|Call Center NTMC POLRI (Kode Area) "500669" atau SMS "9119", Darurat Kamtibmas Telp 110 (dari Telkomsel) atau 021-110 (dari selain telkomsel)|

A+ per detik

Klasifikasi dan Adu Domba Gerakan Islam


Oleh: Habib DR Muhammad Rizieq Syihab, Lc, MA
Imam Besar Front Pembela Islam (FPI)

Bismillaah wal Hamdulillaah…
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah …

Sebuah pusat penelitian dan pengkajian strategi tentang Islam dan Timur Tengah di Santa Monica – California di Amerika Serikat (AS), yang bernama Rand Corporation (RC) telah melakukan penelitian tentang Gerakan Islam di seluruh dunia selama puluhan tahun.

Hasil penelitian lembaga ini telah diturunkan dalam bentuk sejumlah laporan resmi yang antara lain berjudul :

1. Civil Democratic Islam yang dibuat pada tahun 2003.

2. Building Moderate Muslim Networks yang dibuat pada tahun 2007.

Laporan RC menjadi referensi penting bagi National Intelligent Council (NIC), yaitu sebuah Dewan Intelijen Nasional AS yang membawahi 15 badan intelijen dari 15 Negara.

Klasifikasi Gerakan Islam

Dalam berbagai laporan hasil kajiannya, RC memetakan gerakan Islam di dunia sesuai “kepentingan barat”. RC membuat “Klasifikasi Gerakan Islam” lengkap dengan uraian karakter, ciri, status dan cara penanganan tiap kelompok. RC membagi gerakan Islam di dunia menjadi empat kelompok, yaitu :

Pertama, kelompok “Fundamentalis” : Yaitu kelompok Islam yang pro Khilafah dan pro Tathbiq Syari’ah serta anti Demokrasi dan sangat kritis terhadap pengaruh barat. Kelompok ini oleh RC diberi status “BAHAYA”, sehingga penanganannya harus “DIHABISI”, karena kelompok ini “MUSUH BARAT”.

Kedua, kelompok “Modernis” : Yaitu kelompok Islam yang anti Khilafah dan anti Tathbiq Syari’ah serta pro demokrasi, tapi tetap kritis terhadap pengaruh barat. Kelompok ini oleh RC diberi status “AMAN”, sehingga penanganannya harus “DIRANGKUL”, walau terkadang masih mengkritisi barat saat “kepentingan” mereka terganggu. Namun kelompok ini tetap dianggap “KAWAN BARAT”.

Ketiga, kelompok “Liberalis” : Yaitu kelompok Islam yang anti Khilafah dan anti Tathbiq Syari’ah serta pro demokrasi dan menerima sepenuhnya pengaruh barat. Kelompok ini oleh RC diberi status “AMAT AMAN”, sehingga penanganannya harus “DIBESARKAN”, karena kelompok ini adalah “ANTEK BARAT”,

Keempat, kelompok “Tradisionalis” : Yaitu kelompok Islam yang pro Khilafah dan pro Tathbiq Syari’ah serta juga pro Demokrasi tapi tetap kritis terhadap pengaruh barat. Kelompok ini oleh RC diberi status “WASPADA”, sehingga penanganannya harus “DIAWASI”, karena tiga dari empat ciri kelompok ini sama dengan ciri “Fundamentalis”, sehingga jika sering bersentuhan dengan “Fundamentalis”, maka dengan sangat mudah menjadi “Fundamentalis”. Karenanya, kelompok “Tradisionalis” harus dijauhkan dari kelompok “Fundamentalis”, bahkan harus “DIADU-DOMBA”.

Strategi dan Taktik

Dalam laporan resminya, RC memaparkan secara detail tentang strategi dan taktik penanganan tiap kelompok Islam sesuai pemetaan dan klasifikasi yang mereka buat, antara lain :

1. Stigmatisasi & Pencitraan

Kelompok Islam yang dinilai anti barat maka harus distigmatisasi sebagai kelompok “intoleransi”, “anarkis”, “radikalis”, “ekstrimis” dan “teroris”, dengan mengekspos secara besar-besaran segala bentuk berita sekecil apa pun terkait mereka, yang tidak disukai masyarakat, sekaligus menutup habis-habisan segala berita simpatik sebesar apa pun tentang mereka, melalui semua media yang dikuasai barat dan anteknya.

Sebaliknya, kelompok Islam yang dinilai [ro Barat maka harus dicitrakan sebagai kelompok “toleran”, “santun”, “ramah” dan “lembut”, dengan mengekspos secara besar-besaran segala bentuk berita sekecil apa pun terkait mereka, yang sangat disukai masyarakat, sekaligus menutup habis-habisan segala berita buruk sebesar apa pun tentang mereka, melalui semua media yang dikuasai barat dan Anteknya.

2. Pengkerdilan & Pengagungan

Kelompok Islam yang dinilai anti barat maka harus dikerdilkan sehingga terkesan sebagai kelompok “terbelakang”, “kaku”, “kolot”, “bodoh”, “tidak berpendidikan” dan “tidak kreatif”.

Sebaliknya, kelompok Islam yang dinilai pro Barat maka harus dibesarkan dan dimajukan, sehingga terkesan sebagai kelompok “modern”, “cerdas”, “maju”, “terhormat” dan “berpendidikan”.

3. Pengucilan & Pengaktifan

Kelompok Islam yang dinilai anti barat maka harus dikucilkan dengan cara jangan diberi kesempatan sekecil apa pun dalam sistem kekuasaan, baik legislatif atau eksekutif atau pun yudikatif.

Sebaliknya, kelompok Islam yang dinilai pro barat maka harus dimunculkan dengan cara diajak berperan aktif dalam sistem kekuasaan.

4. Pembusukan & Penyegaran

Kelompok Islam yang dinilai anti barat maka harus dibusukkan dengan cara susupi dan tunggangi serta adu domba dan pecah belah antar mereka sendiri.

Sebaliknya, kelompok Islam yang dinilai pro barat maka harus disegarkan dengan cara memberi segala bantuan material mau pun spiritual.

5. Pembunuhan & Perlindungan

Kelompok Islam yang dinilai anti barat maka harus dihabisi baik melalui pembunuhan karakter mau pun pelenyapan nyawa sekali pun jika diperlukan.

Sebaliknya, kelompok Islam yang dinilai pro barat maka harus dilindungi dan dijaga serta selalu dibela dalam kondisi bagaimana pun.

Introspeksi Diri

Nah, jika kita ingin tahu posisi kita di mata barat ada dimana, maka lihat saja karakter dan ciri diri kita berdasarkan standar pemetaan mereka tersebut.

Jika kita pro Khilafah dan pro Tathbiq Syari’ah serta anti Demokrasi dan kritis terhadap pengaruh barat, baik kita lembut atau pun tegas, baik perorangan mau pun organisasi, maka kita masuk kategori “Fundamentalis” yang sangat berbahaya, sehingga harus dihabisi.

Kalau pun kita menerima Demokrasi, tapi tetap pro Khilafah dan Tathbiq Syari’ah serta kritis terhadap pengaruh barat, maka kita masuk katagori “Tradisionalis” yang harus diwaspadai, sehingga mesti selalu diawasi. Dan bagaimana pun caranya harus ditunggangi untuk dijauhkan dari kelompok “Fundamentalis”, bahkan mesti diadu-domba.

Semoga kita tidak masuk katagori “Modernis” dalam arti dan definisi barat yaitu anti Khilafah dan Tathbiq Syari’ah, apalagi kategori “Liberalis” yang nyata-nyata jadi antek barat.

Semoga Allah SWT senantiasa melindungi seluruh gerakan Islam yang pro Khilafah dan Tathbiq Syari’ah dari makar musuh-musuhnya, dan selalu menyatukan mereka dalam kasih sayang sesama, serta memberi kemenangan dari dunia hingga akhirat.

Hasbunallaahu wa Ni’mal Wakiil … Ni’mal Maulaa wa Ni’man Nashiir...
Ini yg telah dan sedang terjadi di negeri kita ini.

Mayoritas Kemenangan Islam Dicapai di Bulan Ramadhan


A+ | Anda perlu tahu, mayoritas peperangan dan kemenangan kaum muslimin, diraih pada bulan Ramadhan. Di antara catatan kemenangan tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Perang Badar Al-Kubro. Yaitu pertempuran yang pertama terjadi dalam sejarah Islam. Perang ini berlansung pada tanggal 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijriyah.
  2. Fath Makkah (Penaklukan kota makkah) yang dipimpin langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Pertempuran ini terjadi pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-8 Hijriyah
  3. Ma’rakah Buwaib, yaitu pertempuran antara kaum muslimin melawan Persia di daerah Buwaib, Irak. Perang yang dipimpin oleh Mutsanna bin Haritsa ini terjadi pada bulan Ramadhan tahun 13 H.
  4. Ma’rakah Qodisiah, yaitu peperangan yang terjadi pada bulan Ramadhan tahun 15 H. Kaum muslimin dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqas melawan pasukan Persia di Qodishiah dan berhasil membawa kemenangan
  5. Ma’rakah Nuba, yaitu pertempuran yang terjadi pada bulan Ramadhan, tahun 31 H. Umat Islam yang dipimpin oleh Abdullah bin Abi Sarh berhasil meraih kemenangan atas pasukan Koptik, yaitu setelah mengepung ibu kota Dongola Nubia di selatan Mesir.
  6. Penaklukan pulau Rhodes oleh kaum muslimin yang dipimpin oleh Junadah bin Abi Umayah. Rodhes adalah sebuah pulau yang terletak di Laut Tengah. Palau ini sering digunakan oleh pasukan Romawi untuk menyerang kapal-kapal kaum muslimin yang lewat diperairan tersebut. Penaklukan ini terjadi pada bulan Ramadhan tahun 53 H.
  7. Penaklukan kota Andalus, yaitu pada tanggal 28 Ramadhan tahun 92 H. Kaum muslimin dipimpin oleh Tariq bin Ziyad melawan tentara Goth di daratan Andalus itu, atau sekarang disebut dengan Spanyol. Dalam peperangan tersebut kaum muslimin berhasil meraih kemenangan.
  8. Penaklukan India dan Pakistan oleh pasukan Islam di bawah Komandan Qasim bin Muhammad Ats-Tsaqafi. Peperangan ini terjadi pada bulan Ramadhan tahun 94 H. 
  9. Fathu Umuriyah (Penaklukan kota Amuriyah) dari Kekaisaran Bizantium, yaitu pada bulan Ramadan, tahun 223 H. Penaklukan yang digagas oleh Khalifah Mu’tasim terjadi ketika Raja Romawi menyerbu kaum muslimin dan memotong hidung serta telinga para tahanan muslim. Mendengar kejadian tersebut, Khalifah Mu’tashim dengan segenap pasukannya berhasil menyerang pasukan romawi dan menaklukkan kota Amuriya.
  10. Penaklukan kota Sirakusa pada bulan Ramadan tahun 264 H. Kota terbesar di Sisilia itu berada di bawah kekuasaan Romawi dan setelah pengepungan yang berlangsung sembilan bulan, kota tersebut berhasil ditaklukkan kaum muslimin di bawah pimpinan Ja’far bin Muhammad.
  11. Pertempuran Manzikert atau Malazgirt, yaitu pertempuran yang terjadi antara Kekaisaran Bizantium dan pasukan Seljuk yang dipimpin oleh Alip Arsalan pada tanggal 26 Agustus 1071 atau bertepatan dengan bulan Ramadhan tahun 463 H di kota Manzikert, Turki. Dalam pertempuran tersebut kaum muslimin berhasil meraih kemenangan dan menawan kaisar Bizantium.
  12. Pertempuran Zallaqah, terjadi pada bulan Ramadan tahun 479 H. Kaum muslimin dibawah Amir Daulah Murabbitin, Yusuf bin Tasyfin berhasil mengalahkan pasukan salib yang menyerbu kota Andalus. Para sejarawan mengatakan bahwa kemenangan besar ini telah menunda jatuhnya Andalusia selama beberapa abad.
  13. Pertempuran Harim, pada bulan Ramadhan tahun 559 H. Dimana umat Islam, yang dipimpin oleh Nuruddin Mahmud Zangki, berhasil melawan Tentara Salib dan membebaskan kota Harim, Idlib.
  14. Pertempuran Hittin, pada bulan Ramadhan tahun 584 H. Kaum muslimin yang dipimpin oleh Salahuddin berhasil mengalahkan tentara salib dan membebaskan Baitul Maqdis, Yerusalem
  15. Penaklukkan Armenia pada bulan Ramadan tahun 673 H. Ditaklukkan oleh kaum muslimin di bawah pemimpin Sultan Mamluk Dhahir Baibars.
  16. Pertempuran ‘Ain Jalut, pada bulan Ramadhan tahun 685 H. Dalam peperangan tersebut, umat Islam yang dipimpin oleh Sultan Qutuz berhasil melawan pasukan Tatar yang telah membunuh jutaan kaum muslimin di negara-negara Islam.
  17. Pertempuran Syaqhab (Marj Shufr), terjadi pada tanggal 2 Ramadan tahun 702 H. Dimana umat Islam, yang dipimpin oleh Nasir Muhammad bin Qalawun dan bersamanya juga ada Syekh Ibnu Taimiyah, berhasil mengalahkan Tatar di dataran Syaqhab, dekat Kota Damaskus.
  18. Penaklukan Bosnia dan Herzegovina pada bulan Ramadan tahun 791 H. Kaum Muslimin di bawah pimpinan Usmaniyah, Sultan Murad I berhasil menghalau aliansi salibis dari Serbia, Bulgaria, Polandia, Hungaria dan Albania.
  19. Penaklukan Pulau Siprus pada bulan Ramadan tahun 829 H. Pulau Siprus dulunya telah ditaklukkan pada masa khalifah Muawiyah, akan tetapi palau itu jatuh kembali ke tangan Tentara Salib. Dari palau ini mereka menyusun strategi untuk menyerang dunia Islam. Kemudian lewat kepemimpinan Sultan Dinasti Mamluk, Ashraf Barsbai, palau tersebut berhasil direbut kembali.
  20. Perang Ramadhan atau dikenal juga dengan perang Arab-Israel. Yaitu sebuah peperangan yang terjadi ketika tentara Mesir dan Suriah mengawali perperangan melawan Israel. Pertempuran ini terjadi pada 6 Oktober 1973 Masehi dan bersamaan dengan 10 Ramadhan 1390 H.



Berbagai sumber, diolah tim kiblat

Panglima TNI Bangunkan Kutu Tidur

 A+ | Opini - Kutu jika bersembunyi menjadi laten di bantal, tempat tidur, pakaian, tentu saja sulit diidentifikasi dan dapat menggigit kapan saja. Untuk membuatnya muncul harus diusik.

Strategi mengusik kutu itulah rupanya dilancarkan Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo, dengan ajakannya nonton bareng film Penghianatan G30S/PKI.  Tak butuh waktu lama, para penerus dan simpatisan PKI dalam berbagai bentuk dan rupa, tiba-tiba muncul dan menentang.

Jika selama ini informasi mengenai kebangkitan spirit PKI yang menjangkiti sebagian masyarakat hanya dipegang oleh TNI, dengan kemunculan mereka maka masyarakat luas mengetahui dan mengenalinya.

Jadi tak perlu bertanya, "Mana PKI, penerus dan simpatisannya?"

Sebagaimana diketahui masyarakat luas, kemunculan mereka diibaratkan Panglima TNI sebagai garam di dalam sayur, tidak tampak wujudnya tapi terasa asinnya. Mulai dari pembunuhan karakter terhadap TNI dan Islam, hingga membenturkan antar sesama kelompok agama, antara militer dengan kepolisian, antara kelompok agama dan ulama dengan kepolisian dan pemerintah dan lain-lain.

Dan hingga hari ini, masih seperti pada masa revolusi, terbukti Islam dan TNI selalu melekat tak dapat dipisahkan meski tetap saja ada oknum-oknum yang bermain. 

Aksi yang - pinjam istilah Mendagri - 'progresif revolusioner' kaum kiri itu memang hampir tak kentara, meski sejak awal telah menampakkan topeng-topengnya melalui istilah 'revolusi mental' yang dikenalkan Karl Marx, bertaqiyyah dalam berbangsa dan bernegara menggunakan jargon-jargon #SayaIndonesia, #SayaPancasila, #SayaBhinekaTunggalIka, #SayaNKRI dan sebagainya.

Taqiyyah hanya bagi pihak yang menyembunyikan sesuatu. Mereka bisa taqiyyah dengan jargon seperti diatas, tapi di sisi lain, TNI dan umat Islam tidak akan pernah bisa bertaqiyyah dengan jargon #SayaKomunis, #SayaMarxis, #SayaParit (Palu Arit, pen). Paling banter pakai hastag #SayaTidakTakut.

Terakhir, mengapa menggunakan istilah kutu, bukan macan?

Kutu, karena membuat tidak nyaman, jumlahnya banyak, dimana-mana, dan laten atau tersembunyi. Sedangkan macan, sudah mulai punah, hanya dikenali lewat gambar saja, itupun seringkali membuat kita salah menggambarkannya. 



Negeri Dagelan

A+ | Ada-ada saja, beberapa kisah ini bukan fiksi asumtif, bukan kisah gosip ibu-ibu dikerumunan tukang sayur, bukan dagelan ki Manteb Sudarsono, bukan Celoteh Cak Lontong, bukan Parodi Komeng, tetapi ini kisah nyata, empiris, ada dan berlaku di negeri ini;

Ada ulama, dibela ratusan pengacara, dikabulkan eksepsinya, menjelang kebebasan, langsung ditangkap aparat penegak hukum dengan kasus lainnya;

Mungkin, seribu pengacara disiapkan membela, seribu sprindik baru disiapkan, tidak bisa dipenjara lewat putusan, terus ditahan dan dikekang melalui penahanan;

Kalau sudah Target, Kalau sudah Misi, kalau sudah "pokoknya", menginjak semut pun jadi peristiwa pidana. Laporan semut pun bisa di proses.

Sementara yang jelas pidana, menyiram air keras, membacok saksi, menembak rumah Anggota dewan, melakukan Ujaran kebencian dengan menghina agama, laporannya jika ditumpuk bisa sampai ke bulan, saksinya jika dikumpulkan bisa memenuhi stadion gelora Bung Karno, tetapi pelakunya tidak ditemukan, tidak di proses, unsur pidana masih samar, perkaranya tidak jelas;

Ada pula yang tersandung E - KTP, kalap, langsung panik, naik pitam, kelabakan, persis seperti ayam yang disembelih mau mati. Lapor sana lapor sini, minta jonru ditangkap polisi sementara mingkem agamanya dihina si Victor. Usut punya usut, aib istri muda terbuka ke publik. Mungkin inilah pepatah Jawa "becik ke titik, olo ketoro";

Ada juga yang suka nyinyir, pulang dari ibadah menggenapkan rukun Islam, kerjanya "su'udzan" kepada rakyat. Peduli dan empati pada Muslim Rohingya, dituding "menggoreng isu". Otak, kalo sudah paranoid, ambil pisau mau potong bawang pun disebut "aksi radikalisme".

Ada juga bikin Perppu, disebut genting dan memaksa, di klaim Clear n present dangerous, tapi ora nyambung. Peristiwa 2013 dijadikan dasar penerbitan Perppu tahun 2017, ini Kegentingan yang memaksa atau memaksakan Kegentingan? Selama 4 tahun ngapain? Apa khusuk wirid dan baca doa? Ngawur!;

Yang dibantai "orang muslim" yang membantai "orang kafir" dunia mingkem. Tapi klo yang jadi korban Penista Nabi, pembuat kartun Charli Hebdo, semua mengutuk! Disebut kejahatan terorisme ! Si Presiden Pinokio langsung pidato berapi-api! Giliran Muslim Rohingya, pidato kepaksa, itupun klaim sana sini, catut amalan pihak lain;

Ada atlit juara, membawa nama harum bangsa, gajinya nunggak terus? Berbulan-bulan? Ini negara apa? Harumnya diklaim, keringatnya tidak dihargai!

Ada "Tersangka" memimpin lembaga "yang Terhormat", harusnya lembaga itu disebut lembaga perwakilan tersangka yang terhormat. Terus memimpin memproduksi UU untuk mengatur rakyat,  busyet dah! Rakyat diatur produk UU Tersangka?

Sepertinya jika Diteruskan, saya makin terpingkal-pingkal, guling-guling di lantai, geliat tawa dan mata saya sampai meneteskan air.

Saya prihatin, inikah negeriku ?

 
(Oleh: Nasrudin Joha, viral di WhatsAppGroups/Chat)