Personal Branding Pilkada/Pileg, Kehumasan (PR), Management Issue, Monitoring Media, wa.me/081387284468 >> mahar.prastowo@gmail.com >> fb.com/editor.wiki

Somasi Sony Corp atas Sony-AK: Kenapa Kuasa Hukumnya Bungkam?

"Trade mark tidak pernah memberikan perintah untuk langsung mensomasi Sony AK, hanya meminta notifikasi dan finding fact (mencari fakta) dari HHP, apakah perlu diteruskan untuk mengambil langkah hukum atau tidak," kata Rini F. Hasbi, Senior Manager Head of Marketing Communications Sony Indonesia.

Surat Somasi Overacting

Berdasar pernyataan diatas, jika benar dan kantor hukum HHP tak juga melakukan konfirmasi, maka benar jika publik akan mendapat kesan bahwa HHP dalam hal ini overacting.

Tanpa berpanjang lebar, berikut ini adalah poin-poin dari kutipan surat somasi kuasa hukum Sony Corp. yang antara lain menyatakan alasan-alasan kenapa surat somasi harus dikirimkan ke Sony AK.

Bahwa merek Sony telah terdaftar untuk barang dan jasa tertent sebagaimana disebutkan hal ini termasuk barang kelas 9 (peralatan pemroses data, komputer dan lain-lain), jasa kelas 35 (periklanan, manajemen usaha, dan lain-lain) dan jasa kelas 41 (pendidikan, penyediaan pelatihan, hiburan dan lain-lain). Sebab itu, Sony-AK.com dianggap melanggar penggunaan merek Sony dari salah satu kategori tersebut.

Kutipan isi somasi tersebut:

Klien kami mengetahui bahwa Saudara Sony Arianto Kurniawan telah menggunakan nama domain http://www.sony-ak.com, yang menggunakan merek "SONY" untuk hal-hal yang berhubungan dengan situs jaringan dan pusat pengetahuan informasi teknologi (internet, program jaringan, database, sistem operasi dan manajemen pengetahuan).

Nama domain http://www.sony-ak.com secara visual memiliki persamaan pada keseluruhannya dan menyerupai merek "SONY". Klien kami yakin bahwa berdasarkan Undang-Undang Merek, penggunaan merek "SONY" merupakan suatu pelnggaran hak-hak atas merek "SONY" milik klien kami, SONY CORPORATION. Terlebih nama domain tersebut dipergunakan oleh Saudara Sony Arianto Kurniawan untuk jasa-jasa yang dilindungi dalam pendaftaran merek "SONY" milik klien kami sebagaimana telah kami uraikan di dalam butir di atas.

Dokumen itu juga menyebutkan tentang penggunaan domain Sony-AK.com oleh Sony Arianto Kurniawan yang dianggap dapat menimbulkan dampak negatif.


Klien kami yakin bahwa penggunaan merek "SONY" dalam nama domain dan situs jaringan Saudara menimbulkan pandangan yang keliru kepada masyarakat dan memberikan kesan kepada publik bahwa nama doain atau situs jaringan Saudara adalah sama dengan nama-nama domain milik klien kami, padahal pada kenyataannya tidak sama. Pandangan yang keliru ini tentu saja dapat mengakibatkan kerugian bagi usaha dan nama baik klien kami.

Klien kami, SONY CORPORATION, sangat prihatin dengan kemungkinan pelanggaran merek "SONY" miliknya dan siap untuk melindungi hak-hak atas merekanya di Indonesia dan terhadap reputasi merek "SONY" miliknya. Klien kami, SONY CORPORATION, tidak pernah ragu untuk mengamil langkah-langkah hukum dalam menegakkan hak-hak atas mereknya dan tetap konsisten dalam mengambil tindakan terhadap setiap pelanggaran atas mereknya di Indonesia.


Jadi, SONY yang memang memberikan perintah atau kuasa hukum yang membuat penafsiran sendiri tentang "notifikasi" dan "finding fact"?

Adapun soal "menimbulkan dampak negatif", ternyata somasi ini lebih luas dampak negatifnya dalam pencitraan dibanding konten blog sony-ak.com yang sejauh ini tidak ada atau belum ada konsumen produk SONY merasa terganggu; begitu juga Sony-AK yang tidak menggunakan blognya untuk mengambil keuntungan apapun dari kegiatan usaha SONY Corp.

Bahkan sejak awal Sony-AK memberikan notifikasi pada bagian bawah blognya, "Sony AK Knowledge Center personal knowledge sharing media already online since 2003. All rights reserved. For inquiry please drop e-mail at info@sony-ak.com
Sony AK Knowledge Center is not related to or affiliated in any way with Sony Corporation Japan"
, kurang apalagi?

Berlarut tanpa konfirmasi dari pengirim somasi, dampak negatif pencitraan itupun kini makin terasa dan meluas dengan munculnya grup di Facebook sebagai bentuk solidaritas onliners dan para blogger.

Jika memang pihak kuasa hukum yang salah menterjemahkan pesan klien, bisa jadi, dengan kerugian yang ditimbulkan, baik klien maupun publik yang telah terusik akan beramai-ramai mensomasi kantor hukum HHP. Jadi, kita tunggu saja, apakah pihak HHP segera merilis keterangan publik mengenai somasi terhadap blogger sony-ak.