Essai Mahar Prastowo 


Matahari Kota Tua tidak bersahabat.
Panasnya menyengat sejak pagi. Aspal memantulkan cahaya. Baju sadariah dengan kain penuh warna dan kebaya encim yang dikenakan dua ribuan anggota Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) se-DKI Jakarta pun cepat basah oleh keringat.

Tetapi tidak ada yang mengeluh.

"Mau panas? Jangankan panas, begadang pun siap."

Kalimat yang dilontarkan 
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DKI Jakarta, Muhammad Matsani, itu disambut tepuk tangan. Disusul tawa. Lalu semangat kembali menggelora.

Begitulah suasana Fun Color FKDM se-DKI Jakarta, Minggu (28/6/2026), di kawasan bersejarah Kota Tua Jakarta. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-499 Kota Jakarta sekaligus ajang mempererat persaudaraan para anggota FKDM dari lima kota administrasi dan Kabupaten Kepulauan Seribu.

Setelah jalan-jalan menikmati berbagai sudut Kota Tua, aroma yang paling mengundang justru datang dari bara api.

Bukan sate.
Bukan jagung.
Melainkan pisang uli bakar.

Pisang-pisang itu dipanggang bersama. Ada yang dibakar sederhana. Ada yang dihias topping dari keju, susu sampai es krim. Bahkan digelar penilaian kreasi penyajian pisang uli bakar paling menarik. Seusai dinilai, semuanya tidak dibiarkan dingin. Pisang-pisang itu disantap bersama-sama. Tidak ada yang membawa pulang. Semua menikmati dalam suasana penuh keakraban.

Itulah simbol gotong royong.

Yang dibakar bukan sekadar pisang. Yang dipanaskan adalah rasa kebersamaan.

Kemeriahan semakin lengkap ketika panitia menggelar pengundian doorprize. Sorak-sorai pecah setiap nomor undian dipanggil. Yang belum beruntung tetap tersenyum. Karena hari itu memang bukan tentang hadiah. Melainkan tentang bertemu, saling mengenal, dan memperkuat ikatan.

Siang menjelang sore itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DKI Jakarta, Muhammad Matsani, membuka sambutannya dengan pantun.

Pagi cerah berlari bersama,
Warna-warni penuh ceria.
FKDM bersatu jaga Jakarta,
Aman rukun sepanjang masa.


Pantun sederhana. Namun pesannya dalam.

Menurut Matsani, momentum ulang tahun Jakarta bukan sekadar bertambahnya usia ibu kota.

Yang lebih penting adalah bagaimana membangun masyarakatnya.

"Jakarta maju bukan hanya dibangun dengan infrastruktur baru, tetapi juga masyarakat yang dibangun dengan semangat gotong royong, kerja kolektif, dan kolaboratif. FKDM harus memberi manfaat karena paling mengetahui potensi maupun persoalan yang ada di bawah," ujarnya.

Ia kembali menegaskan peran FKDM sebagai mitra strategis Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam membangun sistem kewaspadaan dini melalui deteksi dini dan pencegahan dini terhadap berbagai potensi ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan (ATHG).

Di tengah masyarakat Jakarta yang majemuk, peran itu menjadi semakin penting.

"Jakarta hidup dalam keberagaman. Berbeda-beda tetapi tetap satu."

Suasana kembali hidup ketika Matsani mengajak seluruh peserta menyeru laksana ikrar penegas.

"FKDM, siap jaga kampung?"

"Siap!"

"Siap jaga Jakarta?"

"Siap!"

Jawaban itu menggema di pelataran Kota Tua.

Ketua FKDM Provinsi DKI Jakarta, Adhi Ayie Yanthi, mengingatkan bahwa anggota FKDM adalah bagian dari masyarakat sipil yang memiliki disiplin tinggi, meski gaya kerja mereka berbeda dengan aparat pemerintah maupun aparat keamanan.

Justru karena berasal dari masyarakat, mereka lebih mengenal denyut kehidupan di lingkungannya.

Lebih cepat menangkap gejala.
Lebih awal membaca perubahan.
Lebih mudah membangun komunikasi.

Soliditas itu terlihat sepanjang kegiatan.

Tidak ada sekat wilayah.

FKDM Jakarta Pusat bercengkerama dengan Jakarta Timur. Jakarta Barat berbaur dengan Jakarta Utara. Jakarta Selatan dan Kepulauan Seribu ikut larut dalam suasana kekeluargaan.

Kota Tua hari itu bukan sekadar lokasi wisata.

Ia menjadi ruang silaturahmi.

Tempat semangat kewaspadaan dini dibangun dengan cara yang hangat.

Dengan hiburan.
Dengan canda.
Dengan tawa.
Dengan pisang uli bakar.

Dan dengan keyakinan bahwa Jakarta yang aman tidak hanya lahir dari kebijakan pemerintah, tetapi juga dari masyarakat yang peduli terhadap lingkungannya.

Ketika bara mulai padam dan kulit pisang mulai menghitam, kebersamaan justru terasa semakin matang.

Mungkin itulah makna sesungguhnya dari kegiatan hari itu.

Menjaga Jakarta bisa dimulai dari hal-hal sederhana.

Dari berkumpul.
Dari saling mengenal.
Dari membakar pisang uli.
Lalu menikmatinya bersama.



(mp)



Galeri: