Essai Mahar Prastowo
Penulis adalah pegiat literasi dan pelintas batas (1998 s.d. sekarang)
Mahar Prastowo's Profile | Journalist | Muck Rack
Mahar Prastowo's Profile | Journalist | Muck Rack
Ruangan itu sebenarnya tidak kecil.
Tapi siang itu terasa seperti kabin bus kota jurusan Kampung Melayu–Pulogadung pada era ketika pendingin udara masih dianggap barang mewah.
Kursi penuh.
Orang berdiri.
Orang duduk.
Sebagian mencari celah untuk bernapas.
Sebagian lagi mencari celah untuk sekadar bergerak.
Sebagian lagi mencari celah untuk sekadar bergerak.
Padahal yang sedang berlangsung adalah Roadshow Sinkronisasi Pendidikan dan Harmonisasi antara Komite Sekolah, Kepala Sekolah, serta para pemangku kepentingan pendidikan yang digagas Forum Komunikasi Komite Sekolah (FKKS) Jakarta Timur di SMAN 61 Jakarta, Kecamatan Duren Sawit.
Dan ini kecamatan ke-7 dari 10 kecamatan se-Jakarta Timur.
Dan ini kecamatan ke-7 dari 10 kecamatan se-Jakarta Timur.
Tema besarnya harmonisasi.
Tujuannya mulia: menyamakan langkah, menyelaraskan persepsi, dan memperkuat kolaborasi demi kemajuan pendidikan di Jakarta Timur.
Namun seperti banyak kegiatan yang mengusung kata "sinkronisasi", proses menuju sinkron ternyata tidak selalu berjalan sinkron.
Bahkan sebelum acara dimulai.
Sejak H-1, sejumlah detail teknis masih mencari titik temu. Rundown acara rupanya belum sepenuhnya selaras antara panitia tuan rumah sebagai organizing committee, steering committee tingkat Jakarta Timur, serta unsur protokoler kedinasan.
Percikan-percikan kecil mulai muncul.
Tidak besar.
Tidak sampai menjadi api.
Hanya cukup untuk membuat beberapa wajah tampak tegang.
Maklum.
Menjelang acara besar, kelelahan sering lebih dominan daripada logika.
Capek badan.
Lelah pikiran.
Kurang tidur.
Kadang persoalan sederhana terdengar seperti masalah negara.
Untunglah malam berlalu.
Pagi datang.
Semangat baru ikut datang.
Bahkan mungkin terlalu bersemangat.
Atau mungkin memang ruangannya yang terlalu penuh.
Yang jelas banyak yang mulai berkeringat sebelum acara benar-benar berjalan.
Lalu acara dimulai.
Satu demi satu agenda berlangsung.
Sambutan.
Paparan.
Diskusi.
Foto bersama.
Tepuk tangan.
Semuanya tampak berjalan sebagaimana mestinya.
Sampai muncul persoalan klasik yang sering luput dari perencanaan.
Kursi.
Jumlah undangan ternyata jauh dari sinkron dengan semangat hadir, dibanding kapasitas ruangan.
Akibatnya ada yang harus berdiri.
Ada yang berpindah-pindah tempat.
Ada pula yang bekerja sambil mencari sudut paling memungkinkan untuk bertahan hidup.
Termasuk petugas notulensi dan kehumasan.
Mereka mendapat sudut kecil di samping panggung.
Tidak mewah.
Ada satu meja dengan laptop, dan dua kursi untuk operator dan MC.
Sedangkan humas, petugas notulis, yang memang mobile tidak kebagian kursi.
Ada satu meja dengan laptop, dan dua kursi untuk operator dan MC.
Sedangkan humas, petugas notulis, yang memang mobile tidak kebagian kursi.
Hanya lantai panggung yang tingginya kira-kira satu anak tangga.
Untuk sekadar ngelesot.
Posisi yang justru cukup nyaman untuk mengetik resume paparan di telepon genggam.
Bersebelahan dengan MC dan operator layar presentasi bekerja.
Sunyi.
Tidak mengganggu peserta.
Ideal untuk mencatat setiap materi yang disampaikan narasumber.
Sampai sebuah suara keras datang.
Seorang wanita pejabat kecamatan menegur.
"Hey itu, jangan duduk di situ!"
Nadanya cukup tinggi untuk mengalahkan suara pendingin ruangan.
Yang ditegur terkejut.
Ia sedang mengetik.
Sedang merangkum.
Sedang bekerja.
Pikiran dan jiwanya ngeblank sejenak.
Begitu sadar lingkungan, refleks ia bertanya:
"Terus saya duduk di mana? Lagi nulis resume paparan."
Pertanyaan sederhana.
Jawabannya ternyata tidak sederhana.
Karena memang hampir tidak ada kursi tersisa.
Maka suasana yang sejak pagi berusaha dibangun harmonis mendadak mengalami sedikit disonansi.
Tidak lama.
Hanya sekejap.
Seperti guncangan kecil di dalam bus kota yang penuh sesak.
Kadang bukan karena rem mendadak.
Kadang karena copet yang ketahuan.
Kadang karena dua penumpang berebut ruang.
Kadang bahkan karena aroma ketiak seseorang yang tanpa sengaja menguasai satu gerbong kehidupan.
Begitulah.
Percikan kecil sering kali bukan soal besar-kecilnya masalah.
Melainkan soal waktu dan tempat kemunculannya.
Ujung ceritanya tidak dramatis.
Petugas notulensi memilih pamit pulang.
Petugas humas cadangan juga harus meninggalkan lokasi karena panggilan tugas lain.
Acara tetap selesai.Foto-foto tetap ada meski tak lengkap.Paparan tetap tersampaikan.Pesan-pesan harmonisasi tetap terucap.Namun ada satu yang hilang.Narasi laporan kegiatan.Tidak ada yang menuliskannya sampai tuntas.Padahal sejarah sering kali bukan ditentukan oleh siapa yang berbicara di atas panggung.Melainkan oleh siapa yang mencatat apa yang terjadi di bawah panggung.
Roadshow hari itu akhirnya selesai.
Sinkronisasi pendidikan tetap menjadi tujuan.
Harmonisasi tetap menjadi cita-cita.
Hanya saja, seperti banyak hal dalam kehidupan, sinkronisasi kadang masih mencari frekuensinya sendiri.
Dan harmonisasi kadang harus melewati beberapa nada sumbang sebelum akhirnya menjadi lagu yang enak didengar.

1 Komentar
Tetep semangat pak Mahar cc bu Ida
BalasHapus