Jakarta Tanggap COVID-19

Data Pemantauan COVID-19 Nasional dan DKI Jakarta

21 Januari 2020 sampai hari ini

Fauzi Bowo: Anak-anak adalah Agen Perubahan Masa Depan


"Kami ingin menghidupkan kembali dunia musik anak-anak Indonesia. Melalui pentas seni ini diharapkan anak-anak dapat menikmati lagu anak-anak yang sudah langka, yang bercerita tentang usaha untuk meningkatkan kepercayaan diri, keberanian, kreativitas, disiplin diri dan empati dalam kepribadian anak-anak." Kata Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, ketika merayakan Hari Anak Nasional, Selasa [20/7] di Hal Rama-Shinta Taman Impian Jaya Ancol, bersama 2.300 anak dari keluarga kurang mampu.

Anak-anak yang didatangkan untuk rayakan Hari Anak Nasional, adalah anak-anak yang dibina Yayasan Putra Bahagia (YPB). Yayasan ini  diinisiasi Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta pada tanggal 24 April 1952, ditujukan untuk mengadakan program peningkatan gizi dan program pengembangan diri anak-anak Penduduk Kurang Mampu Jakarta.
 
Beberapa kegiatan yang rutin diadakan oleh YPB adalah pengadaan program pengembangan diri dan semi outbond ”Life Skills” bagi anak-anak berprestasi namun kurang mampu dan juga bagi para guru pembimbing yang menginginkan perubahan bermanfaat bagi siswa. Sejak tahun 2004 tercatat telah 8.300 siswa dan 830 guru yang telah mengikuti program yang diadakan di Cimacan, Jawa Barat ini. 

Usai Pentas Seni Anak Jakarta Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo secara resmi melepas anak-anak dari keluarga pra-sejahtera yang telah terpilih tersebut untuk ikut dalam program pengembangan diri “Life Skills” yang diadakan setiap tahun oleh Yayasan Putra Bahagia di Cimacan, Jawa Barat. Dalam program ini anak-anak tersebut dibangun rasa percaya dirinya untuk menggali potensi diri dan berprestasi serta menjadi pemimpin dan agent of change dalam lingkungannya.

"Diantara anak-anak ini mereka punya keunikan masing-masing. Yang dari Kepulauan Seribu, berarti ini pertama kalinya mereka akan melihat gunung. Bahkan, ada diantaranya yang belum pernah memegang sendok." Ujar Fauzi Bowo, seraya menjelaskan bahwa para siswa dan guru diberi pelatihan dan kegiatan untuk mengembangkan potensi diri, meningkatkan rasa percaya diri dan hasrat berprestasi serta untuk dapat bertanggung jawab atas diri dan masa depannya, melalui sebuah program pendidikan dan latihan yang dilaksanakan di Cimacan Jawa Barat oleh Yayasan Putra Bahagia.

"Selesai menjalani program ini para peserta pelatihan diharapkan dapat menjadi pribadi-pribadi tangguh dan menjadi pemimpin serta ’agent of change’-agen perubahan- untuk menciptakan lingkungan dan masyarakat yang lebih baik." Pungkas Gubernur yang berpenampilan gagah dengan kumis tebalnya ini.

Budi Karya: "Seni dan musikal berperan besar dalam perkembangan karakter dan mentalitas anak"


“Mungkin sekitar 10 tahun kebelakang ini, kita semakin jarang mendengar anak-anak yang menyanyikan lagu anak-anak. Saat ini seringkali mereka menyanyikan lagu yang seharusnya dinyanyikan oleh orang dewasa, padahal karya seni dan musikal berperan besar dalam perkembangan karakter dan mentalitas anak.”  Ujar Budi Karya Sumadi, Direktur Utama PT. Pembangunan Jaya Ancol Tbk. 


 Budi Karya juga menyatakan dukungannya terhadap perayaan Hari Anak Nasional yang mementaskan karya seni “Aku Bisa”, sebagai pengormatan kepada Ibu Sud, tokoh pencipta lagu anak-anak yang telah memberikan kontribusi besar dalam pembentukan karakter anak-anak Indonesia. Ia juga berharap agar pencipta karya-karya seni anak-anak kembali bermunculan sehingga regenerasi selanjutnya tidak kehilangan identitas diri sebagai bangsa Indonesia yang berkarakter.

Yayasan Putra Bahagia Pimpinan Tatiek Fauzi Bowo, dalam Rangka Hari Anak Nasional 2010, membawa 2.300 anak dari kalangan tidak mampu yang dibina untuk Pentas Seni Anak Jakarta bertajuk “Aku Bisa! - A Tribute to Ibu Sud” di Hall Rama-Sinta, Dunia Fantasi, Taman Impian Jaya Ancol.   

“Saat ini anak usia sekolah dari keluarga pra-sejahtera di Jakarta mencapai 182.000 lebih. Kami terus giat mengadakan berbagai program untuk mengembangkan potensi dan hasrat berprestasi mereka. Dalam kesempatan ini, kami mengajak berbagai pihak, termasuk pihak korporasi, untuk dapat mendukung dan bekerja sama dalam program-program ini demi kemajuan anak-anak bangsa.” ujar Tatiek Fauzi Bowo, Ketua Yayasan Putra Bahagia.

Pentas kali ini berupa drama musikal yang diangkat dari beragam lagu anak–anak karya Ibu Sud yang diaransemen ulang oleh guru besar di bidang musik sekaligus pendiri Institut Musik Daya Indonesia, Tjut Nyak Deviana Daudsjah yang akrab dipanggil Devi ini.

"Ini mengejutkan ya buat saya, ternyata sangat banyak talenta yang bisa diasah dari anak-anak ini. Selama ini mereka kekurangan tools berupa kesempatan dan tempat belajar serta berekspresi. Tapi begitu tools itu ada, mereka bisa melakukan sesuatu yang membanggakan." Ungkap Devi.

Rakernas IWAPI XXI: "Kolaborasi Usaha Menuju Penguatan Ekonomi Nasional"

“Krisis membuktikan bahwa struktur ekonomi kita rapuh, namun krisis juga membuktikan bahwa UMKM tangguh. Keberadaan UMKM sangat strategis, bukan karena jumlah unit usahanya yang mencapai 98% namun juga mampu menyerap 90% tenaga kerja.” Ujar Ketua Umum DPP IWAPI 2010 – 2015, Ir. Dyah Anita Prihapsari, MBA, atau akrab disapa Nita Yudhi.



Dalam Rakernas IWAPI yang diselenggarakan pada 21–24 Juli di Flores Room Hotel Borobudur, Jakarta, ini hadir 400 anggota dari seluruh Indonesia. Forum Rakernas sendiri merupakan program rutin yang diselenggarakan IWAPI setiap tahun dan merupakan forum komunikasi antara pengurus DPP dengan DPD dan DPC.

Rakernas juga akan mengevaluasi antara lain ART/Aturan Organisasi/Program Kerja, merencanakan program kerja tahun berikutnya serta membuat rekomendasi untuk internal IWAPI dan pemerintah.
“RAKERNAS XXI ini juga akan diisi dengan dialog interaktif tentang permasalahan yang dihadapi anggota IWAPI, baik yang berkaitan dengan dunia usaha maupun kesetaraan gender.” Ungkap Nita Yudi.
Lebih jauh Nita Yudhi juga mengungkapkan bahwa krisis yang turut menerpa perekonomian Indonesia, menjadi bukti bahwa telah terjadi kerapuhan sistem dalam struktur ekonomi. Namun demikian krisis juga telah membuktikan bahwa kalangan UMKM cukup tangguh.  Hal tersebut menjadikan keberadaan UMKM sangat strategis, bukan hanya karena jumlah unit usahanya yang mencapai 98% namun juga mampu menyerap 90% tenaga kerja.

“Meski keberadaan UMKM sangat strategis, namun kebijakan Pemerintah dirasakan kurang berpihak kepada UMKM. Untuk itu IWAPI sangat berkepentingan untuk memperjuangkan kebijakan Pemerintah yang pro UMKM, karena sebagian besar anggota IWAPI bergerak di UMKM dan 60% sector usaha mikro dikelola oleh perempuan.” Demikian Nita Yudi, Ketua IWAPI Periode 2010-2015 yang terpilih dalam Munaslub 8 April lalu.

Menurut Nita Yudi, wanita kelahiran Jakarta, 22 Juni 1964 inisebagai Ketua IWAPI sangat menyadari betapa besarnya tantangan yang dihadapi UMKM dalam menghadapi tingginya persaingan usaha akibat pasar bebas, serta iklim yang kurang kondusif bagi dunia usaha. Ia mencontohkan, serbuan produk Cina dari elektronik, mainan anak, kosmetik, makanan, jamu dan sebagainya dengan mudahnya dapat temukan di pasar-pasar tradisional.

“Jika Pemerintah menuntut UKM mencantumkan resgistrasi kementrian terkait, mengapa produk-produk asing tersebut tidak dituntut registrasi? Ironis memang, dengan kondisi keuangan masyarakat yang terbatas dan image bahwa produk asing lebih bergengsi dari produk domestik, masyarakat akan memilih produk asing yang murah namun belum tentu sehat dan ramah lingkungan.” Ungkap Nita, Ia adalah wanita arsitekt lansekap dan lingkungan yang sempat terpilih mewakili Asia untuk International Visitor Leadership Program United State Departement of State ke Washington DC.

Nita Yudi melihat, diantara permasalahan yang dihadapi kalangan dunia usaha kalangan UMKM adalah hal-hal yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi seperti Iklim usaha dirasakan kurang kondusif akibat keterbatasan insfrastuktur listrik, jalan/transportasi, telpon, air bersih dan lain-lain. Begitu juga suku bunga bank yang masih sangat tinggi dibanding Negara tetangga, birokrasi perizinan, termasuk akses LPDB yang masih lama dan berbelit.

Nita juga memaparkan, sudah banyak UU/PP/Inpres yang ditujukan untuk mengkondusifkan iklim usaha seperti UU 9/1995 yang direvisi dengan UU 20/2008 tentang UMKM, PerMendagri 24/2006 tentang pedoman penyelenggaraan pelayanan terpadu satu atap, Inpres 6/2007 tentang kebijakan percepatan pembangunan sector rill. “Namun dampak kebijakan tersebut masih jauh panggang dari api, belum menyentuh permasalahan, bahkan sepertinya tidak punya gigi.”  

Selain beratnya tantangan diatas, IWAPI juga menyadari kelemahan UMKM dimana managemen yang masih sangat terbatas, penguasaan tekonologi rendah, aset produksi rendah, SDM kurang, akses permodalan rendah, serta akses pasar rendah dan usia produk UMKM yang relatif pendek.

“Itulah kenapa tema dari Rakernas ke-21 ini adalah Kolaborasi Usaha Menuju Penguatan Ekonomi Nasional, hal ini berangkat dari kesadaran akan besarnya tantangan dan kelemahan UMKM di satu sisi dan spirit memperjuangkan UMKM di sisi lain.” Kata Nita Yudi seraya menjelaskan bahwa kolaborasi kerjasama/kemitraan akan menjadi salah satu jalan keluar terbaik bagi UMKM dalam menghadapi persaingan usaha yang ketat di mana kondisi usaha belum stabil.