Jakarta Tanggap COVID-19

Data Pemantauan COVID-19 Nasional dan DKI Jakarta

21 Januari 2020 sampai hari ini
Personal Branding Pilkada/Pileg, Kehumasan (PR), Media Management Issue, Monitoring Media >> mahar.prastowo@gmail.com

Kedermawanan Media yang Dilematis

Oleh: Yovantra Arief

Televisi adalah salah satu kanal penggalangan dana publik yang masif. Dari sepuluh televisi swasta yang bersiaran nasional, hanya terdapat dua stasiun yang tidak mengadakan penggalangan dana publik, yaitu Trans TV dan Metro TV. Dalam periode dua minggu penelitian (18–31 Januari), Remotivi menemukan 213 spotpenggalangan dana publik yang tersebar di delapan televisi swasta. Namun demikian, praktik ini tidak disertai dengan pertimbangan etis yang memadai.

Roy Thaniago, Direktur Remotivi, dalam publikasi penelitian dan diskusi publik “Mempertanyakan Penggalangan Dana Publik oleh Media” yang diadakan di Galeri Cafe, Cikini, Jakarta Pusat, 27 Mei 2013, memaparkan pelanggaran-pelanggaran televisi dalam hal etika filantropi. Televisi, di antaranya, kurang memberi penghargaan kepada pemirsa yang telah menyumbang. Hal ini ditunjukkan dengan  tidak konsistennya disebutkan “sumbangan dari pemirsa”. Absennya pemirsa ini malah digantikan oleh kemunculan pemilik media, seperti yang dilakukan oleh Harry Tanoesudibjo (MNC Group) atau Direktur Utama SCTV Sutanto Hartono.

Pada kasus lain, bantuan dari Pundi Amal SCTV malah diserahkan oleh Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) dan bantuan Atap Rumah Bangsa malah diserahkan oleh CEO TV One Ardiansyah Bakrie.

Kedua contoh tadi seharusnya secara struktural dan manajerial tidak punya hubungan apa pun dengan TV One. Menurut Roy, hal ini bisa diartikan sebagai upaya media “melayani” atau “bersilaturahmi” dengan pejabat atau tokoh publik tertentu, namun  difasilitasi oleh dana publik.

Baca selengkapnya >> www.remotivi.or.id

--REMOTIVI
"Hidupkan Televisimu, Hidupkan Pikiranmu"