|Gangguan KAMSELTIBCAR LALU LINTAS hubungi Call Center NTMC POLRI (Kode Area) "500669" atau SMS "9119", Darurat Kamtibmas Telp 110 (dari Telkomsel) atau 021-110 (dari selain telkomsel)|

A+ per detik

Untukmu para ibu yang di rumah


By: Kiki Barkiah


Untukmu para ibu yang dirumah
Mengapa engkau masih galau dan gundah
Atas pilihan yang dianjurkan oleh syariah
Agar engkau tetap berada di rumah

Mengapa pula engkau harus iri dan cemburu
Atas selisih puluhan lembar ratusan ribu
Sedang kau memiliki begitu banyak waktu
Merawat mereka langsung dengan tanganmu
Serta menurunkan berjuta ilmu

Mengapa perasaanmu masih terasa berat
Atas perintah Allah untuk selalu taat
Pada suamimu yang meminta dengan sangat
Agar engkau dapat fokus merawat

Padahal dengannya surga menjadi begitu dekat
Andai kau tau bahwa peluang surgamu tidak jauh
Cukup bekerja ikhlas dan tanpa banyak mengeluh
Mendidik generasi yang berjiwa tangguh
Memberi nutrisi pada jiwa dan tubuh
Insya Allah kepuasan hatimu diisi Allah secara penuh

Memang betul kau berharap sebuah eksistensi
Merasa melakukan pekerjaan yang tak bergengsi
Seputar masak, sapu pel dan menyuci
Aaaah.... Itu karena kau tak menyadari
Anyunan sapumu berpahala seri
Dengan suami yang mencari rezeki
Yang berkemeja rapi dan berdasi

Aaaah..... Itu karena kau belum mengenal
Bahwa pilihanmu dibalas Allah dalam banyak hal
Pada sisi sisi lain yang tak mampu kau hafal
Kecuali kelak pekerjaan ini engkau tinggal

Aku mengerti kadang engkau resah
Dengan sekian lembar ijazah
Yang kau raih dengan susah payah

Aaaa...... Andai kau mengerti
Ilmumu begitu sangat berarti
Dalam mendidik generasi
Yang berkualitas dan bervisi

Aku tau kadang kau rindu seperti mereka
Yang setiap hari pergi berkendara
Keluar rumah untuj bekerja
Dan mengukir sejuta karya

Aaaaa...... itu karena kau tidak tau
Sebagian dari mereka merasa rindu
Mendapat kemewahan seperti dirimu
Yang selalu siap membuka pintu
Seperti engkau menyambut suamimu

Alhamdulillah wa syukurillah
Ketika suamimu hanya memintamu di rumah
Berarti ia siap bekerja keras mencari nafkah
Menyokong semua tanpa berkeluh kesah

Berada dirumah tak berarti tanpa arti
Semoga Allah memberikanmu jalan pengganti
Dalam meraih impian yang kau cari
Dari sudut ternyaman di rumahmu sendiri

Maaf... Lukisan hati ini tak bermaksud membandingkan
Terhadap mereka yang berjasa mengambil peran
Keluar rumah dengan berjuta alasan perjuangan
Tulisan ini dibuat untuk menghibur hati
Para ibu yang merasa kehilangan eksistensi
Bahkan terkadang berkecil hati
Merasa diri begitu tak berarti

Untukmu para ibu yang di rumah
Mari ikhlaskan hatimu dan berpasrah
Agar peluang surga yang ada dirumah
Tak terhapus dengan keluh kesah


San Jose, California 27 april 2014,
Sambil menyusui kutulis sebuah puisi

James Bon Sang Kapten Kapal Karam


A+ | Perkenalkan, namaku Entah, ada yang memanggilku Anonim, tapi banyak yang mengenalku sebagai James Bon (Penjaga Mesjid dan Tukang Kebon) sebagaimana kegiatanku selama 3 tahun terakhir. Tentu bukan mesjid dan kebon dalam arti sebenarnya, tapi sebuah wilayah pengaruh kekuasaan atau komunitas dengan cakupan dua pertiga peta globe alias bola dunia. Wuih kayaknya keren ya…

Alkisan suatu ketika, dalam kesibukan misiku, ada sebuah pesan masuk ke kotak surat pribadiku. Oh, dari seorang wanita bernama Kunti. Nama yang bagus, dari seorang yang memperkenalkan diri sebagai seorang di sudut sunyi sebuah zaman.

Perkenalan singkat tanpa temu muka itu berlanjut dalam beberapa kali kesempatan, biasanya pagi jelang subuh dimana ia terbangun dari tidur sendirinya, atau tengah malam dimana aku memang bekerja dan berakitifitas di malam hari dalam belasan tahun terakhir. Pernah juga terjadi perbincangan tanpa temu muka di sore hari, entah hari apa, tapi mungkin akhir pekan dimana ia libur dan aku biasanya sedang begadang siang malam di kantor secara nonstop dalam deadline tugas, atau tugas keluar kota, sedangkan Kunti mungkin sedang libur akhir pekan.

Banyak hal jadi bahan pembicaraan, tapi tentu saja tak jauh dari misi awal Kunti yang jadi alasan ia menghubungiku secara pribadi di kotak pesanku, dan disampaikan secara berurutan untuk menuju misi utamanya.

Misi pertama, ia memperkenalkan diri sebagai seorang yang selama ini di perantauan, tinggal berdua dengan ayahnya. Namun karena ayahnya akan pensiun dan pulang kampung, disertai kekhawatiran anak perempuannya tinggal sendiri, harus ada beberapa hal dilakukan, antara lain mencari tempat tinggal yang dekat dengan tempat kerja.

Misi kedua, apakah hanya tempat tinggal yang dekat dengan tempat kerja saja yang diperlukan? Tidak. Ia juga butuh tempat tinggal yang dekat dengan “pusat kendali system kekuasaan” yang turut kujaga di pojok galaxy bima sakti bernama bumi ini, yang kusebut dan kusamarkan sebagai “mesjid” dan “kebon”. Dalam informasinya, ia sudah lama tidak hadir dan tidak lancar dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan di “mesjid” dan “kebon” itu, sejak ia menjalani hidup tanpa suami selama enam atau tujuh tahun. Dan ia ingin kembali lancar sehingga butuh tempat tinggal di sekitar “mesjid” dan “kebon”. Ia kala itu juga berkali-kali “curhat”, bahwa setiap menghubungi lewat jalur pribadi yang jadi awal pembicaraan nyaris selalu atau seringkali soal ia dibully oleh penghuni “mesjid” dan “kebon” dan mohon saran bagaimana menghadapi situasi itu. Sedangkan ayahnya dan keluarganya yang lain tidak suka ia menjadi bagian dari lingkungan “mesjid” dan “kebon”.     Sebagai salah satu penjaga yang dihubungi secara pribadi, akupun merasa perlu bertanya di grup koordinasi para penjaga, mengenai alamat tinggal yang paling dekat dengan tempat kerjanya dan tak jauh dari “mesjid” dan “kebon”. Dapat. (Ternyata di wilayah pengawasan salah satu penjaga, dan kebetulan adalah duda, yang kemudian tersirat jadi “target” di misi ketiga Kunti, meski sayangnya ditengah perjalanan nanti ketika aku dan Kunti tidak lagi berkomunikasi, dan ia  sudah tinggal di wilayahnya, justru “penjaga” ini menikah dengan wanita lain. Itu cerita lain yang tak perlu kukorek tentunya.)

Misi ketiga, ditengah perbincangan tentang kesendiriannya, ia rupanya menjalankan misi mengenai keinginannya menemukan pria yang mau memperistrinya, termasuk salah satu listnya adalah “penjaga” diatas, sedangkan aku belum memberikan list lain karena memang belum tahu siapa pria yang saat itu butuh menikah? (Sambil menunggu waktu ia untuk pindah ke alamat tinggal baru, hadir pula sesama wanita dalam status sama, tanpa suami, yang merupakan temannya. Tapi karena sudah ada pria yang akan menyuntingnya jadi istri, ia membawa misi berbeda, yaitu mencari pekerjaan sesuai pengalamannya, mengajar. Kebetulan tempo hari aku baru saja rapat dengan salah satu pemilik sekolah yang membutuhkan pengajar, aku informasikan ke dia, dan disambut, lalu beberapa hari kemudian mengabarkan sudah mulai bekerja. Tentang wanita yang satu ini, ia bekerja mungkin tidak genap 1 bulan, kembali ke “tanah air”nya karena menikah. Kira-kira minggu ketiga ia datang ke kantor diantar Kunti, membawa misi “curhat” karena pekerjaan yang diharapkan tak sesuai harapan dan mengaku berniat keluar tapi nggak enak ke diriku yang merekomendasikan pekerjaan itu, serta belum nemu alasan yang tepat. Hingga kemudian pada minggu keempat, dalam suasana sama dengan minggu sebelumnya, akhir pekan orang bekerja atau tepatnya (kalau tidak salah) suatu hari jumat sore saat kena deadline laporan rutin,  sehingga harus kusambut sambil menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan. Pertemuan kedua itu, adalah pamitan si wanita yang mengajar itu, ditemani Kunti. Ia berpamit ingin kembali ke “tanah air”nya dalam rangka melangsungkan pernikahan.)

Ditengah berjalannya misi ketiga yang sedang dijalankan Kunti, minta dicarikan atau setidaknya dikenalkan dengan pria yang mau menyuntingnya, saat kunjungan ke kantor untuk bertemu pertama dan kedua kali (terakhir) itu, Kunti menjalankan misi lain, yaitu misi keempat yang aku curiga ini bukan misi pribadi karena berisi minta dokumen tiga huruf (**I) yang juga sedang diburu dan dicari oleh pihak lawan dalam tugasku sebagai “penjaga” di “mesjid” dan “kebon”, dan dokumen itu sengaja tak pernah kuberikan meski hanya fotocopy, meski bisa saja (mungkin) ia mendapatkan dari orang lain. Tapi segenap “penjaga” di berbagai daerah sudah aku instruksikan untuk tidak memberikan apabila ada yang minta dokumen tersebut, apalagi sampai membelinya. Karena sebenarnya dokumen itu dibagikan kepada semua warga “mesjid” dan “kebon” di seantero wilayah hanya dengan satu syarat, “sudah menyatakan komitmen” dalam lingkungan “mesjid” dan “kebon” yang turut kujaga. Kalau tidak mendapatkan atau tidak memiliki, dapat dipastikan ia belum menyatakan komitmen itu, jadi memang belum berhak memilikinya.
 
Ah, soal dokumen itu akhirnya berlalu begitu saja, meski sebenarnya (mungkin) justru itu misi utamanya.

Tapi justru ada yang lebih seru. Yaitu “pertempuran” lain yang kemudian terjadi antara Nusaibah / Ummu Imarah-ku dengan Kunti karena ternyata Kunti menyebarkan dokumen chatnya denganku dengan sepotong-sepotong yang mengakibatkan penafsiran lain dari pembacanya.

Tentang pendampingku, yang kusebut bagaikan seorang Perisai Rasulullah, yaitu “Nusaibah / Ummu Imarah”– maaf sangat pribadi - dia membuatku jatuh cinta setiap hari, baik sedang bersama ataupun tidak. Sehingga akupun dengannya membutakan diri dari hal-hal yang dalam pandangan orang mungkin buruk, namun aku berusaha memperbaiki bersamanya, sebagaimana amanatNya untuk saling melengkapi kekurangan satu sama lain dan berbagi kelebihan satu sama lain. 

Dalam pertempuran era digital di jagad maya, melalui medsos ataupun jalur pribadi (japri) Nusaibah / Ummu Imarah-ku vs Kunti, yang jadi bahan bakar dan peluru adalah dokumen percakapanku dengan Kunti, yang di perangkatku memang kuhapus karena tidak mampu menampung terlalu banyak dokumen, kebetulan saat itu perangkatku belum berisi dapur pacu cukup kuat untuk menampung segala hal.

Dalam dokumen itu ada beberapa potongan percakapan tidak utuh, dan mengakibatkan banyak tafsir. Tapi bagiku lebih penting adalah perasaanku yang tidak terlibat sama sekali saat menuliskannya, yaitu saat menanggapi “curhat-curhat”nya, dari jawaban biasa sampai ketika ia menyatakan dulu suka menulis puisi dan suka bahasa puitis sehingga dikala agak senggang kucarikan di google rangkaian-rangkaian kata puitis untuk menjawab “wanita yang sedang dirundung duka” yang dikesankan dengan lembaran-lembaran curhatnya itu.

Penasaran? Iya.

Karena sejauh itu ia curhat-curhat dengan diriku, kami sebenarnya belum mengenal satu sama lain secara langsung, kecuali hanya mengenali bahwa ia merasa dalam masalah, karena memang seolah-olah dia memiliki masalah sehingga perlu curhat, adapun bahwa itu hanya kamuflase atau apapun, it is not my business, itu urusan hatinya dengan Tuhan.

Hanya saja karena penggalan-penggalan dokumen telah digunakan untuk menjatuhkanku dan membakar amarah Nusaibah / Ummu Imarah-ku, sepertinya memang sengaja. Dilihat dari cara ia memperlakukan dokumen itu, disimpan, lalu disebarkan ke publik melalu jalur pribadi maupun terbuka di media social. Hm, kemungkinan lain, kata-kata puitis yang ia minta itu telah membuatnya “kembali menemukan sisi kehidupan lain” yang telah hilang dari dirinya selama kurun waktu enam sampai tujuh tahun. Hm, disatu sisi aku membuat “hidup” seseorang yang tidak kukenal, disisi lain “membunuh perasaan” Nusaibah / Ummu Imarah-ku.

 
Apa dengan semua itu aku harus meradang?

Tidak, ibarat Kapten Kapal dimana didalam bidukku ada seorang Perisai, aku bertanggung jawab menyelamatkan bidukku yang sedang ditengah gelombang diterpa badai, ada dua pilihan bagi sang Perisai, apakah mau ikut membantu mempertahan kapal yang mulai bocor, atau ketika ada biduk lewat dan lebih kuat lambungnya ia berpindah ke biduk itu. Dan setelah berbagai “pertempuran” dan usaha membetulkan kebocoran biduk, sang Perisai pun memutuskan berpindah biduk ketika melintas sebuah biduk bajak laut yang menjanjikan menjadikannya “Nusaibah / Ummu Imarah” di biduknya.

Aku tak boleh marah, tapi aku mencintai bidukku, jadi tak kutinggalkan begitu saja, aku tetap berusaha memperbaiki kebocoran dan kerusakan bidukku. Aku tak ingin begitu saja meninggalkan kerusakan. Bagaimana nanti aku mempertanggungjawabkan dihadapanNya kalau menyerah begitu saja? Apalagi aku sangat mencintai biduk dan Perisainya? Adapun Perisai itu telah memilih berpindah biduk, itu pilihannya, dan aku menerima konsekuensinya dengan lapang dada, yang penting ia selamat, dan tidak timbul kerusakan baru baik pada diri Perisai, dan diri para prajurit pengiringnya.

Aku memilih sementara tetap di tengah badai memperbaiki biduk, hingga ia tenggelam, dan aku akan menemukan pulau untuk mendamparkan diri dengan sebuah sekoci yang tersisa, bahkan meski hanya dengan sepotong kayu untuk berenang, yang kemudian akan kujadikan tiang utama tenda, di kehidupan baruku, di tengah pulau yang sunyi.   


*

Salah satu kesadisanku, adalah aku tak peduli gagalnya misi-misi Kunti diatas, yang tentu juga menyisakan kekecewaan-kekecewaan.

Masing-masing telah menemukan jalan dan menentukan sikap. Sebagai orang yang cinta perdamaian, kenapa mesti berperang jika tanpa perang pun kita akan mati?

Kuselipkan sebuah pesan “Perdamaian” dari Nasyida Ria, pernah kuselipkan dalam sebuah novel yang kemudian difilmkan tahun 2012 silam.

Perdamaian, perdamaian,
banyak yang cinta damai,
tapi perang makin ramai,
bingung, bingung, bingung memikirkannya....

Kepada siapapun yang perasaannya serasa teraduk-aduk karena perasaan cinta dan cemburu, dan tiba-tiba menggelegak dalam perasaan “seolah” menjadi muda kembali, ingat pesan Bang Haji Rhoma Irama:

Darah muda,
darahnya para remaja,
yang selalu merasa gagah,
tak pernah mau mengalah.
Masa muda masa yang berapi-api
yang maunya menang sendiri
walau salah tak peduli
darah muda…
Biasanya para remaja
berpikirnya sekali saja
tanpa menghiraukan akibatnya
wahai kawan para remaja
waspadalah dalam melangkah
agar tidak menyesal akhirnya


Saya bukan remaja lagi, juga tak lagi muda. Begitu juga semua  tokoh dalam kisah nyata diatas. Konon, diatas bahtera atau biduk cinta, crew dan penumpangnya bisa serasa kembali muda dan buta, tak lagi dapat berpikir rasional, jika disertai perasaan cemburu, membuat gelap mata dan berlaku tradisi ditengah samudera, saling bajak, atau yang dianggap merugikan dilempar ke tengah samudera.

Kepada “Nusaibah / Ummu Imarah”-ku, istriku, dikala sunyi setiap kubertugas, selalu terngiang dan kugumamkan bait-bait syair lagunya Leo Sawyer, “When I Need You”.
When I need you
Just close my eyes and I’m with you
And all that I so want to give you
It’s only a heartbeat away
When I need love
I hold out my hands and I touch love
I never knew there was so much love
Keeping me warm night and day


Meski tidak bersama lagi, mungkin sekali waktu bisa dijadikan bahan renungan mengenai syair dibawah ini yang dapat dibaca dalam sunyi, syukur-syukur dipraktikkan.

Tamba ati iku lima perkarane
Kaping pisan maca Qur’an ngerti maknane
Kaping pindho salat wengi lakonana
Kaping telu wong kang soleh kumpulana
Kaping papat wetengira ingkang luwe
Kaping lima zikir wengi ingkang suwe
Salah sawijine sapa bisa ngelakoni
Mugi-mugi Gusti Allah nyembadani

Obat hati ada lima perkaranya
Yang pertama baca Qur’an dengan memahami maknanya
Yang kedua salat malam dirikanlah
Yang ketiga berkumpullah dengan orang saleh
Yang keempat perbanyaklah berpuasa
Yang kelima zikir malam perpanjanglah
Salah satunya, siapa bisa menjalani
Moga-moga Gusti Allah mencukupi

*

Akhir kalam, kepada Kunti kusampaikan bahwa benar engkau telah singgah dalam kehidupanku, tidak sebagaimana ditafsirkan orang, dan aku awalnya hanya berusaha memberikan informasi yang dibutuhkan, meski kemudian menjadi salah telah menerima dan melayani berbagai curhat atau apapun namanya, dengan ungkapan-ungkapan nakal ataupun sedikit menggoda yang mewarnai percakapan-percakapan itu, terutama sejak permintaan kata-kata puitis itu.

Sejak diingatkan oleh “Nusaibah / Ummu Imarah”ku, aku meninggalkan semua kegiatan komunikasi yang selama beberapa waktu kita lakukan, dan mengubur kenangan yang pernah singgah itu. Karena hanya kenangan tak berbekas di hati dan perasaan, selain hanya sebagai kenalan saja. Jika pun dalam tutur kata dan perilaku ada yang membuat salah tafsir, jika masing-masing dari kita melakukan kesalahan, mungkin ada baiknya saling memaafkan, bukan memicu kesalahpahaman-kesalahpahaman pada diri kita, ataupun pada diri orang lain.

Jika ada kekecewaan yang belum diungkapkan, mungkin bisa ungkapkan ke orang yang dipercaya, atau lebih baik lagi ke Tuhan Yang Maha Kuasa, tempat berkeluh kesah segala hal.

Aku menyimpanmu dilubuk hati yang terdalam, di jurang ataupun palung hatiku, memendamnya disana hingga terlupa, karena memang sebenarnya sudah terlupa hingga kemudian tiba-tiba berseliweran desas-desus yang kau bisikkan kemana-mana, juga karena memang tak ada yang perlu dikenang secara khusus, adapun mengenang sebagai bagian dari silaturrahim, itu hal lain dan tentu dibolehkanNya.

Memperbaiki sikap dan perilaku diri, akan membuat kita semua tetap dikenang, bukan menjadi orang yang jadi kenangan pahit bagi orang lain hingga kemudian dicampakkan begitu saja atau ditinggalkan sebagai kenangan buruk dalam lembar catatan hitam orang lain.

Terus terang, jika harus ku menjawab berbagai pertanyaan tentang perasaanku, sudah kujawab, bahkan pernah beberapa kali ke dirimu kunyatakan prinsip hidupku, bahwa bagiku hanya ada 2 wanita yang ku muliakan, tak boleh kusakiti, yaitu ibu dan istriku.

Banyak wanita terhubung dalam kehidupanku, dengan berbagai kelas dan latar belakang, tapi belum satupun yang membuat perasaanku “mabuk” atau oleng untuk berpindah ke lain hati. Karena dengan kasih sayangNya, DIA telah memberiku kekuatan dan petunjuk untuk mematikan perasaan cinta kasih kepada selain Ibu dan Istriku.

*

Untuk Farida Naura, “Nusaibah / Ummu Imarah”ku yang selalu membuat degup jantung serasa deburan ombak samudera. Terimakasih atas segala cinta yang kemudian kau tinggalkan bersama biduk barumu dengan anggapan salah, seolah dikhianati. Tidak, hanya ada cinta untukmu, untuk selamanya, meski kau bersamaku atau tidak. Mohon maaf atas segala khilaf dan kekurangan selama pelayaran kita.



Aku yang selalu mencintaimu
dimanapun, kapanpun, dan dalam keadaan apapun
MP “JAMES BON”
PenJAga MESjid dan Tukang KeBON


---

Tentang Nusaibah / Ummu Imarah Sang Perisai Rasulullah

Ummu Imarah, ditujukan untuk Nusaibah binti Ka'ab, seorang wanita sahabat Rasulullah yang tangguh lagi pemberani, ia adalah lambang keberanian yang abadi. Kisahnya yang paling dikenal adalah ketika umat Islam berperang melawan orang-orang kafir dalam perang Uhud. Nusaibah bersama suami dan putra-putranya juga ikut dalam peristiwa Hudaibiyah, Perang Khaibar, Perang Hunain dan Perang Yamamah.

Ketika melihat Nusaibah binti Ka'ab terluka, Rasulullah kemudian bersabda, "Wahai Abdullah (putra Nusaibah), balutlah luka ibumu! Ya Allah, jadikanlah Nusaibah dan anaknya sebagai sahabatku di dalam surga."

Mendengar do'a dari Rasulullah, semangatnya justru menjadi semakin bergejolak dan tidak lagi memperdulikan rasa sakit ditubuhnya akibat luka tersebut dan terus berperang untuk membela agama Allah dan Rasul-Nya, Nusaibah berkata, "Aku telah meninggalkan urusan duniawi".

Nusaibah pun mengisahkan perjuangannya dalam pertempuran Uhud, "...saya pergi ke Uhud dan melihat apa yang dilakukan orang. Pada waktu itu saya membawa tempat air. Kemudian saya sampai kepada Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam yang berada di tengah-tengah para sahabat. Ketika kaum muslimin mengalami kekalahan, saya melindungi Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam, kemudian ikut serta di dalam medan pertempuran. Saya berusaha melindungi Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam dengan pedang, saya juga menggunakan panah sehingga akhirnya saya terluka."

Nasehat Bagi Pecandu Gadget

A+ | Imam Masjidil Al Haram Asy-Syaikh Su’ud asy-Syuraim dalam sebuah Khutbah beliau berkata, "Adakah dari kita yang tidak melihat perubahan dalam kehidupannya setelah masuknya Whats App, Facebook, Instagram, Line dan yang lainnya dalam kehidupannya?

Hal ini merupakan "Ghazwul fikri" yang menyerang akal, namun sangat disayangkan kita telah tunduk padanya dan kita telah jauh dari dien Islam yang lurus dan dari dzikir kepada Allah.

Kenapa hati kita mengeras?

Itu karena seringnya kita melihat cuplikan video yang menakutkan, dan juga kejadian2 yang di share..
Hati kita kini mempunyai kebiasaan yang tak lagi takut pada sesuatupun. Oleh karena itulah, hati kita menjadi mengeras bagai batu.

Kenapa kita terpecah belah dan kita putus tali kekerabatan ?

Karena kini silaturrahim kita hanya via Whats App saja, seakan kita bertemu mereka setiap hari.
Padahal bukan begitu tata cara bersilaturrahim dalam agama Islam (Kita perlu datang secara phisik, mengucap salam, bersalaman, membawa oleh-oleh, saling ingat mengingatkan, nasehat menasehati, saling doa mendoakan, dan lain-lain).

Kenapa kita sangat sering mengghibah (ngrumpi), padahal kita tidak sedang duduk dengan seorangpun. Itu karena saat kita mendapatkan satu message yang berisi ghibah terhadap seseorang atau suatu kelompok, dan dengan cepat kita sebar ke grup-grup yang kita punya. Dengan begitu cepatnya kita mengghibah, sedang kita tidak sadar berapa banyak dosa yang kita dapatkan dari hal itu.

Sangat disayangkan, kita telah menjadi pecandu..

Kita makan, handphone ada ditangan kiri kita. Kita duduk bersama teman-teman, HP ada di genggaman.

Berbicara dengan ayah dan ibu yang wajib kita hormati, akan tetapi handphone ada di tangan pula. Sedang mengemudi kendaraan, HP juga di tangan. Sampai-sampai anak-anak kita pun telah kehilangan kasih sayang dari kita, karena kita telah berpaling dari mereka dan lebih mementingkan handphone.

"Aku tidak ingin mendengar seseorang yang memberi pembelaan pada teknologi ini. Karena sekarang, jika sesaat saja HP kita tertinggal betapa kita merasa sangat kehilangan.. Ah, andai perasaan dan perlakuan seperti itu ada juga pada shalat dan tilawatul (pembacaan) Qur'an kita..."

Adakah dari kita yang mengingkari hal ini? Dan siapa yang tidak mendapatkan perubahan negatif dalam kehidupannya, setelah masuknya teknologi ini pada kehidupannya dan setelah menjadi pecandu?

Demi Allah, siapakah yang akan menjadi teman kita nanti di kubur? Apakah HP?

Mari kita sama-sama kembali kepada Allah, jangan sampai ada hal2 yang menyibukkan kita dari dien (agama) kita. Karenanya kita tidak tahu, berapa lamakah sisa umur kita".

Allah berfirman:
“Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit”. QS.Thoha: 124.

Semoga handphone yang kita miliki adalah wasilah untuk kebaikan dan bukan wasilah dalam keburukan...

Jangan disembunyikan nasihat ini, agar tidak menjadi seseorang yang menyembunyikan ilmu...

#Oleh2Umroh

Beberapa Kesalahan dalam Ibadah Haji dan Umroh


A+
| Dibawah ini disarikan catatan beberapa kesalahan dalam ibadah hajji dan umroh yang biasa dilakukan ummat Islam, dan dianggap biasa. Padahal kesalahan tersebut dapat mempengaruhi kualitas ibadahnya, bahkan jika termasuk dalam perbuatan bid'ah malah membuatnya berdosa dan amalnya tertolak, dan mubtadi' (pelaku bid'ah) ditempatkan di neraka.

1. KESALAHAN KETIKA IHRAM.
a. Sebagian jama’ah haji, ketika melewati miqat atau sejajar dengannya di atas pesawat, mereka menunda ihram sehingga turun di bandara Jeddah.
Dalam Al Bukhari dan Muslim, dan selainnya dari Ibnu Abbas, dia berkata:

وَقَّتَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ ذَا الْحُلَيْفَةِ وَلِأَهْلِ نَجْدٍ قَرْنَ الْمَنَازِلِ وَلِأَهْلِ الْيَمَنِ يَلَمْلَمَ هُنَّ لَهُنَّ وَلِكُلِّ آتٍ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِهِمْ مِمَّنْ أَرَادَ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ

“Nabi telah menentukan miqat untuk penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, dan untuk penduduk Syam di Al Juhfah, dan untuk penduduk Najd di Qarnul Manazil, dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tempat-tempat itu untuk mereka dan untuk orang yang melewatinya, meskipun bukan dari mereka (penduduk-penduduk kota yang telah disebutkan), bagi orang yang ingin menunaikan haji dan umrah”.

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَّتَ لِأَهْلِ الْعِرَاقِ ذَاتَ عِرْقٍ

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menentukan miqat untuk penduduk Irak di Dzatu ‘Irq”. [HR Abu Dawud dan An Nasa-i].

Tempat-tempat tersebut adalah miqat-miqat yang telah ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai batasan syar’i. Maka tidaklah halal bagi seseorang yang ingin menunaikan ibadah haji dan umrah untuk merubahnya atau untuk melewatinya tanpa ihram.

Dalam Shahih Al Bukhari, dari Abdullah bin Umar, dia berkata: Ketika dibuka dua kota ini, yakni Bashrah dan Kufah, mereka datang kepada Umar, lalu berkata: “Wahai, Amirul Mukminin. Sesungguhnya Nabi telah menetapkan miqat untuk penduduk Najd di Qarnul Manazil, dan tempat itu menyimpang dari kita. Apabila kita hendak pergi ke Qarnul Manazil, maka akan memberatkan kita”. Umar berkata,”Lihatlah kepada tempat yang sejajar dengannya (Qarnul Manazil, Pen) dari jalan kalian.”

Dalam atsar ini Umar bin Khaththab telah menentukan miqat bagi orang yang tidak lewat di tempat tersebut, namun mereka sejajar dengannya. Tidak ada bedanya orang yang melewati miqat lewat udara ataupun lewat darat.

b. Keyakinan sebagian jama’ah haji atau umrah, bahwa yang dimaksud ihram adalah sekedar mengenakan pakaian ihramnya setelah mengganti dari pakaian biasa; padahal, ihram adalah niat untuk masuk ke dalam ibadah umrah atau haji.

Yang benar, bahwa seseorang ketika mengenakan pakaian ihram, hal ini adalah persiapan untuk ihram. Karena ihram yang sebenarnya adalah niat untuk masuk ke dalam manasik. Hal inilah yang belum diketahui oleh kebanyakan orang, mereka mengira, hanya dengan mengenakan pakaian ihram, telah mulai menjauhi larangan ihram, padahal larangan-larangan ihram dijauhi ketika seseorang mulai niat masuk ke dalam manasik.

c. Ketika seorang wanita dalam keadaan haidh, dia tidak melakukan ihram karena adanya keyakinan bahwa ihram harus dalam keadaan suci, kemudian dia melewati miqat tersebut tanpa ihram.

Hal ini merupakan kesalahan yang nyata, karena haidh tidak menghalanginya untuk ihram. Seorang wanita yang haidh, ia tetap melakukan ihram dan mengerjakan semua yang harus dikerjakan oleh jama’ah haji, kecuali thawaf. Dia menunda thawaf sehingga suci dari haidhnya.

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata: “Nabi telah masuk ke tempatku, (dan) aku sedang menangis”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Apa yang membuatmu menangis?” Aku menjawab: “Demi Allah, aku berkeinginan seandainya aku tidak haji pada tahun ini”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Barangkali engkau sedang haidh?” Aku menjawab: “Benar”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَإِنَّ ذَلِكِ شَيْءٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ فَافْعَلِي مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي

“Itu adalah sesuatu yang telah Allah tetapkan untuk wanita keturunan Adam. Kerjakanlah semua yang dikerjakan oleh orang yang haji, kecuali engkau jangan thawaf di Ka’bah, sehingga engkau suci”. [HR Al Bukhari].

d. Keyakinan sebagian jama’ah haji bahwa pakaian ihram bagi kaum wanita harus memiliki warna tertentu, seperti warna hijau atau warna lainnya.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata: “Adapun sebagian orang awam yang mengkhususkan pakaian ihram bagi wanita dengan warna hijau atau hitam, dan tidak boleh dengan warna yang lain, maka hal ini tidak ada asalnya”.[1]

e. Keyakinan bahwa pakaian ihram yang dipakai oleh jama’ah haji tidak boleh diganti meskipun kotor.
Hal ini merupakan suatu kesalahan dari jama’ah haji. Sebenarnya boleh untuk mengganti pakaian ihram mereka dengan yang semisalnya, dan boleh juga untuk mengganti sandal. Tidak menjauhi kecuali larangan-larangan ketika ihram, sedangkan hal ini bukanlah termasuk larangan.

Berkata Syaikh Abdul Aziz bin Baz: “Tidak mengapa untuk mencuci pakaian ihram dan tidak mengapa untuk menggantinya, atau menggunakan pakaian yang baru, atau yang sudah dicuci”.[2]

f. Talbiyah secara berjama’ah dengan satu suara.
Ibnu Al Haaj berkata : “Yakni, hendaknya mereka tidak mengerjakannya dengan satu suara, karena hal ini termasuk bid’ah, bahkan setiap orang bertalbiyah sendiri-sendiri tanpa bertalbiyah dengan suara orang lain, dan hendaknya terdapat ketenangan dan keheningan yang mengiringi talbiyah ini…”.[3]

g. Ketika ihram, sebagian jama’ah membuka pundak-pundak mereka seperti dalam keadaan idh-thiba’ (Membuka pundak sebelah kanan dan menutup sebelah kiri dengan kain ihram).
Idh-thiba’ tidak disyari’atkan kecuali ketika thawaf qudum atau thawaf umrah. Selain itu, tidak disyari’atkan dan pundak tetap dalam keadaan tertutup dengan pakaian ihramnya.

Berkata Ibnu Abidin dalam Hasyiyah-nya: “Yang sunnah adalah melakukan idh-thiba’ sebelum thawaf hingga selesai, tidak ada yang lain daripada itu”.[4]

Berkata Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah : “Apabila telah selesai dari thawaf, maka dia mengembalikan rida’nya (pakaian atas dari ihramnya) seperti keadaan semula, karena idh-thiba’ dikerjakan ketika thawaf saja”.[5]

h. Keyakinan bahwa shalat dua raka’at setelah ihram hukumnya wajib.
Tidak ada dalil yang menunjukkan wajibnya shalat dua raka’at setelah ihram. Bahwasanya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ihram setelah melakukan shalat fardhu, maka dianjurkan ihram setelah shalat fardhu.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah : “Disunnahkan untuk ihram setelah selesai shalat, baik fardhu atau sunnah, jika dikerjakan pada waktu sunnah. (Demikian) menurut satu di antara dua pendapat. Dan menurut pendapat yang lain, jika dia shalat fardhu, maka dia ihram sesudahnya, dan jika bukan waktu shalat fardhu, maka bagi ihram tidak ada shalat yang mengkhususkannya. Dan ini adalah pendapat yang paling kuat”.[6]

2. KESALAHAN KETIKA THAWAF.
a. Memulai thawaf sebelum Hajar Aswad.
Hal ini termasuk perbuatan ghuluw dalam agama. Sebagian orang mempunyai keyakinan agar lebih berhati-hati. Akan tetapi, hal ini tidak bisa diterima, karena sikap hati-hati yang benar adalah apabila kita mengikuti syari’at dan tidak mendahului Allah dan RasulNya.

b. Sebagian jama’ah haji berpedoman dengan do’a-do’a khusus, terkadang mereka dipimpin oleh seseorang untuk mentalkin, kemudian mereka mengulang-ulanginya secara bersama-sama.
Hal ini tidak dibenarkan, karena dua hal. Pertama. Karena di dalam thawaf tidak ada do’a khusus. Tidak pernah diriwayatkan dari Nabi n bahwa di dalam thawaf terdapat do’a khusus. Kedua. Bahwa do’a secara berjama’ah adalah perbuatan bid’ah. Perbuatan ini mengganggu bagi orang lain yang juga sedang thawaf. Yang disyari’atkan ialah, setiap orang berdo’a sendiri-sendiri tanpa mengeraskan suaranya.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah : “Didalam hal ini –yakni thawaf- tidak ada dzikir yang khusus dari Nabi, baik perintah atau ucapan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengajarkan hal itu. Bahkan setiap orang berdo’a dengan do’a-do’a yang masyru’ (disyariatkan). Adapun yang disebut oleh kebanyakan orang bahwa terdapat do’a tertentu di bawah Mizab dan tempat lainnya, maka hal itu sama sekali tidak ada asalnya”.[7]

c. Sebagian jama’ah haji mencium Rukun Yamani.
Hal ini merupakan kesalahan, karena Rukun Yamani hanya disentuh dengan tangan saja, tidak dicium. Yang dicium hanyalah Hajar Aswad, apabila kita mampu untuk menciumnya. Jika tidak mampu, maka diusap. Jika tidak bisa (diusap) juga, maka kita cukup dengan memberi isyarat dari jarak jauh.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah : “Adapun Rukun Yamani, menurut pendapat yang shahih, dia tidak boleh dicium”. [8]

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah : “Telah shahih dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyentuh Rukun Yamani. Dan tidak ada yang sah dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menciumnya, atau mencium tangan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah menyantuhnya”.[9]

d. Sebagian jama’ah haji mengerjakan thawaf dari dalam Hijir Isma’il.
Dalam masalah ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam Hijir Ismail ketika thawaf, karena sebagian besar hijir termasuk dalam area Ka’bah, padahal Allah memerintahkan untuk thawaf mengelilingi Ka’bah, bukan thawaf di dalam Ka’bah”.[10]

e. Keyakinan sebagian orang yang thawaf, bahwa shalat dua raka’at setelah thawaf harus dikerjakan di dekat Maqam Ibrahim.
Yang benar, shalat dua raka’at setelah thawaf boleh dikerjakan dimana saja dari Masjidil Haram, dan tidak wajib untuk dikerjakan di dekat Maqam Ibrahim, sehingga tidak berdesak-desakan dan mengganggu jama’ah lainnya.[11]

f. Ketika thawaf, sebagian jama’ah haji mengusap-usap setiap yang mereka jumpai di dekat Ka’bah, seperti Maqam Ibrahim, dinding Hijir Isma’il dan kain Ka’bah, dan yang lainnya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Adapun seluruh sudut Ka’bah dan Maqam Ibrahim, dan seluruh masjid dan dindingnya, dan kuburnya para nabi dan orang-orang yang shalih, seperti kamar Nabi kita, dan tempatnya Nabi Ibrahim dan tempat Nabi kita yang dahulu mereka gunakan untuk shalat, dan selainnya dari kuburnya para nabi serta orang yang shalih, atau batu yang di Baitul Maqdis, maka menurut kesepakatan ulama, semuanya itu tidak boleh untuk diusap dan tidak boleh juga untuk dicium”.[12]

g. Sebagian jama’ah wanita berdesak-desakan ketika hendak mencium Hajar Aswad.
Padahal Allah telah berfirman:

الْحَجُّ أَشْهُرُُ مَّعْلُومَاتُُ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ

“Haji adalah pada bulan-bulan yang telah ditetapkan, barangsiapa yang mengerjakan haji, maka janganlah berbuat rafats dan berbuat fasik dan berbantah-bantahan dalam mengerjakan haji”. [Al Baqarah : 197].

Berdesak-desakan ketika haji akan menghilangkan rasa khusyu’ dan akan melupakan dalam mengingat Allah. Padahal, dua hal ini termasuk maksud yang utama ketika kita thawaf.[13]

h. Sebagian jama’ah haji tetap idh-thiba’ setelah selesai thawaf dan shalat dua raka’at dalam keadaan idh-thiba’.
Dalam hal ini terdapat dua kesalahan. Pertama. Yang sunnah dalam idh-thiba’, yaitu ketika thawaf qudum. Kedua. Mereka terjatuh ke dalam larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang shalat sedangkan pundak mereka terbuka. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

لَا يُصَلِّي أَحَدُكُمْ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ لَيْسَ عَلَى عَاتِقَيْهِ شَيْءٌ

“Janganlah salah seorang di antara kalian shalat dengan satu baju yang tidak ada di atas kedua pundaknya sesuatu dari kain”. [HR Al Bukhari].

i. Mengeraskan niat ketika memulai thawaf.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Nabi tidak mengatakan ‘aku niatkan thawafku tujuh putaran di Ka’bah begini dan begini’ -hingga beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata- bahkan hal ini termasuk bid’ah yang munkar”.[14]

j. Raml (lari kecil) pada tujuh putaran seluruhnya.
Yang sunnah ialah, melakukan raml pada tiga putaran yang pertama. Adapun pada empat putaran yang terakhir berjalan seperti biasanya.

k. Keyakinan mereka bahwa Hajar Aswad bisa memberi manfaat.
Sebagian di antara jamaah haji, setelah menyentuh Hajar Aswad, mereka mengusapkan tangannya ke seluruh tubuhnya atau mengusapkan kepada anak-anak kecil yang bersama mereka. Hal ini merupakan kejahilan dan kesesatan, karena manfaat dan madharat datangnya dari Allah. Dahulu Umar bin Al Khaththab Radhiyallahu ‘anhu berkata:

وَإِنِّي لَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ

“Dan sesungguhnya aku mengetahui bahwa engkau adalah batu, tidak memberi madharat dan tidak bermanfaat. Jika seandainya aku tidak melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka aku tidak akan menciummu”.

l. Setelah selesai dari shalat dua raka’at, mereka berdiri dan berdo’a secara berjama’ah dan dikomando oleh seseorang.
Hal ini bisa mengganggu orang lain yang sedang shalat di dekat maqam. Mereka melampaui batas ketika berdo’a. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَيُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Berdo’alah kepada Rabb kalian dengan khusyu’ dan perlahan, sesungguhnya Dia tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas”. [Al A’raf : 55].

3. KESALAHAN DALAM SA’I.
a. Melakukan sa’i antara Shafa dan Marwa sebanyak empatbelas kali, dimulai dari Shafa dan berhenti di Shafa kembali.

Padahal yang sunnah ialah tujuh kali, bermula dari Shafa dan berakhir di Marwa.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Hal ini adalah salah terhadap sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak pernah dinukil oleh seorangpun dari beliau, dan tidak pernah dikatakan oleh seorangpun dari para imam yang telah dikenal pendapat mereka, meskipun hal ini dikatakan oleh sebagian orang belakangan yang menyandarkan kepada imam. Di antara hal yang menjelaskan kesalahan pendapat ini (sa’i empatbelas kali), bahwasanya beliau berbeda dalam hal ini. Beliau mengakhiri sa’i di Marwa. Jika seandainya berangkat dan kembali dihitung sekali, pasti beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengakhiri sa’i di Marwa”.[15]

b. Shalat dua raka’at setelah selesai dari sa’i, seperti ketika selesai dari thawaf.
Shalat dua raka’at setelah selesai thawaf telah ditetapkan oleh sunnah. Adapun shalat dua raka’at setelah selesai dari sa’i adalah bid’ah yang munkar dan menyelisihi petunjuk Nabi. Dalam masalah ini tidak bisa diqiyaskan, karena bertentangan dengan nash yang shahih dalam sa’i.

c. Terus melakukan thawaf dan sa’i meskipun shalat di Masjidil Haram telah dikumandangkan iqamat.
Dalam masalah ini, Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata: “Hendaknya (orang yang sedang sa’i atau thawaf) shalat bersama orang lain, kemudian baru menyempurnakan thawaf dan sa’inya yang telah dia kerjakan sebelum shalat”.[16]

d. Sebagian jama’ah haji, mereka sa’i dalam keadaan idh-thiba’.
Seharusnya dia tidak idh-thiba’, karena tidak ada dalilnya dalam hal ini. Imam Ahmad mengatakan: “Kami tidak mendengar sesuatu (tentang sunnahnya ketika sa’i) sedikitpun juga”. [17]

e. Sebagian jamaah haji berlari-lari di seluruh putaran antara Shafa dan Marwa.
Hal ini menyelisihi sunnah, karena berlari hanya di antara dua tanda hijau saja. Yang lainnya adalah jalan seperti biasa.

f. Sebagian wanita berlari di antara dua tanda hijau seperti yang dilakukan oleh kaum lelaki.
Padahal wanita tidak dianjurkan untuk lari, namun berjalan biasa di antara dua tanda hijau. Ibnu Umar berkata: “Bagi kaum wanita tidak disunnahkan raml (berlari kecil) di sekitar Ka’bah, dan (tidak) juga antara Shafa dan Marwa”.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata: “Adapun kaum wanita, (ia) tidak disyari’atkan untuk berjalan cepat di antara dua tanda hijau, karena wanita adalah aurat. Akan tetapi, disyari’atkan bagi mereka untuk berjalan di seluruh putaran”.[18]

g. Sebagian orang yang sa’i, setiap kali menghadap Shafa dan Marwa selalu membaca:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ اللهِ .

Padahal yang sunnah ialah membaca ayat ini ketika pertama kali menghadap kepada Shafa saja.

4. KESALAHAN KETIKA WUKUF DI ARAFAH.
a. Sebagian jama’ah haji berdiam di luar batasan Arafah dan tinggal di tempat itu hingga terbenam matahari, kemudian mereka langsung menuju Muzdalifah.
Hal ini merupakan kesalahan besar. Karena wukuf di Arafah hukumnya rukun, dan tidak akan sah hajinya tanpa rukun ini, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

الْحَجُّ عَرَفَةُ مَنْ جَاءَ لَيْلَةَ جَمْعٍ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ فَقَدْ أَدْرَكَ الْحَجَّ

“Haji adalah Arafah, barangsiapa yang datang pada malam harinya sebelum terbit fajar (hari kesepuluh), maka dia telah mendapatkan wukuf”. [HR At Tirmidzi]

b. Meninggalkan Arafah sebelum terbenamnya matahari.
Dalam masalah ini Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, hal ini adalah haram, menyelisihi sunnah Nabi. Karena beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam wukuf hingga matahari terbenam dan hilang cahayanya. Meninggalkan Arafah sebelum terbenamnya matahari merupakan hajinya orang jahiliyah.

c. Mereka menghadap ke arah bukit Arafah, sedangkan kiblat berada di belakang atau di arah kanan dan kirinya. Sebagian mereka mempunyai keyakinan, bahwa ketika wukuf harus memandang bukit Arafah atau pergi dan naik kesana.

Anggapan seperti ini menyelisihi sunnah, karena sunnah dalam hal ini ialah menghadap ke arah kiblat sebagaimana dikerjakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syaikh Shalih Alu Syaikh berkata: “Menghadap ke arah bukit Arafah atau tempat lain tidaklah terdapat keutamaan atau anjuran. Bahkan, jika dia mengharuskan hal ini dan meyakini bahwa perbuatan ini afdhal, maka mengerjakannya merupakan bid’ah. Dan naik ke atas bukit dengan maksud beribadah disana merupakan bid’ah yang tidak pernah dikerjakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.[20]

d. Bercepat-cepat dan bersegera ketika meninggalkan Arafah menuju Muzdalifah.
Sebagian orang sangat tergesa-gesa dengan kendaraan mereka dan dengan suara klakson yang mengganggu orang lain, sehingga terjadi hal-hal yang tidak terpuji, seperti saling mencela dan saling mendo’akan kejelekan di antara mereka.

Berkata Ibnu Al Haaj: “Apabila seseorang meninggalkan Arafah setelah matahari terbenam, maka hendaknya dia berjalan pelan-pelan, dan wajib baginya untuk tenang, perlahan dan khusyu”. [21]

5. KESALAHAN KETIKA MELEMPAR JUMRAH
a. Keyakinan, bahwa mereka harus mengambil kerikil dari Muzdalifah.
Anggapan seperti ini tidak ada asalnya sama sekali. Dahulu, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ialah memerintahkan Ibnu Abbas untuk mengambil kerikil, sedangkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik di atas kendaraan. Yang nampak dari kisah ini, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di dekat jumrah.

Berkata Syaikh Ibnu Baz: “Apa yang dikerjakan oleh sebagian orang untuk mengambil kerikil ketika sampai di Muzdalifah sebelum mengerjakan shalat, kebanyakan mereka berkeyakinan bahwa hal itu masyru’, maka hal ini merupakan kesalahan yang tidak ada asalnya. Nabi n tidak memerintahkan untuk diambilkan kerikil, kecuali ketika beliau n meninggalkan Masy’aril Haram menuju Mina. Kerikil yang diambil dari mana saja sah baginya, tidak harus dari Muzdalifah, akan tetapi boleh diambil di Mina”. [22].

b. Keyakinan mereka bahwa ketika melempar jumrah, seakan-akan sedang melempar setan.
Maka dari itu, ketika melempar jumrah mereka berteriak dan memaki, yang mereka yakini sebagai setan. Semua hal ini tidak ada asalnya di dalam syari’at kita yang mulia.

c. Melempar dengan sandal atau sepatu dan batu yang besar.
Hal ini bertentangan dengan Sunnah Nabi, karena beliau n melempar dengan batu kerikil, dan beliau memerintahkan umatnya untuk melempar dengan semisalnya. Dalam hal ini, beliau memperingatkan dari ghuluw.

d. Mereka tidak berhenti untuk berdo’a setelah melempar jumrah yang pertama dan kedua pada hari tasyrik.
Padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu berdiri setelah melempar jumrah ula dan wustha, dengan menghadap ke arah kiblat mengangkat kedua tangannya dan berdo’a dengan do’a yang panjang.

6. KESALAHAN KETIKA MENCUKUR RAMBUT.
Sebagian jama’ah haji mencukur sebagian dari rambutnya dan menyisakan sebagian lainnya.
Mengomentari hal ini Syaikh Ibnu Baz berkata: “Menurut pendapat yang terkuat di antara dua pendapat ulama, tidak sah jika memendekkan sebagian rambut atau hanya mencukur sebagian rambutnya. Bahkan yang wajib adalah mencukur seluruh rambutnya atau memendekkan seluruhnya. Dan yang afdhal ialah memulai dengan bagian kanan terlebih dahulu sebelum yang kiri”.[23]

7. KESALAHAN KETIKA ZAIARAH KE MASJID NABAWI.
a. Keyakinan bahwa ziarah ke Masjid Nabawi ada hubungannya dengan haji dan termasuk penyempurna bagi hajinya.

Anggapan seperti ini merupakan kesalahan yang nyata, karena ziarah ke Masjid Nabawi tidak ditetapkan dengan waktu tertentu, dan tidak ada hubungannya dengan haji. Barangsiapa yang pergi haji dan tidak ziarah ke Masjid Nabawi, hajinya sah dan sempurna.

b. Sebagian orang yang ziarah ke kubur Nabi, mereka mengeraskan suara di dekat kuburan. Mereka berkeyakinan, bahwa jika berdo’a di dekat kubur Nabi akan memiliki kekhususan tertentu.

Hal ini merupakan kesalahan yang besar, dan tidak disyari’atkan untuk berdo’a di dekat kuburan, meskipun orang yang berdo’a tidak menyeru kecuali kepada Allah. Hal ini meruapakan perbuatan bid’ah dan menjadi wasilah menuju kesyirikan. Dahulu, kaum salaf tidak pernah berdo’a di dekat kubur Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mereka mengucapkan salam kepada beliau.

Wallahu a’lam.

Maraji’:
1. Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Jama’ Abdur Rahman bin Qasim.
2. At Tahqiq wa Al Idhah, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Bin Baaz.
3. Hajjatu an Nabiyyi Kama Rawaaha anhu Jabir, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Cet. Al Maktab Al Islami, Tahun 1405H.
4. Manasiku al Hajji wa al Umrah, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Cet. Dar al Waki’, Tahun 1414 H.
5. Min Mukhalafat al Hajji wa al Umrah wa az Ziyarah, Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad As Sadhan, Cet. Dar Syaqraa’, Tahun 1416 H, dan Mukhtashar-nya.
6. Al Mindhar Fi Bayani Katsirin min al Akhtha’ asy Syaai’ah, Ma’aali Syaikh Shalih Alu Syaikh, Cet. Dar al Ashimah, Tahun 1418 H.

________
Footnote
[1]. At Tahqiq wa al Idhah, hlm. 17.
[2]. Fatawa Muhimmah, hlm. 25.
[3]. Lihat Min Mukhalafat al Hajji wa al Umrah wa az Ziyarah (mukhtashar), hlm. 11.
[4]. Hajjatu an Nabiyyi, hlm. 111.
[5]. Al Manhaj fi Shifati al Umrati wa al Hajj, hlm. 22.
[6]. Majmu’ Fatawa, 26/109.
[7]. Majmu’ Fatawa, 26/122.
[8]. Majmu’ Fatawa, 26/97.
[9]. Zaadul Ma’ad, 2/225.
[10]. Majmu’ Fatawa, 26/121.
[11]. Manasiku al Hajji wal Umrah, hlm. 92.
[12]. Majmu’ Fatawa, 26/121.
[13]. Manasik al Hajji wa al Umrah, hlm. 88
[14]. Zaadu al Ma’ad, 2/225.
[15]. Zaadu al Ma’ad, hlm. 213-214.
[16]. Lihat Min Mukhalafat (mukhtashar), hlm. 23.
[17]. At Tahqiq wa Al Idhah, 41.
[18]. Manasikul Hajji wa Al Umrah, 95.
[19]. Al Mindhar, 59.
[20]. Al Mindhar,
[21]. Lihat Min Mukhalafat (mukhtashar), hlm. 25.
[22]. At Tahqiq wa al Idhah, hlm. 53.
[23]. Lihat Min Mukhalafat (mukhtashar), hlm. 29.



[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun IX/1426H/2005M]