Personal Branding Pilkada/Pileg, Kehumasan (PR), Management Issue, Monitoring Media, wa.me/081387284468 >> mahar.prastowo@gmail.com >> fb.com/editor.wiki

"Gebyar Budaya" HUT Ke-154 Telkom

"BUMN ini milik rakyat. Jadi kami mengundang masyarakat untuk berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan HUT ke-154 ini. Pendaftaran dapat dilakukan melalui website Speedy maupun Portal Telkom secara online. Puncak acara dan pemberian penghargaan direncanakan bersamaan dengan acara INDIGO Award pada 8 Desember 2010."_Eddy Kurnia, Vice President Public and Marketing Communication Telkom.

Dalam rangka memperingati hari ulang tahun (HUT) ke-154, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) menyelenggarakan berbagai kegiatan yang dikemas dalam tema "Gebyar Budaya”. Seiring dengan transformasi yang dicanangkan pada 23 Oktober 2009, Telkom ingin memberikan perhatian lebih terhadap pengembangan iman, budaya, dan olahraga. Demikian dikatakan Eddy Kurnia.

Masih menurut Eddy, sebagai perusahaan nasional, Telkom memang selayaknya memberikan perhatian dan mendukung pengembangan kebudayaan Indonesia, sejalan dengan bisnis inti Telkom, yakni telekomunikasi, informasi, multimedia, dan edutainment (TIME). Didalam kebudayaan Indonesia itu, layak menjadi perhatian utama antara lain soal bentuk berbagai fitur dan konten pada alat komunikasi, baik yang bernuansa pendidikan maupun hiburan.

"Gebyar Budaya" Telkom akan dilangsungkan bersamaan dengan penyelenggaraan Knowledge Fair bertempat di Kantor Pusat Telkom di Bandung, dengan rangkaian berbagai program bernuansa budaya yang dapat dapat diikuti masyarakat umum. Telkom art festival misalnya, ajang kreasi seni dalam bentuk panduan seni musik/gerak tari/suara yang menunjukkan implementasi TIME, termasuk lomba jingle "The World in Your Hand", kontes fotografi, seni animasi, dan kreasi IT, serta cyber Olympiade. [mahar]

Dhiif's: 7.000 Pasang Sandal Perhari Dari Modal 'Gopek'

"Trade Expo ini sangat penting untuk kami pelaku UKM, kalau biasanya pembeli produk sandal kami adalah dari dalam negeri saja, ataupun kalau dari luar negeri biasanya adalah para TKI, tapi di Trade Expo ini yang membeli langsung para misi dagang negara-negara sahabat. Banyak yang membeli sebagai oleh-oleh ataupun sebagai sampel. Hanya saja untuk masuk pasar luar negeri dalam skala besar, kami sedang pelajari regulasi negara tujuan, forwarding, dan uji ketahanan sandal jika berada sekitar 1 bulan didalam kontainer yang bersuhu tinggi. Kapasitas produksi saat ini 7.000 pasang perhari dengan 150 karyawan." -Purnomo Probo Nugroho, Pemilik Dhisal Amanah, sentra produksi dan jaringan pemasaran sandal unik merek Dhiif’s.

Siapa sangka bahwa dari bermodal 500ribu kira-kira 4 tahun lalu, yang dibelanjakan bahan membuat sandal sekitar 30 pasang, kini telah mencapai 7.000 pasang per hari. Kegigihan Purnomo kini menuai hasil, dengan mengkaryakan 150 pekerja, omset per bulannya mencapai 1,5 Milyar. Rupanya Purnomo seorang visioner, tahu bagaimana agar uangnya yang hanya 'gopek' itu 'bertelur' sebanyak-banyaknya.

Bisa dibilang, kreasi sandal unik buatan Purnomo ini adalah yang pertama, namun ia merendah, “Kalau kita bilang yang pertama, masalahnya tidak ada sejarahnya, tahu-tahu begitu produknya keluar, ada beberapa yang mengikuti,  namun jika dilihat dari segi produksi, kita memang yang terbesar untuk saat ini. Dengan kapasitas sudah 7.000 pasang per hari tersebut. Dan angka 7.000 tersebut adalah kapasitas terpasang, jadi selama ada pesanan diatas jumlah itu ya akan kita layani, kita naikkan kapasitas produksi.”
   
“Mengenai jumlah produksi kita memang paling besar saat ini sehingga tidak ada lagi masalah dengan pihak pabrik bahan baku.” Ujar Purnomo sembari menceritakan bahwa awalnya sempat kesulitan dalam  ketersediaan bahan baku, namun begitu ia telah memproduksi dalam jumlah besar, pabrik dapat menyediakan bahan baku sesuai pesanan karena diata jumlah minimum order.

Tak sampai disitu, sekarang ini sandal unik Dhiif’s sedang mendapat program pendampingan untuk ISO, untuk kemudian mendapatkan sertifikasi, “ini kita juga sedang melakukan beberapa pendekatan, mudah-mudahan kita bisa segera pameran di luar negeri, di Malaysia. Karena sebenarnya dari beberapa web itu, kita dapat beberapa orang Indonesia yang ada di Australia, singapura, Malaysia, Belanda, Amerika itu mereka antusias sekali.” Ujar bapak 2 anak ini.

Keinginan Dhiif’s berada di pasar luar negeri rupanya memang diharapkan oleh Purnomo, sarjana kehutanan ini, masih kesulitan di ekspedisi, serta informasi mengenai regulasi  atau aturan aturan untuk masuk ke negara tujuan yang belum begitu dipahami.

Ke depan, karena kompetitor [baca: mitra, red] sudah mulai banyak nampak semakin kuat, maka nantinya Purnomo berencana menggunakan bahan alas bawah dari sandal Dhiif’s dengan memakai merek sendiri, Dhiif’s, dan komposisi karetnya lebih tinggi dari yang ada sekarang.

Dhiif’s juga telah mendaftarkan hak cipta atas mereknya ke dirjen HAKI Kemenhukham, ini untuk menghindari terjadinya pelanggaran karyacipta, apalagi bahan yang dipakai masih umum, baru dalam tahap merintis agar segera dapat mencetak bahan baku bercap Dhiif's.

Agar pelanggan tidak bosan dan pembeli punya banyak pilihan, saat ini Dhiif’s punya aneka macam ketegori atau tema dari desain sandalnyanya, ada hewan, buah-anan, olahraga dan ada juga yang sifatnya temporer berdasarkan musim seperti bola, ia keluarkan pada saat piala dunia


Kemitraan: Strategi Kompetisi & Perluasan Jaringan

Purnomo dalam mengembangkan bisnisnya juga tak sendiri, ia menggunakan sitem klaster dengan menciptakan keagenan di seluruh wilayah Indonesia. “Kita kembangkan bukan pakai toko, tapi dengan sistem kemitraan. Jadi ada agen, sub agen dan ada pengecer serta distributor.” Katanya.

Dengan jumlah agen sampai distributor sampai sekitar 400an  di seluruh Indonesia, tak heran jika usahanya boleh dibilang maju pesat, terbukti dengan omzetnya yang saat ini antara Rp 1,2 – Rp 1,5 miliar.

Dalam system keagenan yang ia terapkan, seseorang untuk menjadi agen minimal harus memesan stok sebanyak 300 pasang, dan untuk sub agen minimal 60 pasang.

“Siapapun dapat menjadi mitra kami sebagai agen maupun sub agen, kita tidak membatasi apakah itu toko ataupun perorangan. Karena usaha kita ini dapat dijalankan darimana saja.” Jelas Purnomo yang mengaku selama Trade Expo mendapatkansekitar  20 sub-agen baru.

Hal yang belum dipetakan menurutnya adalah daerah persebaran sandalnya paling banyak di wilayah mana, karena selain melakukan penjualan offline atau tradisional ada juga yang diantara agennya melakukan penjualan online, jadi pembeli bisa darimana saja. Justru dalam pola kemitraan seperti ini salah satu kelemahan yang berpengaruh langsung pada bisnis adalah personalnya, mulai dari apakah di bagian produksi cukup inovatif dalam mendisain model-model baru, sampai ke agen yang kadang semangat tapi kadang juga turun.

Dengan banyaknya merek dan jaringan bisnis di sandal unik saat ini, Purnomo menganggap mereka bukan kompetitor melainkan partner.

“Karena tanpa mereka, inovasi kita tidak secepat dan sebanyak ini. Dari segi model kita paling banyak. Dan sampai saat ini kita dengan memiliki tenaga 2 orang desainer menghasilkan 21 model.” Pungkasnya.
Warta Kota Edisi Sabtu 23/10/2010
berita terkait: