|Call Center NTMC POLRI (Kode Area) "500669" atau SMS "9119", Darurat Kamtibmas Telp 110 (dari Telkomsel) atau 021-110 (dari selain telkomsel)|

A+ per detik

LPM 2009, EKSPLORASI KAIN INDONESIA

_______
Tahun ini merupakan kebangkitan dari Batik Indonesia. Munculnya kebanggaan atas warisan bangsa ini dipicu oleh negara tetangga yang beberapa saat lalu melakukan klaim atas Batik sebagai budaya Melayu. Munculnya kesadaran atas warisan budaya saja tidaklah cukup, perlu adanya terobosan agar budaya kita menjadi relevan kembali ke generasi muda.


"Diperlukan munculnya desainer muda yang melakukan inovasi atas budaya, warisan dan tradisi, karena merekalah yang memahami semangat zaman, dan dari merekalah lahir sesuatu yang baru." Demikian disampaikan Andi S. Boediman, seorang Creative entrepreneur menanggapi penyelenggaraan Lomba Perancang Mode 2009.

Sebagai inpirator industri kreatif di Indonesia, Andi juga sependapat jika dari busana dapat memunculkan nasionalisme, namun demikian, para desainer muda hendaknya tak melulu berkutat pada eksplorasi Batik yang sudah ada, masih banyak hal berciri khas Indonesia dapat diangkat melalui fashion.

_______



Setelah melalui seleksi ketat, 10 calon desainer telah terpilih sebagai finalis dalam lomba fashion design prestisius, Lomba Perancang Mode Femina Group 2009 (LPM 09). Lomba ini merupakan bagian dari Jakarta Fashion Week 09/10 (JFW 09/10) yang akan berlangsung pada 14-20 November 2009 di Pacific Place, Jakarta. Jakarta Fashion Week 09/10, yang tahun ini dipersembahkan oleh Bank BRI, merupakan fashion week utama di Indonesia yang memberikan arahan fashion Indonesia dan memeragakan bakat dan kreativitas desainer fashion Indonesia.

Tema lomba kali ini adalah Eksplorasi Kain Indonesia. Menurut Zornia Devi, Ketua Pelaksana Lomba Perancang Mode 2009, pemilihan tema ini didasari pemikiran bahwa tanah air kita ini kaya akan beragam kain tradisional, namun yang terangkat baru batik saja. “Upaya eksplorasi kreatif dari desainer muda akan membuat kain Indonesia terus dikenal dan dimanfaatkan di masa mendatang, serta menjadi elemen fashion global,” kata Zornia. Untuk menjaring bakat-bakat baru, panitia LPM telah membuka pendaftaran sejak Mei 2009 lalu dan mengadakan road tour ke beberapa sekolah mode, seperti ESMOD, LaSalle College, LBTP Susan Budihardjo dan Phalie Studio.

Tahun ini panitia berhasil menjaring 202 peserta. Setelah melalui tahap penjurian awal, terpilihlah 20 semifinalis yang telah mempresentasikan konsep rancangan di depan dewan juri pada Selasa, 15 September 2009. Para semifinalis ini harus mewujudkan satu desain yang telah dipilih juri berdasarkan desain dan tingkat kerumitan pembuatannya. Hasilnya, mereka berhasil mewujudkan karya desainnya menjadi karya yang inovatif dan mengundang decak kagum. Sepertinya, hanya di ajang ini bisa ditemukan kain songket Makassar sebagai gaun 2-in-1, kain sarung bergaya kimono, kain lurik model ponco, sampai modifikasi kain tenun Bali yang membawa kesan mewah pada busana yang diciptakan.

Karakteristik yang sangat terlihat pada desain peserta adalah karya-karya yang sangat kreatif dan berani keluar dari kebiasaan. “Rata-rata usia para peserta yang relatif muda mungkin membuat mereka lebih terekspos perkembangan industri fashion dunia. Kedekatan mereka dengan lingkungan pop culture juga ikut mempengaruhi karya-karya mereka,” kata Petty S. Fatimah, pemimpin redaksi Femina, yang juga duduk di kursi Dewan Juri. Rata- rata peserta LPM tahun ini adalah 23 tahun, relatif lebih muda dari tahun-tahun sebelumnya. Selain Petty S. Fatimah, dewan juri tahun ini terdiri atas Sebastian Gunawan (desainer), Taruna K. Kusmayadi (desainer, Ketua APPMI), Ninuk Pambudy (redaktur senior Kompas) dan Timur Angin (fashion photographer).

Dewan Juri menilai hasil rancangan para semifinalis berdasarkan kreativitas, orisinalitas, daya pakai, dan daya jual. Tambahan penilaian yang mesti direbut oleh para semifinalis adalah penampilan wujud rancangan dan konsep rancangan ketika dikenakan oleh model.

Setelah melalui diskusi yang panjang dan pelik, terpilihlah 10 Finalis LPM 2009 sebagai berikut (Red: Nama desainer, usia, domisili, sekolah mode, tema koleksi):

1. ALBERT GARRY YANUAR, 24, Jakarta, ESMOD – Percampuran Budaya
2. BETHANIA AGUSTHA TAMSIR, 19, Tangerang, ESMOD – Mood Swing
3. DENISE KRISTI TRISNA, 25, Jakarta, Susan Budihardjo; Abinieri Ang – Contradictive
4. ELIZABETH MYRA JULIARTI, 33, Jakarta, ESMOD – Culture Rocks!
5. GALIH PRAKARSA, 19, Jakarta, Susan Budihardjo – Mahadewata
6. IMELDA KARTINI, 23, Jakarta, ESMOD – Impossible-Possible
7. KURSIEN KARZAI, 29, Jakarta, Interstudy – Save The Forest
8. REVIANSYAH AL HAMIDI, 22, Jakarta, ESMOD – Papua Nugini’s Gold
9. VINORA NG, 20, Jakarta, ESMOD – Edito
10. VONNY CHYNTHIA KIRANA, 22, Jakarta, ESMOD – Indonesian Beauty

Walaupun hasil yang masuk sangat memuaskan, namun secara keseluruhan masih tersisa tantangan besar untuk sekolah mode dan media untuk memperkenalkan kain-kain khas Indonesia secara lebih konsisten kepada generasi muda. “Meski secara ide sangat menarik, masih banyak peserta yang memiliki konsep yang belum matang. Pengetahuan mereka tentang kain Indonesia relatif belum banyak,” kata Petty S. Fatimah.

Kini Lomba Perancang Mode 2009 kian mendekati babak menegangkan, karena kesepuluh finalis akan berlaga di malam final pada 19 November 2009. Pemenang akan meraih kesempatan menuntut ilmu di sekolah mode bergengsi, yaitu Fashion Institute of Design & Merchandising, Los Angeles, Amerika Serikat. Mereka juga akan mengikuti kesuksesan para alumni LPM, seperti Carmanita, Chossy Latu, Edward Hutabarat, Itang Yunasz, Musa Widyatmojo dan Denny Wirawan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar