|Gangguan KAMSELTIBCAR LALU LINTAS hubungi Call Center NTMC POLRI (Kode Area) "500669" atau SMS "9119", Darurat Kamtibmas Telp 110 (dari Telkomsel) atau 021-110 (dari selain telkomsel)|

A+ per detik

Zaman Fitnah Politik

Oleh: Mohamad Sobary 

DILIHAT dari sudut ideologi–apapun ideologi yang kita maksudkan–negara itu penting. Supaya lebih jelas harus ditegaskan, kedudukan negara sangat penting.

Bisa ditambahkan: tingkat pentingnya bukan periferal tetapi sangat sangat sentral. Tidak main-main, dan sangat mendasar.  Beberapa kalangan di dalam masyarakat, terutama kalangan militer, tentara, berbicara tentang harga mati.

Negara ini telah mengambil bentuk “kesatuan” dan maknanya “kesatuan” itu jangan lagi menjadi persoalan. Harga mati tak bisa ditawar lagi. Kesatuan ya kesatuan. Bung Karno, tokoh yang lebih besar daripada posisinya sebagai Presiden pertama negeri ini, mati-matian selama hidupnya mengusahakan terciptanya “kesatuan” tadi.

Bung Karno kemudian “mengabdi” pada “kesatuan”. Maksudnya kesatuan bangsa. Hidupnya untuk “kesatuan” itu. Dan kemudian disebut Bapak Pemersatu Bangsa. Sikap ini menjadi sejenis keputusan politik. Dan kalangan Tentara Nasional Indonesia, TNI, membela dan mewujudkannya. Cara pembelaannya menjadi doktrin ketentaraan: siap mati membela negara.

Siap mati. Apa yang kurang dilihat dari sudut loyalitas? Apa yang kurang dalam membela makna loyalitas itu? Mati menjadi bayaran, atau taruhan. Apa yang kurang dilihat dari segi keluhuran yang bersifat patriotik?  Kurang cinta pada negara dalam segi apa lagi? 

Kelompok lain, atau individu lain, yang tak punya organisasi seperti tentara, juga punya cinta. Kita tahu di sini maksudnya cinta pada negara tadi. Cinta mereka serius. Seserius cinta tentara yang paling tegas menetapkan harga mati tadi.

Para pucuk pimpinan tentara, yang berdinas di dunia ketentaraan maupun yang mengabdi di wilayah pengabdian sipil, niscaya paham sepaham-pahamnya bahwa makna ”kesatuan” yang kita “sucikan” sebagai harga yang tak tersentuh, tak boleh ditawar-tawar lagi, diam-diam saat ini dalam situasi tak mengenakkan. Bahkan, boleh dibilang sangat tak mengenakkan dan karena itu barang kali bisa disebut dalam ancaman.

Ada kelompok di dalam masyarakat yang  berpegang pada ideologi baru, yang menggoyah-goyah harga mati itu. Ideologi mereka merongrong ideologi kita bersama.

Kekuatan baru itu pelan-pelan hadir di tengah kita dan mau mengusir kita. Padahal, kita ini Tuan Rumah yang bermartabat. Tuan Rumah mau diusir? Ini fitnah dan ancaman nyata yang berbahaya.

Kalau kita berbicara lebih jauh tentang  ideologi, jelas akan terlalu panjang. Gagasan itu tak bisa ditampung di sini. Cukup buat sementara dikatakan–dan kita semua tahu–bahwa ada ideologi yang meremehkan kesatuan tersebut.

Artinya, ideologi itu meremehkan negara karena dasar dan pandangan hidup kenegaraan kita, Pancasila, hanya buatan manusia. Mereka ingin menampilkan “Republik Tuhan” di muka bumi.

Selain watak ideologis yang meremehkan “kesatuan” tadi, saat ini muncul kekuatan kecil-kecil yang gigih melancarkan fitnah pada pihak lain. Fitnahnya bervariasi. Pihak lain disebut PKI.

Presiden Jokowi yang mencicipi pertama kali fitnah itu dalam kampanye pemilihan calon presiden dua tahun lalu. Tapi beliau bilang “ra popo”. Itu sikap politik pribadi beliau. Tapi, saat ini fitnah itu gentayangan di media sosial. Ibarat virus, fitnah ini menyebar luas dan mengapa belum terdengar adanya langkah tegas menghentikannya?

Tak pernah ada yang bisa menjelaskan bagaimana hubungan antara kekuatan ideologis keagamaan di atas, dengan fitnah yang memojokkan pihak lain sebagai PKI. Diperlukan suatu kajian akademik yang mendalam untuk memahami hubungan kausalitas–jika ada–antara keduanya.

Jika kita boleh mempercayai “bau”, niscaya terasa adanya “bau” ideologi keagamaan yang dipakai untuk “mem-PKI-kan” pihak lain tadi.

Calon pemimpin nasional di-PKI-kan supaya tak terpilih. Calon gubernur––bisa juga calon bupati–atau calon-calon lain, diserang dengan kekuatan fitnah ideologis seperti itu supaya mereka celaka.

Fitnah macam itu membuat citra buruk bagi yang bersangkutan. Kapasitas hebat menjadi tak berguna. Kejujuran yang jelas dan agung tak diberi makna. Pendeknya, orang hebat tak bisa dipilih karena fitnah macam itu.

Dunia intelijen niscaya paham persoalan ini dan bisa melakukan suatu langkah preventif yang luhur demi menjaga utuhnya “kesatuan” tadi. Apa fitnah ini mengancam “kesatuan”?

Mungkin tidak secara langsung. Kalau semua pihak disebut PKI, maka hanya yang bukan PKI yang boleh dipilih dan yang bukan PKI itu siapa yang mereka maksud kalau bukan saudara mereka sendiri yang tak menyukai Pancasila tadi?

“Kesatuan" terancam oleh langkah ideologis yang monolitik, yang benar sendiri, dan memandang yang lain, bagian dari tradisi kenegaraan yang telah berakar mendalam, dirombak. Hanya mereka yang boleh berkuasa. Di “kesatuan” itu terletak. “Kesatuan” akan dianggap almarhum.

Ini zaman fitnah yang mengancam dan membikin hidup tak lagi terasa nyaman. Hidup didorong oleh niat buruk berkuasa tanpa mau berbagi pada yang lain, tanpa mau menggunakan konvensi kenegaraan yang sudah mapan.

Kelihatannya, konvensi, yang lalu-lalu, dan telah menjadi suatu tradisi, bukan kekayaan, melainkan dianggap sampah yang wajib dibuang. Bagi kita, tradisi itu luhur karena di sana akumulasi pengalaman–baik maupun buruk–kita terhimpun. Dari sana kita belajar memetik pengalaman sebagai guru.

Kecuali fitnah, zaman ini juga diwarnai kebencian yang ditabur di sana sini, orang bebas membenci orang lain, satu pihak begitu bebas membenci pihak lain. Kepentingannya politik, dan politik.

Kita tidak tahu siapa di balik ini semua, tetapi diduga keras adanya pihak yang dengan nikmat menunggangi situasi berwarna kebencian ini. Memprovokasi pihak-pihak lain untuk membenci suatu pihak atau seseorang, merupakan tindakan tak terpuji.

Mereka ingin hidup sendiri, dan tak membutuhkan dukungan pihak lain, tanpa bersatu dengan yang lain? Ini bentuk fitnah yang lain lagi. Dia memanggul dosa lima perkara: satu, dosa pada orang lain; dua, dosa pada masyarakat; tiga, dosa pada negara; empat, dosa pada Tuhan Yang Maha Suci; lima, dosa dirinya sendiri. Dosa yang lain bisa diampuni, mungkin.

Tapi dosa pada diri sendiri lebih mendalam, lebih parah dan berbahaya bagi hidupnya. Siapa yang bisa mengampuni dosa pada diri sendiri?

Fitnah dan kebencian tak bisa dibiarkan. Keluhuran budi kita, secara pribadi, boleh mengabaikannya. Boleh saja yang difitnah tak menanggapinya. Tapi, pejabat negara harus bertindak atas nama dan demi negara.

Tindakan harus diambil demi mengembalikan suasana bersatu, aman dan damai dalam pangkuan negara yang kesatuannya telah dibikin seolah-olah suci dan tak tersentuh. Ini harga yang tak boleh ditawar.

Zaman fitnah politik macam ini tak boleh menandai suatu momentum sejarah dalam hidup kita. Zaman yang kita perjuangan jelas zaman keemasan, yang membuat negeri ini menjadi rumah besar yang semua warganya berbahagia, tertib dan damai, sedamai-damainya: tanpa kebencian, tanpa fitnah.

[KORAN SINDO, 21 Januari 2017 ]

Mohamad Sobary | Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan.

Pidato Megawati Pada HUT PDIP Ke-44

"Puji Syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu Wata’ala, sehingga PDI Perjuangan mampu melewati berbagai ujian sejarah selama 44 tahun. Pasang naik dan pasang surut sebagai sebuah partai politik, telah kami lalui. Saya sebagai Ketua Umum pada hari ini, ingin mengucapkan terima kasih kepada mereka yang memilih berada dalam gerbong perjuangan bersama. Terima kasih kepada mereka yang tetap setia, meski kadang Partai ini mendapat terpaan gelombang yang begitu dahsyat. Mereka selalu ada, tidak hanya ketika Partai ini sedang berkibar, namun justru memperlihatkan kesetiaannya ketika Partai berada dalam posisi yang sulit.  Ijinkan saya memberikan penghormatan, dan penghargaan sebesar-besarnya, kepada antara lain Bapak Jacob Nuwa Wea, Bapak Alexander Litaay, dan Bapak Mangara Siahaan, dan masih banyak yang lain, yang tidak bisa saya sebut satu per satu. Mereka telah mendahului kita menghadap Sang Khalik sebagai pejuang Partai.  Mereka tidak hanya ada dalam sejarah hidup saya, namun juga adalah tokoh-tokoh yang berjuang mempertahankan Partai ini sebagai partai ideologis. Kesetiaan yang mereka tunjukan sepanjang hidup kepartaian, bagi saya adalah bentuk kesetiaan ideologis, yang sudah seharusnya dihayati, dan dijalankan oleh setiap kader Partai.

Hadiri yang saya muliakan,

Dari awal mula saya membangun Partai ini, tanpa ragu saya telah menyatakan dan memperjuangkan, bahwa PDI Perjuangan adalah partai ideologis, dengan ideologi Pancasila 1 Juni 1945. Syukur alhamdulillah, pada tanggal 1 Juni tahun 2015 yang lalu, Presiden Jokowi telah menetapkan 1 Juni 1945 sebagai hari lahirnya Pancasila. Artinya, secara resmi negara telah mengakui, bahwa Pancasila 1 Juni 1945 sebagai ideologi bangsa Indonesia.

Saudara-saudara,

Peristiwa di penghujung tahun 2015, telah menggugah sebuah pertanyaan filosofis dalam diri saya: cukupkah bagi bangsa ini sekedar memperingati 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila? Dari kacamata saya, pengakuan 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila, memuat suatu konsekuensi ideologis yang harus dipikul oleh kita semua. Dengan pengakuan tersebut, maka  segala keputusan dan kebijakan politik yang kita produksi pun, sudah seharusnya bersumber pada jiwa dan semangat nilai-nilai Pancasila 1 Juni 1945.

Apa yang terjadi di penghujung tahun 2015, harus dimaknai sebagai cambuk yang mengingatkan kita terhadap pentingnya Pancasila sebagai “pendeteksi sekaligus tameng proteksi” terhadap tendensi hidupnya “ideologi tertutup”, yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Ideologi tertutup tersebut bersifat dogmatis. Ia tidak berasal dari cita-cita yang sudah hidup dari masyarakat. Ideologi tertutup tersebut hanya muncul dari suatu kelompok tertentu yang dipaksakan diterima oleh seluruh masyarakat. Mereka memaksakan kehendaknya sendiri; tidak ada dialog, apalagi demokrasi. Apa yang mereka lakukan, hanyalah kepatuhan yang lahir dari watak kekuasaan totaliter, dan dijalankan dengan cara-cara totaliter pula. Bagi mereka, teror dan propaganda adalah jalan kunci tercapainya kekuasaan.

Syarat mutlak hidupnya ideologi tertutup adalah lahirnya aturan-aturan hingga dilarangnya pemikiran kritis. Mereka menghendaki keseragaman dalam berpikir dan bertindak, dengan memaksakan kehendaknya. Oleh karenanya, pemahaman terhadap agama dan keyakinan sebagai bentuk kesosialan pun dihancurkan, bahkan dimusnahkan. Selain itu, demokrasi dan keberagaman  dalam ideologi tertutup tidak ditolelir karena kepatuhan total masyarakat menjadi tujuan. Tidak hanya itu, mereka benar-benar anti kebhinekaaan. Itulah yang muncul dengan berbagai persoalan SARA akhir-akhir ini. Disisi lain, para pemimpin yang menganut ideologi tertutup pun memosisikan dirinya sebagai pembawa “self fulfilling prophecy”, para peramal masa depan. Mereka dengan fasih meramalkan yang akan pasti terjadi di masa yang akan datang, termasuk dalam kehidupan setelah dunia fana, yang notabene mereka sendiri belum pernah melihatnya.

Saudara-saudara,

Apa yang saya sampaikan di atas tentang ideologi tertutup, jelas bertentangan dengan Pancasila. Pancasila bukan suatu ideologi yang dipaksakan oleh Bung Karno atau pendiri bangsa lainnya. Pancasila lahir dari nilai-nilai, norma, tradisi dan cita-cita bangsa Indonesia sejak masa lalu, bahkan jauh sebelum kemerdekaan. Bung Karno sendiri menegaskan, dirinya bukan sebagai penemu Pancasila, tetapi sebagai penggali Pancasila. Beliau menggalinya dari harta kekayaan rohani, moral dan budaya bangsa dari buminya Indonesia. Pancasila dengan sendirinya adalah warisan budaya bangsa Indonesia. Apakah ketika Indonesia berumur 71 tahun, kita telah melupakan sejarah bangsa? Jangan sekali-kali melupakan sejarah kita!!

Pancasila berisi prinsip dasar, selanjutnya diterjemahkan dalam konstitusi UUD 1945 yang menjadi penuntun sekaligus rambu dalam membuat norma-norma sosial politik. Produk kebijakan politik pun tidak boleh bersifat apriori, bahkan harus merupakan keputusan demokratis berdasarkan musyawarah mufakat. Dengan demikian, Pancasila sebagai jiwa bangsa, tidak memiliki sifat totaliter dan tidak boleh digunakan sebagai “stempel legitimasi kekuasaan”. Pancasila bersifat aktual, dinamis, antisipasif dan mampu menjadi “leidstar”, bintang penuntun dan penerang, bagi bangsa Indonesia. Pancasila selalu relevan di dalam menghadapi setiap tantangan yang sesuai dengan perkembangan jaman, ilmu pengetahuan, serta dinamika aspirasi rakyat.

Namun, tentu saja implementasi Pancasila tidak boleh terlalu   kompromistis saat menghadapi sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai dasar yang terkandung di dalamnya. Meskipun demikian, guna meng-eksplisit-kan ide dan gagasan agar menjadi konkret, dan agar Pancasila tidak kaku dan keras,  dalam merespon keaktualan problematika bangsa, maka instrumen implementasinya pun harus dijabarkan dengan lebih nyata, tanpa bertentangan dengan filsafat pokok dan kepribadiaan bangsa.

Intermezo : Pola Pembangunan Nasional Berencana sebagai implementasi Pancasila untuk mencapai Trisakti.

Saudara-saudara,

Indonesia diakui sebagai negara demokratis, namun demokrasi yang kita anut dengan Pancasila sebagai “the way of life bangsa” telah secara tegas mematrikan nilai-nilai filosofis ideologis, agar kita tidak kehilangan arah dan jati diri bangsa.

Pancasila, lima sila, jika diperas menjadi Trisila, terdiri dari: Pertama, sosio-nasionalisme yang merupakan perasan dari kebangsaan dan internasionalisme; kebangsaan dan peri kemanusiaan. Kedua, sosio-demokrasi. Demokrasi yang dimaksud bukan demokrasi barat, demokrasi yang dimaksud adalah demokrasi politik ekonomi, yaitu demokrasi yang melekat dengan kesejahteraan sosial, yang diperas menjadi satu dalam sosio-demokrasi.

Ketiga, adalah ke-Tuhan-an. Menjadi poin ketiga, bukan karena derajat kepentingannya paling bawah, tetapi justru karena Ke-Tuhan-an sebagai pondasi kebangsaan, demokrasi politik dan ekonomi yang kita anut. Tanpa Ke-Tuhan-an bangsa ini pasti oleng. Ke-Tuhan-an yang dimaksud adalah Ke-Tuhan-an dengan cara berkebudayaan dan berkeadaban; dengan saling hormat menghormati satu dengan yang lain, dengan tetap tidak kehilangan karakter dan identitas sebagai bangsa Indonesia.

Bung Karno menegaskan, “kalau jadi Hindu, jangan jadi orang India. Kalau jadi Islam, jangan jadi orang Arab, kalau jadi Kristen, jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini.”

Hadirin yang saya hormati, Trisila jika diperas menjadi Ekasila, yaitu gotong royong. Inilah suatu paham yang dinamis, berhimpunnya semagat bersama untuk membanting tulang bersama, memeras keringat bersama untuk kebahagiaan bersama. Kebahagian yang dimaksud adalah kebahagian kolektif sebagai sebuah bangsa, yang memiliki tiga kerangka: pertama, Satu Negara Republik Indonesia yang berbentuk Negara-Kesatuan dan Negara-kebangsaan yang demokratis dengan wilayah kekuasaan dari Sabang sampai Merauke; dari Miangas hingga ke Rote. Kedua, satu masyarakat yang adil dan makmur materiil dan spiritual dalam wadah Negara kesatuan Republik Indonesia. Ketiga, satu persahabatan yang baik antara Republik Indonesia dan semua negara di dunia, atas dasar saling hormat-menghormati satu sama lain, dan atas dasar membentuk satu Dunia Baru yang bersih dari penindasan dalam bentuk apa pun, menuju perdamaian dunia yang sempurna.

Adapun untuk mencapai kerangka tujuan di atas diperlukan dua landasan: landasan idiil, yaitu Pancasila dan landasan strukturil, yaitu pemerintahan yang stabil. Untuk itulah PDI Perjuangan selalu ikut dan berdiri kokoh menjaga jalannya pemerintah Presiden Jokowi dan Jusuf Kalla sebagai pemerintahan yang terpilih secara konstitusional. Keduanya merupakan syarat mutlak atas tanggung jawab sejarah yang harus kita tuntaskan sekaligus sebagai konsekuensi ideologis yang telah saya sampaikan di awal, yang mengakui Pancasila 1 Juni 1945 sebagai ideologi bangsa.

Kader-kader Partai yang saya cintai, hadirin yang saya hormati,

Saya menjabarkan hal-hal di atas dalam forum ini, untuk menegaskan kembali bahwa PDI Perjuangan tetap memilih jalan ideologis. PDI Perjuangan menyatakan diri tidak hanya sebagai rumah bagi kaum Nasionalis, tetapi juga sebagai Rumah Kebangsaan bagi Indonesia Raya. Kepada kader Partai di seluruh Indonesia, saya instruksikan agar tidak lagi ada keraguan, apalagi rasa takut, untuk membuka diri dan menjadikan kantor-kantor Partai sebagai rumah bagi rakyat untuk menyampaikan aspirasi. Saya instruksikan, jadilah “Banteng Sejati” di dalam membela keberagaman dan kebhinekaan.  Berdirilah di garda terdepan, menjadi tameng yang kokoh untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saya yakin, TNI dan POLRI akan bersama kita dalam menjalankan tugas ini, dan tidak akan memberi ruang sedikit pun pada pihak-pihak yang anti Pancasila dan anti demokrasi Pancasila. Apresiasi saya kepada TNI-POLRI yang telah berani bersikap tegas dalam menyikapi pihak-pihak tersebut.

Bagi kader Partai yang berada di legislatif dan eksekutif, kalian tidak hanya dibutuhkan negeri ini untuk mempertahankan kesatuan dan kebangsaan. Perlu disadari, terutama bagi kader yang telah mendapat kepercayan rakyat di eksekutif. Saya tahu, kalian, bahkan saya, adalah manusia biasa. Tentu, sebagai manusia biasa kita tidak luput dari kesalahan. Tetapi, sebagai pemimpin harus disadari pula bahwa jabatan yang kalian emban adalah jabatan politik. Kesalahan dalam keputusan politik tidak hanya berdampak bagi diri pribadi dan keluarga. Kesalahan tersebut berdampak pada kehidupan seluruh rakyat. Karena itu, hati-hatilah dalam membuat keputusan-keputusan politik, baik itu berupa perkataan, tindakan, produk politik baik berupa kebijakan politik legislasi, maupun kebijakan politik anggaran.

Kader-kader yang saya cintai,

Luangkan waktu untuk merenung, sudah tepatkah langkah-langkah yang kalian ambil atas jabatan yang telah diberikan oleh rakyat, ataukah justru sebaliknya. Jangan kalian justru menjadi bagian dari orang-orang yang menindas dan menyengsarakan rakyat dengan kekuasaan yang sebenarnya justru merupakan amanah dari rakyat.

Saya tegaskan kembali, sebagai Ketua Umum Partai, instruksi saya kepada kalian adalah mensejahterakan rakyat, bukan sebaliknya! Kebhinekaan harus disertai dengan keadilan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat!

Terakhir, saya ucapkan terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia yang tetap setia membatinkan Pancasila di dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak perlu reaksioner, tetapi sudah saatnya silent majority bersuara dan menggalang kekuatan bersama. Saya percaya mayoritas rakyat Indonesia mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika. Kita akan bersama-sama terus berjuang, kita pasti mampu membuktikan pada dunia, bahwa Pancasila mampu menjadikan keberagaman sebagai kekuatan untuk membangun kehidupan yang berperikemanusiaan dan berperikeadilan.

Bangsa ini sedang berada dalam “struggle to survive”, dalam perjuangan untuk bertahan, bertahan secara fisik dan mental! Bertahan agar tetap hidup, secara badaniah dan mental. Hadapilah tantangan-tantangan yang ada dengan kekuatan gotong royong sebagai kepribadian bangsa. Berderaplah terus menuju fajar kemenangan sebagai bangsa yang sejati-jatinya merdeka. Dengan ridho Tuhan, saatnya kita gegap gempitakan kembali segala romantika dan dinamika, dentam-dentamkan segala hantaman, gelegarkan segala banting tulang, angkasakan segala daya kreasi, tempa segala otot-kawat-balung-wesinya!

Sungguh: kita adalah bangsa berkepribadian Banteng!
Hayo maju terus! Jebol terus!
Tanam terus! Vivere pericoloso!
Hiduplah menyerempet bahaya di jalan Tuhan!
Ever onward, Never retreat!
Kita pasti menang!

Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarokatuh.
Om Santi Santi Santi Om
Namo Buddhaya
Merdeka !!!

Jakarta, 10 Januari 2017
Ketua Umum PDI Perjuangan
Megawati Soekarnoputri."

Menunggu Fatwa Haram dan Larangan Pelatihan Bela Negara

A+ | Jakarta - Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan pencopotan Letkol Czi Ubaidillah dari jabatannya sebagai Dandim Lebak menjadi pelajaran berharga bagi berbagai pihak. Letkol Czi Ubaidillah dicopot karena menggelar latihan Bela Negara untuk anggota Front Pembela Islam (FPI).

"Dandim sudah dicopot dan diganti sehingga dengan demikian persoalan ini tentunya menjadi pelajaran berharga bagi siapa pun yang ingin mengadakan acara-acara (bela negara) seperti itu." kata Pramono di kantornya, Jakarta, Senin (9/1) sebagaimana dilansir laman merdeka.

Sebagaimana diketahui, dari berbagai materi dalam pelatihan bela negara, antara lain mengajarkan kemampuan awal kesadaran bela negara seperti nasionalisme, Pancasila, UUD 1945 dan Anti PKI.

Jika materi-materi itu yang memicu dicopotnya Dandim, maka tinggal menunggu fatwa haram dan pelarangan pelatihan bela negara.


Sisi "Gelap" Habib Rizieq bin Husein Syihab

A+ | Orang tua Habib Rizieq, almarhum Habib Husein Syihab merupakan anggota Pandu Arab yang ikut berjuang mengusir penjajah Belanda di Indonesia.

Habib Rizieq, orang tuanya pernah bekerja di Rhode Kruis (kini Palang Merah Indonesia) dan membantu suplai makanan dan obat-obatan untuk pejuang kemerdekaan.

Habib Husein Syihab, ayah Habib Rizieq  pernah ditangkap Belanda. Kedua tangannya diikat dan diseret dgn kendaraan Jeep, dipenjara dan divonis hukuman mati oleh Belanda. Tapi, berkat bantuan Allah, berhasil kabur dari penjara dan melompat ke Kali Malang meskipun bagian pantatnya tertembak.

Habib Rizieq dengan pasukan putih FPI beserta aparat telah banyak menutup tempat maksiat, perjudian, pelacuran dan narkoba.

Habib Rizieq dengan pasukan putih FPI adalah evakuator mayat terbanyak, 100 ribu jenazah, ketika terjadi Tsunami di Aceh, membangun kembali masjid dan musholah, dan menginap di kuburan selama berbulan-bulan.

Habib Rizieq dengan pasukan putih FPI merupakan garda terdepan dalam membantu korban bencana alam, banjir, longsor dan gempa bumi, gunung meletus dan sebagainya.

Tidak banyak orang tahu bahwa Habib Rizieq dengan pasukan putih FPI bekerja sama dengan Kemensos RI secara nasional dalam Program Bedah Kampung. Ribuan rumah miskin di puluhan kampung Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi, Purwakarta, Pasuruan, Palu, dan Gresik, berhasil dibedah tanpa memandang apa agama mereka.

Tidak banyak orang tahu kalau Habib Rizieq dengan pasukan putih FPI bekerjasama dengan Kemenag RI dalam Program Pengembalian Ahmadiyah kepada Islam. Ribuan pengikut Ahmadiyah taubat dan masuk Islam. Seperti di Tenjo Waringin Tasik, 800 warga Ahmadiyah kembali pada Islam.

Tidak banyak orang tahu kalau Habib Rizieq dengan pasukan putih FPI pernah bekerja sama dengan almarhum Taufiq Kiemas Pimpinan MPR RI dalam pemantapan Empat Pilar Konsensus MPR. Tidak pernah menolak Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika selama ditafsirkan secara benar dan lurus. Maka itu Mantan Menteri Dalam Negeri Indonesia Gamawan Fauzi pernah mengimbau agar Kepala Daerah bisa menjalin kerja sama dengan FPI.

Tidak banyak orang tahu Habib Rizieq dengan pasukan putih FPI sering mengirim bantuan kepada korban perang  di Palestina dan negeri lainnya.

Tidak banyak orang tahu bahwa Habib Rizieq dengan pasukan putih FPI dan Sejumlah Pemda di berbagai Daerah bekerjasama dalam program kebersihan lingkungan, penyuluhan kesehatan, pemberantasan hama pertanian, penghijauan lahan gundul, dan sebagainya.

Tidak banyak orang tahu Habib Rizieq dengan pasukan putih FPI  melakukan upaya pencegahan banjir Jakarta dengan mereboisasi daerah hulu sungai yang mengarah ke DKI di Pesantren Agrikultural daerah kaki Gunung Pangrango, Megamendung Puncak. Dengan menanam 300 ribu pohon, dan dua tahun kedepan ada satu juta pohon untuk reboisasi hutan di daerah tersebut yang memiliki empat aliran sungai yang mengarah ke Jakarta.

Dari berbagai sumber.

Mahar Prastowo, 
Panitia Satgas Pelayaran Bhakti Bela Negara, sebuah pelayaran membantu dan membangun pulau-pulau terluar dengan FPI sebagai salah satu peserta.