Essai Mahar Prastowo
Perjalanan menuju Bumi Perkemahan Kosambiwojo CAI, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, bukan perjalanan biasa. Setelah meninggalkan jalan utama, kendaraan mulai memasuki kawasan perbukitan. Aspal berubah menjadi lintasan yang menurun tajam, berkelok, dan sesekali membuat jantung berdegup lebih cepat. Pengemudi harus piawai memainkan kemudi dan perpindahan gigi. Sedikit lengah, kendaraan akan terasa meluncur terlalu cepat di lereng yang curam.
Sesampainya di gerbang kawasan, kendaraan berhenti di tanah lapang yang menjadi area parkir. Dari titik itu, sebagian besar tamu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuruni jalan yang cukup terjal menuju pusat kegiatan. Kendaraan yang mendapat akses turun pun tidak bisa sembarangan. Begitu melewati turunan, hampir tanpa lintasan datar, kendaraan langsung tiba di arena utama. Ketika hendak kembali ke atas, tantangannya lebih terasa. Jalur tanjakan tidak memberi banyak ruang untuk ancang-ancang. Mesin harus bertenaga, pengemudi sigap, dan gigi satu menjadi andalan untuk menaklukkan tanjakan.
Di bawah sana berdiri bangunan yang oleh para peserta disebut "tenda". Namun jangan membayangkan tenda kecil seperti perkemahan Pramuka. Yang dimaksud adalah sebuah tenda permanen berukuran sangat besar, menyerupai aula terbuka dengan bentang atap yang mampu menaungi ribuan orang sekaligus. Di sanalah seluruh kegiatan utama berlangsung, mulai dari pembukaan, pembinaan, hingga berbagai sesi kebersamaan.
Mengelilingi aula itu terdapat deretan mess atau asrama berupa kamar-kamar yang menjadi tempat beristirahat peserta. Meski demikian, suasana berkemah tetap hidup. Di sejumlah sudut kawasan masih berdiri tenda-tenda kecil yang dihuni peserta yang tidak memperoleh kamar atau mereka yang memang memilih merasakan pengalaman bermalam lebih dekat dengan alam. Udara pegunungan yang sejuk, pepohonan yang rindang, dan hamparan perbukitan membuat suasana perkemahan benar-benar terasa.
Di tempat itulah, Senin (29/6/2026), ribuan santri dan alumni Pondok Pesantren Gadingmangu Perak dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul mengikuti Perkemahan Akhir Tahun Cinta Alam Indonesia (PERMATA CAI) ke-47 Tahun 2026. Mereka tidak sekadar mengikuti kegiatan berkemah, tetapi menjalani proses pembentukan karakter, kepemimpinan, kedisiplinan, serta kecintaan terhadap alam dan bangsa.
Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka hadir membuka kegiatan tersebut. Turut mendampingi, Ketua Umum Senkom Mitra Polri, Katno Hadi, bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Bupati Jombang Warsubi, serta Pelaksana Tugas Sekretaris Wakil Presiden Al Muktabar. Kehadiran mereka menunjukkan sinergi pemerintah dan elemen masyarakat dalam menyiapkan generasi muda sebagai modal menuju Indonesia Emas 2045.
Dalam sambutannya, Gibran mengingatkan bahwa Indonesia akan memasuki puncak bonus demografi pada periode 2030–2045, ketika mayoritas penduduk berada pada usia produktif. Momentum tersebut hanya akan menjadi berkah apabila generasi mudanya memiliki karakter kuat, akhlak yang baik, wawasan luas, dan kemampuan berwirausaha.
"Anak muda harus diperluas wawasannya, diperkuat akhlak serta karakternya, dan diberi bekal kemandirian serta keterampilan berwirausaha. Karena Indonesia akan mengalami puncak bonus demografi di tahun 2030–2045 nanti," ujar Gibran.
Pesan itu sejalan dengan arah pembangunan nasional melalui Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, yang menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai prioritas, sekaligus mendorong tumbuhnya kewirausahaan dan penguatan ekonomi kerakyatan.
Usai membuka perkemahan, Gibran mengunjungi Al Qomar Bakery di lingkungan Pondok Pesantren Wali Barokah. Aroma roti yang baru keluar dari oven menyambut rombongan. Bakery itu bukan sekadar tempat produksi, melainkan laboratorium kewirausahaan bagi para santri.
Kini Al Qomar Bakery telah memproduksi sekitar 40 varian roti yang dipasarkan secara langsung maupun melalui platform digital. Para santri belajar mulai dari proses produksi, pengemasan, pemasaran, hingga pengelolaan usaha. Gibran berharap model pembelajaran seperti itu dapat diterapkan di lebih banyak pondok pesantren di Indonesia.
"Ini bagus sekali dan saya harap bisa direplikasi di pondok pesantren lain," katanya.
Di tengah derasnya arus informasi digital, Gibran juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan bangsa. Menurutnya, generasi muda harus memiliki kemampuan menyaring informasi agar tidak mudah terprovokasi oleh berita bohong yang berpotensi memecah belah masyarakat.
"Jangan mudah terprovokasi, jangan mudah percaya kabar bohong karena kita harus saling menguatkan, saling menjaga, dan saling topang, karena tidak ada satu negara pun yang bisa melakukan pembangunan dalam kondisi tidak stabil, tidak bersatu, dan terpecah belah," tegasnya.
Ketua Umum Senkom Mitra Polri, Katno Hadi, menyambut baik perhatian pemerintah terhadap pembinaan generasi muda melalui PERMATA CAI.
"Kehadiran Bapak Wakil Presiden merupakan bentuk nyata perhatian pemerintah terhadap pembinaan karakter generasi muda. Pesan-pesan yang disampaikan menjadi motivasi bagi seluruh peserta untuk terus meningkatkan kualitas diri, berakhlak mulia, mandiri, serta siap menjadi generasi penerus bangsa yang unggul," ujarnya.
Katno menambahkan, nilai-nilai yang ditanamkan dalam PERMATA CAI selaras dengan komitmen Senkom Mitra Polri dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia yang berkarakter, disiplin, memiliki semangat bela negara, dan kepedulian sosial.
"Senkom Mitra Polri mendukung penuh setiap upaya pemerintah dalam membangun generasi muda yang berkarakter, cinta tanah air, tangguh menghadapi tantangan zaman, serta mampu menjaga persatuan dan keutuhan bangsa. Semangat kolaborasi seperti ini perlu terus diperkuat demi Indonesia yang semakin maju," katanya.
Ketika acara usai, para peserta kembali ke mess, sebagian lagi menuju tenda-tenda kecil yang tersebar di lereng perkemahan. Menjelang sore, kabut perlahan turun menyelimuti kawasan Kosambiwojo. Dari atas bukit, aula besar itu tetap menjadi pusat kehidupan, dikelilingi alam yang tenang sekaligus medan yang menantang.
Barangkali itulah filosofi tempat ini. Untuk sampai ke pusat kegiatan, orang harus menuruni jalan yang curam. Untuk kembali ke atas, dibutuhkan tenaga, kesabaran, dan ketepatan mengendalikan kendaraan. Begitu pula membangun Indonesia. Jalannya tidak selalu mudah. Butuh karakter, ketangguhan, dan kebersamaan.
Dan di Wonosalam, di bawah bentangan tenda aula yang menaungi ribuan anak bangsa, harapan itu kembali dititipkan kepada generasi yang kelak akan mengantarkan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
...
Sore mulai turun di Wonosalam. Satu per satu rombongan meninggalkan arena. Aula besar itu kembali lengang. Namun pesan yang ditinggalkan tidak ikut pulang. Gibran datang membawa optimisme tentang bonus demografi. PERMATA CAI ke-47 menunjukkan bahwa pembinaan karakter tidak cukup diajarkan di ruang kelas, tetapi juga ditempa di alam terbuka, dalam kebersamaan, kedisiplinan, dan kemandirian. Sementara kehadiran Senkom Mitra Polri menjadi penanda bahwa membangun generasi unggul bukan hanya tugas pemerintah, melainkan kerja bersama seluruh elemen bangsa. Ketika negara, lembaga pendidikan, dan organisasi masyarakat berjalan dalam irama yang sama, Indonesia tidak sekadar sedang menyiapkan generasi penerus. Indonesia sedang menyiapkan pemimpin-pemimpin masa depan. Dan mungkin, beberapa di antara mereka, yang hari itu duduk bersila di bawah bentangan tenda besar Kosambiwojo, kelak akan menjadi orang-orang yang menentukan arah republik ini.
(MP)

1 Komentar
Alhamdulillah,semoga mas Gibran dijadikan pemimpin yang Jujur,amanah,Aries,Arief,adil,bijaksana ,Akhlaqul Qarimah seperti Nabi Muhammad Saw dan event seperti permata CAI yang bisa menjadi contoh dalam pengemblengan generasi penerus bangsa Indonesia
BalasHapus