|Gangguan KAMSELTIBCAR LALU LINTAS hubungi Call Center NTMC POLRI (Kode Area) "500669" atau SMS "9119", Darurat Kamtibmas Telp 110 (dari Telkomsel) atau 021-110 (dari selain telkomsel)|

A+ per detik

Negara Gaduh dengan Hoax dan SARA? Kerja! Kerja! Kerja!


A+
| Dalam kurun satu tahun ini masyarakat disibukkan dengan berbagai informasi hoax, dan situasi ketegangan sosial bernuansa SARA (Suku, Agama, Ras, Antargolongan), yang dibungkus dengan isu terorisme melalui penggiringan opini. Pemerintah, dalam hal ini Kabinet Kerja dengan semboyan Kerja! Kerja! Kerja!, sama sekali tidak memasukkan kedua proyek diatas (hoax dan SARA atau pengebirian agama tertentu) dalam Daftar Proyek Strategis Nasional. Namun masyarakat justru dipertontonkan suatu keadaan dimana pemerintah seolah ikut dalam kegaduhan dan disibukkan dengan dua isu diatas.

Ada sesuatu ingin ditutupi dengan kegaduhan?

Untuk membantu pemerintah yang mungkin sedang sibuk kerja, dibawah ini A+ lampirkan DAFTAR PROYEK STRATEGIS NASIONAL & LOKASINYA, sebagaimana tertuang dalam LAMPIRAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG PERCEPATAN PELAKSANAAN PROYEK STRATEGIS NASIONAL.

Inilah Proyek-proyek strategis nasional yang jumlahnya lebih dari 200 proyek:

A. Proyek Pembangunan Infrastruktur Jalan Tol
1. Jalan Tol Serang - Panimbang (83,6km) Provinsi Banten
2. Jalan Tol Pandaan - Malang (37,62km) Provinsi Jawa Timur
3. Jalan Tol Manado - Bitung (39km) Provinsi Sulawesi Utara
4. Jalan Tol Balikpapan - Samarinda (99km) Provinsi Kalimantan Timur
5. Jalan Tol Medan - Binjai (16km) - bagian dari 8 ruas Trans Sumatera Provinsi Sumatera Utara
6. Jalan Tol Palembang - Indralaya (22km) -bagian dari 8 ruas Trans Sumatera, Provinsi Sumsel
7. Jalan Tol Bakauheni - Tb. Besar (138km) -bagian dari 8 ruas Trans Sumatera Provinsi Lampung
8. Jalan Tol Pekanbaru - Kandis - Dumai (135km) - bagian dari 8 ruas Trans Sumatera Provinsi Riau
9. Jalan Tol Terbanggi Besar - Pematang Panggang - bagian dari 8 ruas Trans Sumatera Provinsi Lampung - Provinsi Sumatera Selatan
10. Jalan Tol Pematang Panggang - Kayu Agung - bagian dari 8 ruas Trans Sumatera Provinsi Sumatera Selatan
11. Jalan Tol Palembang – Tanjung Api-Api - bagian dari 8 ruas Trans Sumatera Provinsi Sumatera Selatan
12. Jalan Tol Kisaran - Tebing Tinggi - bagian dari 8 ruas Trans Sumatera Provinsi Sumatera Utara
13. Jalan Tol Kayu Agung - Palembang - Betung (112km) Provinsi Sumatera Selatan
14. Jalan Tol Medan - Kualanamu - Lubuk Pakam - Tebing Tinggi (62km) Provinsi Sumatera Utara
15. Jalan Tol Soreang - Pasirkoja (11km) Provinsi Jawa Barat
16. Jalan Tol Cileunyi - Sumedang - Dawuan (59 km) Provinsi Jawa Barat
17. Jalan Tol Pejagan - Pemalang (58km) Provinsi Jawa Tengah
18. Jalan Tol Pemalang - Batang (39km) Provinsi Jawa Tengah
19. Jalan Tol Batang - Semarang (75km) Provinsi Jawa Tengah
20. Jalan Tol Semarang - Solo (73km) Provinsi Jawa Tengah
21. Jalan Tol Solo - Ngawi (90km) Provinsi Jawa Tengah - Provinsi Jawa Timur
22. Jalan Tol Ngawi - Kertosono (87km) Provinsi Jawa Timur
23. Jalan Tol Kertosono - Mojokerto (41km) Provinsi Jawa Timur
24. Jalan Tol Mojokerto - Surabaya (36km) Provinsi Jawa Timur
25. Jalan Tol Gempol - Pandaan (14km) Provinsi Jawa Timur
26. Jalan Tol Ciawi - Sukabumi (54km) Provinsi Jawa Barat
27. Jalan Tol Gempol - Pasuruan (34,15km) Provinsi Jawa Timur
28. Jalan Tol Waru (Aloha) - Wonokromo - Tanjung Perak (18,2km) Provinsi Jawa Timur
29. Jalan Akses Tanjung Priok (17km) Provinsi DKI Jakarta
30. Jalan Tol Cengkareng - Batu - Ceper - Kunciran (14,19km) Provinsi DKI Jakarta
31. Jalan Tol Kunciran - Serpong (11,19km) Provinsi Banten
32. Jalan Tol Serpong - Cinere (10,14km) Provinsi Banten - Provinsi Jawa Barat
33. Jalan Tol Cinere - Jagorawi (14,64km) Provinsi Jawa Barat
34. Jalan Tol Cimanggis - Cibitung (25,39km) Provinsi Jawa Barat
35. Jalan Tol Cibitung - Cilincing (34km) Provinsi Jawa Barat – Provinsi DKI Jakarta
36. Jalan Tol Depok - Antasari (21,54km) Provinsi Jawa Barat
37. Jalan Tol Bekasi - Cawang - Kp. Melayu (21,04km) Provinsi Jawa Barat – Provinsi DKI Jakarta
38. Jalan Tol Sunter - Rawa Buaya - Batu Ceper (20km) Provinsi DKI Jakarta
39. Jalan Tol Bogor Ring Road (11km) Provinsi Jawa Barat
40. Jalan Tol Serpong - Balaraja (30km) Provinsi Banten
41. Jalan Tol Batu Ampar - Muka Kuning - Bandara Hang Nadim (25km) Provinsi Kepulauan Riau
42. Jalan Tol Semanan - Sunter 20,23 km (bagian dari 6 ruas tol DKI Jakarta) Provinsi DKI Jakarta
43. Jalan Tol Sunter - Pulo Gebang 9,44km (bagian dari 6 ruas tol DKI Jakarta) Provinsi DKI Jakarta
44. Jalan Tol Duri Pulo - Kampung Melayu 9,6km (bagian dari 6 ruas tol DKI Jakarta) 
45. Jalan Tol Kemayoran - Kampung Melayu 9,6km (bagian dari 6 ruas tol DKI Jakarta) 
46. Jalan Tol Ulujami - Tanah Abang 8,7km (bagian dari 6 ruas tol DKI Jakarta) 
47. Jalan Tol Pasar Minggu - Casablanca 9,16 km (bagian dari 6 ruas tol DKI Jakarta) 

B. Proyek Pembangunan Infrastruktur Jalan Nasional/Strategis Nasional Non-Tol
48. Pembangunan Jalan Lingkar Trans Morotai Provinsi Maluku Utara
49. Jalan Palu - Parigi Provinsi Sulawesi Tengah
50. Pembangunan Fly Over dari dan Menuju Terminal Teluk Lamong Provinsi Jawa Timur
51. Jalan Penghubung Gorontalo - Manado Provinsi Gorontalo - Provinsi Sulawesi Utara
52. Jalan Trans Maluku (7 ruas) Provinsi Maluku

C. Proyek Pembangunan Infrastruktur Sarana dan Pra-Sarana Kereta Api Antar Kota
53. Kereta Api Makassar - Parepare (Tahap I dari pengembangan jalur Lintas Barat Sulawesi Bag. Selatan) Provinsi Sulawesi Selatan
54. Kereta Api Prabumulih - Kertapati (80km - bagian dari Jaringan Kereta Api Trans Sumatera) Provinsi Sumatera Selatan
55. Kereta Api Kertapati - Simpang - Tanjung Api-Api (bagian dari Jaringan Kereta Api Trans Sumatera) Provinsi Sumatera Selatan
56. Kereta Api Tebing Tinggi - Kuala Tanjung (Mendukung KEK Sei Mangkei, bagian dari Jaringan Kereta Api Trans Sumatera) Provinsi Sumatera Utara
57. Kereta Api Purukcahu - Bangkuang Provinsi Kalimantan Tengah
58. Pembangunan rel Kereta Api Provinsi Provinsi Kalimantan Timur
59. Double Track Jawa Selatan Provinsi Jawa Barat, Provinsi Jawa Tengah, Provinsi DI Yogyakarta, dan Provinsi Jawa Timur
60. High Speed Train Jakarta - Bandung Provinsi DKI Jakarta - Provinsi Jawa Barat
61. Kereta Api Muara Enim - Pulau Baai Provinsi Bengkulu - Provinsi Sumatera Selatan
62. Kereta Api Tanjung Enim - Tanjung Api-Api Provinsi Sumatera Selatan
63. Kereta Api Jambi - Pekanbaru Provinsi Jambi - Provinsi Riau
64. Kereta Api Jambi - Palembang Provinsi Jambi - Provinsi Sumatera Selatan

D. Proyek Pembangunan Infrastruktur Kereta Api Dalam Kota
65. Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta Koridor North - South Provinsi DKI Jakarta
66. Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta Koridor East - West Provinsi DKI Jakarta
67. Kereta api ekspres SHIA (Soekarno Hatta - Sudirman) Provinsi DKI Jakarta – Provinsi Banten
68. Jabodetabek Circular Line Provinsi DKI Jakarta
69. Penyelenggaraan Kereta Api Ringan/Light Rail Transit (LRT) Terintegrasi di Wilayah Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi Provinsi DKI Jakarta – Provinsi Jawa Barat
70. Penyelenggaraan Perkeretaapian Umum di wilayah Provinsi DKI Jakarta
71. Light Rail Transit (LRT) Sumatera Selatan (Metro Palembang) Provinsi Sumatera Selatan

E. Proyek Revitalisasi Bandar Udara
72. Sentani, Jayapura Provinsi Papua
73. Juwata, Tarakan Provinsi Kalimantan Timur
74. Fatmawati Soekarno Provinsi Bengkulu
75. S. Babullah, Ternate Provinsi Maluku Utara
76. Raden Inten II, Lampung Provinsi Lampung
77. Tjilik Riwut, Palangkaraya Provinsi Kalimantan Tengah
78. Mutiara, Palu Provinsi Sulawesi Tengah
79. HAS Hanandjoedin, Tanjung Pandan Provinsi Bangka Belitung
80. Matahora, Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara
81. Labuan Bajo, Komodo Provinsi Nusa Tenggara Timur
82. Sebatik Provinsi Kalimantan Utara

F. Proyek Pembangunan Bandar Udara Baru
83. Bandara Kertajati Provinsi Jawa Barat
84. Bandara Karawang Provinsi Jawa Barat
85. Bandara Internasional di Propinsi D.I.Yogyakarta 
86. Bandara Banten Selatan, Panimbang Provinsi Banten

G. Proyek Bandar Udara Strategis Lainnya
87. Pengembangan Bandar Udara Soekarno Hatta, Jakarta (Termasuk Terminal 3) Provinsi Banten
88. Pengembangan Bandara Achmad Yani, Semarang Provinsi Jawa Tengah

H. Proyek Pembangunan Pelabuhan Baru dan Pengembangan Kapasitas
89. Pengembangan pelabuhan internasional Kuala Tanjung Provinsi Sumatera Utara
90. Pengembangan pelabuhan hub internasional Bitung Provinsi Sulawesi Utara
91. Pelabuhan KEK Maloy Provinsi Kalimantan Timur
92. Inland Waterways/CBL Cikarang-Bekasi- Laut Jawa Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Jawa Barat
93. Pembangunan Pelabuhan Jawa Barat (Utara) Provinsi Jawa Barat
94. Pembangunan Pelabuhan Sorong Provinsi Papua Barat
95. Pembangunan Pelabuhan Kalibaru Provinsi DKI Jakarta
96. Makassar New Port Provinsi Sulawesi Selatan
97. Pengembangan Pelabuhan Wayabula, Kepulauan Morotai Provinsi Maluku Utara
98. Pengembangan pelabuhan Palu (Pantoloan, Teluk Palu) Provinsi Sulawesi Tengah
99. Pengembangan kapasitas Pelabuhan Parigi Provinsi Sulawesi Tengah
100. Pengembangan Pelabuhan Kijing Provinsi Kalimantan Barat
101. Pengembangan Pelabuhan Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur

I. Program Satu Juta Rumah
102. Pembangunan 603.516 rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (Lokasi tersebar, dengan lokasi utama:
a. Pembangunan 2.332 unit Rumah Susun Sewa di Pasar Minggu (DKI Jakarta) (Tahap 1)
b. Pembangunan 2.396 unit Rumah Susun Sewa di Pasar Rumput (DKI Jakarta) (Tahap 1)
c. Pembangunan 500 unit Rumah Susun Sewa di Pondok Kelapa (DKI Jakarta) (Tahap 1) Provinsi DKI Jakarta
103. Pembangunan Tahap 2 sebanyak 98.020 Unit Lokasi Belum Ditentukan
104. Pembangunan Tahap 3 sebanyak 173.803 Unit Lokasi Belum Ditentukan

J. Proyek Pembangunan Kilang Minyak
105. Kilang Minyak Bontang Provinsi Kalimantan Timur
106. Kilang Minyak Tuban (ekspansi) Provinsi Jawa Timur
107. Upgrading kilang-kilang eksisting (RDMP) Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Kepulauan Riau, Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Kalimantan Timur

K. Proyek Pipa Gas/Terminal LPG 
108. Pembangunan terminal LPG Banten kapasitas 1.000.000 ton/tahun Provinsi Banten
109. Pembangunan Pipa Gas Belawan - Sei Mangkei kapasitas 75 mmscfd (panjang 139,24km) Provinsi Sumatera Utara
110. Pembangunan kilang mini LNG dan stasiun LNG-LNCG di Pulau Jawa Provinsi Jawa Barat, Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Jawa Timur

L. Proyek Infrastruktur Energi Asal Sampah
111. Energi asal sampah kota-kota besar (Semarang, Makassar, Tangerang) Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Sulawesi Selatan, Provinsi Banten

M. Proyek Penyediaan Infrastruktur Air Minum
112. Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Semarang Barat Provinsi Jawa Tengah
113. Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional Jatigede Provinsi Jawa Barat
114. Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Umbulan Provinsi Jawa Timur
115. Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Lampung Provinsi Lampung
116. Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional Mamminasata Provinsi Sulawesi Selatan
117. Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional Jatiluhur Provinsi Jawa Barat
118. Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional Mebidang Provinsi Sumatera Utara
119. Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional Wasusokas Provinsi Jawa Tengah

N. Proyek Penyediaan Infrastruktur Sistem Air Limbah Komunal
120. Jakarta Sewerage System/Pengolahan Limbah Jakarta Provinsi DKI Jakarta

O. Proyek Pembangunan Tanggul Penahan Banjir
121. National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) Tahap A Provinsi DKI Jakarta P. Proyek Pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) & Sarana Penunjang
122. Pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) & Sarana Penunjang Entikong, Kab. Sanggau Provinsi Kalimantan Barat
123. Pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) & Sarana Penunjang Nanga Badau, Kab. Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat
124. Pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) & Sarana Penunjang Aruk, Kab. Sambas Provinsi Kalimantan Barat
125. Pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) & Sarana Penunjang Mota’ain, Kab. Belu Provinsi Nusa Tenggara Timur
126. Pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) & Sarana Penunjang Motamassin, Kab. Malaka Provinsi Nusa Tenggara Timur
127. Pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) & Sarana Penunjang Wini, Kab. Timor Tengah Utara Provinsi Nusa Tenggara Timur
128. Pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) & Sarana Penunjang Skouw, Kota Jayapura Provinsi Papua

Q. Proyek Bendungan
129. Bendungan Paya Seunara Provinsi Aceh
130. Bendungan Rajui Provinsi Aceh
131. Bendungan Jatigede Provinsi Jawa Barat
132. Bendungan Bajulmati Provinsi Jawa Timur
133. Bendungan Nipah Provinsi Jawa Timur
134. Bendungan Titab Provinsi Bali
135. Bendungan Marangkayu Provinsi Kalimantan Timur
136. Bendungan Kuningan Provinsi Jawa Barat
137. Bendungan Bendo Provinsi Jawa Timur
138. Bendungan Gongseng Provinsi Jawa Timur
139. Bendungan Tukul Provinsi Jawa Timur
140. Bendungan Gondang Provinsi Jawa Tengah
141. Bendungan Pidekso Provinsi Jawa Tengah
142. Bendungan Tugu Provinsi Jawa Timur
143. Bendungan Teritip Provinsi Kalimantan Timur
144. Bendungan Karalloe Provinsi Sulawesi Selatan
145. Bendungan Keureuto Provinsi Aceh
146. Bendungan Muara Sei Gong Provinsi Kepulauan Riau
147. Bendungan Tapin Provinsi Kalimantan Selatan
148. Bendungan Passeloreng Provinsi Sulawesi Selatan
149. Bendungan Lolak Provinsi Sulawesi Utara
150. Bendungan Raknamo Provinsi Nusa Tenggara Timur
151. Bendungan Rotiklod Provinsi Nusa Tenggara Timur
152. Bendungan Bintang Bano Provinsi Nusa Tenggara Barat
153. Bendungan Mila Provinsi Nusa Tenggara Barat
154. Bendungan Tanju Provinsi Nusa Tenggara Barat
155. Bendungan Sindang Heula Provinsi Banten
156. Bendungan Logung Provinsi Jawa Tengah
157. Bendungan Karian Provinsi Banten
158. Bendungan Rukoh Provinsi Aceh
159. Bendungan Sukoharjo Provinsi Lampung
160. Bendungan Kuwil Kawangkoan Provinsi Sulawesi Utara
161. Bendungan Ladongi Provinsi Sulawesi Tenggara
162. Bendungan Ciawi Provinsi Jawa Barat
163. Bendungan Sukamahi Provinsi Jawa Barat
164. Bendungan Leuwikeris Provinsi Jawa Barat
165. Bendungan Cipanas Provinsi Jawa Barat
166. Bendungan Komering II Provinsi Sumatera Selatan
167. Bendungan Semantok Provinsi Jawa Timur
168. Bendungan Pamukkulu Provinsi Sulawesi Selatan
169. Bendungan Bener Provinsi Jawa Tengah
170. Bendungan Sadawarna Provinsi Jawa Barat
171. Bendungan Tiro Provinsi Aceh
172. Bendungan Lausimeme Provinsi Sumatera Utara
173. Bendungan Kolhua Provinsi Nusa Tenggara Timur
174. Bendungan Sidan Provinsi Bali
175. Bendungan Telaga Waja Provinsi Bali
176. Bendungan Pelosika Provinsi Sulawesi Tenggara
177. Bendungan Jenelata Provinsi Sulawesi Selatan
178. Bendungan Matenggeng Provinsi Jawa Barat
179. Bendungan Sukaraja III Provinsi Lampung
180. Bendungan Segalamider Provinsi Lampung
181. Bendungan Bagong Provinsi Jawa Timur
182. Bendungan Randugunting Provinsi Jawa Tengah
183. Bendungan Rokan Kiri Provinsi Lampung
184. Bendungan Loea Provinsi Sulawesi Tenggara
185. Bendungan Mbay Provinsi Nusa Tenggara Timur
186. Bendungan Bonehulu Provinsi Gorontalo
187. Bendungan Bolangohulu Provinsi Gorontalo
188. Bendungan Long Sempajong Provinsi Kalimantan Utara

R. Program Peningkatan Jangkauan Broadband
189. Palapa Ring Broadband (Eastern part) di total 57 Kab/Kota) Nasional
190. Palapa Ring Broadband (457 kab/kota) Nasional

S. Proyek Infrastruktur IPTEK Strategis Lainnya
191. Percepatan Pembangunan Technopark Nasional

T. Pembangunan Kawasan Industri Prioritas/Kawasan Ekonomi Khusus
192. Kuala Tanjung Provinsi Sumatera Utara
193. Sei Mangkei Provinsi Sumatera Utara
194. Tanjung Api-Api Provinsi Sumatera Selatan
195. Tanjung Lesung Provinsi Banten
196. Landak Provinsi Kalimantan Barat
197. Ketapang Provinsi Kalimantan Barat
198. Tanggamus Provinsi Lampung
199. Batulicin Provinsi Kalimantan Selatan
200. Jorong Provinsi Kalimantan Selatan
201. Maloy Batuta Trans Kalimantan Provinsi Kalimantan Timur
202. Palu Provinsi Sulawesi Tengah
203. Bantaeng Provinsi Sulawesi Selatan
204. Bitung Provinsi Sulawesi Utara
205. Morowali Provinsi Sulawesi Tengah
206. Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara
207. Mandalika Provinsi Nusa Tenggara Barat
208. Buli, Halmahera Timur Provinsi Maluku Utara
209. Morotai Provinsi Maluku Utara
210. Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat
211. Belitung Provinsi Bangka Belitung
212. Kendal Provinsi Jawa Tengah
213. Percepatan infrastruktur Kawasan Ekonomi Khusus Sorong Provinsi Papua Barat
214. Percepatan infrastruktur Kawasan Ekonomi Khusus Lhokseumawe Provinsi Aceh
215. Percepatan infrastruktur Kawasan Ekonomi Khusus Merauke Provinsi Papua

U. Pariwisata
216. Percepatan infrastruktur transportasi, listrik, dan air bersih untuk 10 kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN). Prioritas Danau Toba, Pulau Seribu, Tanjung Lesung dan 7 kawasan lainnya dengan lokasi di Provinsi Sumatera Utara, Provinsi DKI Jakarta, Provisi Banten, Provinsi Jawa Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Provinsi Maluku Utara, Provinsi DI Yogyakarta, Provisi Sulawesi Tenggara dan Provinsi Bangka Belitung

V. Proyek Pembangunan Smelter
217. Kuala Tanjung Provinsi Sumatera Utara
218. Ketapang Provinsi Kalimantan Barat
219. Morowali Provinsi Sulawesi Tengah
220. Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara
221. Bantaeng Provinsi Sulawesi Selatan
222. Buli Provinsi Maluku Utara

W. Proyek Pertanian dan Kelautan
223. Food Estate di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Maluku dan Papua Provinsi Kalimantan Barat, Provinsi Kalimantan Tengah, Provinsi Kalimantan Timur, Provinsi Maluku, Provinsi Papua
224. Pembangunan Pulau Karantina di Pulau Nanduk, Bangka Belitung (2.170 ha) Provinsi Bangka Belitung
225. Pembangunan Gudang Beku Terintegrasi dalam Rangka Penerapan Cool Chain System di 20 Lokasi Nasional

X. Program Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan 
(Daftar Proyek merujuk kepada daftar proyek pembangkit, transmisi, gardu induk, dan distribusi yang diatur dalam Peraturan Presiden tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan) Nasional

Dengan manajemen kehumasan yang baik, ratusan program strategis nasional diatas akan cukup membuat masyarakat tidak sempat membaca hoax dan dapat meningkatkan partisipasi seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Begitu lemahkah kehumasan pemerintah saat ini?
[mp/praktisihumas/081585792280]

kamus gaduh A+:

Negara

adalah sekumpulan orang yang menempati wilayah tertentu dan diorganisasi oleh pemerintah negara yang sah hasil kesepakatan politik dalam pemilu, memiliki kedaulatan.

Pemerintah
adalah organisasi yang memiliki kekuasaan untuk membuat dan menerapkan hukum serta undang-undang di wilayah tertentu.

Kabinet
adalah suatu badan yang terdiri dari pejabat pemerintah senior/level tinggi, biasanya mewakili cabang eksekutif.

Hoax adalah suatu kata yang digunakan untuk menunjukan pemberitaan palsu atau usaha untuk menipu atau mengakali pembaca atau pendengarnya untuk mempercayai sesuatu.

Zaman Fitnah Politik

Oleh: Mohamad Sobary 

DILIHAT dari sudut ideologi–apapun ideologi yang kita maksudkan–negara itu penting. Supaya lebih jelas harus ditegaskan, kedudukan negara sangat penting.

Bisa ditambahkan: tingkat pentingnya bukan periferal tetapi sangat sangat sentral. Tidak main-main, dan sangat mendasar.  Beberapa kalangan di dalam masyarakat, terutama kalangan militer, tentara, berbicara tentang harga mati.

Negara ini telah mengambil bentuk “kesatuan” dan maknanya “kesatuan” itu jangan lagi menjadi persoalan. Harga mati tak bisa ditawar lagi. Kesatuan ya kesatuan. Bung Karno, tokoh yang lebih besar daripada posisinya sebagai Presiden pertama negeri ini, mati-matian selama hidupnya mengusahakan terciptanya “kesatuan” tadi.

Bung Karno kemudian “mengabdi” pada “kesatuan”. Maksudnya kesatuan bangsa. Hidupnya untuk “kesatuan” itu. Dan kemudian disebut Bapak Pemersatu Bangsa. Sikap ini menjadi sejenis keputusan politik. Dan kalangan Tentara Nasional Indonesia, TNI, membela dan mewujudkannya. Cara pembelaannya menjadi doktrin ketentaraan: siap mati membela negara.

Siap mati. Apa yang kurang dilihat dari sudut loyalitas? Apa yang kurang dalam membela makna loyalitas itu? Mati menjadi bayaran, atau taruhan. Apa yang kurang dilihat dari segi keluhuran yang bersifat patriotik?  Kurang cinta pada negara dalam segi apa lagi? 

Kelompok lain, atau individu lain, yang tak punya organisasi seperti tentara, juga punya cinta. Kita tahu di sini maksudnya cinta pada negara tadi. Cinta mereka serius. Seserius cinta tentara yang paling tegas menetapkan harga mati tadi.

Para pucuk pimpinan tentara, yang berdinas di dunia ketentaraan maupun yang mengabdi di wilayah pengabdian sipil, niscaya paham sepaham-pahamnya bahwa makna ”kesatuan” yang kita “sucikan” sebagai harga yang tak tersentuh, tak boleh ditawar-tawar lagi, diam-diam saat ini dalam situasi tak mengenakkan. Bahkan, boleh dibilang sangat tak mengenakkan dan karena itu barang kali bisa disebut dalam ancaman.

Ada kelompok di dalam masyarakat yang  berpegang pada ideologi baru, yang menggoyah-goyah harga mati itu. Ideologi mereka merongrong ideologi kita bersama.

Kekuatan baru itu pelan-pelan hadir di tengah kita dan mau mengusir kita. Padahal, kita ini Tuan Rumah yang bermartabat. Tuan Rumah mau diusir? Ini fitnah dan ancaman nyata yang berbahaya.

Kalau kita berbicara lebih jauh tentang  ideologi, jelas akan terlalu panjang. Gagasan itu tak bisa ditampung di sini. Cukup buat sementara dikatakan–dan kita semua tahu–bahwa ada ideologi yang meremehkan kesatuan tersebut.

Artinya, ideologi itu meremehkan negara karena dasar dan pandangan hidup kenegaraan kita, Pancasila, hanya buatan manusia. Mereka ingin menampilkan “Republik Tuhan” di muka bumi.

Selain watak ideologis yang meremehkan “kesatuan” tadi, saat ini muncul kekuatan kecil-kecil yang gigih melancarkan fitnah pada pihak lain. Fitnahnya bervariasi. Pihak lain disebut PKI.

Presiden Jokowi yang mencicipi pertama kali fitnah itu dalam kampanye pemilihan calon presiden dua tahun lalu. Tapi beliau bilang “ra popo”. Itu sikap politik pribadi beliau. Tapi, saat ini fitnah itu gentayangan di media sosial. Ibarat virus, fitnah ini menyebar luas dan mengapa belum terdengar adanya langkah tegas menghentikannya?

Tak pernah ada yang bisa menjelaskan bagaimana hubungan antara kekuatan ideologis keagamaan di atas, dengan fitnah yang memojokkan pihak lain sebagai PKI. Diperlukan suatu kajian akademik yang mendalam untuk memahami hubungan kausalitas–jika ada–antara keduanya.

Jika kita boleh mempercayai “bau”, niscaya terasa adanya “bau” ideologi keagamaan yang dipakai untuk “mem-PKI-kan” pihak lain tadi.

Calon pemimpin nasional di-PKI-kan supaya tak terpilih. Calon gubernur––bisa juga calon bupati–atau calon-calon lain, diserang dengan kekuatan fitnah ideologis seperti itu supaya mereka celaka.

Fitnah macam itu membuat citra buruk bagi yang bersangkutan. Kapasitas hebat menjadi tak berguna. Kejujuran yang jelas dan agung tak diberi makna. Pendeknya, orang hebat tak bisa dipilih karena fitnah macam itu.

Dunia intelijen niscaya paham persoalan ini dan bisa melakukan suatu langkah preventif yang luhur demi menjaga utuhnya “kesatuan” tadi. Apa fitnah ini mengancam “kesatuan”?

Mungkin tidak secara langsung. Kalau semua pihak disebut PKI, maka hanya yang bukan PKI yang boleh dipilih dan yang bukan PKI itu siapa yang mereka maksud kalau bukan saudara mereka sendiri yang tak menyukai Pancasila tadi?

“Kesatuan" terancam oleh langkah ideologis yang monolitik, yang benar sendiri, dan memandang yang lain, bagian dari tradisi kenegaraan yang telah berakar mendalam, dirombak. Hanya mereka yang boleh berkuasa. Di “kesatuan” itu terletak. “Kesatuan” akan dianggap almarhum.

Ini zaman fitnah yang mengancam dan membikin hidup tak lagi terasa nyaman. Hidup didorong oleh niat buruk berkuasa tanpa mau berbagi pada yang lain, tanpa mau menggunakan konvensi kenegaraan yang sudah mapan.

Kelihatannya, konvensi, yang lalu-lalu, dan telah menjadi suatu tradisi, bukan kekayaan, melainkan dianggap sampah yang wajib dibuang. Bagi kita, tradisi itu luhur karena di sana akumulasi pengalaman–baik maupun buruk–kita terhimpun. Dari sana kita belajar memetik pengalaman sebagai guru.

Kecuali fitnah, zaman ini juga diwarnai kebencian yang ditabur di sana sini, orang bebas membenci orang lain, satu pihak begitu bebas membenci pihak lain. Kepentingannya politik, dan politik.

Kita tidak tahu siapa di balik ini semua, tetapi diduga keras adanya pihak yang dengan nikmat menunggangi situasi berwarna kebencian ini. Memprovokasi pihak-pihak lain untuk membenci suatu pihak atau seseorang, merupakan tindakan tak terpuji.

Mereka ingin hidup sendiri, dan tak membutuhkan dukungan pihak lain, tanpa bersatu dengan yang lain? Ini bentuk fitnah yang lain lagi. Dia memanggul dosa lima perkara: satu, dosa pada orang lain; dua, dosa pada masyarakat; tiga, dosa pada negara; empat, dosa pada Tuhan Yang Maha Suci; lima, dosa dirinya sendiri. Dosa yang lain bisa diampuni, mungkin.

Tapi dosa pada diri sendiri lebih mendalam, lebih parah dan berbahaya bagi hidupnya. Siapa yang bisa mengampuni dosa pada diri sendiri?

Fitnah dan kebencian tak bisa dibiarkan. Keluhuran budi kita, secara pribadi, boleh mengabaikannya. Boleh saja yang difitnah tak menanggapinya. Tapi, pejabat negara harus bertindak atas nama dan demi negara.

Tindakan harus diambil demi mengembalikan suasana bersatu, aman dan damai dalam pangkuan negara yang kesatuannya telah dibikin seolah-olah suci dan tak tersentuh. Ini harga yang tak boleh ditawar.

Zaman fitnah politik macam ini tak boleh menandai suatu momentum sejarah dalam hidup kita. Zaman yang kita perjuangan jelas zaman keemasan, yang membuat negeri ini menjadi rumah besar yang semua warganya berbahagia, tertib dan damai, sedamai-damainya: tanpa kebencian, tanpa fitnah.

[KORAN SINDO, 21 Januari 2017 ]

Mohamad Sobary | Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan.

Pidato Megawati Pada HUT PDIP Ke-44

"Puji Syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu Wata’ala, sehingga PDI Perjuangan mampu melewati berbagai ujian sejarah selama 44 tahun. Pasang naik dan pasang surut sebagai sebuah partai politik, telah kami lalui. Saya sebagai Ketua Umum pada hari ini, ingin mengucapkan terima kasih kepada mereka yang memilih berada dalam gerbong perjuangan bersama. Terima kasih kepada mereka yang tetap setia, meski kadang Partai ini mendapat terpaan gelombang yang begitu dahsyat. Mereka selalu ada, tidak hanya ketika Partai ini sedang berkibar, namun justru memperlihatkan kesetiaannya ketika Partai berada dalam posisi yang sulit.  Ijinkan saya memberikan penghormatan, dan penghargaan sebesar-besarnya, kepada antara lain Bapak Jacob Nuwa Wea, Bapak Alexander Litaay, dan Bapak Mangara Siahaan, dan masih banyak yang lain, yang tidak bisa saya sebut satu per satu. Mereka telah mendahului kita menghadap Sang Khalik sebagai pejuang Partai.  Mereka tidak hanya ada dalam sejarah hidup saya, namun juga adalah tokoh-tokoh yang berjuang mempertahankan Partai ini sebagai partai ideologis. Kesetiaan yang mereka tunjukan sepanjang hidup kepartaian, bagi saya adalah bentuk kesetiaan ideologis, yang sudah seharusnya dihayati, dan dijalankan oleh setiap kader Partai.

Hadiri yang saya muliakan,

Dari awal mula saya membangun Partai ini, tanpa ragu saya telah menyatakan dan memperjuangkan, bahwa PDI Perjuangan adalah partai ideologis, dengan ideologi Pancasila 1 Juni 1945. Syukur alhamdulillah, pada tanggal 1 Juni tahun 2015 yang lalu, Presiden Jokowi telah menetapkan 1 Juni 1945 sebagai hari lahirnya Pancasila. Artinya, secara resmi negara telah mengakui, bahwa Pancasila 1 Juni 1945 sebagai ideologi bangsa Indonesia.

Saudara-saudara,

Peristiwa di penghujung tahun 2015, telah menggugah sebuah pertanyaan filosofis dalam diri saya: cukupkah bagi bangsa ini sekedar memperingati 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila? Dari kacamata saya, pengakuan 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila, memuat suatu konsekuensi ideologis yang harus dipikul oleh kita semua. Dengan pengakuan tersebut, maka  segala keputusan dan kebijakan politik yang kita produksi pun, sudah seharusnya bersumber pada jiwa dan semangat nilai-nilai Pancasila 1 Juni 1945.

Apa yang terjadi di penghujung tahun 2015, harus dimaknai sebagai cambuk yang mengingatkan kita terhadap pentingnya Pancasila sebagai “pendeteksi sekaligus tameng proteksi” terhadap tendensi hidupnya “ideologi tertutup”, yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Ideologi tertutup tersebut bersifat dogmatis. Ia tidak berasal dari cita-cita yang sudah hidup dari masyarakat. Ideologi tertutup tersebut hanya muncul dari suatu kelompok tertentu yang dipaksakan diterima oleh seluruh masyarakat. Mereka memaksakan kehendaknya sendiri; tidak ada dialog, apalagi demokrasi. Apa yang mereka lakukan, hanyalah kepatuhan yang lahir dari watak kekuasaan totaliter, dan dijalankan dengan cara-cara totaliter pula. Bagi mereka, teror dan propaganda adalah jalan kunci tercapainya kekuasaan.

Syarat mutlak hidupnya ideologi tertutup adalah lahirnya aturan-aturan hingga dilarangnya pemikiran kritis. Mereka menghendaki keseragaman dalam berpikir dan bertindak, dengan memaksakan kehendaknya. Oleh karenanya, pemahaman terhadap agama dan keyakinan sebagai bentuk kesosialan pun dihancurkan, bahkan dimusnahkan. Selain itu, demokrasi dan keberagaman  dalam ideologi tertutup tidak ditolelir karena kepatuhan total masyarakat menjadi tujuan. Tidak hanya itu, mereka benar-benar anti kebhinekaaan. Itulah yang muncul dengan berbagai persoalan SARA akhir-akhir ini. Disisi lain, para pemimpin yang menganut ideologi tertutup pun memosisikan dirinya sebagai pembawa “self fulfilling prophecy”, para peramal masa depan. Mereka dengan fasih meramalkan yang akan pasti terjadi di masa yang akan datang, termasuk dalam kehidupan setelah dunia fana, yang notabene mereka sendiri belum pernah melihatnya.

Saudara-saudara,

Apa yang saya sampaikan di atas tentang ideologi tertutup, jelas bertentangan dengan Pancasila. Pancasila bukan suatu ideologi yang dipaksakan oleh Bung Karno atau pendiri bangsa lainnya. Pancasila lahir dari nilai-nilai, norma, tradisi dan cita-cita bangsa Indonesia sejak masa lalu, bahkan jauh sebelum kemerdekaan. Bung Karno sendiri menegaskan, dirinya bukan sebagai penemu Pancasila, tetapi sebagai penggali Pancasila. Beliau menggalinya dari harta kekayaan rohani, moral dan budaya bangsa dari buminya Indonesia. Pancasila dengan sendirinya adalah warisan budaya bangsa Indonesia. Apakah ketika Indonesia berumur 71 tahun, kita telah melupakan sejarah bangsa? Jangan sekali-kali melupakan sejarah kita!!

Pancasila berisi prinsip dasar, selanjutnya diterjemahkan dalam konstitusi UUD 1945 yang menjadi penuntun sekaligus rambu dalam membuat norma-norma sosial politik. Produk kebijakan politik pun tidak boleh bersifat apriori, bahkan harus merupakan keputusan demokratis berdasarkan musyawarah mufakat. Dengan demikian, Pancasila sebagai jiwa bangsa, tidak memiliki sifat totaliter dan tidak boleh digunakan sebagai “stempel legitimasi kekuasaan”. Pancasila bersifat aktual, dinamis, antisipasif dan mampu menjadi “leidstar”, bintang penuntun dan penerang, bagi bangsa Indonesia. Pancasila selalu relevan di dalam menghadapi setiap tantangan yang sesuai dengan perkembangan jaman, ilmu pengetahuan, serta dinamika aspirasi rakyat.

Namun, tentu saja implementasi Pancasila tidak boleh terlalu   kompromistis saat menghadapi sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai dasar yang terkandung di dalamnya. Meskipun demikian, guna meng-eksplisit-kan ide dan gagasan agar menjadi konkret, dan agar Pancasila tidak kaku dan keras,  dalam merespon keaktualan problematika bangsa, maka instrumen implementasinya pun harus dijabarkan dengan lebih nyata, tanpa bertentangan dengan filsafat pokok dan kepribadiaan bangsa.

Intermezo : Pola Pembangunan Nasional Berencana sebagai implementasi Pancasila untuk mencapai Trisakti.

Saudara-saudara,

Indonesia diakui sebagai negara demokratis, namun demokrasi yang kita anut dengan Pancasila sebagai “the way of life bangsa” telah secara tegas mematrikan nilai-nilai filosofis ideologis, agar kita tidak kehilangan arah dan jati diri bangsa.

Pancasila, lima sila, jika diperas menjadi Trisila, terdiri dari: Pertama, sosio-nasionalisme yang merupakan perasan dari kebangsaan dan internasionalisme; kebangsaan dan peri kemanusiaan. Kedua, sosio-demokrasi. Demokrasi yang dimaksud bukan demokrasi barat, demokrasi yang dimaksud adalah demokrasi politik ekonomi, yaitu demokrasi yang melekat dengan kesejahteraan sosial, yang diperas menjadi satu dalam sosio-demokrasi.

Ketiga, adalah ke-Tuhan-an. Menjadi poin ketiga, bukan karena derajat kepentingannya paling bawah, tetapi justru karena Ke-Tuhan-an sebagai pondasi kebangsaan, demokrasi politik dan ekonomi yang kita anut. Tanpa Ke-Tuhan-an bangsa ini pasti oleng. Ke-Tuhan-an yang dimaksud adalah Ke-Tuhan-an dengan cara berkebudayaan dan berkeadaban; dengan saling hormat menghormati satu dengan yang lain, dengan tetap tidak kehilangan karakter dan identitas sebagai bangsa Indonesia.

Bung Karno menegaskan, “kalau jadi Hindu, jangan jadi orang India. Kalau jadi Islam, jangan jadi orang Arab, kalau jadi Kristen, jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini.”

Hadirin yang saya hormati, Trisila jika diperas menjadi Ekasila, yaitu gotong royong. Inilah suatu paham yang dinamis, berhimpunnya semagat bersama untuk membanting tulang bersama, memeras keringat bersama untuk kebahagiaan bersama. Kebahagian yang dimaksud adalah kebahagian kolektif sebagai sebuah bangsa, yang memiliki tiga kerangka: pertama, Satu Negara Republik Indonesia yang berbentuk Negara-Kesatuan dan Negara-kebangsaan yang demokratis dengan wilayah kekuasaan dari Sabang sampai Merauke; dari Miangas hingga ke Rote. Kedua, satu masyarakat yang adil dan makmur materiil dan spiritual dalam wadah Negara kesatuan Republik Indonesia. Ketiga, satu persahabatan yang baik antara Republik Indonesia dan semua negara di dunia, atas dasar saling hormat-menghormati satu sama lain, dan atas dasar membentuk satu Dunia Baru yang bersih dari penindasan dalam bentuk apa pun, menuju perdamaian dunia yang sempurna.

Adapun untuk mencapai kerangka tujuan di atas diperlukan dua landasan: landasan idiil, yaitu Pancasila dan landasan strukturil, yaitu pemerintahan yang stabil. Untuk itulah PDI Perjuangan selalu ikut dan berdiri kokoh menjaga jalannya pemerintah Presiden Jokowi dan Jusuf Kalla sebagai pemerintahan yang terpilih secara konstitusional. Keduanya merupakan syarat mutlak atas tanggung jawab sejarah yang harus kita tuntaskan sekaligus sebagai konsekuensi ideologis yang telah saya sampaikan di awal, yang mengakui Pancasila 1 Juni 1945 sebagai ideologi bangsa.

Kader-kader Partai yang saya cintai, hadirin yang saya hormati,

Saya menjabarkan hal-hal di atas dalam forum ini, untuk menegaskan kembali bahwa PDI Perjuangan tetap memilih jalan ideologis. PDI Perjuangan menyatakan diri tidak hanya sebagai rumah bagi kaum Nasionalis, tetapi juga sebagai Rumah Kebangsaan bagi Indonesia Raya. Kepada kader Partai di seluruh Indonesia, saya instruksikan agar tidak lagi ada keraguan, apalagi rasa takut, untuk membuka diri dan menjadikan kantor-kantor Partai sebagai rumah bagi rakyat untuk menyampaikan aspirasi. Saya instruksikan, jadilah “Banteng Sejati” di dalam membela keberagaman dan kebhinekaan.  Berdirilah di garda terdepan, menjadi tameng yang kokoh untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saya yakin, TNI dan POLRI akan bersama kita dalam menjalankan tugas ini, dan tidak akan memberi ruang sedikit pun pada pihak-pihak yang anti Pancasila dan anti demokrasi Pancasila. Apresiasi saya kepada TNI-POLRI yang telah berani bersikap tegas dalam menyikapi pihak-pihak tersebut.

Bagi kader Partai yang berada di legislatif dan eksekutif, kalian tidak hanya dibutuhkan negeri ini untuk mempertahankan kesatuan dan kebangsaan. Perlu disadari, terutama bagi kader yang telah mendapat kepercayan rakyat di eksekutif. Saya tahu, kalian, bahkan saya, adalah manusia biasa. Tentu, sebagai manusia biasa kita tidak luput dari kesalahan. Tetapi, sebagai pemimpin harus disadari pula bahwa jabatan yang kalian emban adalah jabatan politik. Kesalahan dalam keputusan politik tidak hanya berdampak bagi diri pribadi dan keluarga. Kesalahan tersebut berdampak pada kehidupan seluruh rakyat. Karena itu, hati-hatilah dalam membuat keputusan-keputusan politik, baik itu berupa perkataan, tindakan, produk politik baik berupa kebijakan politik legislasi, maupun kebijakan politik anggaran.

Kader-kader yang saya cintai,

Luangkan waktu untuk merenung, sudah tepatkah langkah-langkah yang kalian ambil atas jabatan yang telah diberikan oleh rakyat, ataukah justru sebaliknya. Jangan kalian justru menjadi bagian dari orang-orang yang menindas dan menyengsarakan rakyat dengan kekuasaan yang sebenarnya justru merupakan amanah dari rakyat.

Saya tegaskan kembali, sebagai Ketua Umum Partai, instruksi saya kepada kalian adalah mensejahterakan rakyat, bukan sebaliknya! Kebhinekaan harus disertai dengan keadilan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat!

Terakhir, saya ucapkan terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia yang tetap setia membatinkan Pancasila di dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak perlu reaksioner, tetapi sudah saatnya silent majority bersuara dan menggalang kekuatan bersama. Saya percaya mayoritas rakyat Indonesia mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika. Kita akan bersama-sama terus berjuang, kita pasti mampu membuktikan pada dunia, bahwa Pancasila mampu menjadikan keberagaman sebagai kekuatan untuk membangun kehidupan yang berperikemanusiaan dan berperikeadilan.

Bangsa ini sedang berada dalam “struggle to survive”, dalam perjuangan untuk bertahan, bertahan secara fisik dan mental! Bertahan agar tetap hidup, secara badaniah dan mental. Hadapilah tantangan-tantangan yang ada dengan kekuatan gotong royong sebagai kepribadian bangsa. Berderaplah terus menuju fajar kemenangan sebagai bangsa yang sejati-jatinya merdeka. Dengan ridho Tuhan, saatnya kita gegap gempitakan kembali segala romantika dan dinamika, dentam-dentamkan segala hantaman, gelegarkan segala banting tulang, angkasakan segala daya kreasi, tempa segala otot-kawat-balung-wesinya!

Sungguh: kita adalah bangsa berkepribadian Banteng!
Hayo maju terus! Jebol terus!
Tanam terus! Vivere pericoloso!
Hiduplah menyerempet bahaya di jalan Tuhan!
Ever onward, Never retreat!
Kita pasti menang!

Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarokatuh.
Om Santi Santi Santi Om
Namo Buddhaya
Merdeka !!!

Jakarta, 10 Januari 2017
Ketua Umum PDI Perjuangan
Megawati Soekarnoputri."

Menunggu Fatwa Haram dan Larangan Pelatihan Bela Negara

A+ | Jakarta - Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan pencopotan Letkol Czi Ubaidillah dari jabatannya sebagai Dandim Lebak menjadi pelajaran berharga bagi berbagai pihak. Letkol Czi Ubaidillah dicopot karena menggelar latihan Bela Negara untuk anggota Front Pembela Islam (FPI).

"Dandim sudah dicopot dan diganti sehingga dengan demikian persoalan ini tentunya menjadi pelajaran berharga bagi siapa pun yang ingin mengadakan acara-acara (bela negara) seperti itu." kata Pramono di kantornya, Jakarta, Senin (9/1) sebagaimana dilansir laman merdeka.

Sebagaimana diketahui, dari berbagai materi dalam pelatihan bela negara, antara lain mengajarkan kemampuan awal kesadaran bela negara seperti nasionalisme, Pancasila, UUD 1945 dan Anti PKI.

Jika materi-materi itu yang memicu dicopotnya Dandim, maka tinggal menunggu fatwa haram dan pelarangan pelatihan bela negara.