Essai Mahar Prastowo
Ia dikenal pintar.
Kalau guru melempar pertanyaan di kelas, tangannya yang pertama terangkat. Kalau teman-temannya kesulitan mengerjakan soal matematika, ia yang dimintai bantuan. Orang tuanya pun tidak pernah meragukan kemampuan akademiknya.
Lalu hasil TKA keluar.
Nilainya tinggi.
Sangat tinggi.
Tetapi ada yang heran.
Mengapa nilai rapornya selama ini tidak setinggi hasil TKA?
Pertanyaan itu muncul di banyak sekolah. Bahkan memunculkan perdebatan baru: mana yang lebih menggambarkan kemampuan siswa, rapor atau TKA?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana memilih salah satu.
Rapor dan TKA sebenarnya mengukur hal yang berbeda.
TKA ibarat foto. Diambil pada satu waktu tertentu. Ia merekam kemampuan akademik siswa saat itu juga. Soalnya sama. Standarnya sama. Penilainya juga sama untuk seluruh Indonesia.
Karena itu TKA dianggap lebih objektif.
Namun rapor bukan foto.
Rapor adalah film panjang.
Ia merekam perjalanan siswa selama berbulan-bulan. Ada tugas harian. Ada proyek kelompok. Ada presentasi. Ada praktik. Ada kehadiran. Ada kedisiplinan. Ada konsistensi.
Seorang siswa bisa sangat cerdas tetapi malas mengumpulkan tugas. Bisa sangat cepat memahami pelajaran tetapi kurang tertib dalam administrasi sekolah. Ketika menghadapi TKA, kemampuan akademiknya muncul. Ketika nilai rapor dihitung, banyak komponen lain ikut berbicara.
Sebaliknya juga terjadi.
Ada siswa yang rajin luar biasa. Semua tugas selesai tepat waktu. Catatan rapi. Aktif berdiskusi. Nilai rapornya tinggi. Tetapi ketika menghadapi soal-soal yang menguji kemampuan literasi dan numerasi tingkat tinggi, hasilnya tidak selalu setinggi yang diperkirakan.
Maka ketika muncul pendapat bahwa TKA adalah kemampuan asli siswa, sementara rapor hanya dipengaruhi subjektivitas guru, pendapat itu tidak sepenuhnya benar.
TKA memang mengukur kemampuan akademik.
Tetapi manusia tidak hanya terdiri atas kemampuan akademik.
Begitu pula rapor.
Rapor memang mengandung unsur penilaian guru.
Tetapi pendidikan juga memang berlangsung dalam proses yang panjang, bukan hanya pada hari ujian.
Di sinilah pentingnya memahami fungsi ANBK.
Selama ini ANBK jarang menjadi bahan perbincangan publik. Padahal instrumen ini mengukur literasi, numerasi, karakter, dan lingkungan belajar sekolah. Hasilnya lebih banyak digunakan untuk memotret kualitas pendidikan daripada memberi peringkat siswa.
ANBK melihat sekolah.
TKA melihat siswa.
Rapor melihat perjalanan belajar.
Ketiganya seperti tiga kamera yang mengarah pada objek yang sama dari sudut berbeda.
Masalah muncul ketika satu kamera dianggap paling benar dan dua lainnya dianggap tidak penting.
Padahal pendidikan tidak pernah sesederhana satu angka.
Lalu bagaimana jika ketiganya harus digunakan untuk menilai pencapaian siswa?
Banyak pakar pendidikan berpendapat bahwa tidak ada instrumen yang pantas menjadi hakim tunggal. Yang lebih adil adalah menggunakan pembobotan.
Idealnya, rapor tetap mendapat porsi terbesar, sekitar 50 persen. Sebab pendidikan bukan perlombaan sehari. Ia adalah proses panjang yang menilai konsistensi, tanggung jawab, dan perkembangan siswa.
TKA dapat diberi bobot sekitar 30 persen. Cukup besar untuk memastikan kemampuan akademik siswa diuji dengan standar nasional yang sama.
Sisanya 20 persen dapat berasal dari ANBK, portofolio, prestasi akademik maupun non-akademik, kepemimpinan, karya inovasi, serta aktivitas yang menunjukkan karakter dan keterampilan abad ke-21.
Dengan formula itu, siswa yang cerdas tetapi kurang disiplin tetap mendapat pengakuan atas kemampuan akademiknya. Sebaliknya siswa yang tekun dan konsisten juga tidak dirugikan hanya karena kurang beruntung pada satu hari ujian.
Anak yang kelak sukses belum tentu yang nilai TKA-nya tertinggi.
Tetapi juga tidak otomatis yang rapornya paling tinggi.
Kesuksesan sering lahir dari kombinasi banyak hal: kemampuan berpikir, ketekunan, karakter, kreativitas, kemampuan berkomunikasi, kemampuan bekerja sama, dan kemauan untuk terus belajar.
Karena itu publikasi nilai TKA tertinggi tidak perlu dianggap sebagai ancaman. Sama seperti sekolah mengumumkan juara olahraga, juara seni, atau juara lomba sains.
Yang perlu dijaga adalah keseimbangan.
Sekolah harus memberi panggung kepada lebih banyak jenis keunggulan.
Ada siswa yang unggul dalam akademik.
Ada yang unggul dalam olahraga.
Ada yang unggul dalam kepemimpinan.
Ada yang unggul dalam seni.
Ada pula yang mungkin tidak pernah menjadi juara apa pun, tetapi berhasil berkembang jauh dibanding dirinya setahun yang lalu.
Bukankah itu juga prestasi?
Mungkin inilah saatnya berhenti mempertentangkan TKA, ANBK, dan rapor.
Karena ketiganya bukan pesaing.
Mereka adalah potongan-potongan puzzle yang sama.
Dan pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu melihat gambar utuhnya.
Bukan hanya hasil satu ujian. Bukan hanya angka di rapor. Dan bukan pula hanya skor asesmen nasional.
Melainkan keseluruhan perjalanan seorang anak untuk menjadi manusia yang lebih baik.


0 Komentar