Essai Mahar Prastowo


Di ruang-ruang rapat kementerian keuangan, angka-angka sering berbicara lebih jujur daripada pidato politik.

Satu angka bisa membuat suasana berubah.


Jika angka itu naik terlalu tinggi, seluruh perhitungan anggaran negara bisa berubah.

Dan sekarang, bayangan kenaikan itu kembali menghantui.

Bukan karena kesalahan Indonesia.

Tetapi karena konflik yang terjadi jauh dari Nusantara—di Timur Tengah, antara Iran dan Israel, dengan keterlibatan kekuatan besar seperti Amerika Serikat.

Konflik itu terlihat seperti drama geopolitik.

Tetapi bagi Indonesia, dampaknya sangat nyata.




Jalur Sempit yang Mengendalikan Dunia

Dunia energi memiliki satu titik yang sangat sensitif.

Sebuah jalur laut sempit yang setiap hari dilalui tanker raksasa.

Namanya Selat Hormuz.

Sekitar seperlima minyak dunia melewati jalur ini.

Jika konflik regional mengganggu jalur tersebut, harga minyak global bisa melonjak dalam waktu singkat.

Dan ketika harga minyak melonjak, negara pengimpor seperti Indonesia langsung terkena dampaknya.




Negara yang Berubah Arah

Indonesia pernah menikmati masa keemasan minyak.

Pada era 1970-an, minyak menjadi tulang punggung ekonomi nasional.

Indonesia bahkan menjadi anggota penting Organization of the Petroleum Exporting Countries.

Tetapi cadangan minyak tidak abadi.

Produksi menurun.

Konsumsi meningkat.

Akhirnya Indonesia berubah dari eksportir menjadi importir energi.

Perubahan ini tampak teknis.

Padahal dampaknya sangat strategis.

Karena kini stabilitas ekonomi nasional ikut bergantung pada harga minyak dunia.




Bom Fiskal Bernama Subsidi

Ketika harga minyak naik, pemerintah memiliki dua pilihan.

Menambah subsidi.

Atau menaikkan harga BBM.

Kedua pilihan itu sama-sama berat.

Subsidi energi dapat membebani anggaran negara hingga puluhan bahkan ratusan triliun rupiah.

Namun menaikkan harga BBM juga berisiko memicu inflasi dan gejolak sosial.

Itulah sebabnya subsidi energi sering disebut para ekonom sebagai bom fiskal.

Ia bisa stabil dalam keadaan normal.

Tetapi ketika harga minyak melonjak, tekanan pada APBN menjadi sangat besar.




Efek Domino yang Tidak Terlihat

Bagi masyarakat, dampak perang global biasanya terasa lewat hal-hal sederhana.

Harga transportasi naik.

Harga bahan makanan ikut naik.

Biaya hidup meningkat.

Hal ini terjadi karena energi adalah fondasi seluruh sistem ekonomi.

Ketika energi mahal, biaya produksi dan distribusi ikut meningkat.

Bagi negara kepulauan seperti Indonesia, dampaknya bahkan lebih besar.

Barang harus menempuh perjalanan jauh antar pulau.

Setiap liter bahan bakar menjadi sangat berarti.




Politik Luar Negeri yang Diuji

Indonesia sejak awal memiliki prinsip politik luar negeri yang unik.

Prinsip bebas aktif yang diperkenalkan oleh Mohammad Hatta menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh menjadi bagian dari blok kekuatan besar.

Prinsip ini kemudian melahirkan Gerakan Non-Blok, sebuah gerakan yang dahulu menjadi simbol kemandirian negara-negara berkembang.

Namun dunia sekarang tidak lagi terbagi dalam dua blok sederhana.

Persaingan geopolitik kini melibatkan energi, teknologi, dan rantai pasok global.

Negara seperti Indonesia harus berjalan sangat hati-hati agar tidak terseret dalam konflik kepentingan global.




Oligarki Energi dan Kebijakan Nasional

Di dalam negeri, persoalan energi juga tidak sesederhana angka produksi dan konsumsi.

Industri energi adalah sektor strategis dengan kepentingan ekonomi yang sangat besar.

Perusahaan besar, kontraktor migas, hingga jaringan distribusi memiliki pengaruh yang kuat terhadap kebijakan energi nasional.

Inilah yang sering disebut para analis sebagai oligarki energi.

Dalam situasi seperti ini, kebijakan BBM tidak hanya menjadi persoalan ekonomi.

Ia juga menjadi persoalan politik.

Setiap keputusan tentang harga BBM selalu memiliki implikasi sosial dan politik yang luas.




Kemandirian yang Belum Tuntas

Indonesia sebenarnya memiliki potensi energi yang sangat besar.

Energi surya.
Energi angin.
Cadangan mineral untuk baterai kendaraan listrik.

Namun potensi itu belum sepenuhnya dimanfaatkan.

Ketergantungan terhadap energi impor masih tinggi.

Selama kondisi ini belum berubah, setiap konflik global akan terus mempengaruhi stabilitas ekonomi nasional.




Pelajaran dari Krisis Energi

Perang di Timur Tengah mungkin tidak berlangsung selamanya.

Tetapi dunia tampaknya akan terus menghadapi ketegangan geopolitik.

Energi akan tetap menjadi faktor penting dalam percaturan global.

Karena itu Indonesia harus memperkuat fondasi ekonominya.

Mengurangi ketergantungan energi impor.

Mempercepat transisi energi.

Memperkuat industri domestik.

Tanpa langkah-langkah itu, Indonesia akan selalu berada dalam posisi yang rentan.


Dan ketika konflik global kembali memanas, cerita yang sama akan terulang.

Harga minyak naik.

Anggaran negara tertekan.

Harga barang naik.

Dan rakyat kembali menyesuaikan diri.

Diam-diam.

Seolah itu sudah menjadi bagian dari kehidupan.

Padahal sebenarnya tidak harus begitu.



Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "APBN di Bawah Bayang-Bayang Perang", Klik DI SINI