|Call Center NTMC POLRI (Kode Area) "500669" atau SMS "9119", Darurat Kamtibmas Telp 110 (dari Telkomsel) atau 021-110 (dari selain telkomsel)|

A+ per detik

Uneg-uneg: Transmigrasi Indonesia, menyengsarakan

Saya dan beberapa teman hari Minggu kemarin meninjau suatu lokasi areal di pulau Mandul, 45 menit berperahu speed dari pulau Tarakan. Pulau Mandul lebih luas sedikit dibanding pulau Tarakan tetapi penduduk masih jarang sekali. Kami masuk ke areal yang masih berupa hutan mengendarai sepeda motor ojek, melalui jalanan tanah liat yang parah. Jika hujan pasti licin tidak bisa dilalui kendaraan apapun.
Alangkah terkejut kami, ternyata ditengah hutan itu ada pemukiman transmigrasi sebanyak dua satuan pemukiman (SP). Jadi sekeliling perkampungan transmigrasi itu berupa hutan belantara! Atau tepatnya hutan belantara dibotakin lalu transmigran disuruh tinggal disitu! Kami lihat tidak ada tanaman berarti yang dapat menunjang kehidupan penghuninya. Kebun yang disediakan dibelakang pemukiman telah berubah jadi hutan kembali. Di jalan sekali-sekali bertemu warga yang sedang pulang dengan mengangkut rumput diatas kepala, untuk makanan sapinya yang digaduh dari dinas peternakan. Dari percakapan singkat diketahui mereka dari Jawa, ada yang dari Banyuwangi, juga dari Jombang.
Menurut orang yang mengantar kami, warga trans itu terutama ibu-ibunya harus berjualan ke pasar setiap jam 5 pagi berjalan menuju kampung terdekat yang jaraknya 10 km. Entah apa yang dijual, katanya sih sayuran dan hasil kebun. Berapa hasil jualan itu? Paling sekitar 15 ribu, kata pengantar kami. Pulangnya mereka membeli ikan dsb. untuk dijual ke tetangganya. Bayangkan mereka berarti harus berjalan 20 km setiap hari pulang pergi. Tidak ada kendaraan umum disana, mobil tidak ada, sepeda motorpun hanya beberapa buah saja yang punya. Entah bagaimana anak-anaknya yang harus bersekolah ......
Apa yang berkecamuk di fikiran kami adalah, bagaimana pemerintah kita dengan program transmigrasi ini. Untuk menyejahterakan atau menyengsarakan rakyatnya?
Teman seperjalanan yang kebetulan pernah tinggal di Malaysia bilang, kalau cara Malaysia membantu rakyat semacam ini jauh lebih bagus. Disana disebut program Peneroka. Areal dipersiapkan dulu secara matang, baik sarana dan prasarana. Juga kelapa sawit ditanam pemerintah terlebih dahulu baik-baik hingga siap dipanen barulah para peneroka di bolehkan menempati tanahnya. Rumah yang disediakan bagus, juga fasilitas kesehatan dan infrastruktur lainnya. Jadi para peneroka itu tinggal memelihara tanaman sawitnya dan memanen hasilnya. Tidak harus menjalani siksaan kesengsaraan terlebih dahulu dan sudah jelas punya sumber penghasilan. Hasil panen itu dipungut pemerintah sekian persen saja.
Melihat perbandingan itu kita hanya geleng kepala. Transmigrasi kita hanya menyengsarakan rakyat, atau memang sengaja memindahkan kemiskinan saja? Sampai kapan program penyengsaraan ini tetap dilakukan? Apa tidak ada perbaikan systemnya? Teman itu nyeletuk, ah .... orang pemerintah, tahu sajalah.

Salam,
Dnjaya

1 komentar:

  1. mari bersama tuntut soal kawasan transmigrasi sebagai kawasan kota terpadu yang lengkap infrastrukturnya.

    BalasHapus