Hari itu, 19 Februari 2026, tarif baru Amerika Serikat resmi diberlakukan. Kebijakan itu bukan sekadar angka di atas kertas — ia seperti gemuruh di ujung laut yang memberi tahu nelayan: angin besar akan datang.
Dan memang. Kebijakan itu membawa gelombang baru dalam perdagangan dunia.
Tapi lihatlah kita: di satu sisi, Amerika menutup pintu bagi banyak produk asing — demi katanya industri negeri sendiri. Di sisi lain, Indonesia justru membuka pintu lebih lebar bagi produk Amerika masuk ke pasar kita.
Ini bukan soal ideologi. Ini soal keseharian ekonomi kita.
Dua Dunia yang Tak Sama
Amerika Serikat adalah negara dengan pasar besar, teknologi tinggi, dan produktivitas yang luar biasa. Ketika negara itu memperketat tarif, itu bisa membuat pabrik-pabrik di sana sedikit terjaga.
Indonesia, di lain pihak, baru sedang berjuang menguatkan struktur industrinya.
Namun dalam kesepakatan dagang terbaru, kita memberikan konsesi tarif pada produk Amerika. Sama negara yang memperketat pasar dalam negeri mereka, kita justru memberi akses lebih luas bagi produk mereka ke pasar Indonesia.
Kalau tidak berhitung jeli, ini bisa seperti membuka pintu lebar-lebar saat tetangga sedang membangun tembok tinggi.
Bagaimana Produk Amerika Masuk ke Kita?
Ada tiga jalur besar:
1. Tarif Normal (aturan dunia)
Sebagai anggota WTO, Indonesia menerapkan tarif impor standar. Ini semacam aturan bersama: negara-negara, termasuk Amerika, menjual barangnya dengan tarif tertentu saat masuk ke kita.
Importir Indonesia membayar:
- Bea masuk
- PPN impor
- PPh impor
Begitu lulus pemeriksaan bea cukai, barang itu dipasarkan.
Secara administratif normal. Tapi secara strategis, ini berarti kita tetap tergantung pada produk luar.
2. Perjanjian Dagang Khusus
Dalam perjanjian terbaru, sebagian tarif turun di bawah angka normal.
Itu baik: konsumen dapat harga lebih murah, barang lebih beragam.
Tapi di sisi lain: industri lokal yang harus bersaing dengan produk mahal tapi murah karena subsidi teknologi dari negara besar seperti Amerika — tidak selalu siap.
Ini bukan sekadar soal tarif. Ini soal struktur produksi dan kemampuan bersaing yang kita miliki.
3. Investasi Langsung (FDI)
Cara lain produk Amerika masuk adalah lewat tangan mereka sendiri: pabriknya didirikan di sini.
Bukan sekadar ekspor-impor lagi. Tapi modal, teknologi, dan jaringan distribusi mereka hadir di tanah kita.
Ini bisa jadi positif — kalau kita mampu mengikuti ritme teknologi dan memperkuat tenaga kerja kita.
Tetapi kalau tidak hati-hati? Kita bisa jadi pasar besar — bukan produsen besar.
Saat Neraca Dagang Tak Lagi Berarti
Angka neraca perdagangan sering jadi headline. Kita bangga bila ekspor meningkat. Kita cemas bila impor naik.
Padahal yang lebih penting adalah strukturnya.
Kalau kita mengekspor bahan mentah dan mengimpor barang jadi — termasuk dari Amerika — itu bukan pencapaian besar.
Itu justru menunjukkan kita belum bisa mengolah sendiri apa yang kaya di negeri kita.
Bukankah kita punya petani kopi terbaik? Mengapa kopi itu diekspor mentah lalu diimpor lagi sebagai barang jadi?
Bukankah kita punya potensi industri kreatif? Mengapa kita begitu tergantung pada produk teknologi luar?
Pelajaran dari Kedelai
Kedelai adalah contoh klasik. Kita mengimpor kedelai dari Amerika untuk membuat tahu dan tempe — makanan yang sudah melekat dalam budaya kita.
Padahal kedelai bisa ditanam di negeri kita. Kalau itu terjadi, kita tidak perlu tergantung pada siapa pun.
Tapi kenyataannya: kita larut dalam perdagangan bebas tanpa kesiapan struktural.
Kesimpulan — Bukan Akhir, Tapi Awal Pertanyaan
Tarif Trump membawa dampak besar bagi perdagangan global. Ia memaksa negara-negara berpikir ulang tentang strategi industrinya.
Kita memilih berdagang, membuka akses pasar, memberi konsesi. Itu wajar. Itu juga cerdas dalam diplomasi.
Tapi perdagangan tanpa industrialisasi, tanpa persiapan produktivitas, tanpa penguatan SDM — hanya akan membuat kita besar konsumsi, tetapi kecil produksi.
Perjanjian dagang adalah jalan. Tapi apakah itu jalan menuju kemandirian ekonomi?
Atau hanya jalan pintas menuju ketergantungan?
Jawabannya bukan sekadar angka di neraca atau tarif yang turun naik. Itu tersirat dalam setiap pabrik yang berdiri, setiap petani yang menanam sendiri, dan setiap anak bangsa yang mampu mencipta — bukan hanya mengimpor.

0 Komentar