|Gangguan KAMSELTIBCAR LALU LINTAS hubungi Call Center NTMC POLRI (Kode Area) "500669" atau SMS "9119", Darurat Kamtibmas Telp 110 (dari Telkomsel) atau 021-110 (dari selain telkomsel)|

A+ per detik

Tajuk Suara Karya: 39 Tahun Kami Mengabdi

Kamis, 11 Maret 2010

HARI ini, Harian Umum Suara Karya agak tampil beda dibanding hari-hari sebelumnya. Di halaman utama (I) kami menampilkan satu artikel (berita) komentar dari berbagai kalangan-tokoh politik, pemerintah, pelaku dan pengamat ekonomi, pasar modal, sampai pada mereka yang bergelut di bidang olahraga, hiburan, dan lainnya-tentang penilaian mereka terhadap Suara Karya. Ini sengaja kami lakukan guna menampung berbagai komentar berkaitan dengan genap 39 tahun Suara Karya berkiprah di dunia media massa.

Ucapan selamat secara lisan beberapa hari terakhir terus mengalir. Sejak kemarin karangan bunga pun berdatangan ke kantor (Redaksi dan Bidang Usaha) Suara Karya di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta. Dan berbagai rekanan, perusahaan milik negara, perusahaan swasta, dan organisasi kemasyarakatan juga memberikan ucapan selamat dalam bentuk pemasangan iklan ucapan selamat ulang tahun di koran ini.

Sejak berkiprah di dunia informasi mulai 11 Maret 1971, Suara Karya telah melalui berbagai musim (era). Dalam 39 tahun mengabdi, sejalan dengan pergantian kepemimpinan negeri-mulai dari era Presiden Soeharto, kemudian BJ Habibie, Gus Dur, Megawati Soekarnoputri, dan kini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono-harian ini telah mengalami dan merasakan turun naiknya politik, ekonomi, dan lainnya. Pernah berada di puncak kejayaan, kemudian terhempas akibat dampak deraan resesi ekonomi 1997-1998.

Tapi kini-setelah sempat melalui perawatan intensif di "Ruang ICU", terseok-seok dihantam badai kebebasan persaingan media massa memasuki era reformasi-Suara Karya masih bisa bernapas lega. Kepercayaan yang masih tumbuh dari rekanan, instansi pemerintah dan swasta, organisasi kemasyarakatan, kalangan politik, serta para pembaca setia, membuat Suara Karya bisa bertahan.

Koran ini tidak ikut tergulung ombak reformasi, mati tertelan masa seperti dialami banyak media massa termasuk yang baru muncul terdorong euforia menyambut kebebasan pers dan penerbitan media massa. Tapi jangan dikira kami bisa lolos dari "maut" dengan mudah, tetapi melalui perjuangan amat berat dan terseok-seok. Bahkan sebagian besar dari "awak" media ini sempat berada di tubir keputusasaan.

Suara Karya bisa bertahan berkat ketabahan dan pemikiran yang matang. Sangat hati-hati menyikapi "hura-hura" berlebihan banyak pihak dalam menyikapi reformasi. Agar tak ikut tergilas, seperti kebanyakan media massa lain, Suara Karya melakukan perubahan paradigma dalam pemberitaan, terutama dalam penyajian informasi yang harus seaktual mungkin, faktual. Semua disajikan secara kritis, objektif, proporsional, dan independen. Tidak hanya sumber-sumber berita, elite berbagai partai, tokoh masyarakat yang mendapat tempat di media ini, tetapi para penulis dari "aliran" mana pun bebas berpendapat di Suara Karya. Tak ada sumber dan penulis yang "dicekal".

Hasilnya tidak sia-sia. Upaya yang dilakukan membuahkan hasil. Berita-berita yang disajikan-meski tak jarang membuat kuping pemerintah atau yang menjadi sasaran pemberitaan memerah-ternyata disenangi banyak kalangan. Bahkan kerap pula berita-berita Suara Karya dinilai sangat pedas, namun penuh tanggung jawab dan masih dalam batas toleransi.

Sebagai media massa, Suara Karya menemukan perannya, ikut memengaruhi pendapat masyarakat dalam segala hal, terlebih dalam bidang politik, ekonomi, dan hukum. Koran ini bisa tampil menjadi referensi bagi para pengambil keputusan di lingkungan pemerintahan, politik, profesional, pengelola BUMN, pimpinan daerah, tokoh masyarakat, mahasiswa dan lainnya. Karena merasa masih diperlukan, maka ke depan Suara Karya akan terus berjuang agar tidak mengecewakan. Kami berterima kasih atas kepercayaan hingga saat ini. Semoga hari esok semakin cerah.***

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=248397

1 komentar: