Jakarta Tanggap COVID-19

Data Pemantauan COVID-19 Nasional dan DKI Jakarta

21 Januari 2020 sampai hari ini
Personal Branding Pilkada/Pileg, Kehumasan (PR), Media Management Issue, Monitoring Media >> mahar.prastowo@gmail.com

Para Pemimpin Perempuan Hadapi Corona, dari PM Islandia hingga Lurah Harapan Mulya

A+ | BBC melaporkan Selandia Baru, Jerman, Taiwan, dan Norwegia punya dua kesamaan. Di keempat negara ini angka kematian akibat Covid-19 relatif rendah, dan faktanya keempat negara itu  dipimpin oleh perempuan. Apakah suatu kebetulan atau memang perempuan punya perasaan dan kreatifitas lebih universal dalam urusan untuk survive? Toh tak bisa dipungkiri dalam kehidupan sehari-hari, perempuan dapat bertahan hidup dengan baik tanpa pria, sebaliknya banyak pria terpuruk tanpa perempuan. 

Nah, terhadap para  pemimpin perempuan tersebut diatas, media di berbagai negara memuji atas sikap  serta kebijakan yang mereka tempuh dalam menghadapi krisis kesehatan global, pandemi corona generasi 2019 atau covid-19.

Forbes misalnya menyebut mereka sebagai "contoh kepemimpinan sejati" dengan menulis, "kaum perempuan maju dan menunjukkan kepada dunia bagaimana menangani ketidakberesan untuk keluarga manusia."

Dalam menghadapi wabah kesehatan global ini, Perdana Menteri Islandia, Katrín Jakobsdóttir, menempuh pengujian berskala besar. Meski penduduknya hanya 360.000 jiwa, Islandia tidak santai-santai apalagi menyembunyikan informasi kepada publik. Kebijakan menghadapi Covid-19 dengan pembatasan sosial  larangan berkumpul 20 orang atau lebih, misalnya,  ditempuh sejak akhir Januari 2020 sebelum ditemukan kasus positif pertama di negara tersebut. Hingga kemudian pada 20 April, sebanyak sembilan orang terkonfirmasi meninggal di Islandia akibat Covid-19.

Sementara di Taiwan, yang merupakan bagian dari China, Presiden Tsai Ing-wen membentuk pusat pengendalian epidemi serta memerintahkan untuk melacak dan menghambat penyebaran virus. Ia juga memerintahkan industri alat kesehatan untuk meningkatkan produksi alat pelindung diri (APD) seperti masker wajah. Dan hasilnya, atas kesigapan Presiden Tsai Ing-Wen, hingga minggu ketiga april ini  Taiwan mencatat enam orang meninggal dunia di antara 24 juta jiwa penduduknya.

Pemimpin perempuan lainnya, Jacinda Ardern yang merupakan PM Selandia Baru, melakukan kebijakan ketat dengan memberlakukan karantina wilayah atau lockdown ketika korban jiwa mencapai enam orang. Dan sampai 20 April, jumlah kematian akibat virus corona mencapai 12 orang.

Tentu saja para perempuan pemimpin tersebut mampu mengatasi krisis ini dengan dukungan sumber daya yang memadai, selain secara ekonomi tergolong mapan dan maju, sistem kesehatan di negaranya juga baik. Indeks pembangunan manusia (IPM)nya tinggi.

Apa kata pengamat tentang keberhasilan para perempuan tersebut memimpin negaranya keluar dari krisis?

"Saya pikir perempuan tidak memiliki satu gaya kepemimpinan yang berbeda dibanding pria. Namun ketika perempuan mewakili posisi kepemimpinan, hal itu mendatangkan keragaman dalam pembuatan kebijakan," kata Dr Geeta Rao Gupta, direktur eksekutif Program 3D untuk perempuan sekaligus peneliti senior di UN Foundation, yang juga menyebut keberadaan perempuan menciptakan keputusan yang lebih baik karena ada pandangan dua sisi baik dari pria maupun dari perempuan.

Kondisi ini kontras dengan aksi menepuk dada dan menyanggah sains seperti yang dilakukan pemimpin pria, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Brasil Jair Bolsonaro.

Presiden Brasil, Jair Bolsonaro, menyebut Covid-19 "flu kecil" dan berulang kali tidak mengindahkan menjaga jarak sosial.

Hal serupa, terkesan menyepelekan, juga terjadi pada Presiden Indonesia, Joko Widodo, sehingga membuatnya dinilai banyak kalangan terlalu lamban menyikapi bahkan terkesan menjegal upaya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berjibaku melawan Covid-19. Bahkan, para kepala daerah lain juga lebih suka mengikuti kebijakan dan langkah-langkah strategis Anies Baswedan ketimbang mengikuti presiden Joko Widodo, sehingga para buzzer menyebut Anies merongrong kewibawaan pemimpin yang dinilai sementara pihak berada di bawah bayang-bayang bahkan di bawah kendali salah satu menterinya yang publik kerap menyebutnya the real president sebagaimana ditulis New York Times.

Pengamat lain, Rosie Campbell, direktur Global Institute for Women's Leadership di King's College London, menilai gaya kepemimpinan tidaklah inheren pada pria dan perempuan. Namun, menurutnya perempuan yang lebih ber-empati dan kolaboratif. Sebaliknya,  banyak pria yang narsistik, hiperkompetitif, mengedepankan kesan 'macho' di ranah politik.

Para pemimpin di AS, Brasil, Israel, dan Hongaria, sebagai contoh, beberapa kali berupaya menyalahkan hal-hal eksternal, seperti orang-orang asing yang "mengimpor penyakit" ke dalam negeri.

"Trump dan Bolsonaro memilih persona ultra-macho. Itu tidak diprogram dalam biologi mereka bahwa mereka harus bersikap seperti itu, tapi mereka yang memilih demikian," kata Campbell.

"Kemungkinan perempuan berada di kubu populis radikal kanan dipandang kecil. Ada beberapa pengecualian, seperti Marine Le Pen [di Prancis]. Namun, secara keseluruhan, sikap itu terkait dengan jenis politik yang sangat individualistik, politik macho," terang Campbell.

Negara lain yang sukses melewati pandemi Corona ialah Korea Selatan, penanganan Presiden Moon Jae-in dalam krisis Covid-19 berujung pada kemenangan partainya dalam pemilihan anggota parlemen, 15 April lalu.

Ada lagi PM Yunani Kyriakos Mitsotakis, disanjung karena dinilai mampu meminimalisir jumlah kematian akibat Covid-19. Hingga 20 April, sebanyak 114 orang meninggal di  negara berpenduduk 11 juta jiwa ini.

Sebagai perbandingan, Italia, negara berpenduduk 60 juta jiwa, mencatat 22.000 orang meninggal dunia.

Yunani mampu menghadapi wabah ini dengan memprioritaskan anjuran saintifik dan menempuh langkah menjaga jarak aman sebelum kematian pertama tercatat.

Meski demikian, ada pula negara dengan pemimpin perempuan yang kewalahan menghadapi penyebaran virus corona. Contohnya, Perdana Menteri Bangladesh, Sheikh Hasina. Walau dia telah berupaya menghambat penyebaran virus, namun kapasitas pengujian di Bangladesh yang tak sebanding dengan populasi, cukup mengkhawatirkan. Ditambah lagi dengan masalah kekurangan alat pelindung diri (APD) yang membuat para tenaga kesehatan semakin terpapar risiko.

Diantara sikap dan kebijakan para pemimpin perempuan ini, mereka juga lebih terbuka berbicara mengenai fakta sebenarnya, tidak merasa "gengsi" kemudian menutup-nutupi dengan alasan menimbulkan keresahan. Kanselir Jerman, Angela Merkel, misalnya, dengan cepat mengakui Covid-19 adalah ancaman yang "sangat serius".

Pemerintah Jerman pun membentuk skema pengujian, pelacakan, dan pengisolasian terbesar di Eropa. Lebih dari 4.600 orang meninggal dunia akibat Covid-19 di  negara berpenduduk 83 juta jiwa ini.

Demikian halnya Perdana Menteri Norwegia Erna Soldberg, dan PM Denmark Mette Frederiksen, bahkan sampai menggelar konferensi pers khusus untuk anak-anak selama wabah virus corona.

Baik pemimpin Norwegia, Erna Solberg, serta pemimpin Denmark, Mette Frederiksen, menggelar konferensi pers khusus untuk anak-anak mengenai penanganan wabah virus corona. Orang dewasa dilarang masuk dalam konferensi pers tersebut. Begitu pula PM Selandia Baru Jacinda Ardern, juga berupaya menenangkan kekhawatiran anak-anak yang terpaksa tidak bisa merayakan liburan paskah seperti biasa.

Dr Gupta, Kepala Dewan Penasihat di WomenLift Health Yayasan Bill & Melinda Gates,  menyerukan lebih banyak perempuan ditempatkan sebagai pemimpin karena menurutnya hal itu akan meningkatkan kualitas pembuatan kebijakan. "Akan ada keputusan-keputusan yang ada relevansinya untuk semua segmen masyarakat, bukan hanya untuk beberapa," katanya.

Dr Gupta juga memperingatkan  dampak sosial dan ekonomi Covid-19 terhadap pria dan perempuan; kekerasan domestik meningkat, risiko kemiskinan meningkat, serta melebarnya jurang upah antara pria dan perempuan.

Terlepas dari itu semua, pengamat masalah sosial, Mahar Prastowo, mengungkapkan beberapa hal positif dari tersebarnya wabah corona, khususnya bagi masyarakat negara berkembang. Diantaranya pemaksaan untuk memberlakukan perilaku hidup sehat dengan pembersihan diri lebih sering, tidak terlalu banyak bergaul bebas dengan saling bersentuhan secara fisik dengan orang lain yang tidak diketahui kebiasannya, bekerja dan belajar/sekolah dari rumah yang dapat mengurangi polusi asap kendaraan. "Dan lebih dari itu, menyatukan keluarga," ujarnya.

Sebagaimana diketahui, jam kerja dan sekolah di negara berkembang seperti Indonesia masih dengan durasi yang lebih lama dibanding negara maju. "Bisa dikatakan berangkat gelap, pulang gelap. Lantas kapan transfer nilai-nilai, dan kebersamaan sebuah keluarga dapat dirasakan?" 

Lanjutnya, "meskipun di sisi lain, juga terjadi peningkatan kekerasan dalam rumah tangga, baik kekerasan verbal istri ke suami dan anak, atau kekerasan fisik suami ke istri atau anak akibat intensitas pertemuan yang tinggi, ditambah krisis yang diakibatkan Covid-19 ini telah menyebabkan kerentanan kehidupan ekonomi, bahkan diperkirakan terjadi penambahan angka kemiskinan baru sebanyak 5 juta orang, yang sebagiannya adalah kepala keluarga," papar Mahar.

Maka dengan langkah-langkah strategis dan cermat para perempuan pemimpin nasional di berbagai negara, Mahar menilai perlunya melihat bagaimana para kepala daerah hingga struktur terbawah kepala desa atau lurah, bagaimana mereka mengatasi wabah Covid-19. Faktor keselamatan warga akan lebih diprioritaskan ketimbang cari popularitas dengan mempolitisasi bencana wabah ini dengan akrobat-akrobat politik.

Tak usah jauh-jauh, lihat saja Lurah Harapan Mulya Kecamatan Medan Satria Kota Bekasi Jawa Barat. Di satu sisi Bu Lurah Rena Nurwangianten sangat tegas dalam verifikasi data penerima bantuan sosial. Sehingga ketika ada 23 warganya yang menerima bantuan namun ternyata tidak sesuai data verifikasi, maka bansos yang sudah diterima itu ditarik kembali. Dengan komunikasi yang baik, warga penerima bansos salah sasaran itu menyerahkan dengan senang hati karena memang ada yang lebih berhak menerimanya.

Apakah sampai disitu saja. Tidak. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang memberlakukan social distanching, membuatnya proaktif turun ke pemukiman-pemukiman melakukan patroli pagi-sore bersama elemen 3 pilar, sosialisasi soal protokol covid-19 dengan pelantang suara, dan juga memanfaatkan aplikasi whatsapp, sehingga warga merasa pimpinannya hadir di tengah-tengah mereka.

Bu Lurah Rena dan suami, Arif T. Hasibuan
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar