|Call Center NTMC POLRI (Kode Area) "500669" atau SMS "9119", Darurat Kamtibmas Telp 110 (dari Telkomsel) atau 021-110 (dari selain telkomsel)|

A+ per detik

Industri Grafika Nasional Stagnasi

[Ekonomi dan Keuangan]

http://www.pelita.or.id/baca.php?id=18985

Jakarta, Pelita

Kepala Urusan Luar Negeri Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI), Triwiharto, mengatakan industri grafika nasional saat ini mengalami stagnasi seperti tahun 1994-1995, menyusul terjadinya krisis ekonomi yang menyebabkan banyak mesin cetak dire-ekspor.

"Suasana industri grafika Indonesia sekarang ini bisa disebut mengalami kehilangan satu dekade akibat banyaknya mesin cetak yang direekspor," kata dia, di Jakarta, Selasa (14/10).

Hal tersebut diungkapkan ketika menyampaikan presentasi rencana pameran dagang internasional khusus mesin cetak "Drupa" tanggal 6-19 Mei 2004, di Dusseldorf, Jerman yang akan diikuti sekitar 1.943 perusahaan dari 50 negara.

Menurut Triwiharto, sejak 1998 sampai 2000 banyak mesin cetak baru dipasang di Indonesia di tahun 1995 sampai 1997 terpaksa dire-ekspor, karena keinginan untuk memperoleh keuntungan akibat perubahan drastis nilai tukar dolar AS ke rupiah yang menjadi lebih enam kali lipat.

Dengan melakukan re-ekspor, perusahaan grafika nasional memperoleh keuntungan cukup besar untuk menutup sisa utang sewa atau utang bank dan bahkan masih mempunyai sisa dana tunai untuk bertahan dalam masa krisis.

"Sekalipun tidak ada angka pasti, setidaknya ada 500 unit mesin cetak dire-ekspor dan kami kira ini adalah pertamakali Indonesia ekspor mesin grafika dalam jumlah besar," ungkapnya.

Dia mengatakan ketika kondisi ekonomi mulai membaik awal 2001 yang ditandai stabil kurs mata uang asing terhadap rupiah terjadi arus sebaliknya yakni Indonesia mengimpor mesin cetak dalam jumlah cukup besar, sementara mesin baru impornya tidak terlalu banyak.

"Ini menyebabkan kondisi grafika kita sama seperti tahun 1994 atau 1995, sehingga kehilangan satu dekade pertumbuhan industri grafika," katanya.

Data Depperindag menunjukkan total perusahaan percetakan besar, menengah dan kecil di Indonesia saat ini mencapai 7.250 perusahaan dan ada 17.500 perusahaan rumah tangga atau mikro yang menyerap 273 ribu tenaga kerja.

PPGI menilai dengan adanya pameran "Drupa" di Jerman tahun depan, merupakan kesempatan pengusaha grafika nasional untuk melihat kemajuan berbagai jenis mesin cetak dalam mengejar ketertinggalan industri grafika nasional.

Direktur Proyek "Drupa 2004", Manuel Matare, mengemukakan sejumlah produk grafika yang akan dipamerkan antara lain berbagai mesin cetak, penjilidan buku, pemakaian kertas (paper converting), serta jasa pelayanan.

"Dalam Drupa 2004 seluruh mesin teknologi akhir yang berkaitan dengan percetakan akan ditampilkan dari perusahaan-perusahaan besar dunia," katanya. (iz)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar