Personal Branding Pilkada/Pileg, Kehumasan (PR), Management Issue, Monitoring Media, wa.me/081387284468 >> mahar.prastowo@gmail.com >> fb.com/editor.wiki

Kredit Macet UKM Hanya 1 Persen


 JurnalInacraft - “Kredit macet untuk UKM, hanya 1 persen. UKM yang menjadi mitra BUMN umumnya memiliki potensi dan prospek yang bagus, hanya belum bankable saja,” tutur Gatot M Suwondo, Direktur Utama BNI.

Hingga Maret 2011, posisi kredit usaha kecil BNI mencapai Rp 29 triliun. Dana ini diserap kalangan industri di luar kriya, namun memiliki kaitan yang erat untuk menunjang peningkatan perdagangan industri kriya. Dana itu dikucurkan untuk kredit pembangunan infrastruktur di daerah-daerah yang dilakukan oleh swasta, semisal pelabuhan, listrik, jembatan, maupun jalan raya.

Sementara untuk penyaluran kredit kemitraan non komersil dari penyisihan laba, melalui Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) mencapai Rp 105 miliar, yang umumnya disalurkan ke pengusaha yang bergerak di bidang kriya. 

Penurunan suku bunga Bank tidak akan berpengaruh besar terhadap pengrajin seni kriya Indonesia. Justru persoalannya adalah ketidaktahuan pengrajin, mengenai program-program yang diupayakan kalangan Perbankan dan BUMN dalam bentuk PKBL.

“Produk kita adalah produk seni, sementara Cina produk massal, untuk itu bila pasar dalam negeri lebih senang menggunakan produk seni, pasar dalam negeri tak terganggu oleh produk-produk dari Cina,” tutur Gatot.

Di perhelatan Inacraft ini, BNI melansir kartu BNI – Asephi (Asosiasi Eskportir dan Produsen handicraft Indonesia). Kartu ini memudahkan transaksi antar pengusaha kriya yang menjadi anggota Asephi. Selain itu, kartu ini dapat dimanfaatkan sebagai kartu ATM dan belanja bagi 2.500 anggota Asephi.

Peluncuran Kartu BNI – Asephi ditandai dengan penyerahan kartu secara simbolis dari Direktur Utama BNI, Gatot M Suwondo, kepada Ketua Asephi DKI Jakarta, Dodi Hidayat, yang disaksikan oleh Menteri Perdagangan, Mari E Pangestu, dan Ketua Umum Asephi, Rudy Lengkong.

Mendag Ajak Pengusaha China ke Inacraft "Lirik" Potensi Kriya Indonesia


JurnalInacraft Inacraft 2011 dalam pandangan Wakil Presiden Budiono menemui tantangan pasar bebas Asean dan Cina, namun sekaligus mengukur saing produk-produk seni Indonesia di mata dunia.

 Wapres Budiono juga mengimbau agara para pengusaha dan seniman mampu memanfaatkan Inacraft sebaik mungkinlah  ditengah situasi ekonomi yang makin membaik tahun ini, dan pasar luar negeri yang mulai melirik kembali produk-produk Indonesia.

Senada dengan Wapres Budiono, Menteri Perdagangan juga melihat pasar luar negeri seperti China, adalah potensi bagi pemasaran produk kriya Indonesia.

Dalam upaya mempertemukan pengrajin dengan pasar China di Inacraft 2011, Kementrian Perdagangan mengajak para pengrajin memahami tentang pasar Cina. Negeri yang telah menjadi kekuatan ekonomi global ini, telah merebut pasar sektor industri dengan kemampuannya memproduksi barang tiruan dengan cepat, massal dan harga murah. Produk-produk Cina yang membanjir, lantaran masyarakat Indonesia lebih memilih produk yang lebih murah dan enggan membeli produk dalam negeri.

Di Inacraft 2011 ini, Kementrian Perdagangan mengajak delegasi Asean China Entreprenuer Association, untuk melihat-lihat potensi kriya Indonesia. Untuk menjajaki kerjasama perdagangan. Mengingat, antara produk Cina yang bersifat massal dan produk kriya yang bersifat seni, memiliki pasar tersendiri di dua negara. Kedatangan para delegasi itu, memungkinkan pengusaha kerajinan Indonesia dapat mengembangkan ekspornya ke Cina, selain pasar Timur Tengah, Eropa, dan Amerika Utara yang sedang menuju pemulihan ekonomi. 

Inacraft Event yang Selalu Ditunggu-tunggu


JurnalInacraft-Tak banyak event yang selalu ditunggu-tunggu tiap tahun di Indonesia. Kalau negeri ini memiliki pameran komputer dan otomotif yang selalu dibanjiri masyarakat, maka Inacraft yang pameran kriya itu, mampu menyamai popularitas pameran komputer dan otomotif.

Walhasil setiap tahun, di bulan April, Jakarta Convention Center selalu riuh dengan pelaku industri kreatif di bidang kerajinan tangan. Inacraft dengan pasti mengukuhkan diri menjadi pameran yang sukses menggabungkan konsep business to consumer dan business to business. Pameran ini menjadi semacam persilangan pertemuan tahunan, para pekerja seni memamerkan karya mereka. Pembeli asing yang kerap menghadiri Inacraft, di antaranya pembeli dari Singapura, Brunei, Jepang, Thailand, Australia, Uni Emirat Arab, dan Korea Selatan.

Di sisi lain, Inacraft menjadi semacam pelestari produk kriya yang dimiliki oleh seribu lebih suku bangsa di Indonesia. Dengan tema From Smart Village to Global Market, Inacraft memiliki harapan besar mengangkat  mengangkat pengrajin dari desa kecil menuju pasar global.

“Pameran ini memiliki fungsi dan tujuan untuk melindungai dan memfasilitasi produksi kerajinan tangan dan meningkatkan kualitasnya, agar pantas bersaing dengan produk dari negara lain,” ujar Bramantyo, Presiden Direktur Mediatama Binakreasi. Sebagai salah satu pameran kerajian tangan terbesar di Asia, pameran ini menjadi arena promosi kerajinan tangan produksi Indonesia, untuk pasar domestik dan internasional dengan kualitas tinggi.

Sebagai fungsi untuk melestarikan seni kerajinan tradisional, setiap tahun Inacraft selalu menampilkan ikon kerajinan tangan milik provinsi-provinsi yang ada di Indonesia. Tahun ini Lampung dengan seni dan budayanya menjadi ikon Inacraft 2011. Tahun lalu, Sumatera Selatan menjadi ikon dengan tema besar Seni di Bumi Sriwijaya.

Tema yang mengambil khasanah budaya provinsi-provinsi di nusantara ini sudah menjadi tradisi Inacraft sejak pertama kali dihelat pada 1999. Saat itu, Yogyakarta dengan seni kerajinannya, menjadi pusat perhatian pengunjung pameran itu. Berikutnya Bali dengan seni topeng di 2000. Menariknya, Asephi tidak hanya mengangkat tema wilayah-wilayah yang sentra industri kerajinannya sudah mapan. Namun wilayah-wilayah lain semisal Papua, Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan Tengah pernah menjadi ikon, dan menarik perhatian besar pengunjung.