Personal Branding Pilkada/Pileg, Kehumasan (PR), Management Issue, Monitoring Media, wa.me/081387284468 >> mahar.prastowo@gmail.com >> fb.com/editor.wiki

SEMINAR WIRAUSAHA AL-IDRISIYYAH: Wujudkan Komunitas Santripreneur

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi,” (QS Al Qashshash [28] ayat 77)

Massa Islam dan DPR-GR Tuntut Pembubaran PKI

A+ | Di Jakarta hari ini, Rabu (20/10/1965) golongan Islam dalam DPR-GR dengan resmi menuntut pembubaran PKI. Sementara itu, kurang lebih 50.000 massa Ansor dan organisasi massa NU lainnya mengadakan rapat umum di Taman Surapati, Jakarta.

Selain memberikan dukungan kepada anggota DPR-GR dari golongan Islam yang menuntut pembubaran PKI, massa juga memberikan dukungan pada Konferensi Internasional Anti Pangkalan Militer Asing (KIAPMA) yang sedamg dipersiapkan di Jakarta.

Massa juga menuntut agar pemerintah meninjau kembali hubungan dengan RRC yang melalui Radio Peking telah ikut campur dalam masalah penyelesaian G-30-S/PKI dengan mendiskreditkan Jenderal Nasution dan Jenderal Soeharto.
_______________________________
Arsip Berita Rabu, 20 Oktober 1965

Kemarau

...
Kemarau tak berkesudahan
Lenyapkan keteduhan
Sumur-sumur dahaga
Cangkul-cangkul digantung
Ani-ani mulai berkarat
Tikus lumbung tinggal lunglit
hilangkan selera kucing
Burung pipit hilang kicaunya
Gagak hitam lebih sering kabarkan duka
Aku mulai gelisah
sebab meludah semakin sayang
buang air kencing semakin jarang
keringat semakin asin
bayi2 menangis tanpa air mata
Di komplek pelacuran kudengar kabar
kondom tergantikan gel pelumas
orgasme kering kata kupu2 malam
Kubetulkan letak kacamata
kulihat bantal dengan seksama
tak ada gambar peta baru setahun terakhir
ngiler pun berhenti!
Hanya asap penuhi segala ruang
Aku mulai membiasakan diri
dengan irama tersengal nafas bayi
dan berita televisi lansia sekarat
Belum ada yang mati hirup asap kata pejabat
Inikah hukuman atas kepura2an kita
bersahabat dengan alam?
Atau...
Tuhan sedang menguji rasa syukur penjual es?
-
Lokasari Mangga Besar
01:40
081015

Karena Rasulullah Seorang Pria, 10 Wasiat Ini Tak Dipercaya Kaum Wanita

A+ | Fatimah, Putri Rasulullah s.a.w mengeluh kepada Ayahnya, tangannya yang dulunya halus kini berubah menjadi kasar dan lecet-lecet tersebab setiap hari menumbuk gandum sendiri, mengolah dan memasaknya, sejak ia menikah dengan Ali Bin Abi Thalib.
Kemudian Rasulullah s.a.w menyampaikan 10 wasiat yang populer dalam khutbah pernikahan, namun banyak wanita tidak percaya hal ini karena Rasulullah seorang pria, bukan wanita.
10 Wasiat tersebut ialah:
1. Wahai Fatimah! Sesungguhnya wanita yang membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya, kelak Allah akan tetapkan baginya kebaikan dari setiap biji gandum yang diadonnya, dan juga Allah akan melebur kejelekan serta meningkatkan derajatnya.
2. Wahai Fatimah! Sesungguhnya wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan anak-anaknya, niscaya Allah akan menjadikan antara neraka dan dirinya tujuh tabir pemisah.
3. Wahai Fatimah! Sesungguhnya wanita yang meminyaki rambut anak-anaknya lalu menyisirnya dan kemudian mencuci pakaiannya, maka Allah akan tetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan seribu orang yang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang.
4. Wahai Fatimah! Sesungguhnya wanita yang membantu kebutuhan tetangga-tetangganya, maka Allah akan membantunya untuk dapat meminum Telaga Kautsar pada hari kiamat nanti.
5. Wahai Fatimah! Yang lebih utama dari seluruh keutamaan di atas adalah keridhaan suami terhadap istri. Andaikata suamimu tidak ridha kepadamu,maka aku tidak akan mendoakanmu. Ketahuilah Fatimah, Kemarahan suami adalah kemurkaan Allah.
6. Wahai Fatimah! Disaat seorang wanita hamil, maka malaikat memohonkan ampunan baginya, danAllah tetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan, serta melebur seribu kejelakan. Ketika seorang wanita merasa sakit akan melahirkan, maka Allah tetapkan pahala baginya sama dengan pahala para Pejuang Allah. Disaat seorang wanita melahirkan kandungannya, makabersihlah dosa-dosanya seperti ketika dia dilahirkan dari kandungan ibunya. Disaat seorang wanita meninggal karena melahirkan, maka dia tidak akan membawa dosa sedikit pun, di dalam kubur akan mendapat taman yang indah yang merupakan bagian dari taman surga. Allah memberikan padanya pahala yang sama dengan pahala seribu orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan seribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.
7. Wahai Fatimah! Disaat seorang istri melayani suaminya selama sehari semalam, dengan rasa senang dan ikhlas, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya dihari kiamat berupa pakaian yang serba hijau, dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan. Allahpun akan memberikan kepadanya pahala seratus kali ibadah haji dan umrah.
8. Wahai Fatimah! Disaat seorang istri tersenyum dihadapan suaminya, maka Allah akan memandangnya dengan pandangan penuh kasih.
9. Wahai Fatimah! Disaat seorang istri membentangkan alas tidur untuk suaminya dengan rasa senang hati, maka para malaikat yang memanggil dari langit menyeru wanita itu agar menyaksikan pahala amalnya, dan Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.
10. Wahai Fatimah! Disaat seorang wanita meminyaki kepala suami dan menyisirnya, meminyaki jenggotnya dan memotong kumisnya serta kuku-kukunya, maka Allah akan memberi minuman yang dikemas indah kepadanya, yang didatangkan dari sungai-sungai surga. Allah pun akan mempermudah sakaratul maut baginya, serta menjadikan kuburnya bagian dari taman surga. Allah pun menetapkan baginya bebas dari siksa neraka serta dapat melintasi shirathal mustaqim dengan selamat.

#

Salman Al Farisi dan Pemuda Berakhlak Mulia


A+ | Suatu hari Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya para sahabat sedang asyik berdiskusi sesuatu. Di kejauhan datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka.

Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata, "tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin! Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini!".

Umar segera bangkit dan berkata, "Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka wahai anak muda?"

Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata, "Benar, wahai Amirul Mukminin."

"Ceritakanlah kepada kami kejadiannya," tukas Umar.

Pemuda lusuh itu memulai ceritanya,
"Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku, kuikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia. Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera kucabut pedangku dan kubunuh ia. Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini."

"Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.", sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.

"Tegakkanlah had Allah atasnya!" timpal yang lain.

Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh.

"Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat', ujarnya.

"Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat atas kematian ayahmu", lanjut Umar.

"Maaf Amirul Mukminin," sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala, "kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa".

Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur dan bertanggung jawab.

Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata,"Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah" ujarnya dengan tegas,
"Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash".

"Mana bisa begitu?", ujar kedua pemuda.

"Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?" tanya Umar.

"Sayangnya tidak ada Amirul Mukminin, bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggung jawaban kaumku bersamaku?" pemuda lusuh balik bertanya.

"Baik, aku akan meberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji." kata Umar.

"Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah lah penjaminku wahai orang-orang beriman", rajuknya.

Tiba-tiba dari belakang hadirin terdengar suara lantang, "Jadikan aku penjaminnya wahai Amirul Mukminin".

Ternyata Salman al Farisi yang berkata..

"Salman?" hardik Umar marah, "Kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini".

"Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, ya Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya", jawab Salman tenang.

Akhirnya dengan berat hati Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh.

Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.

Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua.

Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.

Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman. Salah satu sahabat Rasulullah saw yang paling utama.

Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya.

Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh. Akhirnya tiba waktunya penqishashan, Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi.

Hadirin mulai terisak, orang hebat seperti Salman akan dikorbankan. Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali. ”Itu dia!” teriak Umar, “Dia datang menepati janjinya!”. Dengan tubuhi bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar.

”Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. Aku..” ujarnya dengan susah payah, “Tak kukira.. urusan kaumku.. menyita..banyak.. waktu..”. ”Kupacu.. tungganganku.. tanpa henti, hingga.. ia sekarat di gurun.. terpaksa.. kutinggalkan.. lalu aku berlari dari sana..” ”Demi Allah”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum,

“Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?”

"Agar.. jangan sampai ada yang mengatakan.. di kalangan Muslimin.. tak ada lagi ksatria.. tepat janji..” jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.

Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya, “Lalu kau Salman, mengapa mau-
maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?

"Agar jangan sampai dikatakan, dikalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya”,

Salman menjawab dengan mantap. Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu dan bertakbir, ”Allahu Akbar!”

Tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak, “Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”.

Semua orang tersentak kaget.

“Kalian..” ujar Umar, “Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?” Umar semakin haru.

”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya” ujar kedua pemuda membahana.

”Allahu Akbar!” teriak hadirin. Pecahlah tangis bahagia, haru dan sukacita oleh semua orang.

Saat ini.. adakah bersama kita ksatria2 muslim yang memuliakan islam dengan kemuliaan akhlaqnya?

                                                                     |||

Istri Salehah, Perhiasan Dunia


Setiap keindahan perhiasan duniaHanya isteri salehah perhiasan terindah
Setiap keindahan yang tampak oleh mataItulah perhiasan, perhiasan dunia
Namun yang paling indah di antara semuaHanya isteri salehah, isteri yang salehah
Setiap keindahan perhiasan duniaHanya isteri salehah perhiasan terindah
Hanya isteri yang berimanBisa dijadikan temanDalam tiap kesusahanSelalu jadi hiburan
Hanya isteri yang salehahYang punya cinta sejatiYang akan tetap setiaDari hidup sampai matiBahkan sampai hidup lagi---------------------
*Rhoma Irama

27 Dampak Negatif Berzina #KultumRamadan1436H


A+ | #KultumRamadan1436H


Zina merupakan perbuatan yang sangat buruk dan tercela. Allah Azza wa jalla berfirman :

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. [al-Isrâ’/17: 32]

Dalam ayat lain, Allah Azza wa jallaberfirman :

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا

Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, [al-Furqân/ 25:68-69]

Dalam ayat ini, Allah Azza wa jalla menyebutkan perbuatan zina setelah perbuatan syirik dan setelah pembunuhan terhadap jiwa yang diharamkan Allah Azza wa jalla. Ini menunjukkan betapa perbuatan zina itu sangatlah buruk.

Dalam ayat lain, Allah Azza wa jallamenyebutkan sanksi bagi pelaku perbuatan nista ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kamu kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akherat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. [an-Nûr/24:2]

Para ulama mengatakan : "ini sanksi bagi perempuan dan lelaki yang berzina apabila keduanya belum menikah. Sedangkan bila telah bersuami atau pernah menikah maka keduanya dirajam (dilempari) dengan batu hingga mati.

Dalam hadits lain dinyatakan:

مَنْ زَنَا أَوْ شَرِبَ الْخَمْرَ نَزَعَ اللهُ مِنْهُ اْلإِيْمَانَ كَمَا يَخْلَعُ اْلإِنْسَانُ اْلقَمْيصَ مِنْ رَأْسِهِ

Siapa yang berzina atau minum khamr maka Allah mencabut keimanan dari orang itu sebagaimana seorang manusia melepas bajunya dari arah kepalanya. [HR al-Hâkim dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dan as-Suyûthi memberi symbol sahih]

Zina yang terburuk adalah menzinahi ibunya sendiri, putrinya, saudari atau mahramnya yang lain. Dalam hadits dinyatakan:

مَنْ وَقَعَ عَلَى ذَاتِ مَحْرَمٍ فَاقْتُلُوْهُ

Siapa yang menzinahi mahramnya maka bunuhlah! [HR al-Hâkim dan beliau shahihkan]


Zina berisi seluruh kejelekan, diantaranya:

1. Zina mengurangi agama seseorang

2. Zina menghilangkan sifat wara’

3. Zina merusak kehormatan dan harga diri

4. Zina mengurangi sifat cemburu

5. Pezina mendapatkan murka Allah Azza wa jalla.

6. Zina menghitamkan wajah dan menjadikannya gelap

7. Zina menggelapkan hati dan menghilang cahayanya

8. Zina mengakibatkan kefakiran yang terus menerus.

9. Zina menghilangkan kesucian pelakunya dan menjatuh nilainya dihadapan Rabbnya dan dihadapan manusia.

10. Zina mencopot sifat dan julukan terpuji seperti ‘iffah, baik, adil, amanah dari pelakunya serta menyematkan sifat cela seperti fajir, pengkhianat, fasiq dan pezina.

11. Pezina menyeburkan diri pada adzab di sebuah tungku api neraka yang bagian atasnya sempit dan bawahnya luas. Sebuah tempat yang pernah disaksikan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menyiksa para pezina. [HR al-Bukhâri dalam shahihnya dari sahabat Samurah bin Jundab Radhiyallahu anhu].

12. Zina menghilangkan nama baik dan menggantinya dengan al khabîts, sebuah gelar yang sematkan buat para pezina

13. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kegelisahan hati buat para pezina

14. Zina menghilangkan kewibawaan. Wibawanya akan di cabut dari hati keluarga, teman-temannya dan yang lain

15. Manusia memandangnya sebagai pengkhianat. Tidak ada seorangpun yang bisa mempercayainya mengurusi anak dan istrinya

16. Allah Azza wa jalla memberikan rasa sumpek dan susah dihati pezina

17. Pezina telah menghilangkan kesempatan dirinya untuk mendapatkan kenikmatan bersama bidadari di tempat tinggal indah di syurga

18. Perbuatan zina mendorong pelakunya berani durhaka kepada kedua orang tua, memutus kekerabatan, bisnis haram, menzhalimi orang lain dan menelantarkan istri dan keluarga

19. Perbuatan zina dikelilingi oleh perbuatan maksiat lainnya. Jadi perbuatan nista ini tidak akan terealisasi kecuali dengan didahului, dibarengi dan diiringi beragam maksiat lainnya. Perbuatan keji menyebabkan keburukan dunia dan akherat

20. Pelaku zina wajib diberi sanksi; pezina yang belum menikah didera seratus kali dan diasingkan selama setahun dari daerahnya sedangkan pelaku yang pernah menikah atau masih berkeluarga dirajam (dilempari) batu sampai mati

21. Zina merusak nasab

22. Zina menghancurkan kehormatan dan harga diri orang

23. Zina menyebabkan tersebarnya waba penyakit berbahaya, tha’un (lepra) dan tersebarnya penyakit kelamin yang umumnya sulit diobati, minimal penyakit syphilis (kencing nanah dan gatal-gatal berkepanjangan).

24. Perbuatan zina membuka peluang bagi keluarganya untuk terjerumus dalam perbuatan serupa. Dalam pepatah dikatakan :

كَمَا تَدِيْنُ تُدَانُ

Engkau akan dibalas sesuai dengan perbuatanmu

25. Zina menyebabkan seluruh balasan amalan shalih hilang sehingga ia bangkrut pada hari kiamat.

26. Dihari kiamat pelaku zina akan dihadapkan pada orang yang istrinya dizinai untuk diambil pahala kebaikannya sesuka sang suami sehingga tidak tersisa kebaikan sedikitpun

27. Anggota tubuh seperti tangan, kaki, kulit, telinga, mata dan lisan akan memberikan persaksian yang menyakitkan. Allah Azza wa jalla berfirman :

يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. [an-Nûr/ 24:24].

Itulah diantara sekian banyak efek negatif dari perbuatan zina. Semua ini memberikan gambaran betapa buruk dampak perbuatan nista ini dan alangkah rendah moralitas pelakunya. Efek negatif perbuatan tak senonoh ini tidak hanya akan dirasakan oleh si pelaku tapi juga oleh sang anak yang tidak tahu-menahu. semoga Allah Azza wa jalla melindungi kami dan seluruh kaum muslimin dari perbuatan keji ini.

* * *
Dijariyyahkan oleh Syaikh Abdullah bin Jârullah bin Ibrâhîm al jârullâh fi kutaib Khatarul Jarîmah al khuluqiyah

Kebanyakan Wanita Menghuni Neraka


A+ | Beberapa kutipan sabda Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi wasallam tentang wanita penghuni neraka:
“Aku melihat ke dalam Surga maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah fuqara (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penduduknya adalah wanita.”
(HR. Bukhari, no. 3069 dan Muslim no.7114, dari Ibnu Abbas dan Imran serta selain keduanya)

"Aku berdiri di depan pintu syurga, lalu (kulihat) kebanyakkan orang yang masuk kedalamnya adalah orang orang miskin, dan orang orang yang kaya di tahan kecuali penghuni neraka mereka di suruh untuk masuk ke neraka, dan aku berdiri di depan pintu neraka maka (kulihat) kebanyakan yang masuk ke dalamnya adalah wanita".
(HR Muslim, no. 7113).

“Sesungguhnya penduduk surga yang paling sedikit adalah wanita.” 
(HR. Muslim, no. 7118).

dikutip dari #MajalahKutip

10 DURHAKA ISTRI TERHADAP SUAMI YANG MENYEBABKAN MASUK NERAKA

A+ | 10 PERILAKU DURHAKA SEORANG ISTRI TERHADAP SUAMI YANG MENYEBABKAN MASUK NERAKA

1. Menuntut keluarga yang ideal dan sempurna
Sebelum menikah, seorang wanita membayangkan pernikahan yang begitu indah, kehidupan yang sangat romantis sebagaimana ia baca dalam novel maupun ia saksikan dalam sinetron-sinetron.

Ia memiliki gambaran yang sangat ideal dari sebuah pernikahan. Kelelahan yang sangat, cape, masalah keuangan, dan segudang problematika di dalam sebuah keluarga luput dari gambaran nya.

Ia hanya membayangkan yang indah-indah dan enak-enak dalam sebuah perkawinan.

Akhirnya, ketika ia harus menghadapi semua itu, ia tidak siap. Ia kurang bisa menerima keadaan, hal ini terjadi berlarut-larut, ia selalu saja menuntut suaminya agar keluarga yang mereka bina sesuai dengan gambaran ideal yang senantiasa ia impikan sejak muda.

Seorang wanita yang hendak menikah, alangkah baiknya jika ia melihat lembaga perkawinan dengan pemahaman yang utuh, tidak sepotong-potong, romantika keluarga beserta problematika yang ada di dalamnya.

2. Nusyus (tidak taat kepada suami)
Nusyus adalah sikap membangkang, tidak patuh dan tidak taat kepada suami. Wanita yang melakukan nusyus adalah wanita yang melawan suami, melanggar perintahnya, tidak taat kepadanya, dan tidak ridha pada kedudukan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah tetapkan untuknya.

Nusyus memiliki beberapa bentuk, diantaranya adalah:
-    Menolak ajakan suami ketika mengajaknya ke tempat tidur, dengan terang-terangan maupun secara samar.
-    Mengkhianati suami, misalnya dengan menjalin hubungan gelap dengan pria lain.
-    Memasukkan seseorang yang tidak disenangi suami ke dalam rumah
-    Lalai dalam melayani suami
-    Mubazir dan menghambur-hamburkan uang pada yang bukan tempatnya
-    Menyakiti suami dengan tutur kata yang buruk, mencela, dan mengejeknya
-    Keluar rumah tanpa izin suami
-    Menyebarkan dan mencela rahasia-rahasia suami.

Seorang istri shalihah akan senantiasa menempatkan ketaatan kepada suami di atas segala-galanya. Tentu saja bukan ketaatan dalam kedurhakaan kepada Allah, karena tidak ada ketaatan dalam maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia akan taat kapan pun, dalam situasi apapun, senang maupun susah, lapang maupun sempit, suka ataupun duka. Ketaatan istri seperti ini sangat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan cinta dan memelihara kesetiaan suami.

3. Tidak menyukai keluarga suami
Terkadang seorang istri menginginkan agar seluruh perhatian dan kasih sayang sang suami hanya tercurah pada dirinya. Tak boleh sedikit pun waktu dan perhatian diberikan kepada selainnya. Termasuk juga kepada orang tua suami. Padahal, di satu sisi, suami harus berbakti dan memuliakan orang tuanya, terlebih ibunya.

Salah satu bentuknya adalah cemburu terhadap ibu mertuanya. Ia menganggap ibu mertua sebagai pesaing utama dalam mendapatkan cinta, perhatian, dan kasih sayang suami. Terkadang, sebagian istri berani menghina dan melecehkan orang tua suami, bahkan ia tak jarang berusaha merayu suami untuk berbuat durhaka kepada orang tuanya. Terkadang istri sengaja mencari-cari kesalahan dan kelemahan orang tua dan keluarga suami, atau membesar-besarkan suatu masalah, bahkan tak segan untuk memfitnah keluarga suami.

Ada juga seorang istri yang menuntut suaminya agar lebih menyukai keluarga istri, ia berusaha menjauhkan suami dari keluarganya dengan berbagai cara.

4. Tidak menjaga penampilan
Terkadang, seorang istri berhias, berdandan, dan mengenakan pakaian yang indah hanya ketika ia keluar rumah, ketika hendak bepergian, menghadiri undangan, ke kantor, mengunjungi saudara maupun teman-temannya, pergi ke tempat perbelanjaan, atau ketika ada acara lainnya di luar rumah. Keadaan ini sungguh berbalik ketika ia di depan suaminya. Ia tidak peduli dengan tubuhnya yang kotor, cukup hanya mengenakan pakaian seadanya: terkadang kotor, lusuh, dan berbau, rambutnya kusut masai, ia juga hanya mencukupkan dengan aroma dapur yang menyengat.

Jika keadaan ini terus menerus dipelihara oleh istri, jangan heran jika suami tidak betah di rumah, ia lebih suka menghabiskan waktunya di luar ketimbang di rumah. Semestinya, berhiasnya dia lebih ditujukan kepada suami Janganlah keindahan yang telah dianugerahkan oleh Allah diberikan kepada orang lain, padahal suami nya di rumah lebih berhak untuk itu.

5. Kurang berterima kasih
Tidak jarang, seorang suami tidak mampu memenuhi keinginan sang istri. Apa yang diberikan suami jauh dari apa yang ia harapkan. Ia tidak puas dengan apa yang diberikan suami, meskipun suaminya sudah berusaha secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan keinginan-keinginan istrinya.

Istri kurang bahkan tidak memiliki rasa terima kasih kepada suaminya. Ia tidak bersyukur atas karunia Allah yang diberikan kepadanya lewat suaminya. Ia senantiasa merasa sempit dan kekurangan. Sifat qona’ah dan ridho terhadap apa yang diberikan Allah kepadanya sangat jauh dari dirinya.

6. Mengingkari kebaikan suami
“Wanita merupakan mayoritas penduduk neraka.” Demikian disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah shalat gerhana ketika terjadi gerhana matahari.

Ajaib!! wanita sangat dimuliakan di mata Islam, bahkan seorang ibu memperoleh hak untuk dihormati tiga kali lebih besar ketimbang ayah. Sosok yang dimuliakan, namun malah menjadi penghuni mayoritas neraka. Bagaimana ini terjadi?

“Karena kekufuran mereka,” jawab Rasulullah Shallallahu’Alaihi wa Sallam ketika para sabahat bertanya mengapa hal itu bisa terjadi. Apakah mereka mengingkari Allah?

Bukan, mereka tidak mengingkari Allah, tapi mereka mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah diperbuat suaminya. Andaikata seorang suami berbuat kebaikan sepanjang masa, kemudian seorang istri melihat sesuatu yang tidak disenanginya dari seorang suami, maka si istri akan mengatakan bahwa ia tidak melihat kebaikan sedikitpun dari suaminya. Demikian penjelasan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari (5197).

Mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan suami!!

Inilah penyebab banyaknya kaum wanita berada di dalam neraka. Mari kita lihat diri setiap kita, kita saling introspeksi, apa dan bagaimana yang telah kita lakukan kepada suami-suami kita?

7. Mengungkit-ungkit kebaikan
Setiap orang tentunya memiliki kebaikan, tak terkecuali seorang istri. Yang jadi masalah adalah jika seorang istri menyebut kebaikan-kebaikannya di depan suami dalam rangka mengungkit-ungkit kebaikannya semata.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” [Al Baqarah: 264]

8. Sibuk di luar rumah
Seorang istri terkadang memiliki banyak kesibukan di luar rumah. Kesibukan ini tidak ada salahnya, asalkan mendapat izin suami dan tidak sampai mengabaikan tugas dan tanggung jawabnya.

Jangan sampai aktivitas tersebut melalaikan tanggung jawab nya sebagai seorang istri. Jangan sampai amanah yang sudah dipikulnya terabaikan.

Ketika suami pulang dari mencari nafkah, ia mendapati rumah belum beres, cucian masih menumpuk, hidangan belum siap, anak-anak belum mandi, dan lain sebagainya. Jika hni terjadi terus menerus, bisa jadi suami tidak betah di rumah, ia lebih suka menghabiskan waktunya di luar atau di kantor.

9. Cemburu buta
Cemburu merupakan tabiat wanita, ia merupakan suatu ekspresi cinta. Dalam batas-batas tertentu, dapat dikatakan wajar bila seorang istri merasa cemburu dan memendam rasa curiga kepada suami yang jarang berada di rumah. Namun jika rasa cemburu ini berlebihan, melampaui batas, tidak mendasar, dan hanya berasal dari praduga; maka rasa cemburu ini dapat berubah menjadi cemburu yang tercela.

10. Kurang menjaga perasaan suami
Kepekaan suami maupun istri terhadap perasaan pasangannya sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya konflik, kesalahpahaman, dan ketersinggungan. Seorang istri hendaknya senantiasa berhati-hati dalam setiap ucapan dan perbuatannya agar tidak menyakiti perasaan suami, ia mampu menjaga lisannya dari kebiasaan mencaci, berkata keras, dan mengkritik dengan cara memojokkan. Istri selalu berusaha untuk menampakkan wajah yang ramah, menyenangkan, tidak bermuka masam, dan menyejukkan ketika dipandang suaminya.

Demikian beberapa kesalahan-kesalahan istri yang terkadang dilakukan kepada suami yang seyogyanya kita hindari agar suami semakin sayang pada setiap istri. Semoga keluarga kita menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah. Amiin Yaa Robbal’alamiin…



Sumber : Dakwatuna

Kami-lah Generasi Bahagia itu...

A+ | GENERASI BAHAGIA Itu, generasi kelahiran 1970-1990, Dan itu adalah kami. Kami adalah generasi terakhir yang masih bermain di halaman rumah yg luas. Kami berlari dan bersembunyi penuh canda-tawa dan persahabatan. Main Petak Umpet, Boy-boynan, gobag sodor, Lompat tali, Masak-masakan, sobyong, jamuran, putri putri Melati tanpa peringatan dari Bpk Ibu. Kami bisa memanfaatkan gelang karet, isi sawo, kulit jeruk, batre bekas, sogok telik mjd permainan yg mengasyikkan.

Kami generasi yang ngantri di wartel dari jam 5 pagi, berkirim surat dan menanti surat balasan dg penuh rasa rindu. Tiap sore kami menunggu cerita radio Brama Kumbara, berkirim salam lewat penyiar radio. Kamilah generasi yang SD nya merasakan papan tulis berwarna hitam, masih pakai pensil dan rautan yang ada kaca di salah satunya. Kamilah generasi yg SMP dan SMA nya masih pakai papan tulis hitam dan kapur putih. Generasi yang meja sekolahnya penuh dengan coretan kejujuran kami melalui tulisan Tipe-X putih, generasi yang sering mencuri pandang teman sekolah yang kita naksir, kirim salam buat dia lewat temannya dan menyelipkan surat cinta di laci mejanya.

Kami adalah generasi yang merasakan awal mula teknologi gadget komunikasi seperti pager, Komputer Pentium jangkrik 486 dan betapa canggihnya Pentium 1 66Mhz. Kami generasi yang sangat bangga kalau memegang Disket kapasitas 1.44Mb dan paham sedikit perintah Dos dengan mengetik copy, del, md, dir/w/p. Kami adalah generasi yang memakai MIRC untuk chatting dan Searching memakai Yahoo. Generasi bahagia yang pertama mengenal Nintendo, gembot (Game wacth)  yg blm berwarna.

Generasi kamilah yang merekam lagu dari siaran radio ke pita kaset tape, yang menulis lirik dengan cara play-pause-rewind, dan memanfaatkan pensil utk menggulung pita kaset ya macet, kirim kirim salam ama temen2 lewat siaran radio saling sindir dan bla bla bla, generasi penikmat awal Walkman dan mengenal apa itu Laserdisc, VHS. Kamilah generasi layar tancap Misbar yang merupakan cikal bakal bioskop Twenty One.

Kami tumbuh diantara para legenda cinta spt kla Project, dewa 19, padi, masih tak malu menyanyikan lagu Sheila on7, dan selalu tanpa sadar ikut bersenandung ketika mendengar lagu: mungkin aku bukan pujangga, yg pandai merangkai kata.

Kami generasi bersepatu Warior dan rela nyeker berangkat sekolah tanpa sepatu kalau sedang hujan. Cupu tapi bukan Madesu.

Kami adalah generasi yang bebas, bebas bermotor tanpa helm, yang punya sepeda, sepedanya disewain 200 rupiah /jam,bebas dari sakit leher krn kebanyakan melihat ponsel, bebas manjat tembok stadion, bebas mandi dikali disungai dll, bebas manggil teman sekolah dengan nama bapaknya. Bebas bertanggung jawab.

Sebagai anak bangsa Indonesia, Kami hafal Pancasila, Nyanyian Indonesia Raya, maju tak gentar, Teks proklamasi, Sumpah Pemuda, Nama nama para Menteri kabinet pembangunan IV dan Dasadharma Pramuka dan Nama nama seluruh provinsi di Indonesia.

Kini disaat kalian sedang sibuk2nya belajar dengan kurikulum mu yg njelimet, kami mengatur waktu untuk selalu bisa ngumpul reunian dg generasi kami.

Betapa bahagianya generasi kami.

maaf adik2... kalian belajar yg keras ya untuk mendapatkan kebahagian cara kalian sendiri...
Salam sayang dari kami.

#Copas

‪‎Tertipu‬ Oleh Kepintaran *

Ada Kisah seorang ikhwah..
Yang amat mencintai istrinya. .
Namun istrinya tak mencintainya. .
Ia mengharapkan lelaki lain. .
Yang lebih darinya. .

Wanita itu telah pandai Bahasa Arab. .
Sementara suaminya. .
Hanya memahami Bahasa Indonesia. .
Wanita itu telah lama mengaji. .
Sementara suaminya. .
Sibuk membanting tulang mencari nafkah. .
Tuk membahagiakan kekasihnya. .
Wanita itu telah banyak menghafal al-Qur'an. .
Sementara suaminya tak banyak bisa menghafal. .

Mungkin. .
Kini suaminya sudah tak berharga di matanya. .
Mungkin. .
Kini cintanya telah pudar di hatinya. .
Karena tak sesuai harapannya. .

Demikianlah. .
Kisah cinta yang bertepuk sebelah. .
Karena istrinya tertipu oleh kepintarannya. .

Ilmu tak membuatnya semakin sayang pada
suaminya. .
Ilmu tak membuatnya semakin berbakti kepada
suaminya. .
Ilmu membuatnya angkuh. .
Tak ada lagi cinta dihatiku, kilahnya. .

Saudariku. .
Engkau boleh lebih berilmu dari suamimu. .
Tapi mungkin suamimu lebih takut kepada Allaah darimu. .

Engkau boleh punya banyak kelebihan di atas
suamimu. .
Tapi, suamimu. .
Mungkin lebih dicintai oleh Robbmu karena
ketawadhu'annya. .

Al Hasan Al Bashri rohimahullaah berkata. .
Ilmu itu bukanlah dengan banyak menghafal
riwayat. . Namun ilmu adalah yang menimbulkan rasa takut kepada Allaah. .

Dimanakah hadits yang telah engkau hafal,
"Suamimu adalah Surgamu atau Nerakamu.."

Ya Robb. .
Berilah kami ilmu yang bermanfaat...



* Oleh Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc

Serial Kisruh KPK-Polri

Oleh: Moh Mahfud MD

Ketika Rabu, 18 Februari 2015, Presiden Jokowi memutuskan untuk mengajukan Badrodin Haiti sebagai calon kepala Kepolisian Republik Indonesia (kapolri) dan mengumumkan akan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) tentang Pelaksana Tugas Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), masyarakat menyambutnya dengan lega.

Keputusan itu dipandang sebagai jalan tengah yang tepat dan bijak karena membatalkan pencalonan Budi Gunawan sebagai kapolri, tetapi juga memberhentikan Abraham Samad dan Bambang Widjojanto yang kemudian menggantikannya dengan pelaksana tugas pimpinan KPK. Aspirasi dari pendukung Budi Gunawan dan pendukung Abraham-Bambang sama-sama diperhatikan.

Meski sudah pasti takbisa memuaskan semua orang, keputusan Presiden tersebut telah menjadi jalan untuk mengakhiri kegaduhan yang menguntungkan para koruptor. Kebijakan itu seharusnya mengakhiri ”perang” berseri antara KPK dan Polri sebagai fakta yang tak bisa disembunyikan. Para pencinta negara menyambut baik keputusan Presiden itu sebagai titik tolak untuk mengatur langkah baru yang lebih sinergis memerangi korupsi. Namun harapan akan berakhirnya kisruh berseri dalam lakon ”cicak-buaya” itu berlanjut.

Pasalnya Polri terus melakukan proses hukum atas Abraham Samad dan Bambang Widjojanto yang kemudian diteruskan dengan penersangkaan penyidik terbaik KPK Novel Baswedan karena kasus penembakan pencuri sarang burung walet yang terjadi 11 tahun yang lalu di Bengkulu. Masyarakat pun banyak yang kemudian menganggap Polri telah melakukan balas dendam melalui kriminalisasi.

Istilah kriminalisasi itu sendiri mungkin kurang tepat karena kriminalisasi berarti menjadikan seseorang masuk dalam proses hukum pidana, padahal tidak ada tindak pidana yang dilakukannya. Faktanya, polisi mempunyai kasus yang nyata ada terkait dengan Abraham Samad, Bambang Widjojanto, dan Novel Baswedan yang benar atau tidaknya bisa diuji di peradilan pidana. Dengan fakta dan keyakinan Polri itu, tentu tidak bisa dikatakan terjadi kriminalisasi.

Polri sudah melakukan tugasnya sesuai dengan hukum. Meski demikian, jika kasus untuk ketiga orang KPK itu dipandang secara jernih dan dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa yang mendahului dan mengiringinya, tidaklah terlalu salah juga kalau ada yang mengatakan Polri melakukan balas dendam politik yang kemudian ada yang menyebut melakukan kriminalisasi.

Pasalnya kasus-kasus yang disangkakan kepada Abraham, Bambang, dan Novel adalah kasus lama yang tiba-tiba dimunculkan kembali. Kasusnya pun, sepertinya, dulu tak pernah dipersoalkan atau sudah pernah ditangani dan dianggap selesai. Tapi kasus-kasus itu dimunculkan kembali setelah terjadi kisruh antara Polri dan KPK setelah Budi Gunawan dijadikan tersangka dalam tindak pidana korupsi oleh KPK.

Dua hari lalu (7 Mei 2015), saat memberi kuliah umum di UIN Malang, saya diminta oleh seorang mahasiswa untuk membela KPK dari ancaman penghancuran. Ya, istilahnya memang bikin bergidik: penghancuran. Saya katakan selama ini saya sudah membela KPK. Bahkan sampai belasan kali saya membela KPK ketika diserang melalui judicial review UU KPK di Mahkamah Konstitusi dan membela melalui cara-cara lain.

Tapi untuk kasus yang terakhir saya sulit menyusun logika dan menabrak nurani untuk membela KPK. Sebab penersangkaan terhadap Budi Gunawan yang menjadi sumbu seri keempat kisruh ini tidak dilakukan secara profesional. Menurut pemberitaan yang tak pernah dibantah, dokumen penersangkaannya tidak lengkap, tak jelas kapan dan siapa yang diperiksa, siapa penyidik yang menandatangani pemeriksaan. Momentum dan nuansa penersangkaannya pun terasa politis.

Kalau itu benar, sungguh hal itu telah melukai proses penegakan hukum dan merusak reputasi KPK yang selama ini kita bela mati-matian. Ini telah mengempaskan prestasi KPK yang selama ini kita banggakan. Perang melawan korupsi mengalami kemunduran, para koruptor pun bertepuk riang. Yang perlu dilakukan sekarang adalah membangun kembali KPK dan memberi dukungan kepada Taufiequrachman Ruki dkk untuk melakukan pembenahan.

Mulai sekarang harus dibangun hubungan tata kerja yang sinergis dan saling mendukung, bukan saling menyerang, antara KPK, Polri, dan Kejaksaan Agung (Kejagung), untuk bersama-sama memerangi korupsi. Kita perlu kembali ke latar belakang bahwa dulu KPK dibentuk karena Polri dan kejaksaan tidak optimal dalam memerangi korupsi. Artinya kalau Polri dan Kejagung sudah bisa mengoptimalkan fungsi dan perannya, KPK tak perlu dibebani tugas-tugas berat dan dijadikan lembaga yang super bodi.

Polri dan Kejagung harus menjadikan situasi seperti sekarang ini sebagai pelajaran dan momentum untuk mengoptimalkan fungsi dan perannya melawan korupsi dengan melakukan peran yang dulu dilakukan KPK sehingga didukung dan disenangi rakyat. Polri harus galak dan tegas terhadap para koruptor tanpa kolusi. Kita meyakini kejaksaan dan kepolisian bisa galak seperti KPK.

Buktinya pada Selasa (5/5) yang lalu Polri bisa bertindak tegas ketika menjadikan DH mantan pejabat tinggi di Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) sebagai tersangka kasus korupsi. DH disangka mengorupsi uang negara sebesar sekitar Rp2 triliun. Bareskrim Polri juga dengan gagah berani menggeledah Kantor SKK Migas dan meneliti dokumen sampai pukul 22.00 malam.

Dulu KPK disenangi rakyat karena sering melakukan langkah-langkah seperti itu. Inilah momentum bagi kejaksaan dan Polri untuk melakukan hal-hal demikian sebanyak mungkin karena masalah seperti itu masih banyak. Kalau kejaksaan dan Polri bisa mengambil peran itu, fanatisme kepada KPK bisa dihentikan. Hanya penegakan keadilan dan perang total terhadap korupsi yang bisa menyelamatkan negara dan bangsa kita. []

KORAN SINDO, 09 Mei 2015
Moh Mahfud MD ;  Guru Besar Hukum Konstitusi

SBY: Utang Indonesia ke IMF Lunas Tahun 2006


Saya terpaksa menanggapi dan mengoreksi pernyataan Presiden Jokowi menyangkut utang Indonesia ke IMF. Kemarin, tanggal 27 April 2015, harian Rakyat Merdeka memuat pernyataan Pak Jokowi yang intinya adalah Indonesia masih pinjam uang sama IMF. Berarti kita masih punya utang kepada IMF. Maaf, demi tegaknya kebenaran, saya harus mengatakan bahwa seluruh utang Indonesia kepada IMF sudah kita lunasi pada tahun 2006 yang lalu. Keseluruhan utang Indonesia terhadap IMF adalah US$ 9,1 miliar, jika dengan nilai tukar sekarang setara dengan Rp. 117 triliun, dan pembayaran terakhirnya kita lunasi pada tahun 2006, atau 4 tahun lebih cepat dari jadwal yang ada. Sejak itu kita tidak lagi jadi pasien IMF.

Saya masih ingat mengapa keputusan untuk melunasi semua utang IMF 4 tahun lebih cepat dari jatuh temponya itu saya ambil. Memang, sebelum keputusan final itu saya ambil, sejumlah pihak menyarankan agar lebih baik pelunasannya dilaksanakan secara bertahap, agar tidak mengganggu ketahanan ekonomi Indonesia. Tapi saya berpendapat lain. Lebih baik kalau utang itu segera kita lunasi. Ada 3 alasan saya mengapa keputusan dan kebijakan itu saya ambil. Pertama, pertumbuhan ekonomi kita waktu itu telah berada dalam tingkatan yang relatif tinggi. Jadi aman untuk menjaga ketahanan ekonomi makro dan sektor riil kita. Di sisi lain, disamping kekuatan fiskal kita aman, dari segi moneter cadangan devisa kita juga relatif kuat. Kedua, dengan telah kita lunasi utang IMF tersebut, kita tidak lagi didikte oleh IMF dan negara-negara donor. Tidak didikte dalam arti perencanaan pembangunan kita, termasuk APBN dan juga penggunaan keuangan kita, tidak harus mendapatkan persetujuan dari IMF. Saya tidak ingin pemerintah disandera. Kita harus merdeka dan berdaulat dalam mengelola perekonomian nasional kita. Saya masih ingat, ketika masih menjadi Menteri Pertambangan dan Energi (tahun 1999-2000), saya harus "melaporkan" dulu kepada negara-negara donor yang tergabung dalam forum CGI berkaitan dengan kebijakan dan rencana kementerian yang saya pimpin, utamanya menyangkut APBN. Situasinya sungguh tidak nyaman. Pernah saya diminta untuk menaikkan harga BBM dan Tarif Dasar Listrik secara serentak dengan angka yang sangat tinggi. Hal itu saya tolak, karena pasti ekonomi rakyat akan menjadi lebih buruk. Sedangkan alasan yang ketiga, selama Indonesia masih punya utang kepada IMF, rakyat kita merasa terhina (humiliated). Dipermalukan. Di mata sebagian rakyat, IMF diidentikkan dengan penjajah. Bahkan IMF-lah yang dianggap membikin krisis ekonomi tahun 1998 benar-benar buruk dan dalam.

Setelah utang IMF kita lunasi, saya juga ingat ketika para pemimpin IMF (Managing Director) satu-persatu berkunjung ke Indonesia dan menemui saya di kantor Presiden, mulai dari Rodrigo de Rato (2007), Dominique Strauss-Kahn (2011) hingga Chistine Lagarde (2012). Saya menerima kunjungan mereka dengan kepala tegak. Bahkan, pada kunjungan pemimpin IMF tahun 2012, IMF berharap Indonesia bisa ikut menaruh dananya di IMF karena kita telah menjadi anggota G20, dengan peringkat nomor 16 ekonomi besar dunia. Pasalnya, IMF kekurangan dana untuk digunakan membantu negara yang mengalami krisis berat dan perlu penyelamatan dari IMF. Artinya, tangan kita tidak lagi berada di bawah, tetapi sudah berada di atas.

Jika yang dimaksudkan Presiden Jokowi, Indonesia masih punya utang luar negeri, itu benar adanya. Utang Indonesia ada sejak era Presiden Soekarno. Meskipun, ketika saya memimpin Indonesia (2004-2014) rasio utang terhadap GDP terus dapat kita turunkan. Jika akhir tahun 2004 rasio utang terhadap GDP itu sekitar 50,6 %, di akhir masa jabatan saya tinggal sekitar 25 %. Artinya, jika dulu separuh lebih GDP kita itu untuk menanggung utang, maka tanggungan itu telah kita turunkan menjadi seperempatnya. Tetapi, kalau yang dimaksudkan Pak Jokowi bahwa kita masih punya utang kepada IMF, hal itu jelas keliru. Kalau hal ini tidak saya luruskan dan koreksi, dikira saya yang berbohong kepada rakyat, karena sejak tahun 2006 sudah beberapa kali saya sampaikan bahwa Indonesia tidak berhutang lagi kepada IMF. Rakyat pun senang mendengarnya. Saya yakin Pak Jokowi yang waktu itu sudah bersama-sama saya di pemerintahan, sebagai Walikota Surakarta, pasti mengetahui kebijakan dan tindakan yang saya ambil selaku Presiden.

Ditulis oleh Susilo Bambang Yudhoyono

Merokok Tidak Membunuhmu

Oleh: Mohamad Sobary


Kejujuran itu aspek penting di dalam hidup kaum terpelajar, yang bergulat di dalam dunia ilmu, untuk mencari kebenaran.

Kaum terpelajar dicintai Allah Yang Maha Kuasa karena keterpelajarannya. Mereka, di dalam tradisi Minangkabau, dihormati, dengan ungkapan ”selangkah didahulukan, seranting ditinggikan”. Mereka juga sangat dihormati, sebagaimana dunia Minangkabau menghormati orang kaya.

Maka, tahulah kita bila dari masyarakat tersebut lahir ungkapan: ”orang kaya tempat meminta, orang pandai tempat bertanya”. Orang pandai, kaum terpelajar, yang bergulat di dunia ilmu pengetahuan itu luas. Ada peneliti di bidang ilmu-ilmu sosial, ada dokter, dan jenis penelitian di bidang kesehatan dan penyakit, dan ada pula para perumus kebijakan publik, di berbagai bidang, termasuk di bidang kesehatan orang per orang, maupun di bidang kesehatan masyarakat.

Di bidang yang terakhir ini hubungannya dengan dunia kedokteran dekat sekali meski mereka memiliki sendiri kaidahkaidah keilmuan, yang sangat dipengaruhi ilmu sosial. Di sini ada satu hukum dasar yang menyangkut bukan saja dunia ilmu, melainkan juga dunia rohani, yang kedua-duanya memiliki hubungan hangat, dan bersifat langsung, dengan Allah Yang Maha Mengetahui atas Segala Sesuatu.

Hubungan itu terumus di dalam etika keilmuan dan bisa juga dalam etika profesi, di mana mereka tidak boleh berbohong. Kebenaran itu milik Allah Yang Maha Benar, jadi jelas tak bisa dikorup. Di sini jelas kebenaran tersebut tak bisa disulap menjadi keputusan politik. Kebenaran, tentang apa saja, berada di dalam domain Allah Yang Maha Benar tadi dan merupakan keputusan yang ada di tangan-Nya.

Para ilmuwan, di bidang keilmuan apa pun, dengan begitu tidak boleh bohong meski mereka diampuni kalau usahanya mencari kebenaran itu salah. Pendeknya, mereka itu manusia yang boleh salah, tapi tidak boleh bohong. Seorang ilmuwan misalnya di bidang kedokteran, yang juga duduk di dalam suatu jabatan yang memegang kebijakan publik, sikapnya sebagai ilmuwan dan sebagai perumus kebijakan tidak boleh benturan satu sama lain.

Tokoh dunia ilmu ini tidak boleh mengalami konflik nilai ketika posisinya sebagai perumus kebijakan publik tidak memperoleh dukungan ilmiah dari dunianya yang lain yaitu sebagai ilmuwan tadi. Sebagai pengamal ilmu, dia harus mampu merumuskan ilmu yang bersifat amaliah, dan segenap amalnya harus pula dapat dipertanggungjawabkan dari segi keilmuan, menjadi amal ilmiah.

Jika disini terjadi benturan, dan yang bersangkutan mengorbankan yang satu demi membela yang lain, dia menerabas keagungan dunia ilmu. Lebih khusus, dia mengabaikan kebenaran. Di sini dengan begitu berat dia mengabaikan Allah Yang Maha Mengatur segalanya di dalam bentangan alam semesta, di atas bumi di bawah langit.

Tak diragukan, bukan hanya di bawah langit bumi yang tampak dari sini, melainkan di bawah langit, langit, dan langit lain, yang bertingkat- tingkat, yang kita kenal dalam ungkapan: di atas langit masih ada langit, dan di atasnya yang atas itu masih ada yang lebih atas lagi. Begitu kebenaran terbentang, dan di bawah kontrol sang pemilik langit dan bumi, yang tak bisa dibohongi, karena Dia tak pernah mengantuk, tak pernah tidur, dan tak pernah lalai barang sedetik pun.

Dengan begitu, menjadi jelas, sejelas jelasnya, bahwa seorang hamba, seorang ilmuwan, seorang perumus kebijakan publik, seorang beriman, hendaknya tampil di dalam suatu sosok pribadi yang utuh, yang tak pernah terbelah, dan tak boleh sengaja membuat dirinya tampil menjadi kepingan-kepingan yang terpisah satu dari yang lain.

***

Posisi ilmuwan, pejabat perumus kebijakan publik, dan hamba yang beriman, hakikatnya satu, dan di depan Allah Yang Maha Tinggi, dia rendah, di hadapan Allah Yang Maha Memerintah, dia tunduk, patuh dan taat, tanpa syarat apa pun. Di hadapan Allah Yang Maha Benar, dia harus benar.

Di hadapan Allah Yang Maha Jujur, dia pun harus jujur sejujur-jujurnya. Ketika kebijakan di bidang kesehatan dirumuskan, apakah dasarnya? Kebenaran. Tak boleh lain dari kebenaran. Ketika kebijakan di bidang kesehatan berhadapan dengan keretek, sudah dijelaskan, merokok mengganggu ini dan itu, yang dulu telah akrab dengan kita.

Adakah rumusan itu disusun di atas sebuah landasan kebenaran yang sahih, kuat, dan tak terbantah, biarlah kejujuran ilmiah di bidang kedokteran menerangkan dengan landasan kejujuran.

Mereka tak boleh bohong. Bila mereka nekat memperlakukan kebenaran ilmiah menjadi suatu kebijakan politik yang tak berdasar pada kebenaran, merekalah yang akan menghadapi pengadilan dunia ilmu, sekarang, dan di dunia ini, dan pengadilan yang di sini disebut ”rohaniah”, pengadilan orang beriman, di hari ketika kebenaran tak bisa lagi disembunyikan.

Beranikah mereka bertanggung jawab di bidang ini? Lupakan mereka bahwa ketika diangkat menjadi pejabat, mereka bersumpah tak bakal mengkhianati kebenaran, yang berarti tak mengkhianati Allah Yang Maha Benar? Kita tahu ini bukan hanya urusan para dokter dan para perumus kebijakan publik di bidang kesehatan itu sendiri.

Kita wajib menjadikannya urusan kita karena kalau mereka tak dikontrol, kita khawatir diam-diam mereka akan mencopet posisi Allah Yang Maha Tinggi, dan orang-orang yang maha rendah ini akan menjadi Allah itu sendiri untuk berbuat semaunya di dalam bidang kesehatan, semaunya memperlakukan petani tembakau, semaunya memojokkan tembakau, tanpa empati tanpa pertimbangan bahwa tembakau itu produk bangsa kita sendiri dan bahwa petani tembakau itu warga negara yang memiliki hak untuk dilindungi dan pekerjaannya sebagai petani dihormati agar mereka memperoleh kelayakan hidup di buminya sendiri.

Apakah sebabnya, sesudah kebijakan kesehatan mewajibkan produk olahan tembakau diputuskan tak boleh beriklan, harus menuliskan bahwa merokok mengganggu ini dan itu, yang sudah ditaati, cukai dinaikkan secara gila-gilaan, yang mengesankan kebijakan ini lebih mengatur kematian daripada mengatur kehidupan, mengapa gambar mengerikan harus dicantumkan dengan paksa di bungkus keretek?

Kebenaran apa yang dijadikan ladasan memutuskan kebijakan ini? Beranikah mereka membuat suatu kebijakan tanpa basis kebenaran yang mendukungnya? Beranikah mereka bertanggung jawab di hari ketika kebenaran tak lagi bisa digelapkan di pasaran politik kebijakan?

Ketika kita tahu, gerakan antitembakau itu pada dasarnya gerakan perang dagang, dan FCTC menjadi instrumen yang kelihatannya amat luhur, dan ditelan mentah oleh perumus kebijakan kita di bidang kesehatan, maka kepada siapakah sebenarnya para perumus kebijakan dan jaringan pendukungnya, berpihak?

Ketika kemudian tanpa ba tanpa bu, peringatan ”merokok membunuhmu” harus dicantumkan di tiap-tiap bungkus keretek, dan kebijakan itu telah dituruti dengan penuh kepatuhan, apakah landasannya? Apakah fenomena yang hanya mengganggu ini dan itu, yang dulu dijadikan kebenaran, sekarang secara drastis dan mencolok, telah berubah, dan menjadi ”merokok membunuhmu?”.

Di sini, sebagai warga negara, sebagai peneliti ilmu sosial, dan sebagai penulis, saya memprotes keras kelakuan politik seperti itu. Protes saya terumus secara politik, menjadi bahasa ideologi, dan bahasa perlawanan: ”merokok tidak membunuhmu”. Kalau tak percaya, merokoklah, dan merokoklah. []


----------------------------------
Koran SINDO, 20 April 2015
Mohamad Sobary, Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan.


Fakta rokok:

Agama Cepat Saji (*)

Salah satu aspek fundamental agama adalah keyakinan tentang keabadian jiwa yang disertai tawaran surga dan neraka.

Aspek ini kadang disebut sebagai doktrin eskatologis dan salvation (keselamatan). Jiwa yang selamat akan masuk surga, yang celaka akan hidup sengsara di neraka. Apakah hakikat surga dan neraka, di sana banyak ragam tafsiran. Namun, yang umumnya diyakini adalah ada keabadian jiwa dan balasan baikburuk dari tindakannya selama hidup di dunia.

Deskripsi dan metafora tentang surga yang disajikan dalam Alquran memang sangat cocok dan memikat bagi masyarakat padang pasir yang damba pada istana di atas padang luas nan hijau, dikelilingi sungai dan taman buah yang subur. Karena karakter masyarakat padang pasir yang didominasi kaum laki, deskripsi surga juga terasa yang diutamakan pembaca laki-laki. Makanya, di surga tersedia bidadari yang cantik-cantik. Jadi, apa yang lebih memukau selain istana megah di tamn hijau dengan bidadari yang telah menanti?

Namun, dalam berbagai statement Alquran, ketika berbicara tentang keindahan surga seringkali diawali dengan kata perumpamaan. Lalu terdapat riwayat sabda Rasulullah bahwa surga yang dijanjikan itu tidak mungkin bisa dideskripsikan karena mata belum pernah melihat, telinga belum pernah mendengar, bahkan belum pernah terbayang dalam pikiran. Masing- masing agama punya gambaran tentang surga dan bagaimana usaha untuk meraihnya.

Keyakinan dan harapan masuk surga setelah meninggalkan dunia menjadi penekan dan daya tarik sangat kuat agar seseorangmenemukan jalan untuk masuk ke sana. Setidaknya ada tiga tawaran yang bisa ditempuh yaitu dengan memperbanyak ritual keagamaan seperti menegakkan salat, puasa, haji, umrahdanmemperbanyak zikir. Kemudian ada tawaran lagi berupa jalan amal sosial sebanyak mungkin dengan meringankan beban kemiskinan, kebodohan, dan sakit.

Terakhir, dengan menyebarkan ajaran agama agar orang lain masuk dan ikut jalan kebenaran dan keselamatan sebagaimana paham dan keyakinan agama yang dianutnya. Lebih dari itu, memerangi mereka yang menentang agama Allah. Cara yang terakhir inilah yang akhirakhir ini sering disebut sebagai kelompok jihadis. Pada kenyataannya pemahaman, penghayatan, dan praktik beragama seseorang berbeda-beda. Ada yang senang melakukan ibadah sosial dengan modal pikiran, tenaga, dan hartanya, tetapi malas melakukan ritual seperti sembahyang lima kali sehari semalam.

Sebaliknya, ada yang sangat rajin melakukan ritual, tetapi lemah dalam ibadah sosialnya. Lalu, yang sekarang fenomenal adalah menempuh jalan jihadis untuk membela agama Allah dengan jalan kekerasan. Mereka yang tidak sepaham berarti tidak taat pada hukum Allah. Makanya, mereka mesti diingatkan dengan jalan damai. Jika tidak mau, bahkan menghalangi gerak mereka, layak dilawan dengan senjata. Itu jihad dengan janji masuk surga kalau terbunuh.

Bagi kelompok jihadis tak dikenal istilah kalah dalam memperjuangkan tegaknya agama Allah. Kalaupun mati dalam perjuangan, itu pun sebuah kemenangan. Surga yang indah dan bidadari telah menanti. Lebih indah ketimbang kehidupan dunia. Mengapa orang tertarik bergabung ke dalam gerakan radikal dengan risiko mengorbankan kehidupan yang selama ini dijalani dan bahkan mempertaruhkan nyawanya?

Misalnya saja mereka yang bergabung ke ISIS, motif dan daya tariknya bermacam-macam. Kalau meminjam analisis Marx yang banyak dikritik itu, mereka merasa kalah menghadapi gelombang kapitalisme dan modernisasi sehingga mencari jalan lain yang terjangkau dan menawarkan jalan pintas pada kehidupan lain yang menjanjikan kebahagiaan. Apa itu? Ya surga.

Dengan semangat dan keyakinan berperang menghadapi musuh Tuhan, bayangan surga sudah sangat dekat. Kematian di jalan Tuhan adalah pintu gerbang menuju surga. Sebuah tawaran surga cepat saji. Yang diperlukan adalah keyakinan kuat dan bulat, plus nyali memasuki zona pertempuran. Hidup atau mati keduanya sebuah kemenangan.

Benarkah ada jaminan mereka yang bergabung dalam gerakan radikalisme keagamaan mesti langsung masuk surga sebagai pahlawan pembela agama Tuhan? Tak ada jawaban empiris yang meyakinkan karena kita belum pernah mati dan yang mati tak pernah hidup kembali untuk berbagi cerita. []







(*)
Oleh: Komaruddin Hidayat
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
___________________________________
diterbitkan di Koran SINDO, 17 April 2015

Puisi untuk Istri-ku

Istriku ...
Di tepian ujung hatiku 
Kini aku lihat engkau berbeda  
Ada selaksa kerinduan aku menatap dirimu
Kerinduan akan potretmu yang lampau
Yang di penuhi dengan asa dan banggaku 

Istriku ...
Kini engkau berubah ...
Cahaya pesonamu yang terbingkai dengan akhlaq
Tercabik dengan ambisimu akan dunia
Engkau campakan nilai al Haq
Dan engkau ukir duniamu dengan pahatan penuh caci

Istriku ...
Hari ini engkau asing di mataku
Engkau bukanlah yang dulu aku kenali
Bak seorang bidadari yang menorehkan simpatik
Kini , engkau seperti Mereka ...
Mereka yang hidup di tengah fatamorgana dunia 

Istriku ...
Sebuah kata yang sulit ku eja saat ini
Engkau ada tapi seolah engkau tiada
Engkau hadir tapi seolah engkau telah pergi 
Haruskah aku beristirja kepadamu ? 
Menganggap engkau telah tiada ?

Istriku ...
Kini , engkau linangan air mataku
Aku tak bisa mendustai diriku 
Aku tak bisa mengubur perasaan kecewaku
Engkau semakin jauh dengan ambisimu
Sedangkan aku yang merangkak , engkau campakan !

Istriku ,..
Tidakkah engkau tahu ...?
Bahwa keridhaan Allah sungguh ada pada keridhaan-ku ?!
Tidakkah engkau sadar ..? 
Sebagian besar penghuni an Naar ...
... adalah wanita-wanita semodel dirimu ... ?

Istriku ...
Sungguh kasihanilah akan dirimu
Jangan engkau jadikan syaithan sebagai pemandumu
Dibalik keindahan dan gemerlap bujuk nya
Engkau akan tahu bahwa ...
Akhir dari semuanya hanyalah 'air mata'

Istriku ...
Apakah engkau tak bersyukur ?
Sungguh betapa mudahnya jalan Al Jannah bagi dirimu
Engkau bisa memasuki pintunya dari mana yang engkau suka 
Engkau hanya di suruh-Nya ...
" Ruku'lah dengan shalat , Lewati ramadhan dengan Puasa
dan taatilah diriku (suami) .... "

Istriku ...
Ditengah fajar menampakan kuasanya 
Ditengah waktu mustajabah yang telah Ia janjikan 
Aku tiada lelah ..... tengadahkan tangan kepada-Nya 
Semoga ada kebaikan yang tersisa untukmu 
Allahuma Amiin ...


_____________________________
Copyright: Puisi Terbaik Islami
Link Blog: Disini

Email: irvan.m.subrata@gmail.com 

Berapa usia tubuh Anda?

A+ | Adakalanya tubuh kita mengalami penuaan dini sehingga bisa terjadi usia baru 30 tapi tubuh sudah seperti usia 40 bahkan 50. Anda ingin mengetahui usia tubuh anda? Datanglah ke Atrium Senayan City di area Brand's Jakarta Health Week, 19-23 Mei 2015, free dan dapat hadiah (selama persediaan masih ada), yang penting ketemu saya ya hehehe. Dengan mengetahui usia tubuh anda, akan memudahkan anda menentukan perawatan atau asupan gizi seperti apa yang anda butuhkan. CP saya 081585792280 (whatsapp/telegram)

Aku Melihat Indonesia (Pidato Ketua Umum PDIP Pada Kongres Ke-4, besok pagi)

PIDATO KETUA UMUM PADA PEMBUKAAN KONGRES KE-IV PDI PERJUANGAN
DENPASAR, 8 –12 April 2015


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Salam Damai Sejahtera bagi kita semua
Om Swastiastu

Sebelumnya, marilah kita lebih dahulu bersama-sama memekikkan salam perjuangan kita,
Merdeka!!! Merdeka!!! Merdeka!!!
Yang saya hormati,
1. Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia;
2. Para Senior Partai yang menjadi saksi perjuangan Partai, yakni Bapak ………
3. Para Petugas Partai yang duduk di Kabinet Kerja dan di lembaga legislatif.
4. Para Ketua Umum Partai …..
5. Para Tamu Undangan;
6. Rekan-rekan Pers;
7. Hadirin yang berbahagia;
8. Saudara-saudara utusan Kongres IV Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang saya banggakan,
9. Kader-kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan di pelosok negeri yang saya banggakan dan cintai;
10. Para relawan yang hadir di sini;
11. Para Perwakilan PDI Perjuangan di Luar Negeri,
12. Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah air

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu Wata’ala atas segala rahmat dan hidayahNya, sehingga sejarah PDI Perjuangan kembali kita torehkan di Bali. Di tempat inilah lima tahun yang lalu, jalan ideologi Partai kita canangkan. Dari tempat ini pula, tekad Partai untuk memperjuangkan dan membumikan ide, gagasan, pemikiran dan cita-cita Bapak Bangsa kita Bung Karno terus dikumandangkan.

Saudara-saudara,
Bali tidak hanya menjadi tiang penyangga kekuatan Partai. Di Pulau Dewata inilah aksara api kesejarahan Partai dituliskan. Aksara kesejarahan berwarna merah membara, yang justru terlihat semakin terang, ketika rintangan kegelapan menghadang. Di tempat ini pula suluh perjuangan kita nyalakan, menjadi api perjuangan yang tidak akan pernah padam. Kekuatan inilah yang menciptakan energi juang, sehingga akhirnya, PDI Perjuangan dipercaya rakyat menjadi pemenang pemilu legislatif dan sekaligus pemilu presiden tahun 2014. Kemenangan itu meyakinkan kita semua, bahwa jalan yang kita tempuh adalah benar.

Selanjutnya, perkenankanlah saya mengajak saudara untuk memaknai Indonesia, Indonesia Raya, yakni Indonesia yang saat itu berjaya dan begitu mewarnai dunia. Saya ingin menyoroti salah satu momen bersejarah yang ikut merubah tatanan dunia. Enam puluh (60) tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 18-24 April 1955, Bung Karno mencetuskan Konferensi Asia-Afrika. Konferensi menghasilkan kesepakatan Dasasila Bandung yang membangunkan kesadaran baru bagi bangsa-bangsa Asia, Afrika dan Amerika Latin untuk mendapatkan hak hidup sebagai bangsa merdeka.
Namun, negara-negara yang baru merdeka tersebut, pada waktu itu dihadapkan pada tantangan baru, berupa rivalitas dua blok besar, yakni Blok Barat dan Blok Timur. Indonesia pun kembali menjadi pelopor Gerakan Non Blok.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,
Apa yang saya sampaikan di atas, tidak hanya bertujuan menggelorakan kembali kepemimpinan Indonesia di dunia internasional. Benang merah kemerdekaan untuk persaudaraan dunia tersebut, sangatlah relevan untuk direnungkan kembali. Lebih-lebih menjelang peringatan Konferensi Asia Afrika yang sebentar lagi kita rayakan. Inilah pelajaran yang dapat kita petik, bahwa bangsa ini pernah mengukir sejarah gemilang, dan berani menyuarakan suatu tatanan dunia baru, To Build The World A New pada tanggal 30 September 1960 di hadapan Sidang Umum Perserikatan Bangsa Bangsa. Semua peristiwa tersebut terjadi pada Abad 20. Di Abad 21 ini, kita memahami bagaimana pemikiran Bung Karno selain visioner, juga malampaui pemikiran Abad 20.

Saudara-saudara sekalian,
Kepeloporan Indonesia di atas, hanya terjadi karena semangat juang. Mereka berjuang dengan penuh keyakinan, tanpa terpengaruh oleh opini yang dipublikasikan. Inilah dasar-dasar kepemimpinan Indonesia. Kepemimpinan yang menyatu dengan rakyat, dan pada saat bersamaan, setia pada konstitusi. Kesetiaan pada konsitusi ini sifatnya mutlak. Pemimpin memang harus menjalankan kewajiban konstitusionalnya tanpa menghitung apa akibatnya. Karmane Vadhikaraste Ma Phaleshu Kada Chana: Kerjakanlah kewajibanmu dengan tidak menghitung-hitung akibatnya. Kepemimpinan yang seperti ini, hanya akan muncul apabila ia sungguh memahami sejarah bangsanya; memahami siapa rakyatnya, dan memahami darimana asal-usulnya.
Untuk itulah, guna mengkontemplasikan kepemimpinan Indonesia, saya mengajak kita semua untuk melihat ke dalam, tentang hal-hal fundamental, tentang cita-cita besar, dan keparipurnaan gagasan Indonesia Merdeka. Dengan cara ini, kita akan menemukan bahwa kepercayaan diri menjadi modal utama. Kita tidak boleh merasa minder dengan negara adidaya sekalipun. Lihatlah peristiwa 10 November 1945. Lihat juga catatan sejarah ketika angkatan perang Indonesia menjadi terkuat di belahan bumi selatan Katulistiwa pada periode 1960-an.

Saudara-saudara, kader Partai yang saya banggakan,
Di tengah berbagai persoalan yang kita hadapi saat ini, menjadi tugas kita untuk terus membangunkan spirit dan kebanggaan sebagai bangsa. Di sinilah revolusi mental diperlukan. Keseluruhan cerita kepeloporan Indonesia di atas adalah bukti, bahwa di tangan pemimpin yang sudah mengalami revolusi mental, bangsa ini menjadi begitu disegani.
Revolusi mental melahirkan jiwa yang hidup, berkarakter, disiplin, penuh percaya diri, dan unggul dalam kualitas kehidupan. Republik Rakyat Tiongkok dan Singapura memberi contoh. Mereka membangun manusia yang berwawasan luas, berdisiplin, dan memiliki kepercayaan total dengan pemimpinnya. Pemimpinnya sendiri, mampu menjadi jembatan dan sekaligus penyambung lidah bagi rakyatnya. Kita tidak boleh ternina-bobokkan atas kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Buat apa semuanya itu, ketika justru bermalas-malas, dan membiarkan penggerogotan mental terus terjadi. Bahkan, kita juga membiarkan segala sesuatunya di republik ini tidak dapat dikelola secara berdikari. Bung Karno menegaskan, “Berdikari bukan saja tujuan. Yang tidak kalah pentingnya, berdikari merupakan prinsip dan cara mencapai tujuan itu. Semuanya adalah prinsip untuk melaksanakan pembangunan dengan tidak menyandarkan diri dengan bangsa lain. Kerjasama dengan asing misalnya, harus dijalankan atas kesamaan derajat dan prinsip saling menguntungkan”. Dengan demikian, percaya pada kekuatan rakyat sendiri adalah inti dan esensi atas jalan sebagai bangsa yang berdaulat dan berdikari. Di sinilah revolusi mental seharusnya dijalankan.

Saudara-saudara sekalian,
Gagasan revolusi mental pertama kali disampaikan dalam Pidato Kenegaraan Presiden Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1957. Beliau saat itu mencanangkan berkibarnya Panji Revolusi Mental.
“Nation building membutuhkan bantuannya Revolusi Mental! Karena itu adakanlah Revolusi Mental! Bangkitlah! Ya, Bangkitlah, bangkit dan geraklah ke arah pemulihan jiwa. Bangkit dan bergeraklah kembali ke cita-cita nasional. Bangkit dan geraklah ke arah kesadaran cita-cita sosial. Bangkit dan geraklah menjadi manusia baru yang bekerja, berjuang, berbakti, berkorban guna membina bangsa dan masyarakat yang sesuai dengan cita-cita nasional dan sosial itu, yakni cita-cita Proklamasi. Buanglah segala kemalasan, buang segala ego sentrisme, buang segala ketamakan. Jadilah manusia Indonesia, manusia Pembina, manusia yang sampai ke tulang sumsumnya bersemboyan satu buat semua, semua buat pelaksanaan satu cita-cita.”

Bagi Bung Karno, Revolusi Mental adalah arah dalam sebuah “Gerakan Hidup Baru”. Gerakan Hidup Baru bukan hanya dalam hal fisik seperti hidup sederhana. Namun yang lebih penting adalah kesederhanaan bagi pemimpin. Kesederhanaan seorang pemimpin adalah kesederhanaan seorang pejuang yang jiwanya berkobar menyala-nyala, penuh daya cipta, bergelora laksana samudra, dan suatu jiwa anti kebekuan yang laksana terbuat dari gledek dan guntur.

Gerakan Hidup Baru membutuhkan Revolusi Mental. Isi Revolusi Mental sangatlah dalam. Revolusi Mental adalah tentang cara berpikir, cara kerja, dan cara hidup yang lebih baik. Yang merintangi kemajuan wajib disingkirkan. Revolusi Mental harus meliputi seluruh masyarakat, namun tidak akan berlangsung tanpa organisasi, tanpa pimpinan, tanpa gerakan. Revolusi Mental memerlukan Pemimpin yang harus melakukan revolusi mental untuk dirinya terlebih dahulu. Revolusi mental Pemimpin haruslah menggelorakan Gerakan Hidup Baru.

Saudara-saudara sekalian,
Dengan revolusi mental tersebut, maka kita bangun Indonesia dari “apa yang dilihat dan dirasakan rakyat”. Rakyat yang termanifestasikan dalam wajah petani, guru, nelayan, kaum miskin kota, buruh, atau pendeknya rakyat yang masih terjerat dalam “lingkaran setan kemiskinan”, yakni rakyat wong cilik. Merekalah dasar keberpihakan kita. Rakyatlah sumber dari segala sumber ideologi Partai. Di sinilah ideologi berperan sebagai daya hidup dan keyakinan Partai. Atas dasar keyakinan ideologi pula, PDI Perjuangan berani menempuh jalan terjal di luar pemerintahan selama satu dasawarsa terakhir. Rakyat memberi tempat atas pilihan politik PDI Perjuangan tersebut. Kini dapat dipahami, bahwa posisi politik tersebut adalah tugas nasional yang tidak kalah penting, untuk sehatnya demokrasi. Demikian halnya, ketika atas kehendak rakyat, PDI Perjuangan berada di dalam pemerintahan. Dengan pengalaman panjang ketika berada di luar pemerintahan, satu hal yang membuat kita bertahan adalah ideologi Pancasila 1 Juni 1945. Ia bertindak sebagai leidstar atau bintang pengarah ketika Partai menghadapi berbagai kesulitan. Bahkan, Partai mampu mensenyawakan idelogi dan rakyat agar berurat-berakar dalam saripatinya rakyat. Atas dasar kesatuan ideologi dan rakyat, maka Partai melakukan re-tooling, mengganti perkakas yang lama, dengan yang baru. Itulah nature yang tidak bisa dihindari.

Saudara-saudara se bangsa dan setanah air,
Berbagai dinamika pelaksanaan pemilu presiden dan wakil presiden masih menyisakan banyak pekerjaan rumah. Pemilu secara langsung membawa konsekuensi pengerahan tim kampanye, relawan, dan berbagai kelompok kepentingan, dengan mobilisasi sumber daya. Kesemuanya wajar ketika diabdikan untuk pemimpin terbaik bangsa. Namun praktek yang berlawanan kerap terjadi. Mobilisasi kekuatan tim kampanye sangatlah rentan ditumpangi kepentingan. Kepentingan yang menjadi “penumpang gelap” untuk menguasai sumber daya alam bangsa. Kepentingan yang semula hadir dalam wajah kerakyatan, mendadak berubah menjadi hasrat kekuasaan. Inilah sisi gelap kekuasaan saudara-saudara. Guna mencegah hal tersebut, saya menyerukan agar Indonesia harus benar-benar tangguh di dalam melakukan negosiasi kontrak migas dan tambang, yang sebentar lagi banyak yang akan berakhir. Kini saatnya, dengan kepemimpinan nasional yang baru, Kontrak Merah Putih ditegakkan. Demikian pula, Badan Usaha Milik Negara harus diperkuat, dan menjadi pilihan utama kebijakan politik ekonomi berdikari.

Saudara-saudara,
Hal lain yang perlu saya sampaikan disini adalah sikap politik PDI Perjuangan sebagai partai pengusung pemerintahan Bapak Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Kesadaran awal ketika saya memberikan mandat kepada Bapak Jokowi, adalah komitmen ideologis yang berpangkal dari kepemimpinan Trisakti. Suatu komitmen untuk menjalankan pemerintahan negara yang berdaulat, berdikari, dan berkepribadian. Konsepsi ini adalah jawaban atas realitas Indonesia yang begitu bergantung dengan bangsa lain. Konsepsi Trisakti inilah yang menjadi kepentingan utama Partai.

Pekerjaan rumah yang lainnya adalah bagaimana mengatur mekanisme kerja antara Pemerintah dan Partai Politik pengusungnya. Hal ini penting, mengingat hubungan keduanya adalah kehendak dan prinsip dalam demokrasi itu sendiri. Landasan konstitusionalnya pun sangat jelas. UU No 42 tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, mengamanatkan bahwa presiden dan wakil presiden dicalonkan oleh partai politik atau gabungan partai politik. Itulah mekanisme konstitusional yang kita kenal. Hukum demokrasilah yang mengatur itu, bahwa presiden dan wakil presiden memang sudah sewajarnya menjalankan garis kebijakan politik Partai. Untuk itulah, mengapa kebijakan partai menyatu dengan kehendak rakyat, dan mengapa Partai harus mengorganisir rakyat sehingga suara-suara yang tersembunyi sekalipun dapat disuarakan Partai. Prinsip demokrasi inilah yang saya jalankan. Penjelasan ini sangat relevan, mengingat ada sementara pihak, dengan mengatasnamakan independensi, selalu mengatakan bahwa Partai adalah beban demokrasi. Saya tidak menutup mata terhadap berbagai kelemahan Partai Politik. Di sinilah kritik dan otokritik kami jalankan. Namun, mengatakan bahwa Partai hanya sebagai ornament demokrasi; dan hanya sekedar alat tunggangan kekuasaan politik, sama saja mengerdilkan makna dan arti kolektivitas Partai yang berasal dari rakyat. Fenomena ini nampak jelas, ketika pada saat bersamaan muncullah gerakan deparpolisasi. Sentimen anti partai pun, makin lantang diteriakkan dalam kerumunan liberalisasi politik. Saya yakin bahwa proses deparpolisasi ini tidak berdiri sendiri. Di sana, ada simbiosis kekuatan anti Partai dan kekuatan modal, yang berhadapan dengan gerakan berdikari. Mereka adalah kaum oportunis. Mereka tidak mau berkerja keras membangun Partai. Mereka tidak mau mengorganisir rakyat, kecuali menunggu, menunggu, dan selanjutnya menyalip di tikungan saudara-saudara. Karena itulah kembali saya tegaskan, bahwa jalan ideologi adalah pilihan benar. Jalan ideologi yang membentang terjal dihadapan kita, adalah jalan demokrasi dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Inilah prinsip konstitusionalisme yang selalu jadi rujukan kita saudara-saudara.

Atas dasar konstitusi pula, saya berulang kali menyampaikan kepada Presiden, pegang teguhlah konsitusi itu. Berpijaklah pada konsitusi karena itulah jalan kenegaraan. Penuhilah janji kampanye-mu, sebab itulah ikatan suci dengan rakyat.
Dalam kaitannya dengan tugas konstitusi pula, PDI Perjuangan mengingatkan kembali terhadap tugas pemimpin nasional untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. Perlindungan itu termasuk mencegah berbagai kampanye gerakan terorisme yang tidak hanya bersifat radikal, namun sudah mengobarkan perang terhadap kemanusiaan.
Tanpa bermaksud meremehkan gerakan terorisme yang lain, saya melihat bahwa masalah ISIS sangat serius dan perlu segera disikapi. ISIS sudah bertindak atas-nama negara. Bahkan telah melakukan rekrutmen terhadap warga negara Indonesia. Pemerintah harus memastikan, agar rekrutmen seperti itu tidak boleh terulang kembali. PDI Perjuangan dengan tegas menolak berbagai bentuk radikalisme dan terorisme atas nama apapun. Sebab Indonesia adalah negara berdaulat dengan tradisi masyarakatnya yang toleran. Indonesia tidak akan pernah membiarkan paham dan organisasi tersebut berkembang di Indonesia. Biarlah di bumi nusantara ini, hidup dan tumbuh berkembang, Indonesia sebagai tamansarinya keanekaragaman. Hal ini juga cerminan dari tekad kita, untuk mewujudkan Indonesia yang berkepribadian dalam kebudayaan.

Kader PDI Perjuangan yang saya cintai dan banggakan,
Kongres IV Partai yang kita mulai hari ini, harus dirawat dan dijaga dengan seluruh kekuatan akal sehat dan hati nurani. Kongres merupakan forum tertinggi Partai dimana Pancasila, musyawarah mufakat, gotong royong dan kepentingan rakyat, bangsa, negara dan Partai menjadi simpul-simpul pokok yang menyatukan kita. Kongres Partai adalah peristiwa dan ajang ideologis, bukan peristiwa dimana pragmatisme dan transaksional berkembang subur. Kita harus melawan berbagai tindakan transaksional tersebut. Sebab Kongres pada dasarnya adalah peristiwa politik bagi tumbuh kembangnya peradaban politik yang luhur, dan menjadi persemaian bagi Indonesia yang adil dan makmur.
Budaya politik baru juga kita lahirkan melalui Kongres IV ini. Untuk pertama kalinya dalam tradisi kepartaian kita, seluruh proses konsolidasi Partai, dimulai dari bawah dari Rapat Ranting, bergerak ke atas, hingga pelaksanaan Kongres ini. Keseluruhan proses konsolidasi penuh dengan tradisi musyawarah, tanpa voting sama sekali. Inilah kematangan demokrasi yang membumikan Pancasila saudara-saudara.

Selanjutnya, menjadi tugas bersama kita untuk merawat dan memperkokoh pondasi PDI Perjuangan sebagai Partai Pelopor. PDI Perjuangan pun dituntut untuk meningkatkan kemampuan membangunkan kesadaran rakyat, mengorganisir rakyat dan memimpin perjuangan rakyat. Semua itu sungguh tantangan yang berat. Menjadi pemenang dalam Pemilu 2014 tidak boleh membuat kita cepat berpuas diri. Kita harus bekerja lebih keras dan lebih baik lagi. Kita harus mengisi dan memenangkan kembali Pemilu 2019 yang akan datang.

Para Kader Partai dan hadirin sekalian,
Saya mengajak seluruh simpatisan, anggota dan kader Partai untuk tetap teguh pada jalan ideologi Partai. PDI Perjuangan adalah satu kesatuan yang tidak boleh tercerai-berai, oleh segala pasang naik dan pasang surutnya perjuangan. Segala pukulan yang kita berikan dan segala pukulan yang kita terima, adalah iramanya perjuangan. Perkuatlah tradisi Gotong royong. Ia adalah kerja bersama; membanting tulang bersama; memeras keringat bersama; perjuangan bantu-binantu bersama; amal semua buat kepentingan semua. Itulah rahasia kekuatan kita. Satu untuk semua, semua untuk satu, one for all, all for one (kemudian diucapkan secara bersama-sama).

Saudara-saudara, anggota dan kader PDI Perjuangan yang saya cintai, dan banggakan,
Satu hal lagi yang ingin saya sampaikan, terkait dengan perenungan atas seluruh perjalanan politik saya. Pelajaran politik terbesar yang saya ambil sejak masuk ke Partai, menjadi anggota biasa, hingga mengibarkan bendera perjuangan, dan akhirnya terpilih sebagai Ketua Umum Partai, adalah pentingnya bagi setiap insan politik partai untuk memiliki kesabaran revolusioner. Kesabaran revolusioner bertumpu pada keyakinan politik. Ia memegang teguh pada prinsip, dan menghikmati politik sebagai dedikasi hidup. Kesabaran revolusioner bukan hanya berdiam diri. Namun mengandung daya juang, dan terus bergerak, bergerak, dan bergerak maju. Itulah sifat revolusioner. Bagi saya, politik juga harus bersendikan watak kejujuran. Sebab politik bukanlah praktek menang-menangan atas dasar kekuasaan. Itulah yang membuat saya terus bertahan, walaupun begitu banyak pengkhianatan, bahkan berulang kali, saya ditusuk dari belakang. Semua pengkhianatan itu, terjadi hanya karena ambisi politik yang berwatakkan kekuasaansemata. Alhamdullilah, saya tetap bertahan, dan lolos dari berbagai cobaan. Kuncinya hanya satu, berpolitiklah dengan keyakinan, kejujuran, penuh idealisme, dan memegang teguh prinsip pengabdian. Dengannya kalian pun akan memiliki kesabaran revolusioner saudara-saudara.
Intermezo: jika tidak memiliki kesabaran revolusioner, belajarlah dulu. Jikalau ada yang tidak sabar, dan mau merusak apa yang sudah dibangun dengan penuh keringat dan air mata perjuangan, lebih baik berpikir ulang.

Saudara-saudara dan para kader Partai yang saya banggakan,
Mengakhiri Pidato Politik saya ini, ijinkanlah saya mengajak saudara-saudara semua, untuk melihat dengan jernih Indonesia kita. Aku Melihat Indonesia, sengaja saya pilih sebagai tema Kongres IV ini. Indonesia dalam satu kesemestaan dengan seluruh jagad raya. “Aku Melihat Indonesia” haruslah berakar kuat, dari gagasan sempurna tentang Indonesia Merdeka. Indonesia yang memuat prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa, Perikemanusiaan; kebangsaan; musyawarah-mufakat dan prinsip kesejahteraan. “Aku Melihat Indonesia” adalah cara pandang kita bersama untuk kembali pada cita-cita bangsa.

Membacakan Puisi Bung Karno:

AKU MELIHAT INDONESIA

Djikalau aku melihat gunung gunung membiru,
Aku melihat wadjah Indonesia;
Djikalau aku mendengar lautan membanting di pantai bergelora,
Aku mendengar suara Indonesia;

Djikalau aku melihat awan putih berarak di angkasa,
Aku melihat keindahan Indonesia;
Djikalau aku mendengarkan burung perkutut di pepohonan,
Aku mendengarkan suara Indonesia.

Djikalau aku melihat matanja rakjat Indonesia di pinggir djalan,
Apalagi sinar matanja anak-anak ketjil Indonesia,
Aku sebenarnja melihat wadjah Indonesia.
***

Semoga Allah SWT selalu menemani dan menjaga gerak langkah perjuangan kita bersama.
Akhirnya dengan penuh rasa syukur dan dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, Kongres IV PDI Perjuangan dengan resmi saya nyatakan dibuka.

Terima kasih,
Wassalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Salam Damai Sejahtera bagi kita semua,
Om Santi Santi Om.
Merdeka!!! Merdeka!!! Merdeka!!!

Megawati Soekarnoputri
KETUA UMUM PDI PERJUANGAN


*mohon dikoreksi jika ada yang kurang berkenan