Essai Mahar Prastowo


Pagi di Jakarta sebenarnya tidak pernah benar-benar bersih.

Ia hanya terlihat rapi.

Kantong-kantong plastik hitam diangkat sebelum matahari tinggi. Gerobak datang. Truk lewat. TPS penuh sebentar lalu kosong lagi. Setelah itu kota kembali tampak normal. Orang berangkat kerja. Anak-anak sekolah. Warung buka. Lampu merah macet seperti biasa.

Sampah menghilang dari pandangan.

Tapi tidak pernah benar-benar selesai.

Barangkali itulah yang sedang coba diubah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta lewat Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber. Sebuah aturan yang sekilas terdengar teknis. Birokratis. Bahkan membosankan.

Namun sesungguhnya ia sedang menyentuh sesuatu yang jauh lebih sulit daripada sekadar mengangkut sampah.

Ia sedang mencoba mengubah kebiasaan manusia.



Di aula Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, poster besar itu dipasang mencolok. Juga dibagikan di grup-grup WhatsApp.

“Kecamatan Makasar Wajib Pilah Sampah!”

Warnanya cerah. Ada gambar anak muda membawa kantong daur ulang. Ada tempat sampah hijau untuk organik. Biru untuk daur ulang. Oranye untuk limbah B3. Hitam untuk residu.

Semua tampak sederhana.

Tetapi justru di situlah masalahnya: hal-hal sederhana sering paling sulit dilakukan terus-menerus.

Poster itu tidak hanya bicara soal sampah. Ia sedang bicara soal disiplin baru sebuah kota.

Mulai 10 Mei 2026, warga diminta memilah sampah sejak dari rumah. Organik dipisahkan. Plastik dipisahkan. Baterai bekas dipisahkan. Residu dipisahkan.

Artinya revolusi itu dimulai bukan di TPS.

Melainkan di dapur.

Di dekat wastafel.

Di ember kecil tempat sisa nasi dan bungkus kopi selama ini dibuang bersamaan.



Selama puluhan tahun Jakarta hidup dengan filosofi yang sama: kumpul–angkut–buang.

Rumah mencampur semua sampah.

Petugas mengambil.

TPS menumpuk.

Truk mengangkut.

TPA menggunung.

Selesai.

Padahal sebenarnya tidak ada yang selesai.

Sampah hanya berpindah alamat.

Dan setiap kali berpindah, biaya bertambah. Bau bertambah. Emisi bertambah. Masalah bertambah.

Karena sampah yang tercampur kehilangan nilainya.

Nasi basi yang seharusnya bisa jadi kompos berubah menjadi busuk bercampur plastik. Botol bekas yang bisa didaur ulang ikut tercemar kuah sisa makanan. Kardus yang tadinya masih punya harga menjadi lembek dan tak bernilai.

Sampah yang tercampur adalah barang mati.

Padahal sebelum bercampur, sebagian masih punya kehidupan kedua.



Di Ciracas, kehidupan kedua itu terlihat nyata.

Tidak megah. Tidak viral. Tidak masuk headline televisi.

Hanya sebuah collection center sederhana di Jalan Komplek Kebersihan.

Tetapi dari tempat sunyi itu, orang belajar bahwa sampah ternyata punya harga.

Kardus Rp1.600 per kilogram.

Botol putih Rp5.000.

Buku bekas Rp1.300.

Panci aluminium sampai Rp20.000.

Angkanya memang kecil.

Namun ekonomi rakyat memang sering bergerak dari angka-angka kecil yang dikumpulkan dengan tekun.

Yang menarik justru bukan harga itu sendiri. Melainkan syaratnya.

Sampah harus bersih.

Harus kering.

Harus dipilah.

Botol yang bersih dihargai lebih mahal daripada botol kotor. Plastik yang dipisahkan punya nilai lebih tinggi daripada plastik campur.

Di situlah sebenarnya pendidikan lingkungan bekerja diam-diam.

Disiplin ternyata punya harga.

Dan kota modern pada akhirnya dibangun oleh disiplin-disiplin kecil yang dilakukan setiap hari.



Karena itu, salah besar jika kebijakan pilah sampah dipahami sekadar proyek memindahkan sampah dari lapak ke kecamatan.

Justru inti kebijakan ini kebalikannya.

Sampah harus selesai sebelum sampai TPS.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi dampaknya besar.

Artinya organik harus selesai di rumah atau lingkungan. Bisa jadi kompos. Bisa masuk lubang biopori. Bisa jadi pakan maggot BSF.

Anorganik selesai lewat bank sampah.

Yang benar-benar tidak bisa diolah lagi barulah menjadi residu.

Dengan cara itu, hanya sebagian kecil sampah yang akhirnya menuju TPA.

Jakarta sedang mencoba berpindah dari budaya membuang menjadi budaya mengelola.

Dan itu tidak mudah.

Membangun TPS baru mungkin lebih gampang daripada mengubah kebiasaan jutaan warga.



Masalah terbesar sampah memang bukan teknologi.

Bukan juga truk.

Melainkan perilaku manusia.

Pemerintah bisa membuat aturan. Camat bisa mengadakan sosialisasi. Lurah bisa membentuk bank sampah. RW bisa menggelar lomba pilah sampah.

Tetapi satu hal tidak bisa dipaksa:

orang mau memilah sampah di rumahnya sendiri.

Karena kebiasaan selalu lebih kuat daripada instruksi.

Dan kebiasaan buruk biasanya lahir dari kenyamanan.

“Yang penting diangkut.”

Kalimat itu selama ini menjadi filosofi diam-diam kota besar.

Begitu sampah hilang dari depan rumah, urusan dianggap selesai.

Padahal sesungguhnya masalah baru dimulai setelah itu.



Di Kecamatan Makasar, pendekatan yang dipilih mulai menyentuh akar sosialnya.

Bank sampah RW dihidupkan. Warga diajak membuat lubang biopori. Petugas kebersihan diminta tidak mencampur ulang sampah yang sudah dipilah warga.

Ini penting.

Karena tidak ada yang lebih mematikan semangat warga selain melihat sampah yang sudah dipilah susah payah akhirnya dicampur lagi di gerobak.

Edukasi bisa runtuh dalam satu perjalanan.

Maka revolusi sampah bukan hanya soal warga. Tetapi juga soal konsistensi sistem.

Semua harus berubah bersamaan.

Rumah tangga.

Petugas.

RW.

Kelurahan.

Pasar.

Restoran.

Sekolah.

Bahkan cara berpikir pemerintah sendiri.



Mungkin benar: masa depan Jakarta tidak ditentukan di ruang rapat.

Ia ditentukan di sudut dapur rumah-rumah kecil.

Di keputusan sederhana seseorang saat memisahkan sisa makanan dari botol plastik.

Di anak kecil yang mulai tahu bahwa bungkus jajannya tidak boleh dibuang sembarangan.

Di ibu rumah tangga yang menyediakan dua tempat sampah berbeda.

Di petugas gerobak yang memilih tidak mencampur ulang.

Perubahan besar memang sering lahir dari tindakan yang tampak remeh.

Dan sampah, pada akhirnya, bukan sekadar benda yang kita buang.

Ia adalah cermin kebiasaan kita sendiri.

Sebab kota yang bersih bukan kota yang pandai menyembunyikan sampah.

Melainkan kota yang warganya belajar bertanggung jawab atas apa yang mereka hasilkan.



Jum'at_08052026