Essai Mahar Prastowo 


Malam Jakarta kini punya genre hiburan baru. Bukan dangdut koplo. Bukan konser musik. Bukan pula balap karung 17-an.

Namanya: konten gerilya.

Panggungnya jalan raya. Properti utamanya hoodie hitam, motor tanpa spion, dan kamera ponsel yang merekam sambil berteriak, “Woy viral… viral…!”

Kadang ditambah efek sinematik: suara knalpot brong yang nadanya seperti kaleng biskuit ditendang dari lantai tiga.

Kita orang dewasa menyebutnya: tawuran.

Para remaja itu sebenarnya kreatif. Sangat kreatif. Mereka berhasil mengubah gang sempit menjadi studio produksi. Mengubah pos ronda menjadi titik checkpoint. Bahkan mengubah ketegangan sosial menjadi reels berdurasi 45 detik.

Masalahnya hanya satu: penontonnya sering tidak membeli tiket untuk ikut takut.

Maka turunlah pasukan lengkap negara.

Ada Binmaspol. Ada Babinsa. Ada Babinpotdirga. Ada Babinpotmar. Ada FKDM. Ada Satpol PP. Ada pengurus RW. Lengkap. Kalau ditambah tukang ronda dan penjual kopi sachet, suasananya sudah seperti operasi gabungan PBB.

Mereka berjaga di tikungan. Menyisir gang. Membubarkan kerumunan.

Anak-anak muda itu kecewa.

“Kenapa sih kami dihalangi berekspresi?”

Pertanyaan itu meluncur dengan wajah serius. Sangat serius. Seolah baru saja membela tesis doktoral tentang hak asasi celurit.

Mereka merasa sedang membangun eksistensi digital. Sedang mencari identitas. Sedang mengejar engagement.

Mungkin benar.

Sebab zaman memang berubah.

Dulu anak muda mencari pengakuan lewat lomba pidato. Sekarang lewat live Instagram sambil berlari membawa bambu.

Dulu orang tua bangga kalau anaknya juara cerdas cermat. Kini ada yang diam-diam bangga ketika video anaknya tembus sejuta views meski caption-nya: “Detik-detik bentrok pecah.”

Algoritma rupanya lebih menyukai adrenalin daripada tata krama.

Maka bentrokan pun kadang terasa seperti festival.

Ada tim dokumentasi. Ada narasi dramatis. Ada editor video. Tinggal kurang sponsor minuman energi.

Karena itulah para remaja ini lalu punya usul yang terdengar “solutif”.

Mereka berharap aparat keamanan jangan terlalu sering menghalangi.

“Biarin aja, Bang. Nanti kalau ada yang luka baru bantu.”

Konsepnya menarik.

Polisi bukan lagi pencegah tawuran, tapi semacam event organizer keselamatan.

Babinsa cukup mengatur parkir. Satpol PP bagian buka jalur ambulans. FKDM membuat laporan kronologi. RW menyediakan konsumsi air mineral.

Kalau ada korban, langsung evakuasi cepat. Profesional. Humanis.

Dengan begitu, menurut mereka, aparat bukan dianggap penghambat kebahagiaan. Tapi pendamping ekspresi.

Negara hadir. Tapi hadir sebagai tim medis backstage.

Logika itu terdengar lucu. Sekaligus getir.

Sebab di balik semua ini ada generasi yang sebenarnya haus diperhatikan, tapi lebih cepat mendapat perhatian ketika membuat kekacauan.

Video tawuran bisa viral dalam sejam.

Video kerja bakti kadang ditonton bahkan oleh RT-nya sendiri pun belum tentu.

Maka jalanan menjadi panggung tercepat untuk merasa ada.

Dan aparat keamanan berubah menjadi “musuh alami konten”.

Padahal tugas mereka sederhana: mencegah sebelum ada ibu yang menangis di IGD.

Karena aparat tahu satu hal yang kadang tidak masuk FYP:

Tubuh manusia tidak punya tombol rewind.

Celurit tidak mengenal kata “cuma konten”.

Aspal juga tidak peduli berapa jumlah followers.

Malam hari, ketika patroli tiga pilar lewat, sebagian remaja mungkin melihat mereka sebagai penghalang kebebasan.

Namun sebagian orang tua melihat lampu rotator itu sebagai alasan bisa tidur lebih nyenyak.

Di situlah ironi kota bekerja.

Anak muda ingin ditemani menuju viral.

Aparat justru sibuk memastikan mereka tetap hidup sampai dewasa.


Sabtu 09 Mei 2026