Dari Wilayah Rawan Tawuran,
Susukan Mencoba Menjadi Ruang Harapan
Essai Mahar Prastowo
Senin, 18 Mei 2026, kolong flyover Pasar Rebo tidak seperti biasanya.
Tidak ada suara sirene. Tidak ada kabar bentrok. Tidak ada kelompok remaja saling menantang.
Yang terdengar justru tepuk tangan.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, datang meresmikan arena ring tinju dan skate park di kawasan Kelurahan Susukan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur. Tempat yang dulu sering dikaitkan dengan tawuran kini diberi identitas baru: ruang olahraga dan pembinaan anak muda.
Barangkali ini salah satu ironi paling menarik di Jakarta:
Di atas flyover, kendaraan dipercepat agar tidak macet.
Di bawah flyover, manusia dibina agar tidak bentrok.
Peresmian itu bukan sekadar gunting pita.
Ada pesan politik kebijakan di sana.
Pramono menyebut angka tawuran di kawasan tersebut telah menurun drastis. Pemerintah DKI menilai penyediaan ruang aktivitas produktif bagi remaja lebih efektif dibanding hanya pendekatan penertiban semata. Bahkan model serupa disebut akan dikembangkan ke wilayah lain seperti Kampung Melayu.
Kalimat gubernur itu terdengar sederhana.
Tetapi maknanya besar:
"Anak muda yang diberi arena, kadang tidak lagi mencari lawan."
Saya membayangkan seorang remaja Susukan.
Usia 15 atau 16 tahun.
Sebelumnya malam diisi nongkrong.
Mungkin ikut konvoi.
Mungkin ikut ejek-ejekan antar wilayah.
Kini sore hari ia memakai handwrap, sarung tinju, lalu berdiri di atas ring.
Belajar memukul.
Sekaligus belajar ditahan.
Karena tinju yang benar bukan mengajarkan brutal.
Tinju justru mengajarkan disiplin.
Mengontrol emosi.
Menghormati lawan.
Arena itu berdiri setelah berbagai unsur pemerintah dan masyarakat menyiapkan kawasan tersebut.
Sehari sebelum peresmian, sekitar 150 personel gabungan melakukan kerja bakti besar membersihkan kolong flyover Pasar Rebo agar siap digunakan sebagai fasilitas publik.
Membersihkan sampah relatif mudah.
Sehari sebelum peresmian, sekitar 150 personel gabungan melakukan kerja bakti besar membersihkan kolong flyover Pasar Rebo agar siap digunakan sebagai fasilitas publik.
Membersihkan sampah relatif mudah.
Membersihkan kultur tawuran jauh lebih lama.
Yang menarik, peresmian Senin itu bukan hanya dihadiri unsur pemerintah.
Sejumlah tokoh masyarakat, pegiat pendidikan, dan pihak yang berkepentingan terhadap pembinaan generasi muda ikut hadir menyaksikan perubahan wajah ruang publik tersebut.
Di antara yang hadir tampak Ketua Umum Forum Komunikasi Komite Sekolah (FKKS) Jakarta Timur, Samsul Bahri.
Kehadiran unsur pendidikan seperti FKKS memiliki arti tersendiri.
Karena akar tawuran sering tidak berdiri sendirian.
Ia terkait sekolah.
Lingkungan.
Keluarga.
Pertemanan.
Dan hilangnya ruang tumbuh bagi remaja.
Maka penyelesaiannya pun tidak cukup dilakukan polisi saja atau pemerintah saja.
Sekolah ikut penting.
Orang tua ikut penting.
Komunitas ikut penting.
Ring tinju itu mungkin tampak kecil dibanding gedung pencakar langit Jakarta.
Tidak semegah stadion.
Tidak semahal proyek infrastruktur.
Namun bisa jadi dampaknya lebih panjang.
Karena satu remaja yang gagal masuk tawuran malam ini…
Mungkin berarti satu keluarga yang tidak menangis esok hari.
Ada pertanyaan yang lebih besar:
Apakah arena ini akan hidup terus?
Apakah enam bulan lagi masih dipenuhi latihan?
Atau hanya ramai saat peresmian?
Sejarah kota sering memperlihatkan fasilitas publik yang semangatnya besar di awal lalu perlahan sepi.
Karena menjaga ruang jauh lebih sulit daripada membangun ruang.
Kini kolong flyover Susukan mempunyai identitas baru.
Bukan lagi semata tempat rawan.
Bukan lagi ruang kosong.
Melainkan tempat orang belajar menerima pukulan—tanpa membalas dengan kebencian.
Jakarta sedang menguji gagasan sederhana:
Bahwa mengurangi tawuran mungkin tidak selalu dimulai dari hukuman.
Kadang dimulai dari menyediakan ring.
Sarung tinju.
Lampu yang menyala.
Pelatih yang sabar.
Dan keyakinan bahwa anak-anak muda Jakarta Timur masih layak diberi kesempatan kedua.
(mp)



0 Komentar