Ibu yang Ditinggal Sunyi


Aku adalah rumah
yang dulu riuh oleh langkah-langkah kecil,
oleh tawa yang pecah seperti pagi,
oleh mimpi yang kau titipkan di meja makan.

Aku adalah ibu—
yang menukar lelah dengan harapan,
yang menggadaikan tidur
demi masa depan anak-anaknya.

Kau ingat, Nak…
ketika rumah ini kita ubah menjadi harapan?
Dindingnya penuh naskah,
lantainya penuh cita-cita,
dan kakakmu—
datang tiap hari, menghidupkan nyala yang hampir padam.

Ia pulang dengan debu di pundaknya,
dengan cinta yang tak pernah ia ucapkan,
tapi ia jaga—
diam-diam, seperti doa yang tak pernah selesai.

Namun dunia tak selalu jujur pada niat baik.

Aku pergi mengetuk pintu-pintu,
menawarkan masa depan anak-anak bangsa,
sementara di rumah—
ada yang retak perlahan,
tanpa suara, tanpa restu.

“Jangan,” katanya suatu hari,
suara kakakmu bergetar,
seperti ranting yang tahu badai akan datang.

“Tolong, jangan yang itu…”
Tapi cinta yang sembunyi-sembunyi
adalah api tanpa cahaya—
ia membakar,
tanpa sempat memperingatkan.

Hingga suatu petang,
langit runtuh di ruang tamu,
seorang asing berdiri
dan menyebut kata “menikah”
seolah-olah keluarga ini
hanya bayang-bayang yang tak perlu dikenali.

Aku terdiam.
Bukan karena tak punya kata—
tapi karena hatiku seperti dipatahkan
oleh anak yang kubesarkan dengan doa.

Pantangan leluhur itu
yang kutanam seperti akar di dada kalian—
“jangan sembunyi, jangan diam-diam…”
ternyata gugur juga
di tangan darahku sendiri.

Lalu waktu berbalik kejam.

Anak sulungku
yang memikul beban tanpa mengeluh,
yang merasa gagal tanpa pernah bersalah—
pergi untuk selamanya…
meninggalkan aku dengan sunyi yang tak selesai.

Orang-orang berkata,
ia menyimpan luka tentang rumah ini,
tentang adiknya,
tentang ibunya
yang mungkin tak cukup adil mencintai.

Dan aku pun mengerti—
terlambat, seperti hujan di musim kemarau.

Barangkali ini karma,
kata hatiku pelan,
barangkali ini teguran Tuhan
yang tak pernah tidur.

Aku mengingat satu nama
yang terlalu lama kupuja,
kubangun, kuangkat tinggi
hingga langit—
tanpa sadar
ada hati lain yang kutinggalkan di bumi.

Kini rumah ini kembali sunyi.

Tak ada lagi langkah kakakmu,
tak ada lagi suaramu, Nak—
hanya kenangan yang menggantung
di setiap sudut dinding.

Aku tetap di sini—
seorang ibu
yang belajar dari kehilangan,
yang memeluk sepi
seperti memeluk anak-anaknya
yang tak lagi pulang.

Dan di setiap malam yang panjang,
aku berbisik pada langit:

“Tuhan…
jika ini harga dari cintaku yang tak adil,
izinkan aku menebusnya
dengan doa yang tak pernah putus…”


Depok, 28 Maret 2026