|Call Center NTMC POLRI (Kode Area) "500669" atau SMS "9119", Darurat Kamtibmas Telp 110 (dari Telkomsel) atau 021-110 (dari selain telkomsel)|

A+ per detik

Para Pelukis Muda yang Menjadi Miliarder

Di Singapura Laku Rp 3,5 M, di Hongkong Rp 9 M 

Fenomena pelukis muda yang sukses dan menjadi miliarder berkat karya mereka mulai muncul di tanah air. Salah seorang pelukis miliarder itu adalah I Nyoman Masriadi, 37. Lukisannya termasuk kategori langka dan diburu banyak orang. 

---

RUMAH berpagar tinggi menjulang 4 meter itu berdiri di atas tanah seluas 1.000 meter persegi lebih sedikit. Lokasinya di pinggir Kota Jogjakarta atau tepatnya berada di Kelurahan Sinduharjo, Ngaglik, Sleman. Jauh dari bising suara knalpot maupun asap kendaraan bermotor. Bangunan rumah megah tersebut terlihat mencolok karena hanya bertetangga sawah dan kebun jagung.

Sejumlah mobil diparkir di halaman depan rumah yang berfungsi sebagai garasi. Ada Kijang Innova, Honda CR-V, sedan BMW putih, dan Mini Cooper warna putih-merah marun. Jawa Poslantas menemui pemilik rumah di bagian belakang di pinggir kolam renang seukuran lapangan bola voli. 

''Sekadar iseng. Pelukis kan jarang punya rumah dengan kolam renang,'' kata Masriadi, sang pemilik rumah, saat ditemui di kediamannya dua pekan lalu, lantas tersenyum kecil.

Kendati sudah menjadi miliarder dari aktivitas melukisnya, penampilan Masriadi sama sekali tidak terlihat perlente. Saat ditemui, pria kelahiran Gianyar, Bali, tersebut hanya memakai celana pendek hitam dan kaus oblong. Wajahnya pun tampak kusut seperti habis bangun tidur. Selama wawancara, pelukis yang irit bicara tersebut lebih sibuk mengucek-ucek matanya daripada berbicara.

Masriadi termasuk salah seorang pelukis Indonesia yang sedang meroket. Karyanya langka, mahal, dan diburu banyak orang. Galeri yang menjual lukisannya memasang banderol cukup tinggi, sekitar USD 200 ribu hingga USD 300 ribu. Jika dikurskan dalam rupiah, rata-rata harga lukisan lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta tersebut Rp 1,86 miliar hingga Rp 2,75 miliar.

Itu level harga di galeri. Kalau dibawa ke rumah lelang seperti di Singapura dan Hongkong, harganya bisa berlipat-lipat. Lukisan Masriadi dengan judul Book Lover terjual SGD 588.000 atau sekitar Rp 3,5 miliar di Singapura. Saat dilelang Sotheby di Hongkong pada 2008, lukisan Masriadi yang berjudul The Man from Bantul laku HKD 7,8 juta atau sekitar Rp 9 miliar. 

''Saya nggak terlalu ngikuti harga di balai lelang. Kadang ngeri mendengarnya. Kadang juga bangga bisa sampai segitu. Tapi, itu bukan urusan saya lah,'' kata ayah Ganesha, 12, dan Pucuk, 10, itu. Yang dipikirkannya hanya berkarya. Harga menjadi urusan belakangan.

Apa rahasia membuat lukisan seharga miliaran? Kening Masriadi berkerut. Dia tidak tahu jawabannya. Dia justru merendah. Katanya, lukisan itu ditawar tinggi lantaran diluncurkan pada momen yang pas. Ide lukisan sangat cocok dengan situasi pada saat itu. ''Bisa jadi kalau ada pelukis lain dengan ide sama mengeluarkan karya, yang bagus bukan hanya saya,'' jelas pelukis yang suka tema-tema kontemporer tersebut.

Masriadi termasuk irit dalam berkarya. Rata-rata setahun dia hanya menghasilkan enam hingga tujuh lukisan. Paling banter, dia bikin 12 lukisan dalam setahun. Hal itu terjadi pada 2003. ''Barangkali juga karena lukisannya kecil-kecil. Tidak sampai 2 meter. Barangkali juga karena saat itu sedang rajin-rajinnya,'' katanya lantas terkekeh.

Padahal, kalau mau memanfaatkan situasi, dia bisa setel kenceng memproduksi lukisan. Cepat bikin dan langsung dijual. Tapi, dia enggan melakukan. Sebab, itu membuat lukisan menjadi komoditas pasar. Tidak beda dengan barang dagangan lain. Lagi pula, dia mengatakan tidak terlalu rajin melukis. ''Saya jarang melukis karena malas,'' ujarnya lantas tertawa. (jpnn)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar