LUGAS | Jakarta - Dibubarkan dan dicap sebagai organisasi terlarang, Front Pembela Islam (FPI) ganti baju menjadi Front Persatuan Islam.
Deklarasi #FPI #FrontPersatuanIslam dilakukan oleh sejumlah tokoh
setelah keberadaan Front Pembela Islam (FPI) dilarang oleh pemerintah,
meskipun sejumlah pihak termasuk FPI sendiri menilai pembubaran dan
pelarangan tersebut lebih bersifat politis ketimbang pertimbangan hukum.
Fadli
Zon, mantan Wakil Ketua DPR RI salah satu yang mengkritisi pembubaran
FPI. "Saya tegaskan, pelarangan organisasi tanpa proses pengadilan
adalah praktik otoritarianisme. Ini pembunuhan terhadap demokrasi dan
telah menyelewengkan konstitusi," kata Fadli Zon, Rabu (30/12).
Ketua Umum FPI K.H. Shobri Lubis dan Sekretaris FPI Haji Munarman termasuk orang yang mendeklarasikan perkumpulan baru tersebut.
Deklarasi
Front Persatuan Islam disebut dilakukan untuk melanjutkan pergerakan
perjuangan membela agama, bangsa, dan negara Indonesia sesuai dengan
Pancasila dan UUD 1945.
"Kepada seluruh pengurus, anggota dan
simpatisan Front Pembela Islam di seluruh Indonesia dan mancanegara,
untuk menghindari hal-hal yang tidak penting dan benturan dengan rezim dzalim
maka dengan ini kami deklarasikan Front Persatuan Islam untuk
melanjutkan perjuangan membela Agama, Bangsa, dan Negara sesuai dengan
Pancasila dan UUD 1945," kata deklarator Front Persatuan Islam, Abu
Fihir Alattas dalam keterangan resminya, Rabu (30/12).
Abu
menilai Keputusan Bersama 6 pimpinan Kementerian/Lembaga Negara terhadap
pembubaran FPI telah melanggar konstitusi dan bertentangan dengan
hukum. Pasalnya, secara Keputusan Bersama tersebut tidak memiliki
kekuatan hukum baik dari segi legalitas maupun dari segi legitimasi.
"Kami pandang adalah sebagai bentuk pengalihan isu dan obstruction of justice
(penghalang-halangan pencarian keadilan) terhadap peristiwa pembunuhan 6
anggota Front Pembela Islam dan bentuk kedzaliman yang nyata terhadap
Rakyat," kata Abu Fihir Alattas.
Di dalam nama-nama 18 orang
yang menjadi deklarator Front Persatuan Islam terdapat nama eks Ketua
Umum Front Pembela Islam K.H. Ahmad Shobri Lubis dan eks Sekretaris Umum
Front Pembela Islam Haji Munarman.
Selain 2 (dua) profil
pimpinan Front Pembela Islam diatas, para deklarator lainnya adalah:
K.H. Awit Mashuri, Ustadz Haris Ubaidillah, Habib Idrus Al Habsyi, Idrus
Hasan, Ali Alattas, Ali Alattas, Ichwan Tuankota Basalamah, Habib
Syafiq Alaydrus, Baharuzaman, Amir Ortega, Syahroji, Waluyo, Joko,
Luthfi, Habib Abu Fihir Alattas, Tb. Abdurrahman Anwar dan Abdul Qadir
Aka.
Sejak awal berdirinya, Front Pembela Islam (FPI) selalu
aktif melakukan kegiatan sosial kemanusiaan dengan sigap membantu korban
bencana alam, kaum dhuafa, janda, anak yatim piatu dan siapapun warga
yang membutuhkan bantuan. Sembilan puluh persen kegiatan FPI adalah
kegiatan sosial kemanusiaan namun tidak tercover oleh media nasional.
Justru media internasional seperti The Washington Post dari Amerika
Serikat, Associated Press, Christian Science, Aljazeera dan sebagainya
yang menyiarkan kiprah FPI sebagai ormas yang paling cepat datang
membantu saat bencana melanda di Indonesia.
Stephen Wright
misalnya, dalam publikasi The Washington Post pada 11 Juni 2019, ia
menulis dedikasi FPI dalam artikel berjudul “When Disaster Hits,
Indonesia’s Islamists are First to Help”.
LUGAS/berbagai sumber
Berita terkait:
FPI Dibubarkan dan Dilarang di Seluruh Indonesia
0 Komentar