Jakarta Tanggap COVID-19

Data Pemantauan COVID-19 Nasional dan DKI Jakarta

21 Januari 2020 sampai hari ini
Personal Branding Pilkada/Pileg, Kehumasan (PR), Media Management Issue, Monitoring Media >> mahar.prastowo@gmail.com

Gempar Semarak Lebaran TMII Targetkan 300ribu Pengunjung



-Tampilkan "Keong Racun" sampai Mumi Fir’aun-

“Kami gunakan pencapaian target tahun lalu, 300ribu pengunjung, untuk target minimal tahun ini. Kami yakin akan tercapai, syukur lebih, dengan tampilnya artis-artis dan band yang sedang ngetop serta berbagai atraksi unik. ” –Ade F. Meliala, Direktur Operasional Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Dalam rangka menyambut Lebaran tahun 2010, TMII menggelar program Gempar Semarak Lebaran yang selama libur lebaran tanggal 10-19 September, diisi berbagai kegiatan seperti pameran, bazar, pertunjukan musik, pergelaran kesenian tradisional, dan pergelaran kebudayaan daerah.

Tema Gempar Semarak Lebaran 2010 ini sesuai dengan keragaman acara yang disediakan oleh TMII, seperti pertunjukan musik, pameran kontemporer dan atraksi kesenian daerah di masing-masing anjungan.

Untuk pertunjukan musik, ada dua panggung utama yang akan menjadi pusat kegiatan konser music, yakni di panggung KTT Non Blok dan Panggung Graha Widya Patra. D’Masiv adalah salah satu Band papan atas yang akan membuat semarak, disamping artis-artis Dangdut top Ibukota. Artis-artis Dangdut yang ditampilkan adalah Anisa Bahar, Nita Thalia, Yuni Kartika, Trio Cakar Elang, duo Cobra, Soneta femina, New Trio Macan dan Lisa Keong Racun.

Sedangkan dari arena pameran kontemporer yang ditempatkan di Museum Graha Widya Patra akan memamerkan “Budaya di Abad Fir’aun”, disana ada replica mumi terbesar berukuran tiga meter, manusia Scorpion King yang hidup bersama 1000 kalajengking beracun, Si King Cobra yang akan tinggal bersama seribu Ular Kobra, Eyang Buyung pemilik Jenggot terpanjang, Reo si Manusia Serigala, dan pemecahan rekor manusia tertinggi 2,1 meter yang tampil sebagai Si Buta Dari Goa Hantu.

 Perluas Lahan Parkir, Antisipasi Luapan Pengunjung

Berdasar pengalaman tahun lalu, manajemen TMII mengantisipasi luapan pengunjung dengan memperbanyak dan memperluas lahan parkir yang dalam pengelolaannya diserahkan kepada mitra TMII. Begitu juga dengan pengaturan arus lalu lintas dari perempatan Garuda sampai Pintu gerbang dikerjasamakan dengan Ditlantas Polda Metro Jaya.

“Kami juga menutup area-area yang selama ini untuk bazaar, atau berjualan, maka untuk tahun ini diprioritaskan untuk parkir kendaraan pengunjung demi kenyamanan.” Ujar Ade F. Meliala. Menurut wanita cantik bermarga Chaniago ini, TMII memperhatikan 3 aspek penting dalam penyelenggaraan Gempar Semarak Lebaran ini. 3 Aspek tersebut adalah Keamanan dan Ketertiban, aspek acara dan aspek layanan.

“Untuk mendukung itu semua, kami juga menerbitkan peta agar tidak ada keraguan bagi pengunjung yang mau keluar. Selain bekerjasama dengan Ditlantas Polda Metro Jaya untuk kelancaran lalu lintas, kami juga melibatkan organisasi pemuda Karang Taruna, Pramuka, dan PSHT.” Ujar Ade, wanita karier yang hobi traveling dan golf ini.


Tiket tidak naik

Meski acara Gempar Semarak Lebaran ini adalah acara spektakuler, namun agar masyarakat sekitar TMII dan pengunjung dari berbagai kota dapat lebih menikmati berbagai acara, manajemen tidak menaikkan harga tiket. Kalaupun ada di beberapa wahana, itu kami imbangi dengan pelayanan. Seperti Taman Burung misalnya, di lahan konservasi alam flora dan fauna ini meskipun ada kenaikan Rp 3.000 menjadi Rp 10.000 namun pengunjung mendapat layanan tambahan seperti berfoto bersama burung predator, feeding show serta ada keunikan flora pohon pisang berjantung kembar. Disaat bersamaan juga ada ikan arwana berkepala dua di Dunia air tawar.

Wahana Snowbay Waterpark, sebagai salah satu unggulan, menantang para petualang air untuk menjemput tsunami dengan 7 special effect ombak. “Kami sediakan voucher diskon 25% yang dapat diperoleh dengan berbelanja di gramedia, EF, McD dan Matahari Dept. Store wilayah Jakarta-Bandung. Dan pada hari terakhir tanggal 18 September akan tampil Afgan untuk menghibur pengunjung.” Ungkap Rebecca, Manager Snowbay Waterprak.

Di teater imax, ada 2 film berlatar petualangan luar angkasa space4dissay dan petualangan bawah laut Aqua Adventure. Adapun film 3D stereoscopic karya anak bangsa berjudul “SAGA” akan mulai diputar pada tanggal 10 September. Selain itu ada Madagascar 2 dan T-rex yang masih menjadi idola anak-anak. Disekitar wahana, pengunjung juga dapat bersantai bersama keluarga dimana ada rumah pohon yang sangat digemari anak-anak, kemudian ada inline skate untuk yang bersepatu roda atau ingin bermain skateboard di skate park.

“Untuk  keamanan dan ketertiban selama Gempar Semarak Lebaran nanti akan dipersiapkan dengan menambah personel pengamanan menjadi sekitar 400 pengaman, di antaranya berasal dari Koramil, Polsek, dan Tramtib.” Jaya Purnawijaya, Manajer Informasi TMII.

Pidato Presiden PD terkait "Insiden Berakit", di Mabes TNI

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua, Saudara-saudara se-bangsa dan se-tanah air yang saya cintai dan saya banggakan,

Malam ini, saya ingin memberikan penjelasan kepada rakyat Indonesia mengenai hubungan Indonesia – Malaysia. Marilah kita mengawalinya dengan melihat perkembangan dan dinamika hubungan kedua negara, salah satu hubungan bilateral Indonesia yang paling penting.

Hubungan Indonesia dan Malaysia memiliki cakupan yang luas, yang semuanya berkaitan dengan kepentingan nasional, kepentingan rakyat kita.

Pertama, Indonesia dan Malaysia mempunyai hubungan sejarah, budaya dan kekerabatan yang sangat erat - dan mungkin yang paling erat dibanding negara-negara lain, dan sudah terjalin selama ratusan tahun. Kita mempunyai tanggung jawab sejarah, untuk memelihara dan melanjutkan tali persaudaraan ini.

Kedua, hubungan Indonesia dan Malaysia adalah pilar penting dalam keluarga besar ASEAN. ASEAN bisa tumbuh pesat selama empat dekade terakhir ini, antara lain karena kokohnya pondasi hubungan bilateral Indonesia - Malaysia.

Ketiga, ada sekitar (2) juta saudara-saudara kita yang bekerja di Malaysia – di perusahaan, di pertanian, dan di berbagai lapangan pekerjaan. Ini adalah jumlah tenaga kerja Indonesia yang terbesar di luar negeri. Tentu saja keberadaan tenaga kerja Indonesia di Malaysia membawa keuntungan bersama, baik bagi Indonesia maupun Malaysia.

Sementara itu, sekitar 13,000 pelajar dan mahasiswa Indonesia belajar di Malaysia, dan 6,000 mahasiswa Malaysia belajar di Indonesia. Ini merupakan asset bangsa yang harus terus kita bina bersama, dan juga modal kemitraan di masa depan.

Wisatawan Malaysia yang berkunjung ke Indonesia adalah ketiga terbesar dengan jumlah 1,18 juta orang, dari total 6,3 juta wisatawan mancanegara.

Investasi Malaysia di Indonesia 5 tahun terakhir (2005-2009) adalah 285 proyek investasi, berjumlah US$ 1.2 miliar, dan investasi Indonesia di Malaysia berjumlah US$ 534 juta. Jumlah perdagangan kedua negara telah mencapai US$ 11,4 Miliar pada tahun 2009. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan ekonomi Indonesia – Malaysia sungguh kuat.

Namun, hubungan yang khusus ini juga sangat kompleks. Hubungan ini tidak bebas dari masalah dan tantangan. Ada semacam dalil diplomasi, bahwa semakin dekat dan erat hubungan dua negara, semakin banyak masalah yang dihadapi.

Contoh masalah dan tantangan yang kita hadapi adalah menyangkut tenaga –kerja Indonesia di Malaysia. Kita tahu bahwa keberadaan 2 juta tenaga kerja Indonesia di Malaysia, disamping memberikan manfaat bersama, juga memunculkan kasus-kasus di lapangan yang harus terus kita kelola. Oleh karena itulah, sejak awal, saya berupaya keras untuk memperjuangkan hak-hak Tenaga Kerja Indonesia, antara lain menyangkut gaji dan waktu libur; memberikan perlindungan hukum, dan mendirikan sekolah bagi anak-anak Tenaga Kerja Indonesia.

Dalam kunjungan saya yang terakhir ke Malaysia, kita telah berhasil mencapai kesepakatan, mengenai pemberian dan perlindungan Hak bagi tenaga kerja kita di Malaysia.

Berkaitan dengan permasalahan hukum yang dihadapi oleh tenaga kerja Indonesia di Malaysia, pemerintah aktif melakukan langkah-langkah pendampingan dan advokasi hukum, untuk memastikan saudara-saudara kita mendapatkan keadilan yang sebenar-benarnya.

Selain masalah TKI dan perlindungan WNI, kita juga kerap menjumpai masalah yang terkait dengan perbatasan kedua negara. Masalah ini memerlukan pengelolaan yang serius dari kedua belah pihak.
Karena itulah, menyadari kepentingan bersama ini, saya dan Perdana Menteri Malaysia sering berkomunikasi secara langsung, di samping forum konsultasi tahunan yang kami lakukan, untuk memastikan bahwa isu-isu bilateral ini dapat kita kelola dan carikan jalan keluarnya dengan baik.

Saudara-saudara sekalian,

Akhir-akhir ini, hubungan Indonesia Malaysia kembali diuji dengan terjadinya insiden di seputar perairan Pulau Bintan pada tanggal 13 Agustus 2010 yang lalu. Berhubung insiden ini menjadikan perhatian yang luas dari kalangan masyarakat Indonesia, pada kesempatan ini, saya ingin memberikan penjelasan tentang duduk persoalan yang sesungguhnya, dan langkah-langkah tindakan yang diambil oleh pemerintah kita.

Sejak saya menerima laporan mengenai insiden ini tanggal 14 Agustus 2010 pagi, saya langsung memberikan berbagai instruksi. Pertama, saya minta agar ketiga petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan segera dikembalikan dalam keadaan selamat. Kedua, saya juga memerintahkan untuk mengusut tuntas apa yang sebenarnya terjadi dalam insiden tersebut.

Segera setelah itu, Menko Polhukam dan Menteri Luar Negeri melakukan tindakan-tindakan cepat, untuk mengelola penanganan insiden tersebut dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan.
Terhadap insiden ini, kita semua sangat prihatin, dan saya ingin agar masalah ini segera di selesaikan secara tuntas, dengan mengutamakan langkah-langkah diplomasi. Saya ingin mengatakan bahwa sejak terjadinya kasus ini pemerintah telah bertindak. Sistempun telah bekerja.

Saya juga menekankan bahwa masalah seperti ini harus diselesaikan secara cepat, tegas dan tepat, karena berkaitan dengan kepentingan nasional kita. Memelihara hubungan baik dengan negara sahabat, apalagi dengan Malaysia, sangat penting. Tetapi, tentu kita tidak bisa mengabaikan kepentingan nasional, apalagi jika menyangkut kedaulatan dan keutuhan NKRI.

Dalam kaitan ini, saya telah mengirim surat kepada Perdana Menteri Malaysia, yang intinya menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas terjadinya insiden tersebut. Saya juga mendorong agar proses perundingan batas maritim dapat dipercepat dan dituntaskan. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri telah memanggil Duta Besar Malaysia di Jakarta untuk menyampaikan nota protes.

Menteri Luar Negeri juga telah melakukan komunikasi intensif dengan Menteri Luar Negeri Malaysia. Dalam perkembangannya, alhamdulillah, ke-3 petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan itu kini telah kembali ke tanah air.

Berkaitan dengan ketiga petugas KKP tersebut, Pemerintah Indonesia menerima informasi tentang perlakuan yang tidak patut yang dialami oleh mereka. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia meminta penjelasan atas kebenaran informasi itu. Melalui jalur diplomasi, diperoleh informasi bahwa Pemerintah Malaysia saat ini sedang melakukan investigasi atas masalah perlakukan terhadap tiga petugas KKP tersebut.

Saudara-saudara,

Yang jelas, di masa depan, insiden seperti ini harus kita cegah, agar tidak terus menimbulkan permasalahan di antara kedua negara. Upaya ini bisa kita lakukan dengan cara segera menuntaskan perundingan batas wilayah di antara Malaysia dan Indonesia, serta bentuk-bentuk koordinasi dan kerjasama di antara kedua belah pihak, dengan semangat untuk tetap memelihara hubungan baik kedua bangsa.

Perihal penanganan terhadap 7 nelayan Malaysia yang memasuki wilayah perairan Indonesia, kepada mereka telah diambil tindakan-tindakan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Setelah prosesnya selesai mereka kita kembalikan ke Malaysia, sebagaimana kelaziman yang berlaku di lingkungan ASEAN selama ini. Perlu diketahui, dalam kasus yang sama, banyak nelayan Indonesia yang diduga memasuki wilayah perairan negara sahabat, juga dikembalikan ke negeri kita.

Saudara-saudara se-bangsa dan se-tanah air,

Belajar dari pengalaman ini, pemerintah Indonesia berpendapat bahwa solusi yang paling tepat untuk mencegah dan mengatasi insiden-insiden serupa adalah, dengan cara segera menuntaskan perundingan batas wilayah antara Indonesia dan Malaysia. Perundingan ini menyangkut batas wilayah darat dan batas wilayah maritim, termasuk di wilayah selat Singapura, dan perairan Sulawesi, atau perairan Ambalat.

Indonesia berpendapat bahwa perundingan menyangkut batas wilayah ini dapat kita percepat dan kita efektifkan pelaksanaannya. Semuanya ini berangkat dari niat dan tujuan yang baik, agar insiden-insiden serupa yang akan mengganggu hubungan baik kedua bangsa dapat kita cegah dan tiadakan. Saya sungguh menggaris-bawahi, sekali lagi, agar proses perundingan yang akan segera diteruskan oleh kedua pemerintah benar-benar menghasilkan capaian yang nyata.

Saudara-saudara,

Kedaulatan Negara dan keutuhan wilayah adalah kepentingan nasional yang sangat vital. Pemerintah juga sangat memahami kepentingan itu, dan terus bekerja secara sungguh-sungguh untuk menjaga dan menegakkannya. Namun demikian, tidak semua permasalahan yang muncul dalam hubungan dengan negara sahabat selalu terkait dengan kedaulatan dan keutuhan wilayah. Oleh karena itu, kita harus bisa menilai dengan tepat setiap masalah yang muncul, agar penyelesaiannyapun menjadi tepat pula.
Meskipun demikian, sekecil apapun permasalahan yang muncul dalam hubungan bilateral, akan tetap kita selesaikan demi menunjang kepentingan nasional kita. Kita harus senantiasa menjaga citra dan jatidiri kita sebagai bangsa yang bermartabat dalam menjalin hubungan internasional, tanpa kehilangan prinsip dasar politik luar negeri yang bebas dan aktif, dan yang diabdikan untuk kepentingan bangsa kita.

Sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, saya juga merasakan apa yang dirasakan oleh rakyat Indonesia. Saya sungguh mengerti keprihatinan, kepedulian, bahkan emosi yang saudara-saudara rasakan. Dan apa yang dilakukan oleh pemerintah sekarang dan ke depan ini, sesungguhnya juga cerminan dari keprihatinan kita semua.

Saya juga mengajak untuk menjauhi tindakan-tindakan yang berlebihan, seperti aksi-aksi kekerasan, karena hanya akan menambah masalah yang ada. Kekerasan sering memicu terjadinya kekerasan yang lain. Harapan untuk menyelesaikan masalah ini dengan serius dan tepat, tanpa disertai aksi-aksi yang destruktif, juga saya terima dari saudara-saudara kita rakyat Indonesia yang saat ini berada di Malaysia.

Saudara-saudara sekalian,

Cara kita menangani hubungan Indonesia – Malaysia akan disimak dan diikuti oleh negara-negara sahabat di kawasan Asia, bahkan oleh dunia internasional. Selama ini sebagai Pendiri ASEAN, Indonesia sering dijadikan panutan di dalam menyelesaikan berbagai konflik yang terjadi di kawasan, maupun di belahan bumi yang lain. Oleh karena itu, marilah seraya kita tetap memperjuang-kan kepentingan nasional kita, karakter dan peran internasional Indonesia yang konstruktif, dan dengan semangat untuk memelihara perdamaian, terus dapat kita jaga.

Terakhir, insiden yang terjadi antara Indonesia dan Malaysia baru-baru ini akan kita tuntaskan penyelesaiannya. Indonesia akan terus mendorong Malaysia untuk benar-benar menyelesaikan perundingan batas wilayah yang sering memicu terjadinya insiden dan ketegangan. Dengan demikian, dengan dapat dicegahnya ketegangan dan benturan-benturan yang tidak perlu, saya yakin permasalahan, hubungan baik dan kerjasama bilateral antara Indonesia –Malaysia akan berkembang lebih besar lagi.

Ke depan dalam hubungan antar bangsa yang lebih luas, kita harus terus menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah kita, dan terus membangun diri menjadi negara yang maju, sejahtera, dan bermartabat, dengan tetap menjaga hubungan baik dan kerjasama dengan negara-negara sahabat.
Sekian.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pelajaran untuk Malaysia


oleh budiarto shambazy


Mei 2010 merupakan batas akhir bagi negara non-UNCLOS 1982 mengklaim penambahan batas landas kontinen (continental shelf) lebih dari 200 mil (320 kilometer) dari pantai. Syaratnya, penambahan tak melebihi 100 mil (160 km) dari titik kedalaman 2,5 km dan tak melewati 350 km dari pantai.


Tiap negara diberikan waktu 10 tahun untuk mengajukan bukti dasar laut yang diklaim memang landas kontinen. Jika klaim sahih, negara itu diizinkan mengeksplorasi dasar laut dan membagi hasilnya dengan negara tetangga tak berpantai.
Ya, kekayaan alam seabed atau dasar laut—bukan yang berada di atasnya saja—mulai jadi rebutan. Telah terbukti, makhluk hidup, termasuk tanaman dasar laut, kekayaan alam tak ternilai harganya.
Contohnya mentimun laut yang mulai diincar perusahaan farmasi raksasa karena ampuh mengobati kanker. Belum lagi sumber energi baru seperti Methane hydrates di patahan dasar laut.
Dan, dasar laut memiliki kekayaan migas yang mudah diekstraksi. Sekurangnya ada 50 negara mengklaim potensi migas di dasar Samudra Pasifik dan Antartika. Di Eropa, Inggris, Perancis, Spanyol, dan Irlandia menjalin kerja sama eksplorasi daripada bertikai di perairan utara.
Berbeda di Samudra Hindia: Tanzania dan Seychelles mulai saling klaim wilayah bernama Aldabra. Amerika Serikat (AS), Kanada, Rusia, Denmark, dan Norwegia tegang memperebutkan beberapa wilayah kaya migas di Kutub Utara.
Tumpang tindih klaim di Asia Tenggara/Timur sudah terjadi sejak berakhirnya Perang Dingin. Sengketa terjadi hampir di semua negara: Rusia, Jepang, China, Taiwan, Korea Selatan, dan beberapa negara ASEAN di Laut China Selatan.
Indonesia bersengketa dengan Vietnam, Singapura, Malaysia, Papua Niugini, Filipina, danAustralia (sebelum Timor Timur merdeka). Kita negara kepulauan sesuai dengan UNCLOS 1982, yang wajib membuka Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) untuk lalu lintas militer/perdagangan kapal asing.
Muncul masalah: seberapa mampu kita menjaganya? Penangkapan tiga pejabat KKP menguak fakta tak enak bahwa pengamanan kita lemah karena jadi sumber kongkalikong aparat keamanan dan peradilan dengan pelanggar mancanegara–termasuk pencuri ikan.
Pengamanan perbatasan darat belum memadai. Kita bisa kehilangan jutaan hektar hutan di Kalimantan karena pengawasan perbatasan tak efektif. Misalnya, di sepanjang perbatasan tak ada akses jalan yang memudahkan pembuatan tapal meski dana proyeknya berkali-kali digelontorkan.
Kita kurang mampu menjaga halaman rumah sendiri. Sejak kehilangan Sipadan-Ligitan, terungkap fakta tak enak: kita ibarat ”rumah tanpa sertifikat” karena peta Inggris (eks penjajah Malaysia) lengkap, sementara Belanda tak meninggalkan bukti sahih.
Ketegangan dengan Malaysia terjadi sejak insiden di Ambalat tahun 2005. Sejak itu, muncul insiden lain seperti pencurian batik dan lagu ”Rasa Sayange”. Selama lima tahun terakhir kita terbiasa punya tetangga yang provokatif.
Mengapa mereka begitu? Jawabannya bukan teka-teki: kita lemah selama era Reformasi ini akibat korupsi sistemik yang terjadi di birokrasi yang bertanggung jawab atas pengamanan perbatasan.
Lebih dari itu, kita tak punya alutsista memadai untuk menjaga halaman sendiri. Tak ada daya penggentar (deterrent power) yang kredibel untuk menangkal provokasi Malaysia, Singapura, dan Australia.
Pak Habibie melecehkan Singapura sebagai ”a little red dot”, Gus Dur mengancam stop ekspor air ke negeri pulau itu. Terhadap Malaysia, kita tak melakukan apa pun karena mitos ”kakak beradik” atau ”bangsa serumpun”.
Berhubung alutsista lemah, kita hanya bisa terlibat dalam ”balance of terror” lawan Malaysia. Tegang hanya sebentar, sehabis itu ”main remis” lagi, seperti dua pecatur amatir memelototi papan catur semata.
Bung Karno melancarkan konfrontasi karena punya ratusan pesawat tempur, puluhan kapal perang, dan serdadu penyusup ke Malaysia. Pak Harto menarik duta besar dari Filipina dan Australia atau menyetop forum menlu ASEAN-Uni Eropa karena isu Timor Timur.
Mereka menempatkan diri sebagai pemimpin middle power yang disegani. Mereka menangkap aspirasi rakyat dan institusi-institusi lain–termasuk TNI dan Kemlu–sehingga menghasilkan keputusan utuh, bulat, dan kompromistis bagai kotak hitam pesawat.
Dan, mereka mengambil keputusan dalam situasi krisis yang butuh kepemimpinan tegas serta jadi panutan. Proses pengambilan keputusan politik luar negeri mestinya mencerminkan konsensus spektrum kekuatan politik seluas mungkin—bukan hanya kepentingan presiden.
Dari awal saya sarankan tarik duta besar kita di Kuala Lumpur dan minta duta besar Malaysia meninggalkan Jakarta. Ini keputusan diplomatik rasional yang berdampak ganda.
Pertama, menimbulkan efek jera karena jika tak diberikan pelajaran, Malaysia tak akan jera. Kedua, penarikan/pengusiran duta besar merupakan terapi kejut bagi jajaran birokrasi agar tak lagi kongkalikong menjaga kedaulatan wilayah.
Dalam situasi harmonis pun, TKI tetap jadi masalah besar yang siap meledak karena Malaysia mengalami stagnasi ekonomi. Sesuai janji program 100 hari SBY-Boediono, sebaiknya rencana pembentukan citizen centers di Malaysia untuk memantau TKI segera diwujudkan.