Catatan Sosialisasi Pilah Sampah RT 006/03 Kebon Pala, Makasar, Jakarta Timur
Essai Mahar Prastowo*
Mulai 1 Juli nanti, kebiasaan lama itu harus diakhiri.
Tidak ada lagi cerita: sampah dicampur, diikat dalam kantong plastik hitam, lalu dibuang begitu saja ke TPS RW.
Yang berubah bukan hanya aturan.
Yang harus berubah adalah kebiasaan.
Pesan itu berulang kali muncul dalam sosialisasi pilah sampah di RT 006 RW 03, Kelurahan Kebon Pala, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur. Bukan seminar mewah. Bukan pula rapat penuh istilah teknis. Yang hadir adalah warga. Yang dibicarakan juga urusan rumah tangga: sisa nasi, kulit buah, botol plastik, kardus, sampai pakaian bekas.
Ketua Pengurus Bank Sampah RT 006/03, Neni Isnaini, memulai dengan kenyataan paling sederhana.
Harga sampah anorganik yang bisa didaur ulang, ternyata tidak tetap.
Nilai plastik, kardus, kaleng, hingga logam selalu mengikuti harga dari lapak pengepul. Kadang naik. Kadang turun. Bank sampah tidak menentukan harga sesuka hati, melainkan mengikuti pasar.
Karena itu, tujuan utama bank sampah bukan mengejar keuntungan besar.
Melainkan membangun kebiasaan memilah.
Bank sampah menerima sampah dalam kondisi bersih. Label merek sebaiknya sudah dilepas. Botol cukup dibilas. Jika masih kotor, akan merepotkan pengurus. Bahkan bisa menjadi "gabruk"—menumpuk, bau, dan sulit dipilah kembali.
Lalu muncul pertanyaan yang sering ditanyakan warga.
Bagaimana dengan pakaian bekas?
Jawabannya sederhana. Bila masih layak pakai, pakaian dapat disalurkan kepada yang membutuhkan atau disumbangkan. Bila sudah tidak layak, bisa dimanfaatkan menjadi kain lap, kerajinan, atau diserahkan ke pengelola daur ulang tekstil bila tersedia.
Tidak semua sampah harus berakhir di tempat pembuangan.
Sebagian masih punya kehidupan kedua.
Neni kemudian mengingatkan kembali dasar dari semua persoalan.
Sampah dibagi menjadi lima kelompok.
Organik seperti sisa makanan, daun, sayuran, dan kulit buah.
Anorganik seperti plastik, botol, kertas, kardus, logam, dan kaleng.
B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) seperti baterai bekas, lampu neon, obat kedaluwarsa, cat, dan pestisida.
Residu seperti popok sekali pakai, tisu bekas, puntung rokok, serta kaca beling.
Terakhir adalah sampah elektronik seperti telepon seluler, kabel, komputer, dan charger.
Dari lima kategori itu, hanya residu dan B3 yang nantinya diangkut Dinas Lingkungan Hidup.
Sisanya harus mulai diselesaikan dari rumah.
Sampah organik bahkan tidak boleh terlalu lama disimpan.
Cepat membusuk.
Cepat berbau.
Karena itu, di kawasan dalam pagar Jagorawi telah disiapkan lubang-lubang pengolahan organik lengkap dengan tong penampungan. Namun yang boleh masuk ke lokasi hanya petugas.
Ketua RT 006, Abdul Syukur, menjelaskan bahwa warga cukup membuang sampah organik ke tong yang sudah disediakan di lingkungan RT. Selanjutnya petugas yang akan membawa ke lokasi pengolahan.
Jumlah warga RT 006 mencapai sekitar 130 kepala keluarga.
Bayangkan berapa kilogram sisa dapur yang dihasilkan setiap hari.
Kalau semuanya tercampur, masalah ikut membesar.
Ketua RW 03, Agus Hermawan, kemudian mengingatkan mengapa perubahan ini mendesak.
Belum lama ini terjadi musibah longsoran gunungan sampah yang menelan korban petugas kebersihan. Persoalan sampah sudah tidak bisa lagi dianggap urusan belakang rumah.
Mulai 1 Agustus 2026, hanya sekitar 50 persen sampah DKI Jakarta yang dapat diterima di TPST Bantar Gebang.
Sisanya harus selesai sejak dari sumbernya.
Dari rumah.
Kalau dulu truk dari TPS langsung menuju Bantar Gebang, kini harus mengantre di sejumlah titik seperti kawasan Danau Halim, Kramat Jati, hingga Jatinegara sebelum bisa melanjutkan perjalanan.
Kapasitas semakin terbatas.
Karena itu solusi paling murah justru berada di dapur masing-masing.
Agus mengajak warga membuat kompos sendiri menggunakan galon bekas air mineral 19 liter.
Caranya tidak rumit.
Galon dilubangi sebagai ventilasi. Dasarnya diisi daun kering atau sekam. Lalu ditambah sisa sayur, kulit buah, ampas kopi, kemudian ditutup lagi dengan bahan kering. Sesekali diaduk setiap tiga hingga tujuh hari.
Sekitar satu hingga dua bulan kemudian akan berubah menjadi kompos berwarna cokelat kehitaman, berbau tanah hutan, dan siap menjadi pupuk.
Agar lebih cepat terurai, Agus menyarankan menggunakan air cucian beras.
Lebih murah.
Lebih mudah.
Tidak perlu membeli aktivator yang harganya relatif mahal.
Sementara sampah anorganik seperti botol plastik, galon, kardus, kertas, logam, dan besi dapat ditabung di bank sampah.
Setiap nasabah akan memiliki buku tabungan sendiri.
Sampah berubah menjadi nilai ekonomi.
Sekretaris RW 03, Andi Firmansyah, mengapresiasi langkah RT 006 yang telah menyediakan tong pemilahan sekaligus memanfaatkan lahan di sekitar jalan tol Jagorawi untuk pengolahan organik.
Menurutnya, salah satu persoalan terbesar bukan lagi memilah, tetapi menentukan ke mana hasil olahan organik itu dibawa.
Menurutnya, salah satu persoalan terbesar bukan lagi memilah, tetapi menentukan ke mana hasil olahan organik itu dibawa.
Kini solusi mulai tersedia.
Yang tersisa tinggal partisipasi warga.
Malam itu tidak ada tepuk tangan panjang.
Tidak ada seremoni.
Yang ada justru kesadaran bahwa persoalan sampah ternyata bukan semata urusan pemerintah.
Instruksi gubernur memang menjadi pemicu.
Namun yang menentukan berhasil atau tidak adalah tangan-tangan warga sendiri.
Karena setiap kantong sampah selalu berawal dari satu tempat.
Dapur.
Dan perubahan besar sering kali memang dimulai dari hal yang paling kecil.
*Penulis adalah Anggota Forum Komunikasi Kota Sehat (FKKS) Kecamatan Makasar, Kota Administrasi Jakarta Timur

0 Komentar