Essai Mahar Prastowo

Matahari pagi itu belum sepenuhnya ramai di Ciracas. Tapi di sebuah sudut Jalan Komplek Kebersihan, ada suara yang tidak pernah benar-benar tidur: bunyi plastik diremas, kardus ditumpuk, dan logam beradu pelan. Bukan suara mesin pabrik. Ini suara ekonomi kecil—yang sering dianggap remeh, tapi diam-diam menghidupi.

Akan tetapi di situlah Collection Center Ciracas berdiri. Tidak megah. Tidak juga mencolok. Dari tempat sederhana itu, sampah berubah menjadi angka. Dan angka, seperti biasa, punya cerita sendiri.

Hari itu saya membaca tabel daftar harga yang tampak sederhana:
kardus Rp1.600,
kertas HVS Rp2.000,
buku bekas Rp1.300
.

Angka kecil, tapi tidak pernah benar-benar kecil bagi mereka yang tekun mengumpulkan.

Apakah itu berarti murah? Bisa jadi. Tapi coba kumpulkan 10 kilogram seminggu. Atau 40 kilogram sebulan. Ada tambahan uang yang pelan tapi pasti.

Rencana siapa yang menyangka, botol plastik bening yang sering kita buang begitu saja ternyata bernilai Rp5.000 per kilogram. Sedikit lebih rendah untuk botol biru. Dan jatuh drastis bila kotor.



Perlahan saya berhenti sejenak. Perbedaan harga bukan hanya soal jenis. Tapi soal kebiasaan. Sampah bersih dihargai lebih tinggi. Sampah kotor kehilangan nilai.

Rupanya yang paling menarik justru logam. Panci aluminium bekas bisa mencapai Rp20.000 per kilogram. Wajan Rp17.500. Ini bukan lagi sekadar uang receh.

Angan saya melayang ke dapur-dapur tua, tempat peralatan hitam legam disimpan tanpa harapan. Di tangan bank sampah, itu berubah menjadi tabungan kecil.

Saat melihat besi Rp3.500 dan kaleng Rp1.800, terasa kecil. Tapi jika dikumpulkan, ia tumbuh. Sedikit demi sedikit.

Teringat bahwa kita sering bicara ekonomi besar: triliunan, investasi, proyek raksasa. Tapi di sini, ekonomi bergerak dalam sunyi.

Oleh karena itu, Ciracas menunjukkan cara lain. Tidak gaduh, tidak gemerlap. Tapi nyata.

Warga di sekitar itu tahu betul: sampah bisa jadi uang jajan, bisa jadi tambahan hidup. Bahkan bisa jadi pelajaran bagi anak-anak tentang nilai sesuatu.

Oleh sebab itu pula, kekurangan masih ada. Tidak semua jenis sampah punya harga pasti. Sistem ini masih tumbuh.



Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI, Asep Kuswanto Bank Sampah Pusat Daur Ulang di Ciracas, Jakarta Timur (Foto:SSE,AI)


Price List Bank Sampah Jakarta Timur

Sumber: e-Bank Sampah Pemprov DKI Jakarta


Detail Lokasi

Nama: Collection Center Ciracas
Alamat: Jalan Komplek Kebersihan, RT 1 / RW 9, Kode Pos 13740
Ciracas, Ciracas, Kota Administrasi Jakarta Timur

Telepon: 081296650700


Kurs Sampah Daur Ulang

Kategori Kertas & Kardus

  • Kardus: Rp 1.600/kg
  • Duplek: Rp 600/kg
  • Kertas HVS/Putihan: Rp 2.000/kg
  • Buku: Rp 1.300/kg

Kategori Plastik & Botol

  • Botol Putih: Rp 5.000/kg
  • Botol Biru: Rp 4.000/kg
  • Galon Le Minerale: Rp 3.700/kg
  • Bodong B / Kotor: Rp 2.000/kg
  • Plastik Bodong A: Rp 4.100/kg
  • Bodong Warna: (harga tidak tercantum)

Kategori Logam

  • Aluminium Panci: Rp 20.000/kg
  • Aluminium Kuali/Wajan: Rp 17.500/kg
  • Aluminium Rongsok: Rp 18.000/kg
  • Besi: Rp 3.500/kg
  • Kaleng: Rp 1.800/kg

Kategori Gelas & Plastik Campuran

  • Gelas A: Rp 5.000/kg
  • Gelas B: Rp 3.000/kg
  • Gelas Warna / Monti: Rp 2.000/kg
  • Naso: Rp 3.000/kg
  • Inject: Rp 3.000/kg
  • Gabruk B: Rp 1.800/kg

Kategori Lain-lain

  • Gabruk (emberan, kaleng, gelas, botol, dll): harga tidak tercantum
  • Ember warna: harga tidak tercantum

Catatan

  • Harga dapat berubah sewaktu-waktu sesuai kondisi pasar daur ulang.
  • Beberapa kategori belum memiliki harga tetap dalam daftar. 
  • Informasi selengkapnya dapat menghubungi nomor yang tertera diatas.


Catatan untuk kita semua:

Pisahkan sampah dari rumah. Bersihkan. Keringkan. Karena selisih Rp2.000 dan Rp5.000 per kilogram bukan sekadar angka. Itu soal disiplin. Dan disiplin—seperti biasa—selalu punya harga.