|Kelas Sabtu/Minggu (private) Jurnalistik Terapan untuk PR/Humas, Design & Layout Media, Manajemen & Marketing Media | Investasi Rp 3.300.000 | 021-94696948 ||||| Corporate Services: CommunicationProduction|MediaRelation|SocialMarketing|DigitalCommunication|SocialMediaActivation|MediaMonitoring&Analysis|BrandStrategy|PublicAffairCommunication|MarketingCommunication|CSR-Communication|Corporate-Product-BrandCommunication|in-HouseTraining|MediaProduction&Management|Info: 021-94696948|

A+ per detik

SINDIKASI YUDHOYONO

oleh Rusdi Mathari

Surat itu diterima Uskup Mandell Creighton, 3 April 1887. Pengirimnya adalah Lord Acton, yang menuliskan keprihatin tentang kekuasaan. Kata Acton, kekuasaan (memang) cenderung korup dalam banyak bentuk dan rupa. Ppenggal kalimat dalam surat itu belakangan diketahui bukan hanya termasuk bagian dari tesis Acton berjudul "A Study in Conscience and Politics" melainkan pula merambat ke hampir penjuru dunia, dibaca oleh banyak orang dan menjadi popular.

Di masa menjelang Pemilu Presiden 2009, saya kembali membuka lembaran-lembaran buku yang berisi petuah Pak Acton itu, dan terkesima, karena kekuasaan yang korup itu ternyata memang tak terhindarkan. Persoalannya terutama ada pada Tim Sukses yang dibentuk oleh Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono. Di sana bukan hanya ada puluhan pejabat negara aktif, melainkan juga terlibat setumpuk petinggi BUMN dan sebagainya (lihat daftar di bawah).

Yudhoyono boleh saja mengklaim, pemerintahannya sukses memberantas korupsi, seperti yang dengan bangga dia katakan pada saat deklarasi di Sabuga, Bandung meski itu pun masih bisa diperdebatkan. Soalnya adalah, KPK bukan bagian dari pemerintahan, melainkan sebuah lembaga tinggi negara yang para pejabatnya, dipilih dan ditentukan oleh parlemen. Begitu pula dengan tugas-tugas mereka.

Klaim itu menjadi niscaya andai otoritas Kejaksaan Agung yang pejabatnya diangkat dan diberhentikan oleh presiden, kemudian memang menunjukkan kinerja pemberantasan korupsi. Minimal lebih baik dari kerja KPK. Realitasnya, beberapa bagian dari orang-orang kejaksaan seperti Urip Tri Gunawan malah dijadikan terdakwa karena terlibat korupsi.

Lalu keterlibatan para pejabat negara dan petinggi BUMN itu, sebetulnya juga mengingkari pernyataan yang pernah diucapkan oleh Yudhoyono. Suatu hari, ketika Pemilu Legislatif 2009 mulai memasuki tahap kampanye, Yudhoyono pernah menginstruksikan kepada seluruh jajaran pemerintahannya agar tetap menjalankan tugas pokok dengan penuh tanggung jawab. Kata dia, para pejabat tidak boleh menyalahgunakan kekuasaan dan jabatan yang dimiliki untuk kepentingan politik. Pejabat negara dan pemerintahan diminta tetap mengutamakan tugas pokoknya secara bertanggung jawab.

"Melayani rakyat dan menjalankan tugas-tugas pembangunan adalah prioritas utama," katanya (lihat "Jangan Gunakan Kekuasaan untuk Politik," Fajar, 17 Maret 2009).

Kini ucapan Yudhoyono itu seolah ditelan gegap gempita isu neloliberal dan kerakyatan, dan seruan berpolitik santun yang juga seringkali dikatakan oleh presiden. Hatta, memang bisa saja mengatakan, tugas-tugasnya sebagai menteri tak akan terganggu karena juga merangkap "jabatan" sebagai Ketua Tim Sukses SBY Boediono. Namun siapa yang tahu, Hatta, para menteri dan petinggi BUMN itu, tak lalu akan menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan SBY Boediono?

Undang-Undang
Aturan soal keikutsertaan pejabat negara dan petinggi BUMN itu bukan tak ada. Undang-Undang No. 42 Tahun 2008 misalnya telah melarang keikutsertaan pejabat badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah (Pasal 41 poin 2d); dan "setiap orang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a sampai dengan huruf i dilarang ikut serta sebagai pelaksana kampanye" (Pasal 41 poin 3).

Undang-undang yang sama juga melarang penggunaan fasilitas negara oleh capres dan cawapres (Pasal 64). Lalu Pasal 62 dan Pasal 63 yang mengatur soal keterlibatan menteri dan gubernur dalam kampanye, menyebutkan mereka harus terlebih dahulu mendapat izin (cuti) untuk menjadi anggota tim kampanye (lihat "Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2008 Tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden," kpu.go.id)

Namun rupanya di negeri ini, undang-undang dibuat memang untuk dikencingi. Komisi Pemilihan Umum, KPU, juga seolah pura-pura tidak tahu perihal itu. Juga para pejabat publik itu. Semua tenaga dan pikiran, kini terfokus pada satu kepentingan: "menyukseskan" Pemilu Presiden. Jadi apa arti kesuksesan pemberantasan korupsi yang diklaim Yudhoyono di Sabuga itu, kalau pada pelaksanaan pemilu kali ini, sarat dengan pelangaran oleh pejabat publik?

Lalu jika korupsi didefinisikan sebagai mengambil keuntungan dari aset negara untuk kepentingan sendiri atau kelompok, tidak harus uang, melainkan untuk mempertahankan kekuasaan politik— maka keterlibatan para menteri, petinggi BUMN dan pejabat lainnya itu, mestinya juga tak bisa tidak dianggap sebagai perilaku kolutif. Ini pula akan menjadi taruhan reputasi Yudhoyono sebagai sosok yang selalu mengaku taat hukum.

Jika Yudhoyono tak bisa membuktikannya, maka benarlah indeks yang pernah disusun oleh majalah Foreign Policy bahwa Indonesia sebetulnya tak lebih sebuah negara gagal. Bekerja sama dengan lembaga think-tank The Fund for Peace, majalah berwibawa itu pada tahun 2007 pernah menempatkan Indonesia di urutan ke 60 sebagai negara gagal, satu kelompok dengan Sudan, Somalia, Iraq, Afghanistan, Zimbabwe, Ethiopia, atau Haiti. Salah satu ukurannya: pemerintah pusat dinilai sangat lemah dan tak efektif, pelayanan umum jelek, korupsi dan kriminalitas menyebar, dan ekonomi merosot.

Atau haruskah kita terus harus percaya pada tesis Pak Acton itu, bahwa kekuasaan itu memang cenderung korup?

Tulisan ini juga bisa dibaca di politikana.com dan kompasiana.com

A.Tim Sukses SBY
1. Menteri
Hatta Radjasa/Mensesneg/PAN/Ketua
Freddi Numberi/Menteri Perikanan/Anggota
Jero Wacik/Menteri Pariwisata/Anggota
Lukman Edy/Meneg. PDT/PKB/Anggota
Suryadharma Ali/Menkop UKM/PPP/Anggota
Taufiq Effendi/Menpan/Anggota

2. Pejabat BUMN
Sutanto/Preskom Pertamina/Gerakan Pro SBY/Wakil Ketua
Umar Said/Komisaris Pertamina/Demokrat/Ketua Dewan Pakar
Muhayat/Komisaris Bank Mandiri-Deputi Menteri Meneg BUMN/Barisan Indonesia
Harry Sebayang/Komisaris PTPN III/Jaringan Nusantara/Ketua
Aam Sapulete/Komisaris PTPN IV/Jaringan Nusantara/Wakil Ketua
Andi Arif/Komisaris Pos Indonesia/Jaringan Nusantara/Sekjen
Suprapto/Preskom Indosat/Barisan Sekoci
Akhmad Syakhroza/Komisaris Jasa Marga/Demokrat/Sekretaris Dewan Pakar
Joyo Winoto/Komisaris Jasa Marga/Demokrat/Deputi II Dewan Pakar

3. Lain-lain
Irvan Edison/Staf Khusus Presiden/Tim Sekoci/Wakil Ketua
Sardan Marbun/Staf Khusus Presiden/Tim Romeo/Ketua
B. Tim Sukses JK
Fahmi Idris/Menteri Perindustrian/Golkar/Ketua
Paskah Suzeta/Kepala Bappenas/Golkar/Anggota

Untuk tampilan yang lebih baik, tulisan ini juga bisa dibaca di Rusdi GoBlog , Politikana.com dan Kompasiana. com .

KWN-5 : Maafkan Bapak, Aku Tidak Tahu

“Maafkan Bapak, Aku Tidak Tahu”, karya video siswa SD Islam Sabilillah Malang Meraih Juara Nasional Kid Witness News 2008

Sebuah karya video drama dan reportase bertema lingkungan hidup

Jakarta, 20 November 2008 - Setelah secara resmi diluncurkan di Jakarta pada 29 Juli 2008 lalu, akhirnya Kid Witness News (KWN) Indonesia 2008 memasuki tahap final. Padahari ini (Kamis, 20/11) diumumkan para pemenang KWN, ajang kompetisi pembuatan video singkat untuk pelajar SD dan SMP se-Indonesia yang berusia 10 – 15 tahun, dimana pada tahun ini bertema tentang lingkungan hidup. Di Indonesia, KWN pertama kali diselenggarakan pada 2004, dan tahun ini adalah kompetisi yang ke-5 kalinya.

Memasuki babak puncak, dewan juri yang terdiri dari para pakar di bidangnya melakukan penilaian yang cukup alot guna menentukan para pemenang KWN 2008 Indonesia. Akhirnya berhasil diputuskan, peraih Juara Nasional KWN tahun ini adalah wakil dari SD Islam Sabilillah Malang (Jawa Timur), dengan karya video drama dan reportase berjudul “Maafkan Bapak, Aku Tidak Tahu”. Sebagai Juara Nasional, tim SD Islam Sabilillah Malang berhak meraih hadiah berupa piala KWN dan piagam, serta perjalanan gratis mengikuti Perayaan Kontes Regional di Sabah (Malaysia) yang akan berlangsung pada 2-5 Desember 2008 mendatang. Selain itu, mereka juga akan menjadi wakil Indonesia di Kejuaraan KWN Tingkat Global yang akan berlangsung di Tokyo (Jepang) pada Juni tahun depan.

Terpilih sebagai Runner Up 1 adalah video dokumenter karya siswa SMP Katolik Pax Christi Manado (Sulawesi Utara) dengan judul “Tarsius, Hewan Langka Indonesia”. Selanjutnya, video dokumenter karya siswa SMP Kristen I Harapan, Denpasar (Bali) berjudul ”Penglipuran Village” meraih juara Runner Up 2. Sedangkan untuk posisi Runner Up 3 diraih oleh YPK Harapan Denpasar dengan judul ”Jangan Biarkan Kami Punah”. Keempat sekolah tersebut berhasil menyisihkan 500 sekolah yang mengirimkan karyanya.

Sebelumnya pihak Juri telah memutuskan karya yang masuk tahapan 10 besar, yaitu dari SD Jubillee School Jakarta, SMPN 5 Yogyakarta, SD High Scope Indonesia Jakarta, SMP Kristen 1 Denpasar, SD Islam Sabilillah Malang, SDN 11 Pagi Pondok Labu Jakarta, SMP Katolik Pax Christi Manado, SD Nasional KPS Balikpapan, YP Kristen Harapan Denpasar, dan SMP St. Angela Bandung.

Para wakil siswa dari 10 sekolah dengan storyline terbaik tersebut pada 18-20 September 2008 lalu diundang ke Jakarta untuk mengikuti training intensif yang berlangsung selama 3 hari. Mereka mendapatkan training dan pelatihan pembuatan video dari PGI dan Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Asistensi IKJ dibutuhkan untuk bisa memberikan sentuhan estetis pada setiap karya para peserta sehingga mereka bisa melahirkan karya monumental dan menjadi kebanggaan bangsa.

Masing-masing sekolah yang masuk ”10 Besar” mendapatkan hadiah berupa camera e-cam NV-GS330 dari Panasonic. Selain itu, Panasonic juga menyediakan berbagai perlengkapan produksi bagi 10 storyline yang mereka susun, yakni Tripod, DVD-R Disc, Panasonic Microphone (+ KWN Cube), KWN Shirt/ Vest, Badge, Clipboard & Pen, serta 1 set DVD dan Buku Panduan bagi Siswa & Guru, berjudul “A Hands-on Video Education Program”.

Dewan juri KWN 2008 adalah Henry Bastaman (Kementerian Lingkungan Hidup), Subadjio Budisantoso (Institut Kesenian Jakarta), Lily Ham (HOPE), Ari Budiharto Soetjitro (PT. Padang Digital Nusantara), Verena Puspawardani (WWF), Brigitta Isworo Laksmi (wartawan senior), Titin Rosmasari (Trans7), Albar Daengparani (Senjaya Bersama Utama), Daniel Suhardiman (Panasonic Manufacturing Indonesia), Yulian Duce (Panasonic Gobel Indonesia) dan tim dari Female Radio.

"Tujuan utama kami menggelar Kid Witness News di Indonesia adalah untuk menstimulasi kreativitas di kalangan para siswa dan memunculkan kemampuan berkomunikasi di antara mereka. Selain itu, ajang ini ditujukan untuk menciptakan kerja sama tim di antara para siswa dalam mengerjakan tugas di lapangan dan aktivitas lain terkait dengan pembuatan film tersebut,” jelas Rachmat Gobel. ”Oleh karena itu kami berupaya menyediakan wadah untuk mengasah sisi pendidikan anak lewat berbagai program yang menarik, termasuk KWN. Kami yakin KWN dapat menstimulasi daya inovasi, pemahaman, kreativitas dan analisa para pesertanya,” tambah Rachmat Gobel, Komisaris PT. Panasonic Gobel Indonesia (PGI).

Tahun ini, Panasonic Indonesia sebagai penyelenggara resmi KWN 2008 menerima hampir 500 naskah dari berbagai sekolah di seluruh Indonesia. “Jumlah ini meningkat sekitar 150% dibandingkan tahun lalu, dimana jumlah peminat yang masuk hanya sekitar 200 naskah,” tutur Josephine Lawu, Corporate Communication Panasonic. Namun sayang, 120 naskah yang masuk tahun ini terpaksa harus didiskualifikasi, karena gagal memenuhi syarat administrasi yang diminta oleh panitia.
Aspek penjurian video terdiri dari 5 bidang, yakni (1) Aspek penulisan meliputi kreativitas, originalitas, dan kandungan lokal; (2) Aspek Videografi meliputi kualitas gambar, fokus objek, tata cahaya dan warna; (3) Aspek Suara meliputi kejelasan suara, kemampuan narasi, efek suara dan musik; (4) Aspek Editing meliputi harmonisasi dalam penggabungan klip-klip, efek visual, dan tampilan terjemahan dalam bahasa Inggris; (5) Aspek komprehensif meliputi kejelasan dan akurasi tema.


Dengan training yang telah diberikan oleh masing-masing ahlinya, kami berkeyakinan bahwa Indonesia dapat meraih juara Grand Prix dalam Kejuaraan KWN Tingkat Global yang akan berlangsung di Tokyo (Jepang) pada bulan Juni tahun depan.

Sekilas tentang KWN


Dalam skala global, penyelenggaraan KWN dimulai pada medio 1988 oleh Panasonic Amerika Serikat. Secara eskalatif, event ini kemudian diselenggarakan di berbagai negara di kawasan Amerika, Eropa, dan Asia Pasifik. Hingga 2006, lebih dari 10 ribu siswa dari 500 sekolah (17 negara) telah berpartisipasi dalam program tahunan tersebut. Di Indonesia, KWN pertama kali diselenggarakan pada 2004. Jenjang kontes meliputi tingkat Nasional dan tingkat Global.[Josephine Lawu; PT. Panasonic Gobel Indonesia]

Amcor’s $13.5 million upgrade of the corrugated operation in Townsville

State Member for Townsville and Speaker of the Queensland Legislative Assembly, Mike Reynolds, has officially commissioned the $13.5 million dollar upgrade of the Amcor Fibre Packaging Townsville production facility.

The upgrade has included a 3000m2 extension to the original facility, with a complete facelift of the facilities on the site.

The project has seen the replacement of an ageing corrugator with a Xitex corrugator, plus the introduction of a high volume die cutter, a new waste management system, as well as product wrapping and strapping facilities. Xitex is a patented product offering superior strength and performance to fruit and produce customers, and is the only facility of it’s type in the region.

This relocation has allowed the local production capacity of corrugated board in NQ to double, supplying 28,000,000m2 of fibre packaging to the market annually.

“Indeed a company such as Amcor, a significant and diversified global business, is perfectly located in our city of Townsville. I believe that Amcor has been in Townsville for 24 years and that this fibre packaging plant is unique in north Queensland. This recent expansion will add another layer of certainty of supply for north Qld customers by removing the freight demands currently built in to the delivery chain.” said Reynolds.

The project has taken two years from conception and follows on from the $40 million spent by Amcor in creating one of the largest corrugating plants in the world at Rocklea, Brisbane QLD.

Amcor Australasia Chief Operating Officer, Don Matthews, said on the day that “the upgrade and investment enables us to service our north Queensland customer base with superior products, better lead times, and puts us in a great position to expand this business going forward.”

Working commenced on the structure in October 2007, and finished in July this year.

It will achieve significant improvements in operating efficiency and position the business to be the preferred packaging solutions provider through product leadership, superior customer service and operational excellence.

According to Amcor Australasia, major redevelopment of the Townsville site is a critical part of the major reinvestment plan for the Australian fibre packaging business.

The Amcor Queensland structure now has a regional manager on site in NQ responsible for the local sales and manufacturing team.

The Townsville plant produces a full range of corrugated boxes for the fruit & produce, agricultural, food, beverage and industrial sectors throughout Queensland and the northern territory. [www.foodmag.com.au]

Jane Lawalata Menembus Hollywood!



Chatterbox –Synopsys

Chelsea, a 13 year old girl, wants to be popular and prove to her parents that she’s as good as her brother BRYAN, a star football player, and her sister ANGEL a college scholarship winner. She is going to do this by winning the national Chatterbox competition held every year in Washington DC. Chatterbox is a contest where female representatives from middle schools across the country are chosen by their classmates and faculty to compete against each other demonstrating talent, popularity, knowledge and concern for their community.
With the help of her two best friends STEPH and TINA, Chelsea, against her parents wishes, enters the local Chatterbox competition. The schools Principal explains to the students that the local Chatterbox competition consists of three levels. To win a contestant will have to campaign to collect classmate and faculty signatures to finish in the top 50. Next they have to take an exam showing their knowledge and score in the top 10. Finally only 5 of them will compete in a community project where they have to develop and implement an idea then make presentation to the entire schools about it. After the presentation faculty and community leaders will select the winning girl to represent the school.
Chelsea’s main rival is Valerie a snooty, snobbish girl from a very well to do family. With the help of her friends Steph and Tina they enlists Jess, Valerie’s former friend, to be a spy for Chelsea and to help them. But Jess has devious reasons of her own for helping Chelsea, she wants to get back at Valerie by any means. She talks Steph and Tina into cheating and then undermines Chelsea’s friendship with them. Valerie is underhanded too and sends her boyfriend ALEX, the coolest and most popular boy in the school to spy and get information from Chelsea and her friends. Alex and Chelsea’s relationship blossoms as he gets to know her and sees Valerie for who she really is. Jess drives a wedge between Chelsea’s and her friends, Alex, and her family by trying to turn Chelsea into a different person who is only interested in herself and winning at all costs.
Chelsea wins the competition but when she discovers the cheating she gives up the Chatterbox title and makes a public apology where she talks about the importance of friends and family and that being popular at any cost is just not worth it, that honesty, loyalty, family, and being true to yourself are more important. [*]

CF2 production presents BRIANNA JOY CHOMER "CHATTERBOX"
ALLISON BAILEY MEGAN MCCARTHY MARY JO GRUBER GRACE TYSON and CALEB CHOMER Casting by REBECCA TAYLOR
Music Soundtrack/Score by CHRIS WHITEMAN INDRA PERKASA Edited by JANET BAILEY, JANE LAWALATA
Director of Photography ANGEL BARROETA Line Producer DEIDRE LACASSE Co-Producer JANE LAWALATA
Associate Producer KENNETH GREENBLATT REBECCA TAYLOR Executive Producers CF2
Produced by DEIDRE LACASSE Story by JANE LAWALATA Screenplay by AKIL Z THORNTON Directed by JANE LAWALATA

PT. VISINDO ARTAPRINTING MELANGGAR HAM KARYAWAN

Setelah selama tiga bulan nasib buruh PT. Visindo Artaprinting cabang Marunda semakin tidak jelas, dengan ketidaksediaan PT.Visindo memenuhi tuntutan buruh supaya diupah sesuai UMP. Ketidak sediaan PT.Visindo tersebut telah menunjukkan bahwa pihak perusahaan sama sekali tidak memperhatikan nasib buruh.

Fakta yang tidak kalah mencengangkan juga terjadi di PT.Visindo Artaprinting pusat yang beralamat di Gudang Kamal Indah Blok C no 9, Kalideres, Jakarta Barat. Di balik gedung pabrik, penindasan terhadap buruh jauh lebih memprihatinkan. Semua buruh diwajibkan untuk bekerja selama seminggu penuh, tanpa hari libur tanpa memandang Tanggal Merah yang semestinya dipergunakan oleh buruh untuk aktivitas lain. Upah yang diterima oleh buruh hanyalah Rp 15.000,00 per hari dengan upah lembur sebanyak Rp 2000,00. Berdasarkan keterangan Hevin, salah satu buruh yang berkerja selama 5 tahun, para buruh diperkerjakan selama 12 jam, termasuk hari Sabtu dan Minggu. Di kedua hari yang semestinya dihitung lembur, dihitung sama sebagai hari biasa.

Perlakuan PT. Visindo yang tidak manusiawi tersebut tidak hanya sampai di situ, beberapa buruh lain yang tidak bersedia disebut namanya mengaku, beberapa kali terjadi kecelakaan kerja di PT.Visindo, seperti tangan seorang buruh yang terpotong, tidak diberi ganti rugi semestinya namun justru diberikan hadiah berupa PHK. Para buruh dirundung ketakutan untuk menuntut atau hanya sekedar menanyakan. Seiring dengan waktu, ketakutan itu akhirnya berganti dengan keberanian. Beberapa buruh PT.Visindo Pusat mulai mengkonsolidasikan diri dan disambut dengan PHK dari perusahaan yang dimiliki oleh Rian Bagansiapi-api tersebut. Kini bersama ABM Utara, beberapa buruh yang dipecat tersebut yakni: Satria Hevin, Suryadi dan Yosi berniat menggugat PT.Visindo Artaprinting selaku pelaku pelanggar HAM.

Pelajaran bagi gerakan buruh telah membuktikan bahwa perjuangan buruh tidak akan pernah berhasil tanpa adanya persatuan. Maka itu penting bagi perjuangan buruh dimanapun untuk menyatukan kekuatannya dengan buruh-buruh lainnya ataupun dengan sektor masyarakat lainnya. Terlebih di tengah situasi ekonomi politik yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat banyak, termasuk kaum buruh.

Oleh sebab itu, kami mengajak pada semua serikat buruh untuk bersolidaritas terhadap perjuangan kawan-kawan buruh PT.Visindo Artaprinting. Bagaimanapun persatuan buruh menjadi jalan keluar utama bagi persoalan buruh Indonesia saat ini, terlebih dalam situasi krisis global, dimana buruh tetap menjadi pihak yang dikorbankan demi keberlangsungan sistem Kapitalisme.



Layangkan Solidaritas anda

ke Aliansi Buruh Menggugat Jakarta Utara Telp/ fax: 021475881atau

ke Perempuan Mahardhika Telp/ fax: 0218297332, Dian (081804095097)

Serta Layangkan Protes anda

Ke PT. Visindo Artaprinting, jl. kamal indah komp pergudangan karya blk c/9
jakarta 11810, Jakarta
Nomer Telpon: 62-21-55951088. Nomer Faks: 62-21-55951089

PENDETA PAPUA BARAT MENOLAK UU ANTI PORNOGRAFI

Kesesatan Dalam Kesesatan

Selama ini kita semua menghormati, dan penghormatan setinggi-tingginya diberi pada peran dan pengabdian para hamba Tuhan ditengah umat. Sebab tugas dan tanggungjawab utama mereka mulia, yakni mengembalakan domba (baca, umat) yang tersesat. Tapi kali ini yang terjadi sebaliknya.

Bahwa rombongan hamba-hamba Tuhan datang jauh-jauh dari Papua Barat tujuannya bukan untuk menegakkan moral tapi menolak pengesahan UU anti pornografi. Tujuan mereka hanya satu menentang atau menolak UU pornografi dan pornoaksi yang disahkan DPR RI berdasarkan tiga SK Menteri. Jika tidak mereka mengamncam akan keluar dari NKRI, apa ini benar? Hanya para hamba-hamba Tuhan itu yang jujur bisa menjawabnya.

Tapi apa relevansinya dengan kebutuhan Rakyat Papua Barat dan tugas suci dan mulia dalam hal menjaga moralitas umat daerah pelayanan mereka? Apakah lebih significant mengurusi moralitas pejabat daerah Papua Barat dari korupsi, kolusi, dan nepotisme daripada datang jauh-jauh ke Ibukota Indonesia, hanya sekedar menolak UU anti pornoaksi/grafi? Kalau demikian adanya maka yang tersesat bukan umatnya tapi para gembala sendiri, para hamba Tuhan.

Aneh tapi nyata. Kenapa? Hamba-Hamba Tuhan Papua Barat tersesat dalam permainan elit politik, digiring, didatangkan ke Jakarta. Maka istilah bahasa yang pas buat mereka adalah bahwa "yang tersesat bukan dombanya tapi pengembalanya". Sebab para hamba Tuhan ke Jakarta bukan untuk tujuan mengurus tugas dan tanggunggjawab harian mereka selama ini. Tapi kebalikan dari tugas dan tanggungjawab sebagaimana selama ini mereka tekuni, melayani umat tersesat. Kali ini mereka keluar dari tugas suci itu, mereka menyesatkan diri di DPR RI Jakarta. Apa tujuan dan siapa yang menyesatkan mereka? Ini yang mau dianalisis berikut ini.

Rombongan Hamba-Hamba Tuhan datang jauh-jauh dari Papua Barat hanya sekedar menolak, memprotes UU anti pornografi dan pornoaksi yang disahkan mayoritas fraksi DPR RI berdasarkan oleh SK tiga Menteri. Entah mereka digiring oleh siapa tapi sampai mereka keluar jauh meninggalkan area wilayah pelayanannya dan dari habitat kodratnya sendiri disayangkan pihak yang melihat dan memandang secara kritis untuk itu. Sebab diketahui bersama selama ini bahwa seharusnya tugas utama dan tanggungjawab penuh mereka adalah memperbaiki moral para pejabat bukan di tunggangi kepentingan elit pejabat.

Oleh siapa dan darimana bisikan iblis, godaan nafsu duniawi itu, dan hasutan itu berhasil datang pada mereka, penting dan vokus sorotan tulisan ini tapi yang pasti mereka digiring, dibiayai, masuk wilayah bukan kandang domba, tapi masuk kandang hariamau. Para pelayan Tuhan keluar meninggalkan wilayah dan habitatnya sendiri. Mereka tidak lagi berdiri kokoh menjaga moralitas domba-domba tersesat (umat) tapi mulai memasuki wilayah politik praktis, wilayah secular, bukan wilayah yang selama ini ditekuni dan menjadi tugas suci-mulianya, melayani Tuhan.

Tugas mulia Hamba Tuhan yakni menjaga moralitas umat atau dengan bahasa lain menggembalakan domba. Tapi yang terjadi pada hamba Tuhan Papua Barat adalah memasuki wilayah politik praktis sekaligus pragmatis. Malah tidak ada sangkut pautnya dengan tugas dan tanggungjawab mereka menjaga moralitas umat. Sebagaimana tugas dan misan pesan utama semua agama dan ajaran nilai kebaikan dari agama manapun yang namanya sex bebas, pornografi, pornoaksi dan sejenisnya di larang oleh semua ajaran agama.

Tapi mengapa mereka menentang dan berusaha membatalkan, sampai mengancam memisahkan diri dari NKRI segala? Kenapa mereka tidak panggul salib, kitab suci Injil dengan atribut dan simbol agama turun jalan menggiring umat untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa Papua Barat yang terjajah adalah lebih baik dan bermanfaat bagi mereka, para hamba Tuhan, daripada sebaliknya? Seharusnya energi tugas dan tanggungjawab mereka keluarkan untuk menggalang massa guna menegakkan harkat dan martabat bangsa Papua Barat, daripada urus moralitas umat kristiani Indonesia yang luas. Mereka baiknya nurus Papua sendiri daripada sibuk mengurus rumah tangga orang lain, rumah tangga tetangganya?

Disinilah wilayah tersesatnya, mereka masuk kandang hariamau. Siapa yang menyesatkan mereka? Ini yang kita belum tahu tapi setidaknya ada beberapa kemungkinan berikut ini mau di raba-raba.

Pertama, mereka dibiayai oleh pemerintah Papua Barat sendiri yakni Ketua DPRD Papua Barat, Demianus Idji. Dalam kapasitas Ketua DPRD, Demianus Jimmy Idji memimpin para Hamba-Hamba Tuhan ini meninggalkan gembalannya datang ke Jakarta. Tujuannya bukan mau minta dialog untuk menegakkan harga diri dan martabat bangsa Papua di mata orang Jakarta yang menjajahnya tapi ini lain menistakan diri pada yang di jajahnya.

Kedua, Pemilihan Gubernur Papua Barat sudah dekat. Rakyat Papua Barat akan memilih Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Barat sebentar lagi, dan para elit politik mulai mengambil simpati kelompok moralis masuk akal sebagai legitimasi dan mengambil hati pemilih bagi dukungan-dukungan tertentu adalah hal biasa bagi politisi tingkat manapun. Disini Jimy Idji mengakomodasi para pendeta tapi bukan pada kepentingan hamba dan urusan vokus hamba Tuhan selama ini, yakni gembalakanlah umatku, tapi gembalakanlah kekuasaan duniawi yang kotor perspektif moralitas agama tertentu.

Ketiga, Pada saat kepentingan bersamaan bertemulah kepentingan Partai Politik pusat dalam menjelang dan momentum sama, pemilu dan Pilkada, sudah kloplah dan para Hamba Tuhan di giring masuk, tersesatkan di wiliyah ini, politik pratis dan pragmatis, yang duniawi. Mereka terjebak disana meninggalkan umat masuk dam menceburkan diri wilayah kotor.

Keempat, Pemilu dan kampanye resmi bulan Januari, artinya semua partai politik hanya menunggu beberapa minggu saja untuk kampanye pemilu 2009. Papua mayoritas kelompok aliran tertentu mudah dimanfaatkan oleh kepentingan lain itu.

Kelima, UU SKB tiga Menteri tentang Porno Aksi dan Pornografi itu jika diamati esensinya sama, bahwa semua kitab suci agama manapun setuju dengan SKB itu, yakni mencegah pelacuran, sex bebas dll, mendukung sepenuhnya tugas suci harian pendeta dan Ustadz dimimbar-mimbar selaku pengemban mandat moral selama ini.

Jika demikian maka siapa yang menggerakkan mereka? Ada kesan yang paling vocal menggolkan UU Anti Pornografi kelompok politik aliran di dalam KNRI di Senayan, PDIP dan PDS walk out dalam sidang pembahasan pengesahannya.

Tugas Suci Pendeta

Tugas suci para agamawan, dari agama apapun selama ini menjaga moralitas umat dan menjunjung harkat dan martabat manusia dari pelacuran, kemiskinan, penjajahan, pemerkosaan, penistaan oleh kekuasaaan duniawi, secular, yang kotor dan seringkali luput dan mengabaikan harkat dan perhitungan martabat manusia.

Karena itu hamba Tuhan dibutuhkan kehadirannya tengah umat. Mereka mendapatkan predikat istimewa dihati umat sebagai orang-orang yang berhati lurus, suci, yang menjauhkan diri dari hiruk-pikuk duniawi, mereka menjaga moralitas umat dari kerakusan, kesesatan, dan menjujung tinggi nama Tuhan diatas segal-galanya sebagai tugas mulia dan suci.

Tugas demikian diarahkan demi menegakkan harkat martabat manusia dimuka bumi oleh para Hamba Tuhan dan petugas agama lain tidak dipungkiri lagi. Namun yang demikian secara bertentangan dilakukan oleh para Hamba Tuhan dari Papua Barat kemarin ( Senin, 03 November 2008 | 22:46 WIB) adalah aneh tapi nyata. Seakan Pendeta setuju dengan Pornografi, Pornoaksi, seks bebas, dan hal-hal sejenisnya. Karena itu mereka tidak setuju dengan pemerintah pusat tapi tolak UU SKB tiga menteri tentang porno aksi dan pornografi.

Bukan Domba Tapi Gembala

Nah ini baru ada cerita, kenapa? Hamba-Hamba Tuhan Papua Barat tersesat di Jakarta. Yang tersesat bukan umat atau dombanya tapi pendetanya atau pengembalanya. Ramai-ramai para hamba-hamba Tuhan yang mengaku diri dari Papua Barat tersesat dan menyesatkan diri di DPR RI Jakarta. Tujuan apa dan siapa yang menyesatkan mereka?

Karena yang datang menentang, menolak ke Jakarta agar UU anti pornoaksi/grafi tidak disahkan oleh DPR RI, --kalau memang benar UU anti pornografi itu merugikan dari sudut pandang teologi kristiani dan rasa religiusitas mereka terganggu oleh karenanya dari pro dan pendukung UU SK tiga menteri itu-- bukan oleh Pendeta Tanah Karo, Danau Toba, Mentawai, Dayak, Toraja, Menado atau Maluku Tenggera dan NTT, tapi ini Papua Barat.

Mereka datang jauh-jauh dari suatu daerah, sebuah wilayah cikal bakal nation, dalam masa dimana para hamba Tuhan perannya caracter boulding dan spirit moral, masih compang-camping dibutuhkan disana, mereka jauh-jauh sibuk mengurus bukan urusannya dan haknya. Padahal mereka wajib dan daerah pelayanan Papua Barat harus diurus dengan panggul salib turun ke jalan memimpin umat, menentang, porno aksi, sex bebas, minuman keras, pelacuran dll penindasan Jakarta tapi melegalkan pornografi adalah aneh bin ajaib para hamba Tuhan Papua Barat ini.

Sebab yang sesat bukan domba-dombanya (umatnya), tapi penggembalanya sendiri yang tersesat. Gawat memang! Ini bukan cerita "mob" Papua, tapi kejadian nyata. Yang sesat bukan umat yang digembalakan tapi gembalanya sendiri. Bukan main para rohaniawan ini. Soal dan kepentingan orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan kebutuhan dirinya mereka meninggalkan kampung halaman jauh-jauh di Papua Barat sana dan rela meninggalkan anak isteri datang ke Jakarta berhari-hari. Apa apa? Mereka tidak tahu diri, tangungjawabnya, tapi untuk kepentingan lain mereka sangat bersemangat.

Ada apa dengan mereka? Mereka datang jauh-jauh dari Papua Barat, Sorong, Manukwari dan sekitarnya. Konon mereka datang ingin ketemu DPR RI dan lagi katanya dengan Presiden RI. Bukan mengurus moralitas para koruptor dan penghisab darah dan keringat umat tapi sebaliknya ditunggangi dan dibiayai koruptor, didanai, digerakkan dan ada uang oleh kekuasaan. Kalau tidak, bisakah mereka datang jauh-jauh ke Jakarta?

Betapa tidak! Yang tersesat bukan domba-domba- nya, tapi penggembalanya sendiri. Para pengembala tersesatkan oleh sebuah kepentingan pragmatisme elit politik tertentu yang di gerakkan oleh Partai Politik yang suka menyimbolkan dengan simbol-simbol sektarian di tingkat nasional. Para Pendeta kita dari Papua Barat masuk dalam perangkap permainan elit politik ditingkat nasional RI.

Tugas Pendeta harusnya mengembalakan domba-domba yang tersesat tapi ini yang terjadi adalah pendetanya sendiri yang tersesat. Kalau begini bagaimana Papua mampu membebaskan dirinya merdeka, kalau para hamba Tuhannya sendiri tersesatkan oleh kepentingan elit politik Papua Barat dan di permainkan oleh sebuah Partai Politik bersimbol sektarian?

Kehadiran hamba-hamba Tuhan (baca Pendeta-Pendeta), Papua Barat yang di kooordinir oleh ketua DPRD-nya sendiri, Demianus Idji adalah sebuah kesesatan yang orientasinya penggiringan opini pemerintah daerah untuk mencapai target tertentu si penggiring. Sebab agenda Pilgub Papua Barat waktunya tinggal sedikit lagi. Demianus Idji punya target sendiri dalam hal pengiringan hamba-hamba Tuhan datang digiring sampai di Jakarta. Apa tujuannya, memenangkan pemilihan Gubernur Papua Barat dan Pemilu tahun 2009.

Bersambung

Pengantar Psikologi Transpersonal



Indonesia penuh dengan kepercayaan akan paranormal yaitu tokoh-tokoh yang dipercayai memiliki kemampuan luar biasa seperti mengetahui masa depan (prakognisi), membaca pikiran orang lain (telepati) dan menggerakkan benda-benda di luar tubuhnya melalui pikiran (telekinesis) bahkan berkomunikasi dengan makhluk-makhluk gaib berupa roh orang mati atau jin. Semua pengalaman ini bagi tradisi mistisisme justru dianggap sebagai pengalaman sampingan dalam perjalanan untuk mencapai pangalaman mistik sejati yang disebut dengan nama unio mystica di kalangan mistisisme kristen, makrifat dikalangan sufisme agama Islam, moksha di kalangan Yogi agama Hindu, sunyata di kalangan Bodhisatwa agama Budha.

Tentu saja semua kepercayaan itu dianggap tahayul non-ilmiah di kalangan ilmuwan modern. Namun, pada akhir abad keduapuluh muncul sebuah mazhab psikologi yang disebut psikologi transpersonal yang mencoba mengawinkan psikologi modern yang mempelajari orang-orang normal dengan psikologi tradisional yang juga mepelajari pengalaman paranormal orang-orang yang mencari kesatuan dengan Realitas yang Mutlak seperti para kabalis Yahudi, mistikus Kristen, sufi Islam dan yogi Hindu. Psikologi transpersonal ini muncul sebagai kelanjutan dari gerakan potensi manusia seutuhnya di tahun 70-an.

Gerakan ini bermula dengan pengalaman-pengalaman luar biasa para hippies pencetus revolusi kebudayaan Amerika di tahun 60-an. Para hippies yang menolak kemapanan itu melakukan proses kembali ke alam meninggalkan kehidupan modern dan mengikuti kehidupan primitif suku Indian yang para dukunnya gemar mencari kebenaran dengan menghisap jamur-jamur halusinogen yang membuat halusinasi yang dianggap sebagai kebenaran. Mereka bereksperimen dengan zat halusinogen bernama LSD yang disintesakan secara kimiawi oleh seorang kimiawan pegawai pabrik obat Sandoz di Bazel Swiss, bernama Albert Hoffmann, di tahun 1943.

Sementara itu di Cekoslowakia di tahun 50-an sedang dilakukan penelitian pengobatan orang sakit jiwa dengan menggunakan zat-zat psiko-aktif di antaranya adalah asam lisergik dietilamid alisas LSD. Salah seorang dokter muda pada waktu itu bersedia menjadi kelinci percobaan untuk memakan LSD dengan dosis sangat kecil. Dokter itu adalah Stanislav Grof yang kemudian bersama-sama Abraham Maslow pendiri mazhab psikologi Humanistik mendirikan Asosiasi Psikologi Transpersonal Amerika yang sayangnya tidak diakui sebagai anggota dari Perkumpulan Psikologi Nasional Amerika.

Menarik untuk disimak adalah pengalaman-pengalaman sang dokter muda Grof ketika mengikuti eksperimen mengkonsumsi zat psikoaktif LSD di Praha pada waktu komunis sedang berkuasa sebagai rezim totaliter di kala itu. Ketika sedang berada dalam pengaruh obat bius itu, dia merasa rohnya keluar tubuhnya terbang melayang keluar bumi menuju ruang angkasa bebas dan menyaksikan berbagai ledakan bintang-bintang yang kemudian dikenal sebagai ledakan supernova.

Pengalaman itu sangat luar biasa sehingga tak mungkin dilupakannya. Karena tak mungkin diterima oleh paradigma materialisme dialektik yang dominan di universitasnya pada waktu itu, maka dia mengklasifikasikan catatan-catatan mengenai pengalamannya itu sebagai pengalaman transpersonal dan menyimpannya secara pribadi. Begitulah, ketika dia mendapat kesempatan berbicara dalam sebuah seminar di Amerika Serikat dia melaporkan pengalaman transpersonal dirinya yang juga dialami oleh pasiennya. Dokter-dokter di Amerika Serikat pun tertarik dan memberinya kesempatan untuk riset di negeri adikuasa tersebut

Sayangnya, ketika dia mulai menjalankan risetnya, LSD justru dilarang di Amerika Serikat dan dikategorikan sebagai narkoba yang mempunyai efek genetik yang membahayakan. Maka, dia pun mencari metoda baru untuk mencapai kesadaran-kesadaran alternatif dan menemukannya dalam bentuk sebuah teknik pernafasan yang disebutnya pernafasan holotropik. Ternyata pernafasan holotropik dapat menghasilkan pengalaman-pengalaman luar-biasa yang biasanya dialami oleh para mistikus, sufi dan yogi serta para shaman alias dukun-dukun diberbagai suku primitif dunia dan juga, belakangan, oleh para hippy pemakai LSD. Namun sayangnya, alih-alih menjadikan metodenya sebagai salah satu alat baku untuk psikoterapi, dia menjadikannya sebagai bisnis pengalaman alternatif yang menjanjikan.

Stanislav Grof dan kawan-kawannya telah mendirikan Asosiasi Psikologi Transpersonal Amerika Serikat bahkan kemudian juga ikut mendirikan Asosiasi Psikologi Transpersoanal Internasional. Dengan demikian sebuah revolusi telah terjadi. Timur dan Barat menyatupadu da;am lahirnya psikologi transpersonal. Kendati di negeri tempat lahirnya, Amerika Serikat, psikologi transpersonal tidak diakui sebagai cabang yang absah dari psikologi modern, di negeri-negeri lain di Eropa dan Amerika Latin psikologi transpersonal justru diterima sebagai cabang psikologi modern.

Salah seorang profesor filsafat dari Indiana University di kota South Bend di Amerika Serikat, Michael Washburn menggunakan perspektif psikoanalisis untuk memasukkan psikologi tradisional Timur ke psikologi modern Barat. Caranya, adalah dengan mengajukan konsep Energi Asal Yang Dinamis, Kreatif dan Spontan sebagai sumber dari energi psikhis libido individu manusia yang tersempal dan terasing dari sumbernya. Keterasingan atau alienasi ini akan teratasi jika manusia mengatasi egonya dan bergabung kembali ke Energi Asal itu. Proses kembali ke energi asal itu tak lain dari proses meditasi yang diajarkan oleh tradisi mistik Timur. Pandangan Washbun ini adalah wajah modernis dari proses integrasi psikologi modern dan psikologi tradisional dalam psikologi transpersoanal. Dalam hal ini, yang tradisional ditelan oleh yang modern. Pandangan seperti ini tentu saja ditentang oleh pemikir-pemikir posmodernis yang menganggap psikologi tradisional setingkat dengan psikologi modern.

Mungkin lebih tepat jika kita melakukan penggabungan secara posmodernis di mana psikologi yang modern dan yang tradisional secara bebas menjadi psikologi yang posmodern. Dalam kerangka pemikiran posmodern inilah, Profesor Jorge Ferrer dari California Institute of Integral Studies di San Francisco, mengajukan teorinya tentang spiritualitas partisipatif. Ferrer, mengajukan sebuah wawasan psikologis integratif di mana semua tradisi spiritual agama-agama dunia boleh berkembang berdampingan sebagai jalan kembali ke Sumber Energi Cerdas sebagai Asas Terdasar bagi Kehidupan dan Realitas yang disebut Ferrer sebagai Misteri. Dalam pandangan Ferrer, Misteri itu bekerja dalam dua bentuk energi yaitu Energi Gelap dan Energi Kesadaran, bagaikan Im dan Yang dalam tradisi Taoisme di Cina. Energi Gelap itu bersifat padat, tanpa bentuk dan tak terbeda-bedakan, sedangkan Energi kesadaran bersifat halus, bercahaya dan beraneka ragam. Permainan kedua energi itu menghasilkan evolusi jagat raya yang dilanjutkan oleh evolusi kehidupan dan berakhir pada evolusi peradaban manusia yang berujung pada keanekaan kehidupan beragama yang ada di muka bumi

Pandangan pluralistik posmodernis ini tak disukai oleh Ken Wilber, yang kini juga tidak lagi suka pada nama psikologi transpersonal, dan mengganti nama psikologi baru itu dengan nama "psikologi integral." Ken Wilber sendiri, seorang ahli kimia yang membelot ke psikologi, sebenarnya mulai populer setelah di tahun 1980 menerbitkan buku "The Atman Project" dengan subjudul "A Transpersonal View of Human Development." Dalam pandangan Wilber di kala itu, pengembangan spiritual agama-agama tradisional mistik Timur adalah kelanjutan dari perkembangan kejiwaan yang dipelajari oleh psikologi modern seperti behaviorisme, psikoanalisis, psikologi kognitif dan psikologi humanistik. Dia pun mensintesakan mazhab pertama (behavorisme), mazhab kedua (psikologi dalam), mazhab ketiga (psikologi humanistik) dengan psikologi tradisional timur dalam mazhab keempat psikologi yaitu psikologi transpersonal.

Namun pemikiran Ken Wilber, terus berkembang. Mulanya dia mengganti nama psikologi transpersonal menjadi psikologi integral. Kemudian dia memperluas pemikiran integralnya menjadi pandangan filosofis yang disebutnya sebagai integralisme universal, pada tahun 2000, di mana perkembangan psikologi dilihat sebagai buah dari perkembangan sosiologi (sejarah peradaban) yang pohonnya adalah sejarah perkembangan biologi (evolusi) yang tumbuh di tanah yang terolah melalui evolusi kosmologi (dari Dentuman Besar hingga pengembangan alam semesta. Maka kini pun dia melihat perkembangan psikologis hanya merupakan satu kuadran dari evolusi spiritual yang integral. Kuadran-kuadran lainnya adalah sains, budaya dan masyarakat. Teori pos-metafisik yang disebutnya AQAL (All Quadrants All Levels) itu dipromosikan oleh lewat Integral Istitute yang dibentuknya di Amerika Serikat.

Filsafat Ken Wilber disebut Integralisme Universal mengingatkan pada pemikiran saya yang dibukukan kira-kira lebih dari duapuluh tahun yang lalu dengan judul "Integralisme" dengan subjudul "sebuah Rekonstruksi Filsafat Islam." Filsafat Integralisme itu adalah upaya merumuskan kembali filsafat Islam dalam peristilahan yang lebih bisa dipahami oleh orang-orang di zaman serba komputer ini. Menurut integralisme semua realitas, termasuk manusia, terdiri dari dua sisi: esensial dan eksistensial. Sedangkan sisi eksistensial terdiri dari empat lapis substansi yang dikenal sebagai materi, energi, informasi dan nilai-nilai dalam urutan seperti itu. Urutan seperti ini sebenarnya telah lama dikenal dalam tradisi pemikiran Islam: fikih, tasawuf, filsafat dan ilmu kalam.

Tradisi tasawuf, misalnya, melihat di antara ruh (esensi) dan tubuh (sarana materi) terdapat nafsu (penyalur energi) dan akal (pengolah informasi) dan kalbu atau hati nurani(wahana nilai-nilai). Dalam bahasa anak sekarang, tubuh itu ibarat motherboard dan prosesor komputer, nafsu adalah catudaya atau power supply nya, akal adalah sistem operasi seperti Windows dan kalbu itu ibarat program aplikasi. Nah dalam metafor komputer ini, ruh adalah pemrogram atau pemakai komputer. Tanpa pemrogram atau pemakainya, komputer itu adalah benda mati yang tak berguna. Begitu juga tanpa ruh, tubuh hanya bergerak diprogram bagaikan robot oleh informasi-informasi yang kita peroleh di rumah, di sekolah, di kantor dan di pasar bebas informasi media massa

Dalam bahasa psikologi, tubuh adalah ketidaksadaran yang perilakunya dibentuk oleh mekanisme pengkondisian behaviorisme, nafsu adalah kebawahsadaran libido yang diungkap mekanisme penyalurannya oleh psikoanalisis, akal adalah ego yang proses dan strukturnya diteliti oleh mazhab psikologi kognitif dan kalbu adalah keatassadaran hatinurani yang eksistensinya dipelajari oleh psikologi humanistik. Sedangkan pengalaman-pengalaman ruh itulah yang dipelajari oleh psikologi transpersonal. Ruh adalah kepuncaksadaran manusia. Itulah sebabnya integralisme Islam dapat juga digunakan sebagai landasan pemahaman psikologi transpersonal. Jika dibebaskan dari terminologi Islam, maka Integralisme Islam pada hakekatnya dapat dipahami secara universal. Soalnya Islam adalah agama universal sebagai rahmat bagi sekalian bangsa.

Seperti integralisme universal Ken Wilber, integralisme Islam juga melihat individu adalah bagian dari keseluruhan-keseluruhan yang melingkunginya secara berlapis. Lingkungan-lingkungan itu adalah peradaban manusia yang sosial, lingkungan hidup yang universal dan alam akhirat yang transendental dan kekuasaan Ilahi integral yang merupakan Maha Pencipta alam-alam itu: Rabb al-'Alamin. Dalam bahasa psikologi, lingkungan-lingkungan itu adalah lingkungan yang transpersonal. Inilah dimensi transpersonal mendatar alias horisontal, dari yang insani ke yang Rabbani, yang harus diintegrasikan dengan dimensi transpersonal menegak atau vertikal dari yang material ke yang spiritual. Integrasi ganda ini merupakan proses psikologis transpersonal menuju pribadi seutuhnya yang berguna bagi masyarakat seluasnya, serasi dengan lingkungan hidup seluruhnya dan selaras dengan nilai-nilai transendental yang bersumber dari Yang Maha Pencipta dan Maha Penguasa segalanya.

Adanya perjenjangan kesadaran itu sebenarnya bukanlah ada dalam tradisi peradaban Islam belaka. Ken Wilber, misalnya, dalam tabel yang dilampirkan bukunya The Atman Project, menunjukan adanya kesejajaran antara konsep hirarki internal vertikal itu dalam psikologi tradisional Timur (seperti Hindu, Budha dan Taoisme) dan Timur Tengah (Yahudi, dan Kristen). Pandangan ini diwarisnya dari tradisi filsafat perenialisme yang menganggap adanya kesatuan transendental semua agama-agama. Bahkan, sebelum dia menamakan filsafatnya sebagai integralisme universal, dia menyebut filsafatnya sebagai neo-perenialisme. Embel-embel neo diletakkannya, karena berbeda dengan filsuf-filsuf perenial yang mendahuluinya, Ken Wilber menerima evolusi biologi Darwin dan menganggapnya sebagai bagian dari evolusi spiritual yang lingkupnya meliputi seluruh alam semesta dan manusia di dalamnya. Itulah sebabnya dia meletakkan perkembangan psikologis sebagai evolusi personal, yang psikospiritual, paralel dengan evolusi peradaban yang sosiokultural. Dalam hal ini integralisme universal serasi dengan integralisme Islam.

Itulah sebabnya psikologi transpersonal harus didampingi dengan sosiologi transpersonal yang melihat peradaban manusia berkembang secara integral pula. Tampaknya memang begitulah adanya. Bukankah peradaban manusia bermula dengan revolusi pertanian yang menyangkut pangan yang material diikuti oleh revolusi industri menyangkut pemanfaatan energi oleh mesin-mesin dan akhirnya ditutup oleh revolusi informasi yang memanfaatkan informasi melalui komputer dan jaringannya yang mengintegrasikan teknologi informasi dan teknologi komunikasi dalam jaringan telematik global bernama internet. Jika kita seorang integralis maka kita akan melihat bahwa ketiga revolusi itu akan diikuti oleh revolusi nilai-nilai. Tampaknya kita memang sedang berada dalam era revolusi nilai-nilai. Protokol Kyoto dan Peta Jalan Bali menunjukkan bahwa revolusi nilai-nilai itu sedang dirintis. Yang diperlukan selanjutnya adalah penyusunan protokol dan institusi kerjasama antar agama untuk menyelamatkan manusia di alam dunia ini, bukan hanya di alam akhirat. Semoga kita semua bisa menyadarkan pentingnya revolusi nilai-nilai ini melalui penyadaran adanya paralelisme esoteris di dasar agama-agama dunia melalui pengembangan dan pemasyarakatan psikologi transpersonal. Insya Allah begitulah adanya.

Amin, ya Rabbal Alamin.

Armahedi Mahzar