Jakarta Tanggap COVID-19

Data Pemantauan COVID-19 Nasional dan DKI Jakarta

21 Januari 2020 sampai hari ini

Penyesalan Bintang Iklan Romusha Bernomor Lengan 970


A+ | "Sesungguhnya akulah Sukarno yang mengirim mereka kerja paksa. Ya, akulah orangnya. Aku menyuruh mereka berlayar menuju kematian. Ya, ya, ya, ya akulah orangnya. Aku membuat pernyataan untuk menyokong pengerahan romusha. Aku bergambar dekat Bogor dengan topi di kepala dan cangkul di tangan untuk menunjukkan betapa mudah dan enaknya menjadi seorang romusha. Dengan para wartawan, juru potret, Gunseikan Kepala Pemerintahan Militer- dan para pembesar pemerintahan aku membuat perjalanan ke Banten untuk menyaksikan tulang-tulang-kerangka-hidup yang menimbulkan belas, membudak di garis-belakang, itu jauh di dalam tambang batubara dan tambang mas. Mengerikan. Ini membikin hati di dalam seperti diremuk-remuk."


Sumber: transkrip rekaman penulis biografi Bung Karno

Jaga Kehormatan BK, Pak Harto Bubarkan PKI


A+ | Ketika Tomy bertanya tentang PKI kepada Bapaknya, "Kenapa Bapak mengambil inisiatif untuk membubarkan PKI padahal Bung Karno tetap bertahan tidak mau membubarkan PKI?"

Ini jawaban Pak Harto:

Sebagai bawahan bapak wajib melindungi harga diri Bung Karno karena kapasitasnya sebagai pemimpin besar dan juga diakui sebagai pemimpin besar dunia, Bung Karno sudah mengucapkan pemikirannya kepada dunia tentang menyatukan Nasionalisme, Agama, dan Komunisme melalui Sidang Umum PBB. Bung Karno menyebut gagasannya itu "to build a new world".

Setelah melontarkan di forum internasional, bagaimana mungkin kemudian Bung Karno mau membubarkan Partai Komunis Indonesia PKI?.

Jadi bapak berpikir biarlah bapak yang membubarkan PKI yang semakin merajalela saat itu. Kadang kala bawahan harus mengerti keteguhan seorang pemimpin, karena saat itu jika sampai Bung Karno membubarkan PKI dan menjilat ludah sendiri, maka akan dicap apa negara kita ini di mata internasional.

Bapak mengambil inisiatif karena bapak juga sudah menyadari risikonya.

Tidak masalah bapak disalahkan kelak, namun pasti suatu hari anak cucu bangsa ini akan mengerti dengan sendirinya apa arti kebenaran dan kesalahan di masa - masa perjuangan.

(*)