Essai Mahar Prastowo

Di halaman kantor pusat LDII di kawasan Patal Senayan, Jakarta, daging-daging kurban dibungkus bukan dengan kantong plastik hitam yang lazim kita lihat setiap Idul Adha

Dulu orang menerima daging kurban dalam kantong plastik hitam. Pulang, plastik dibuang. Selesai.

Kini, sebagian warga membawa pulang daging dalam bungkus daun, plastik 
biodegradable (dapat terurai dan didaur ulang), maupun besek sebagai pengganti plastik sekali pakai. Terlihat sepele. Tetapi dari benda kecil itu ada perubahan cara berpikir: ibadah tidak cukup selesai di tempat penyembelihan, melainkan juga memikirkan sampah yang ditinggalkan.

Sebagian lagi memakai wadah yang bisa dipakai lagi untuk kemanfaatan lain.

Bagi sebagian orang, itu detail kecil. Bagi yang lain, itu tanda zaman sedang berubah. 

Idul Adha tak lagi sekadar soal menyembelih hewan. Tapi juga soal bagaimana ibadah tidak meninggalkan jejak sampah

Di tengah antrean warga menerima 600 paket daging kurban, hadir dua wajah publik: penyanyi senior Ida Royani dan aktor Ben Kasyafani. Mereka ikut membagikan daging, menyaksikan tradisi lama bertemu kesadaran baru:
kurban yang lebih peduli lingkungan




Ben menyebut satu hal yang membuatnya terkesan: ibadah kurban ternyata bisa menggerakkan ekonomi ratusan miliar rupiah

Angkanya bukan kecil.

Bukan puluhan.

Melainkan lebih dari
Rp533 miliar.



Dari Ibadah Menjadi Mesin Ekonomi

Data nasional tahun lalu, pada 7 Juni 2025 menunjukkan warga LDII berkurban pada hari tasyrik pertama (10 dzulhijjah):

  • 23.718 sapi
  • 20 kerbau
  • 23.308 kambing

Total: 47.046 ekor hewan kurban

Angka iru belum termasuk data yang menyembelih di hari tasyrik pertama,  kedua dan ketiga, yaitu tanggal 11, 12 dan 13 dzulhijjah yang tidak masuk tabulasi.

Jika harga rata-rata sapi/kerbau Rp20 juta dan kambing Rp2,5 juta, nilai transaksi diperkirakan melampaui
Rp533 miliar. Uang itu mengalir ke peternak, pengepul, sopir angkut, tukang jagal, pembuat kandang, hingga pedagang pakan ternak.

Kurban ternyata bekerja seperti ekonomi desa.

Tidak ramai dibahas seperti hilirisasi nikel.

Tidak masuk indeks saham.

Tetapi nyata menghidupi banyak orang.



Angka Kurban LDII Nasional Terus Naik

Menarik melihat data beberapa tahun terakhir.

Tahun        Jumlah  Hewan Kurban
202242.646 ekor
202347.341 ekor
202450.460 ekor
2025                 47.046 ekor


Ada pola menarik:
Setelah pandemi dan tekanan ekonomi, jumlah kurban LDII tidak turun.

Justru meningkat.

Artinya ada budaya menabung kurban yang mulai mengakar.

Di banyak pengajian LDII, warga dibiasakan menyisihkan dana sejak jauh hari agar Idul Adha tidak bergantung pada kondisi ekonomi sesaat.


Jawa Barat: Miniatur Besar Semangat Kurban

Provinsi dengan warga LDII besar seperti Jawa Barat menunjukkan peningkatan tajam.

Tahun 2023:
4.536 hewan kurban

Tahun 2024:
6.565 hewan kurban
3.228 sapi
3.337 kambing

Perputaran ekonomi diperkirakan
Rp91 miliar hanya di Jawa Barat.

Kenaikan itu mencapai lebih dari 44 persen.

Di tengah kabar daya beli masyarakat melemah, data ini justru memperlihatkan sisi lain: gotong royong berbasis komunitas masih hidup.


Kurban Ramah Lingkungan: Dari Sampah ke Kesadaran Baru

Masalah terbesar Idul Adha selama bertahun-tahun bukan hanya limbah darah atau jeroan.

Tetapi plastik.

Satu paket daging.
Satu lembar kantong plastik.

Ribuan paket berarti ribuan plastik sekali pakai.

Sejumlah panitia kurban LDII mulai menggunakan pembungkus alternatif dan mendorong pengurangan sampah. Gagasan “kurban ramah lingkungan” ini mendapat perhatian publik termasuk Ida Royani dan Ben Kasyafani

Mungkin terlihat sederhana.

Tetapi perubahan besar memang sering dimulai dari kebiasaan kecil.

Dari daun.
Dari besek bambu.
Dari keputusan menolak plastik hitam.


Mengapa Kurban Terus Bertambah?

Ada tiga kemungkinan:

Pertama, pendidikan spiritual jangka panjang.
Warga didorong menabung kurban bertahun-tahun.

Ke
dua, fungsi sosial.
Daging kurban dibagikan bukan hanya kepada internal, tetapi masyarakat sekitar, bahkan lintas kelompok. 

Ketiga, kurban menjadi identitas kepedulian sosial.
Semakin sulit ekonomi, berbagi justru terasa lebih penting.

Indonesia sendiri berkali-kali masuk negara paling dermawan di dunia dalam survei global. Tradisi berbagi seperti kurban ikut menopang budaya itu. 


* * *

Menjelang senja di halaman DPP LDII, kantong-kantong daging habis terbagi.

Orang pulang membawa beberapa kilogram daging.

Sebagian mungkin memasaknya malam itu.

Sebagian menyimpannya untuk esok.

Tetapi yang lebih lama tersimpan mungkin bukan dagingnya.

Melainkan pesan yang sering hilang dalam hiruk-pikuk Idul Adha:

Bahwa ibadah bukan hanya hubungan manusia dengan Tuhan.

Kadang ia menjadi jalan menjaga peternak tetap hidup.

Menolong tetangga makan lebih baik.

Dan, di zaman penuh sampah plastik ini, bahkan menjaga bumi agar sedikit lebih ringan menanggung jejak manusia. 


_____

Ketika tulisan ini diterbitkan, data dan informasi kurban LDII tahun 2026 belum dirilis.
Foto-foto: LINES