Di bawah atap yang bocor oleh doa-doa yang tak sempat jadi kata,
aku belajar bahwa hidup bukan sekadar berteduh—
ia adalah meratap yang diam-diam menguat,
seperti hujan yang jatuh bukan untuk merusak,
tapi menguji genting yang lama rapuh.
Atap itu…
ia tak pernah benar-benar melindungi,
hanya mengajarkan kita arti berharap
pada langit yang tak bisa digenggam.
Dan lantai—
tempat kaki menapak,
tempat darah pernah jatuh dan dilupakan,
ia bukan sekadar pijakan,
melainkan saksi bisu bagaimana mimpi dibantai oleh ragu,
dan bangkit lagi oleh luka yang menolak mati.
Dinding berdiri di antara keduanya,
memisahkan angin dari tubuh yang menggigil,
tapi juga menahan jerit agar tak lari ke dunia luar.
Ia tahu—
tidak semua luka butuh saksi,
sebagian hanya perlu bertahan dalam sunyi.
Pintu…
ia selalu setengah terbuka, setengah ragu,
mengajarkan bahwa pergi dan pulang
adalah dua hal yang sama-sama berat.
Setiap engselnya berderit seperti hati yang dipaksa tegar,
meski berkali-kali dihantam kehilangan.
Dan jendela,
tempat cahaya masuk tanpa permisi,
mengabarkan bahwa harapan tak pernah benar-benar mati,
ia hanya bersembunyi
di sela-sela retak yang kita abaikan.
Hidup ini rumah yang tak selesai dibangun,
atapnya meratap,
lantainya membantai,
dindingnya menyimpan rahasia,
dan pintunya terus menguji keberanian.
Namun kita—
tetap tinggal di dalamnya,
menambal dengan sisa-sisa keyakinan,
menyapu pecahan harapan yang sempat hancur,
dan diam-diam percaya…
bahwa suatu hari,
atap tak lagi membuat meratap,
dan lantai tak lagi jadi tempat dibantai,
melainkan ruang pulang
bagi jiwa yang akhirnya mengerti:
perjuangan bukan tentang menang,
tapi tentang tetap berdiri
meski rumah kehidupan
tak pernah benar-benar selesai.

0 Komentar