|Kelas Sabtu/Minggu (private) Jurnalistik Terapan untuk PR/Humas, Design & Layout Media, Manajemen & Marketing Media | Investasi Rp 3.300.000 | 021-94696948 ||||| Corporate Services: CommunicationProduction|MediaRelation|SocialMarketing|DigitalCommunication|SocialMediaActivation|MediaMonitoring&Analysis|BrandStrategy|PublicAffairCommunication|MarketingCommunication|CSR-Communication|Corporate-Product-BrandCommunication|in-HouseTraining|MediaProduction&Management|Info: 021-94696948|

A+ per detik

Pengantar Psikologi Transpersonal



Indonesia penuh dengan kepercayaan akan paranormal yaitu tokoh-tokoh yang dipercayai memiliki kemampuan luar biasa seperti mengetahui masa depan (prakognisi), membaca pikiran orang lain (telepati) dan menggerakkan benda-benda di luar tubuhnya melalui pikiran (telekinesis) bahkan berkomunikasi dengan makhluk-makhluk gaib berupa roh orang mati atau jin. Semua pengalaman ini bagi tradisi mistisisme justru dianggap sebagai pengalaman sampingan dalam perjalanan untuk mencapai pangalaman mistik sejati yang disebut dengan nama unio mystica di kalangan mistisisme kristen, makrifat dikalangan sufisme agama Islam, moksha di kalangan Yogi agama Hindu, sunyata di kalangan Bodhisatwa agama Budha.

Tentu saja semua kepercayaan itu dianggap tahayul non-ilmiah di kalangan ilmuwan modern. Namun, pada akhir abad keduapuluh muncul sebuah mazhab psikologi yang disebut psikologi transpersonal yang mencoba mengawinkan psikologi modern yang mempelajari orang-orang normal dengan psikologi tradisional yang juga mepelajari pengalaman paranormal orang-orang yang mencari kesatuan dengan Realitas yang Mutlak seperti para kabalis Yahudi, mistikus Kristen, sufi Islam dan yogi Hindu. Psikologi transpersonal ini muncul sebagai kelanjutan dari gerakan potensi manusia seutuhnya di tahun 70-an.

Gerakan ini bermula dengan pengalaman-pengalaman luar biasa para hippies pencetus revolusi kebudayaan Amerika di tahun 60-an. Para hippies yang menolak kemapanan itu melakukan proses kembali ke alam meninggalkan kehidupan modern dan mengikuti kehidupan primitif suku Indian yang para dukunnya gemar mencari kebenaran dengan menghisap jamur-jamur halusinogen yang membuat halusinasi yang dianggap sebagai kebenaran. Mereka bereksperimen dengan zat halusinogen bernama LSD yang disintesakan secara kimiawi oleh seorang kimiawan pegawai pabrik obat Sandoz di Bazel Swiss, bernama Albert Hoffmann, di tahun 1943.

Sementara itu di Cekoslowakia di tahun 50-an sedang dilakukan penelitian pengobatan orang sakit jiwa dengan menggunakan zat-zat psiko-aktif di antaranya adalah asam lisergik dietilamid alisas LSD. Salah seorang dokter muda pada waktu itu bersedia menjadi kelinci percobaan untuk memakan LSD dengan dosis sangat kecil. Dokter itu adalah Stanislav Grof yang kemudian bersama-sama Abraham Maslow pendiri mazhab psikologi Humanistik mendirikan Asosiasi Psikologi Transpersonal Amerika yang sayangnya tidak diakui sebagai anggota dari Perkumpulan Psikologi Nasional Amerika.

Menarik untuk disimak adalah pengalaman-pengalaman sang dokter muda Grof ketika mengikuti eksperimen mengkonsumsi zat psikoaktif LSD di Praha pada waktu komunis sedang berkuasa sebagai rezim totaliter di kala itu. Ketika sedang berada dalam pengaruh obat bius itu, dia merasa rohnya keluar tubuhnya terbang melayang keluar bumi menuju ruang angkasa bebas dan menyaksikan berbagai ledakan bintang-bintang yang kemudian dikenal sebagai ledakan supernova.

Pengalaman itu sangat luar biasa sehingga tak mungkin dilupakannya. Karena tak mungkin diterima oleh paradigma materialisme dialektik yang dominan di universitasnya pada waktu itu, maka dia mengklasifikasikan catatan-catatan mengenai pengalamannya itu sebagai pengalaman transpersonal dan menyimpannya secara pribadi. Begitulah, ketika dia mendapat kesempatan berbicara dalam sebuah seminar di Amerika Serikat dia melaporkan pengalaman transpersonal dirinya yang juga dialami oleh pasiennya. Dokter-dokter di Amerika Serikat pun tertarik dan memberinya kesempatan untuk riset di negeri adikuasa tersebut

Sayangnya, ketika dia mulai menjalankan risetnya, LSD justru dilarang di Amerika Serikat dan dikategorikan sebagai narkoba yang mempunyai efek genetik yang membahayakan. Maka, dia pun mencari metoda baru untuk mencapai kesadaran-kesadaran alternatif dan menemukannya dalam bentuk sebuah teknik pernafasan yang disebutnya pernafasan holotropik. Ternyata pernafasan holotropik dapat menghasilkan pengalaman-pengalaman luar-biasa yang biasanya dialami oleh para mistikus, sufi dan yogi serta para shaman alias dukun-dukun diberbagai suku primitif dunia dan juga, belakangan, oleh para hippy pemakai LSD. Namun sayangnya, alih-alih menjadikan metodenya sebagai salah satu alat baku untuk psikoterapi, dia menjadikannya sebagai bisnis pengalaman alternatif yang menjanjikan.

Stanislav Grof dan kawan-kawannya telah mendirikan Asosiasi Psikologi Transpersonal Amerika Serikat bahkan kemudian juga ikut mendirikan Asosiasi Psikologi Transpersoanal Internasional. Dengan demikian sebuah revolusi telah terjadi. Timur dan Barat menyatupadu da;am lahirnya psikologi transpersonal. Kendati di negeri tempat lahirnya, Amerika Serikat, psikologi transpersonal tidak diakui sebagai cabang yang absah dari psikologi modern, di negeri-negeri lain di Eropa dan Amerika Latin psikologi transpersonal justru diterima sebagai cabang psikologi modern.

Salah seorang profesor filsafat dari Indiana University di kota South Bend di Amerika Serikat, Michael Washburn menggunakan perspektif psikoanalisis untuk memasukkan psikologi tradisional Timur ke psikologi modern Barat. Caranya, adalah dengan mengajukan konsep Energi Asal Yang Dinamis, Kreatif dan Spontan sebagai sumber dari energi psikhis libido individu manusia yang tersempal dan terasing dari sumbernya. Keterasingan atau alienasi ini akan teratasi jika manusia mengatasi egonya dan bergabung kembali ke Energi Asal itu. Proses kembali ke energi asal itu tak lain dari proses meditasi yang diajarkan oleh tradisi mistik Timur. Pandangan Washbun ini adalah wajah modernis dari proses integrasi psikologi modern dan psikologi tradisional dalam psikologi transpersoanal. Dalam hal ini, yang tradisional ditelan oleh yang modern. Pandangan seperti ini tentu saja ditentang oleh pemikir-pemikir posmodernis yang menganggap psikologi tradisional setingkat dengan psikologi modern.

Mungkin lebih tepat jika kita melakukan penggabungan secara posmodernis di mana psikologi yang modern dan yang tradisional secara bebas menjadi psikologi yang posmodern. Dalam kerangka pemikiran posmodern inilah, Profesor Jorge Ferrer dari California Institute of Integral Studies di San Francisco, mengajukan teorinya tentang spiritualitas partisipatif. Ferrer, mengajukan sebuah wawasan psikologis integratif di mana semua tradisi spiritual agama-agama dunia boleh berkembang berdampingan sebagai jalan kembali ke Sumber Energi Cerdas sebagai Asas Terdasar bagi Kehidupan dan Realitas yang disebut Ferrer sebagai Misteri. Dalam pandangan Ferrer, Misteri itu bekerja dalam dua bentuk energi yaitu Energi Gelap dan Energi Kesadaran, bagaikan Im dan Yang dalam tradisi Taoisme di Cina. Energi Gelap itu bersifat padat, tanpa bentuk dan tak terbeda-bedakan, sedangkan Energi kesadaran bersifat halus, bercahaya dan beraneka ragam. Permainan kedua energi itu menghasilkan evolusi jagat raya yang dilanjutkan oleh evolusi kehidupan dan berakhir pada evolusi peradaban manusia yang berujung pada keanekaan kehidupan beragama yang ada di muka bumi

Pandangan pluralistik posmodernis ini tak disukai oleh Ken Wilber, yang kini juga tidak lagi suka pada nama psikologi transpersonal, dan mengganti nama psikologi baru itu dengan nama "psikologi integral." Ken Wilber sendiri, seorang ahli kimia yang membelot ke psikologi, sebenarnya mulai populer setelah di tahun 1980 menerbitkan buku "The Atman Project" dengan subjudul "A Transpersonal View of Human Development." Dalam pandangan Wilber di kala itu, pengembangan spiritual agama-agama tradisional mistik Timur adalah kelanjutan dari perkembangan kejiwaan yang dipelajari oleh psikologi modern seperti behaviorisme, psikoanalisis, psikologi kognitif dan psikologi humanistik. Dia pun mensintesakan mazhab pertama (behavorisme), mazhab kedua (psikologi dalam), mazhab ketiga (psikologi humanistik) dengan psikologi tradisional timur dalam mazhab keempat psikologi yaitu psikologi transpersonal.

Namun pemikiran Ken Wilber, terus berkembang. Mulanya dia mengganti nama psikologi transpersonal menjadi psikologi integral. Kemudian dia memperluas pemikiran integralnya menjadi pandangan filosofis yang disebutnya sebagai integralisme universal, pada tahun 2000, di mana perkembangan psikologi dilihat sebagai buah dari perkembangan sosiologi (sejarah peradaban) yang pohonnya adalah sejarah perkembangan biologi (evolusi) yang tumbuh di tanah yang terolah melalui evolusi kosmologi (dari Dentuman Besar hingga pengembangan alam semesta. Maka kini pun dia melihat perkembangan psikologis hanya merupakan satu kuadran dari evolusi spiritual yang integral. Kuadran-kuadran lainnya adalah sains, budaya dan masyarakat. Teori pos-metafisik yang disebutnya AQAL (All Quadrants All Levels) itu dipromosikan oleh lewat Integral Istitute yang dibentuknya di Amerika Serikat.

Filsafat Ken Wilber disebut Integralisme Universal mengingatkan pada pemikiran saya yang dibukukan kira-kira lebih dari duapuluh tahun yang lalu dengan judul "Integralisme" dengan subjudul "sebuah Rekonstruksi Filsafat Islam." Filsafat Integralisme itu adalah upaya merumuskan kembali filsafat Islam dalam peristilahan yang lebih bisa dipahami oleh orang-orang di zaman serba komputer ini. Menurut integralisme semua realitas, termasuk manusia, terdiri dari dua sisi: esensial dan eksistensial. Sedangkan sisi eksistensial terdiri dari empat lapis substansi yang dikenal sebagai materi, energi, informasi dan nilai-nilai dalam urutan seperti itu. Urutan seperti ini sebenarnya telah lama dikenal dalam tradisi pemikiran Islam: fikih, tasawuf, filsafat dan ilmu kalam.

Tradisi tasawuf, misalnya, melihat di antara ruh (esensi) dan tubuh (sarana materi) terdapat nafsu (penyalur energi) dan akal (pengolah informasi) dan kalbu atau hati nurani(wahana nilai-nilai). Dalam bahasa anak sekarang, tubuh itu ibarat motherboard dan prosesor komputer, nafsu adalah catudaya atau power supply nya, akal adalah sistem operasi seperti Windows dan kalbu itu ibarat program aplikasi. Nah dalam metafor komputer ini, ruh adalah pemrogram atau pemakai komputer. Tanpa pemrogram atau pemakainya, komputer itu adalah benda mati yang tak berguna. Begitu juga tanpa ruh, tubuh hanya bergerak diprogram bagaikan robot oleh informasi-informasi yang kita peroleh di rumah, di sekolah, di kantor dan di pasar bebas informasi media massa

Dalam bahasa psikologi, tubuh adalah ketidaksadaran yang perilakunya dibentuk oleh mekanisme pengkondisian behaviorisme, nafsu adalah kebawahsadaran libido yang diungkap mekanisme penyalurannya oleh psikoanalisis, akal adalah ego yang proses dan strukturnya diteliti oleh mazhab psikologi kognitif dan kalbu adalah keatassadaran hatinurani yang eksistensinya dipelajari oleh psikologi humanistik. Sedangkan pengalaman-pengalaman ruh itulah yang dipelajari oleh psikologi transpersonal. Ruh adalah kepuncaksadaran manusia. Itulah sebabnya integralisme Islam dapat juga digunakan sebagai landasan pemahaman psikologi transpersonal. Jika dibebaskan dari terminologi Islam, maka Integralisme Islam pada hakekatnya dapat dipahami secara universal. Soalnya Islam adalah agama universal sebagai rahmat bagi sekalian bangsa.

Seperti integralisme universal Ken Wilber, integralisme Islam juga melihat individu adalah bagian dari keseluruhan-keseluruhan yang melingkunginya secara berlapis. Lingkungan-lingkungan itu adalah peradaban manusia yang sosial, lingkungan hidup yang universal dan alam akhirat yang transendental dan kekuasaan Ilahi integral yang merupakan Maha Pencipta alam-alam itu: Rabb al-'Alamin. Dalam bahasa psikologi, lingkungan-lingkungan itu adalah lingkungan yang transpersonal. Inilah dimensi transpersonal mendatar alias horisontal, dari yang insani ke yang Rabbani, yang harus diintegrasikan dengan dimensi transpersonal menegak atau vertikal dari yang material ke yang spiritual. Integrasi ganda ini merupakan proses psikologis transpersonal menuju pribadi seutuhnya yang berguna bagi masyarakat seluasnya, serasi dengan lingkungan hidup seluruhnya dan selaras dengan nilai-nilai transendental yang bersumber dari Yang Maha Pencipta dan Maha Penguasa segalanya.

Adanya perjenjangan kesadaran itu sebenarnya bukanlah ada dalam tradisi peradaban Islam belaka. Ken Wilber, misalnya, dalam tabel yang dilampirkan bukunya The Atman Project, menunjukan adanya kesejajaran antara konsep hirarki internal vertikal itu dalam psikologi tradisional Timur (seperti Hindu, Budha dan Taoisme) dan Timur Tengah (Yahudi, dan Kristen). Pandangan ini diwarisnya dari tradisi filsafat perenialisme yang menganggap adanya kesatuan transendental semua agama-agama. Bahkan, sebelum dia menamakan filsafatnya sebagai integralisme universal, dia menyebut filsafatnya sebagai neo-perenialisme. Embel-embel neo diletakkannya, karena berbeda dengan filsuf-filsuf perenial yang mendahuluinya, Ken Wilber menerima evolusi biologi Darwin dan menganggapnya sebagai bagian dari evolusi spiritual yang lingkupnya meliputi seluruh alam semesta dan manusia di dalamnya. Itulah sebabnya dia meletakkan perkembangan psikologis sebagai evolusi personal, yang psikospiritual, paralel dengan evolusi peradaban yang sosiokultural. Dalam hal ini integralisme universal serasi dengan integralisme Islam.

Itulah sebabnya psikologi transpersonal harus didampingi dengan sosiologi transpersonal yang melihat peradaban manusia berkembang secara integral pula. Tampaknya memang begitulah adanya. Bukankah peradaban manusia bermula dengan revolusi pertanian yang menyangkut pangan yang material diikuti oleh revolusi industri menyangkut pemanfaatan energi oleh mesin-mesin dan akhirnya ditutup oleh revolusi informasi yang memanfaatkan informasi melalui komputer dan jaringannya yang mengintegrasikan teknologi informasi dan teknologi komunikasi dalam jaringan telematik global bernama internet. Jika kita seorang integralis maka kita akan melihat bahwa ketiga revolusi itu akan diikuti oleh revolusi nilai-nilai. Tampaknya kita memang sedang berada dalam era revolusi nilai-nilai. Protokol Kyoto dan Peta Jalan Bali menunjukkan bahwa revolusi nilai-nilai itu sedang dirintis. Yang diperlukan selanjutnya adalah penyusunan protokol dan institusi kerjasama antar agama untuk menyelamatkan manusia di alam dunia ini, bukan hanya di alam akhirat. Semoga kita semua bisa menyadarkan pentingnya revolusi nilai-nilai ini melalui penyadaran adanya paralelisme esoteris di dasar agama-agama dunia melalui pengembangan dan pemasyarakatan psikologi transpersonal. Insya Allah begitulah adanya.

Amin, ya Rabbal Alamin.

Armahedi Mahzar