|Call Center NTMC POLRI (Kode Area) "500669" atau SMS "9119", Darurat Kamtibmas Telp 110 (dari Telkomsel) atau 021-110 (dari selain telkomsel)|

A+ per detik

The Story of Darsem: Setori Darsem

---Mau Kaya Mendadak? Jangan Ikut MLM, Jadilah TKI---

Pada media, Elyasa Budianto, pengacara Darsem, mengaku merasa malu atas perubahan perilaku pada kliennya.  "Dia sekarang kalau ke mana-mana pakai emas, sudah kayak toko berjalan. Saya tidak enak juga melihatnya, itu ‘kan uang sumbangan ya," kata Elyasa seperti dikutip detikcom,  Jumat (5/8/2011).

Seperti kita tahu, Darsem, telah membuat heboh para penonton sinetron dan infotainment di televisi, sehingga ketika peristiwa tragisnya yang mirip di sinetron itu muncul di pemberitaan menyela sinetron dan infotainment, penonton menunjukkan hysteria.

Bagaimana tidak histeris, Darsem, seorang TKIW terancam hukuman qisas, akan diqutil (bunuh) dengan cara pancung karena telah membunuh kerabat majikannya, yang menurut saksi anak kedua majikannya yg berumur 7 tahun, dilakukan bersama pria bertampang Sahru Khan.

Alhasil, di seberang sana, di jazirah paling bejat sehingga utusan Tuhan pun diturunkan disana semua, terjadi percakapan. Kliping hubungan luar negeri dan pertahanan dibuka. Ketemulah kliping soal pembajakan kapal pengangkut isi bumi Indonesia, yang dibajak perompak bangsa keling Somali. Di kliping Koran itu disebutkan Indonesia melakukan penebusan untuk pembebasan sandera. “Iseng-iseng berhadiah,” pikir algojo.

Terinspirasi dari kliping aksi perompak Somali, dibukalah jalur komunikasi dengan Indonesia, karena hubungan diplomatic juga tak ingin tercederai usai pemenggalan kepala almarhumah Ruyati. Gara-gara pikiran “iseng-iseng berhadiah” itulah, Darsem, terdakwa yang telah berkali-kali menghadapi siding lalu divonis pancung, namun karena seorang dermawan menebusnya, ia dimaafkan. Tapi informasi itu disimpan para penggasir padang pasir.

Alhasil, memanfaatkan emosi seluruh elemen bangsa Indonesia, kecuali saya tentunya hehehe, askar padang pasir melempar umpan berupa informasi sepotong, “Darsem bisa bebas dan dikembalikan dengan tebusan 6 Milyar dalam mata uang rupiah, boleh ditawar.” Dan akhirnya mentok di angka 4,7 milyar, yang uangnya diambil dari celengan kementerian luar negeri. Tak mau kalah, pihak yang mau dianggap peduli dan ingin melakukan kegiatan CSR tapi tak mau keluar doku, ikut  menggalang dana semisal sebuah tv swasta yang logonya seperti kolak biji salak atau onde-onde tanpa biji wijen.

Karena tema penggalangan dana adalah untuk “mahar” alias penebusan atau pembebasan, artinya uang itu akan diberikan kepada penyalurnya, yakni pemerintah agar tak terlalu banyak dana APBN tergerus untuk urusan insidental. Maka pemirsa televise bersimbol biji salak onde-onde tadi, beramai-ramai menyumbang, sambil berdoa tentunya agar yang ia keluarkan bisa menghapus dosa-dosa dirinya dengan dipakai menolong seorang anak bangsa pahlawan devisa.

Lantas, selama dalam proses negosiasi, dimana Darsem?
Pernah suatu ketika, dalam proses penahanan, dan pasti ada hubungan konflik yang tak memungkinkan ada saling komunikasi ramah, apalagi berbaik hati meminjami telpon untuk berkomunikasi dengan keluarga, dalam hal ini adalah Darsem mengaku dipinjami telepon oleh bekas majikannya untuk telpon ke keluarganya di kampong. Mungkin nggak sih, anda punya orang tua atau anggota keluarga, dibunuh, lalu pelakunya, anda pinjami telpon untuk berkomunikasi dengan keluarganya? Kalau dipinjami telepon rumah, apakah dikawal dari tahanan untuk pulang ke rumah hanya untuk pinjam telpon? Atau, sang mantan majikan dengan repotnya bersedia mengantarkan telpon bimbit (hape)nya ke penjara agar si terdakwa bisa telpon? Apakah di penjara Arab tidak ada jaringan telpon, adanya kentongan? Saya tak hendak bertanya pula kepada Darsem, dapat bagian berapa ia dari 4,7 milyar itu? kalau saya bertanya begitu, betapa lebih jahatnya saya pada diri sendiri karena tak mau menggunakan software buatan Tuhan: Otak.

Dan, seputar pembunuhan sang majikan, apakah ada yang terlewat dari berita yang anda baca? Atau tim peliput media yang dikirim ke Arab tidak ada yang bisa bahasa Arab, lalu dikibulin penterjemah karena pakai nawar?

Tahu nggak bro, (brother maksudnya, bukan brondong), ada anggota keluarga korban, menjadi saksi peristiwa itu, yang mengungkapkan kebohongan Darsem selama persidangan dengan mengatakan bahwa ia melakukan pembunuhan dan pengecoran dengan semen atas jasad korban: sendirian. Tapi, bro. Saksi anggota keluarga tersebut, sayangnya baru berumur 7 tahun, yang berdasar hukum setempat belum boleh bersaksi karena belum akil (masih polos) dan belum baligh. Padahal kata si anak itu, Darsem melakukan pembunuhan hingga penghilangan jejak dibantu seorang pria, yang diduga adalah pacarnya, seorang India.

Sampai Darsem bela-belain pacarnya sedemikian rupa, ada apakah gerangan? Apakah karena hartanya? Apakah karena tak perlu pusing-pusing bawa ke Mak Erot Sang Maestro? Maaf kalau bawa-bawa nama Sang Maestro dengan jargon PBKTL-Panjang Besar Keras Tahan Lama-itu. kalaupun bukan kedua hal tersebut, pasti peletnya memang ampuh, pelet Sahru Khan.

Tak cukup jemari saya untuk ngerumpi dalam catatan menggunjing Darsem, karena makin saya gunjing, nanti anda pikir saya ini sedang terhasut dan iri lalu dengki. Tak begitu lah. Apalagi saya kan bukan orang yang punya perhatian cukup untuk kasus Darsem, kecuali saat kasus ini sudah selesai, yakni saat dengar pengumuman BK (Bung Karni) di JLC umumkan tv yang dipimpinnya memberikan bantuan 1,2 Milyar rupiah dari sumbangan pemirsa yang sedianya untuk pembebasan Darsem, karena sudah ditebus Kemenlu, maka sumbangan diberikan kepada Darsem. Ya, saat itulah saya baru peduli. Bukan peduli pada Darsem, tapi peduli pada software 'otak' (bukan dengkul ya?), yang karena aslinya tidak dipakai, banyak diantara kita, terutama saya mengesampingkan nalar dan memakai software bajakan. Begitu dipakai, malah error, bahkan buat main game saja, gameover melulu ditengah permainan. Menjengkelkan, bukan?

Lalu, saya membuat skor pertandingan di layar maya.
Arab vs Indonesia dengan skor 1-0
Darsem vs Arab dengan skor 0-0
Darsem vs Kemenlu (Negara) skornya 1-0
Darsem vs Masyarakat Pemirsa TV skornya 1-0

Kemudian saya mendapat formula, teori, silakan dipraktekkan:
Kalau mau kaya mendadak, tak perlu ikut MLM,karena kaya-nya orang MLM menari diatas penderitaan orang banyak yang mengcollect dana untuk kredit atau beli rumah dan mobil mewah para upline (diatas garis (kemiskinan)) oleh para downline (dibawah garis (kemiskinan)). Tapi Jadilah TKI/TKIW, kongkalikong sama komandan askar korup disana, bikin ulah, dipenjara (menyanderakan diri), minta tebusan, hasilnya fifty-fifty atau setidaknya 70:30 antara Dan Askar korup dengan anda misalnya. Tak perlu galang solidaritas masyarakat, 30 persen dari 4,7 milyar juga lumayan.

Dan anda perlu tahu, tebusan nyawa untuk berdamai di Arab sejauh ini ada diangka setinggi-tingginya 2 milyar dalam rupiah. Maka ketika ternyata Indonesia mau membayar sampai 2x lipat, bahkan lebih, tinggal hitung saja berapa bakal didapat dari seratus orang lebih yang sekarang meringkuk di penjara menunggu eksekusi mati.

Belum lagi sekitar 600, 700, 800 atau seribu lebih yang berkoloni dibawah jembatan Kandarah, Madinah. Yang tak hanya terancam tindak kriminil perampokan dan kekerasan seksual seperti pemerkosaan atau penipuan: dipacari, dihamili, ditinggal lari.

Ohya, Darsem sebagai TKIW berstatus menikah, meski kabarnya sang suami di kampoeng menikah lagi, dalam berhubungan dengan si India, mungkin pacaran, kalau ketahuan bisa kena pidana lho. Bukan dipancung memang, tapi dibandhemi watu tanpa belas kasihan alias di Rojam.

Anda janga berpikir sebagai seorang Arab ya, karena jika anda berpikir sebagai Arabian, saat ini juga anda sedang berpikir bahwa betapa naifnya seluruh bangsa Indonesia membebaskan pelaku kriminil.

Lebih jauh tentang Darsem binti Dawud, makin banyak info bisa didapat dari berbagai sumber. Wanita yang tidak wani ditata ini bekerja di rumah majikan berkebangsaan Yaman, Hisyam Assegaf, dan terbukti membunuh kerabat majikannya bernama Waleed Bin H  Assegaf pada bulan Desember 2007. Pengadilan Riyadh pada 6 Mei 2009 memberikan vonis: MATI.

Anda tahu bagaimana Darsem membunuh Hisyam yang cacat mental, berbadan bongsor tapi berketerbelakangan mental? DIKAMPAK lalu jasadnya entah saat itu sudah mati atau belum, dimasukkan ke dalam jumblengan alias septic tank, kemudian di cor pakai semen.

Kenapa sidangnya berkali-kali dan terkesan lamban? Konon Hakim memiliki imajinasi yang luas dalam menalar persoalan. Diantara nalar hakim yang tak bisa terima pengakuan Darsem sebgai pelaku tunggal: Korban merupakan seorang tambun yang tak memungkinkan Darsem bekerja sendirian membawa ke septic tank dengan jarak cukup jauh dari lokasi pembunuhan, apalagi jika harus dilakukan dalam waktu cepat.

Hakim juga menalar, suatu kemustahilan Darsem bisa memasukkan kedalam septic tank dengan begitu cepat, bahkan ngecor pakai semen.

Hakim bosen juga setelah berkali-kali siding, Darsem tetap akui sebagai pelaku tunggal, maka diputukanlah vonis Qisas dengan cara dipancung itu.

Sebuah sumber menyatakan, KBRI  di Arab menemui Lajnah Islah (semacam Komisi untuk perdamaian) di Riyadh dan pejabat Kantor Gubernur Riyadh agar Darsem Bt Dawud Tawar bisa dimaafkan. Hasilnya, pada 7 Januari 2011, ahli waris korban diwakili oleh Asim bin Sali Assegaf bersedia memberikan pemaafan kepada Darsem dengan kompensasi uang diyat (ganti rugi/santunan) sebesar 2 juta riyal (SAR), setara 4 milyar dalam mata uang rupiah. Pernyataan pemaafan ini langsung disampaikan KBRI kita kepada pengadilan Riyadh guna pemrosesan selanjutnya. Konon, begitu tahu untuk penebusan dibutuhkan dana 2 juta SAR, ada dermawan Arab yang datang ke KBRI menyumbang 1 juta SAR (setara 2 Milyar).

Saya tak ingin menduga-duga bahwa yang menyumbang justru majikannya sendiri, Hisyam Assegaf. Siapa tahu, kan? Diantara kita saja, kalau punya kerabat idiot, hingga dewasa hanya merepotkan, apalagi keras kepala, kadang ingin rasanya mendorong ke kolam renang atau melepasnya main di rel kereta api. Hal seperti itulah yang mungkin dialami Hisyam, tapi ia tak mau melumuri tangannya sendiri dengan darah. Ingat sepetik kabar diatas? Soal Darsem yang ditahanan tapi majikannya berbaik hati meminjamkan telpon? Bisa jadi memang iya, majikannya menjenguk dan meminjamkan teleponnya.

Pernah nguberk-ubek perpustakaan anda? Atau anda tidak membuat kliping tulisan dari media cetak meskipun itu penting untuk kehidupan anda? Coba deh baca Gatra sekitar tahun 2003-an, bisa Tanya ke redaksi Gatra ketika rentang tahun itu membahas soal TKI. Disana ada data-data penting termasuk testimony pejabat Negara yang memberikan keterangan bahwa tak semua TKW bermasalah karena memang bermasalah, ada diantaranya yang memang berulah. Entah, apakah Darsem salah satunya.

Saya hanya berharap tidak menemukan kliping media yang mensyiarkan berita bahwa Darsem membunuh Waleed dengan alasan membela diri mau diperkosa, karena Waleed dinyatakan penderita keterbelakangan mental yang lebih banyak menghabiskan usianya di kursi roda hingga tubuhnya menambun.

Karena tulisan ini berdasar sumber yang tidak karuan seperti kondisi Negara ini, validitasnya tidak dapat dipertanggungjawabkan, apalagi dipakai sebagai bukti atau bahkan dijadikan sebagai dasar delik pengaduan (meski sebagai dokumen terbuka bisa ditemukan tercerai-berai di search engine macam google). Bagaimana anda akan menalarnya, silahkan. Sebelum ditelan, ibarat nemu jambu jatuh dari pohon, harap dicuci dulu supaya tidak sakit perut. Dan mohon maaf kalau tidak menampilkan foto Darsem, karena kalau saya tampilkan fotonya yang fresh dan subur, anda makin tak akan percaya bahwa ia menjalani hidup di tahanan dengan penuh pemberitaan, eh penderitaan.


kalau belum bosen baca, ini ada tulisan dari tetangga sebelah:

21 Nov 2010


Kolong Jembatan Kandarah, Kisah Tragis Pahlawan Devisa

Di Kolong Jembatan Kandarah, ada sekitar 700 TKI telantar 
(cerita & foto:Ibrahim Aji)



Nasib tidak jelas juga berpotensi dialami para TKW ilegal bahkan di tangan orang Indonesia sendiri, alias para Channel

Sarah (20) TKW ilegal asal Cirebon memasang mimik ngeri ketika disebut kata “Channel”. “Banyak yang tertipu Mas, bukan cuma uang, diperkosa malah dibuang di pinggir jalan."

“Channel”, adalah istilah untuk orang-orang Indonesia (kebanyakan suku Madura) di Jeddah yang mengaku dapat membantu TKI bermasalah segera pulang ke Indonesia. Untuk jasa membantu masuk Tarhil (Penjara Imigrasi), para Channel mematok tarif SR 800-1500. 

"Channel –Channel itu ngakunya dekat dengan orang Jawajab, mereka janjinya bisa memasukkan ke Tarhil (penjara imigrasi—red)”, kata Hanafi, Sopir.

Ilegal dari negara lain kebanyakan lelaki, ketika syahwat tak tertahankan, para ilegal lelaki negara lain tersebut suka menggoda, bahkan sampai berani memperkosa TKW asal Indonesia. Inilah sumber perkelahian antara para lelaki di sana. Para ilegal lelaki asal Indonesia biasanya langsung melindungi para TKW ilegalnya. Bunuh membunuh bukan hal yang aneh dan ilegal lelaki Indonesia ditakuti karena keberanian dan kelihaiannya berkelahi. 

“Semalam ada yang mati lagi dari Bangladesh di tangan orang kita”, kata Hanafi. Lalu apakah pembunuhan itu ditangani polisi KSA? Hanafi hanya memberi informasi tidak jelas, “Ya begitu saja”. Soalnya, tambah Hanafi, di lain pihak, jika TKW Ilegal Indonesia diculik oleh para lelaki ilegal negara lain, juga biasanya tidak jelas nasibnya. Hanafi menggunakan istilah “dikeroyok” untuk pemerkosaan ramai-ramai para TKW ilegal tersebut. Bahkan ada yang sampai dibunuh.

Ada preman pengungsian, biasanya penghuni lama, ada yang sudah 17 tahun di sana. Para Channel, dan oknum Jawajab yang bermain di sana. Ada juga lelaki hidung belang Arab atau orang Indonesia sendiri yang memanfaatkan kecarut marutan di sana.

“Maaf-maaf ya, Mas Sunda bukan? Soalnya di sini TKW suku Sunda banyak yang enggak bener. Sudah enak jadi PRT, mungkin bosan atau suka sama supir asal Indonesia, terus ya begitu…(sambil tersenyum—red), terus kabur dari majikan. Akhirnya jadi ilegal”. Kisah Hanafi. Ada juga yang menyerahkan tubuhnya kepada majikan, lalu setelah kabur menjadi semacam pekerja seks komersial (PSK) di Jeddah.

TKW menjadi penghuni terbanyak kolong jembatan Kandarah, Jeddah. Ratusan TKI ilegal ini menghadapi nasib tidak jelas, tanpa pekerjaan, terlantar, dan ditipu terus menerus. Para TKI ini mengaku iri dengan para ilegal negara lain, terutama Filipina. Meski kasusnya rata-rata sama, yaitu kabur dari majikan/ perusahaan, kondisinya lebih baik para ilegal dari Filipina. Tiap kali ada ilegal baru datang ke pengungsian yang terletak tak jauh dari situ, petugas Kedutaan Besar Filipina segera mendatanya untuk kemudian diurus untuk dipulangkan atau dipekerjakan kembali di majikan/ perusahaan lainnya.

Dari situs resmi Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI), http://bnp2tki.go.id para TKI ini disebut pahlawan devisa. Sekilas data tentang para pahlawan devisa ditulis di halaman muka situs tersebut: “Enam juta TKI bekerja di 42 negara berasal dari 361 kabupaten/kota dan 33 provinsi. Mengurangi pengangguran, mengikis kemiskinan dan menggerakkan perekonomian masyarakat desa, Menopang kehidupan 30 juta anggota keluarga dan menyumbang devisa lebih Rp 100 Triliun per tahun."

Simak selengkapnya dengan klik judul diatas untuk menuju blog Ibrahim Aji
http://ajisaka.dagdigdug.com/2010/04/27/cerita-dari-kandarah/#more-268
(copyright: Ibrahim Aji)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar