Essai Mahar Prastowo
Angkanya besar sekali.
8.000 ton.
Itulah sampah Jakarta—setiap hari—yang harus berakhir di Bantargebang.
Angka itu tidak pernah istirahat.
Tidak mengenal hari libur.
Tidak juga menunggu kesiapan sistem.
Ia datang. Terus datang.
. . .
Masalahnya Bukan Lagi Angkut—Tapi Menunggu
Dulu, persoalannya sederhana: angkut, buang, selesai.
Sekarang tidak lagi.
Sampah tidak langsung sampai ke Bantargebang.
Ia harus… menunggu.
Dari Kecamatan Makasar, misalnya.
Truk tidak langsung jalan jauh.
Ia berhenti dulu di Kramat Jati.
Lalu bergeser ke Jatinegara.
Lalu antre lagi.
Baru kemudian menuju Bantargebang.
Seperti estafet.
Seperti antrean panjang yang tidak pernah benar-benar putus.
Dan setiap “titik berhenti” itu—bukan sekadar titik.
Ia menjadi tempat baru bagi masalah.
Bau.
Lindi.
Keluhan warga.
Dan potensi konflik.
. . .
Setiap Hari Ada yang Tidak Terangkut
Di Makasar sendiri, produksi sampah sekitar 130–150 ton per hari.
Ketika sistem normal, semua itu hilang dalam satu siklus.
Sekarang?
Hanya sebagian yang bergerak.
Sisanya… menunggu.
60 sampai 70 ton bisa tertahan setiap hari.
Hari pertama, belum terasa.
Hari kedua, mulai mengganggu.
Hari ketiga?
Camat kecamatan Makasar Dimas Prayudi menyebutnya pelan:
bom waktu.
. . .
Kerja Bakti Tidak Lagi Menjadi Jawaban
Biasanya, warga bergerak.
Kerja bakti. Bersih-bersih. Gotong royong.
Tapi kali ini, itu justru ditahan.
Karena kalau dibersihkan—sampahnya ke mana?
Truk belum tentu datang.
Yang ada, tumpukan baru.
Masalah lama belum selesai.
Masalah baru sudah siap.
. . .
Masalah Sebenarnya: Dari Hulu
Kalau ditarik ke belakang, masalahnya bukan hanya di hilir.
Bukan hanya truk.
Bukan hanya antrean.
Tapi di rumah.
Yang di rapat—semua setuju.
Yang di lapangan—tidak semua jalan.
Padahal di situlah kuncinya.
Kalau dari awal sudah tercampur,
di ujung hanya jadi beban.
. . .
FKDM: Bekerja di Antara yang Terlihat dan Tidak
Di tengah situasi itu, FKDM bergerak.
Tidak dengan sirene.
Tidak juga dengan kamera.
Tapi dengan informasi.
Saat ada potensi tawuran, mereka tahu duluan.
Saat ada titik sampah menumpuk, mereka lapor lebih cepat.
Kapolsek Makasar, Kompol Sumardi, menyederhanakan peran itu:
“Mata, telinga, dan mulut.”
Tidak lebih. Tapi cukup.
. . .
Kalau Tidak Siap, Mundur Saja
Sumardi juga tegas.
Kalau tidak sanggup, mundur saja.
Karena pekerjaan ini tidak bisa setengah-setengah.
Beban akan jatuh ke yang bekerja.
Yang diam, hanya jadi nama.
. . .
Tidak Ada Warna di Lapangan
“Tidak ada merah, kuning, hijau.”
Semua satu.
Kalimat itu sederhana. Tapi berat.
Karena di lapangan, yang dibutuhkan bukan identitas—
tapi kecepatan membaca situasi.
. . .
Sampah yang Bisa Jadi Batu
Di tengah kebuntuan itu, muncul pertanyaan:
Apakah sampah harus selalu dibuang?
Beberapa negara menjawab: tidak.
Di Swedia, sebagian besar sampah diolah menjadi energi.
Di Jepang, sampah dipilah ketat hingga bisa didaur ulang maksimal.
Bahkan di India, ada teknologi sederhana:
sampah dipres menjadi bata atau paving block.
Sampah plastik dan non-organik dikompresi dengan tekanan tinggi, dicampur bahan pengikat, lalu dicetak menjadi material bangunan.
Hasilnya:
- lebih padat
- lebih mudah disimpan
- bahkan bisa dimanfaatkan
Sampah tidak lagi “menunggu dibuang”.
Tapi diubah—menjadi sesuatu yang berguna.
. . .
Mungkin, Ini Saatnya Berubah
Jakarta masih mengandalkan satu ujung: Bantargebang.
Selama ujung itu penuh, seluruh sistem ikut tersendat.
Antrean akan selalu ada.
Penumpukan akan selalu terjadi.
Kecuali…
Pengolahan dimulai dari dekat.
Dari kecamatan.
Dari kelurahan.
Bahkan dari RW.
. . .
Yang Tidak Terlihat, Justru Menentukan
Pada akhirnya, semua kembali ke satu hal:
kewaspadaan.
Sampah yang menumpuk bukan hanya soal bau.
Ia bisa menjadi sumber konflik.
Bisa memicu keresahan.
Dan seperti banyak hal lain,
masalah besar selalu dimulai dari sesuatu yang kecil—
yang dibiarkan menunggu terlalu lama.
Seperti antrean itu.
Seperti 60 ton yang tertahan.
Seperti 8.000 ton yang terus datang… setiap hari.
[mp]


0 Komentar