' kekhawatiran terhadap pertumbuhan Islam di benua Eropa. Selain di Swiss, gelombang protes menara masjid juga muncul di Swedia, Prancis, Italia, Yunani, Jerman, Austria, dan Slovenia. Kebetulan pemeluk agama Islam selalu menjadi kaum minoritas di negara-negara Eropa. Di Swiss, misalnya, jumlah orang muslim hanya 6 persen dari total 7,5 juta penduduk, sebagian besar adalah pengungsi dari Yugoslavia.

`Tren' ini kemudian menjadi masalah karena pada akhirnya berdampak juga pada aturan hukum. Di Jerman, sejumlah negara bagian menerbitkan aturan yang melarang penggunaan jilbab bagi wanita muslim yang berprofesi sebagai guru di sekolah umum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar