|Call Center NTMC POLRI (Kode Area) "500669" atau SMS "9119", Darurat Kamtibmas Telp 110 (dari Telkomsel) atau 021-110 (dari selain telkomsel)|

A+ per detik

Kecurangan Pilpres 2019

Rezim Jokowi Manipulator Agama?



Oleh: Harits Abu Ulya

Bertolak dari kasus menteri agama atau kementerian yg lain pada sibuk mempersoalkan masalah-masalah cadar, celana cingkrang, dan semisalnya itu paling tidak mencerminkan beberapa hal berikut;

1. Mereka sekumpulan Pejabat yang radikal sekulernya. Di negara barat seperti Amerika itu sekuler, tapi dalam ranah pribadi negara tidak mau mengusik.

Indonesia dengan model pejabat menteri agama di masa rezim Jokowi periode kedua ini menampilkan sikap sekuler yang radikal. Negara menjadi sibuk urus fashion rakyat, yang notabene itu terkait kayakinan dan tuntunan agama yang di anut dan di akui oleh negara sebagaimana termaktub dalam UUD pasal 29.

2. Katanya menjadi menteri agama untuk semua agama, tapi faktanya sibuk nyinyir kepada umat Islam dan syariat-syariat yang di anutnya. 

Umat Islam makin gerah dan disisi lain paham bahwa ditengah-tengah mereka telah berdiri "Ruwaibidloh", yaitu orang-orang bodoh memegang urusan umat. Mereka berbicara soal agama sementara mereka masih "pupuk bawang" pemahamannya terhadap agama, bahkan terhadap agama yang ia peluk sendiri masih bawur dan ngawur. Akhirnya tanpa sadar, dengan mulut-mulut mereka mencoba untuk memadamkan cahaya kebenaran agama Islam. Dan itu sama artinya menantang dan berhadapan dengan Allah swt. Sangat lacut!

3. Secara faktual, apa yang dirugikan dari wanita-wanita muslimah yang bercadar terhadap negara dan masyarakat? Negara rugi apa jika ada rakyatnya yang celananya cingkrang? Justru rakyat rugi di buat gaduh, rakyat rugi punya pejabat yang nalarnya parno dan radikal. Rakyat rugi justru urusan-urusan fundamental yang menjadi kebutuhan dasar mereka di abaikan.

Negara harusnya sibuk memakmurkan mensejahterakan rakyat, menegakkan keadilan ditengah-tengah rakyat untuk semua pihak tanpa pandang bulu. Bukan malah sibuk meneror rakyat dengan urusan-urusan artificial begini. 

Hati-hatilah dengan para pendusta agama atau manipulator agama yang sesungguhnya. Mereka para pejabat dan penguasa sebelum duduk dikursi kekuasaan sibuk menggelar fashion pencitraan; dekati ulama, rajin ke masjid, datang ke pengajian, santunan ke yatim piatu, tampil sok peduli dan religius dan lain-lain. Simbol-simbol agama dibajak!

Keber-agama-annya, hakikatnya casing alias topeng dari syahwat kuasa yang mereka puja dan sembunyikan. Dan semua itu dusta belaka, hanya seorang manipulator yang lagi bermain watak untuk mengemis suara konstituen. Begitu menjadi penguasa, mereka lupa dan rakyat hanya gigit jari menjadi tumbal kekuasaan mereka. 

Mereka tampil seolah rajin ibadah, religius dan semisalnya tapi membuat kebijakan yang memiskinkan rakyat, membuat rakyat tercekik ekonominya. Membuat sejahtera tidak, tapi malah sebaliknya bikin susah rakyat. Inilah pendusta agama, manipulator agama sesungguhnya.
Penipu radikal!

Kalau menteri agama sibuk membodoh-bodohi rakyat, maka rakyat wajib meninggalkan dia!. 

Dan rakyat wajib waspada, agenda apa dibalik kegaduhan yang dibuat ini. Bisa jadi kegaduhan dibuat menjadi pengalihan dari kasus atau desain besar lainnya.

Semoga pada sadar, dan waras/nalar sehat dalam mengelola negara. [A+]