A+ 

Orang sering bilang: kalau perut kenyang, negara aman.
Tidak sepenuhnya salah.
Tapi juga tidak selalu benar.

Coba dibalik pertanyaannya:
apakah ekonomi bisa tumbuh tanpa rasa aman?

Jawabannya sederhana. Sulit.

Tak ada investor yang menanam modal di wilayah yang setiap malam gaduh. Tak ada UMKM yang berani buka lebih lama jika premanisme dibiarkan. Tak ada pasar yang hidup jika orang datang dengan rasa waswas. Ekonomi, pada titik tertentu, butuh satu modal paling dasar: ketenangan.

Di banyak daerah, ekonomi tidak mati karena orang malas bekerja. Ia mati karena lingkungan tak memberi kepastian. Truk logistik berhenti karena pungli. Toko tutup lebih cepat karena takut. Biaya keamanan membengkak, lalu dibebankan ke harga barang. Yang miskin tetap miskin. Yang kecil tetap kecil.

Keamanan lalu sering dipersempit maknanya. Seolah hanya soal patroli dan seragam. Padahal keamanan sejatinya adalah soal kehadiran negara dan partisipasi warga. Ketika masyarakat ikut menjaga lingkungannya, negara justru bekerja lebih ringan. Di situlah keamanan berubah dari beban anggaran menjadi investasi sosial.

Indonesia punya pengalaman panjang soal ini. Saat keamanan terjaga, ekonomi bergerak. Saat keamanan retak, ekonomi ikut goyah. Bukan kebetulan. Keduanya saling terkait, tetapi urutannya kerap terbalik dari yang sering kita dengar.

Ekonomi memang penting. Namun ia tidak lahir di ruang hampa. Ia tumbuh di tempat yang tertib, stabil, dan saling percaya. Tanpa itu, pertumbuhan hanya angka statistik—tak pernah benar-benar hadir di warung kecil, pasar rakyat, dan dapur-dapur usaha mandiri.

Maka pertanyaannya bukan lagi ekonomi atau keamanan.
Melainkan: siapa yang kita siapkan lebih dulu agar yang lain bisa hidup?


@maharprastowo