Essai Mahar Prastowo



Tidak semua pahlawan gugur di medan perang.

Ada yang gugur di atas sebuah pompong kecil. Di tengah arus sungai yang deras. Saat yang diperiksanya bukan narkotika. Bukan emas batangan. Bukan pula barang selundupan bernilai miliaran rupiah.

Yang dia awasi hanyalah cangkang sawit.

Palm Kernel Shell. PKS. Barang ekspor curah yang bagi sebagian orang mungkin hanya limbah perkebunan. Namun bagi negara, setiap kilogramnya adalah bagian dari tata niaga yang harus diawasi. Dari situlah penerimaan negara dijaga. Dari situlah aturan ditegakkan.

Nama petugas itu Aditya Waskita Jauhari.

Ia berangkat bekerja seperti biasa. Barangkali pagi itu ia juga sempat berpamitan kepada keluarga dengan kalimat yang sama seperti jutaan pekerja Indonesia: "Saya berangkat dulu."

Tidak ada yang menyangka kalimat sederhana itu menjadi salam terakhir.

Dalam perjalanan melakukan pengawasan pemuatan barang ekspor di perairan Tanjung Buton, pompong yang ditumpanginya terbalik diterjang arus. Rekan-rekannya berhasil diselamatkan. Aditya tidak.

Indonesia kehilangan seorang aparatur negara.


Bea Cukai belakangan memang sering menjadi sasaran kritik. Ada yang pantas. Ada yang berlebihan. Di era media sosial, satu kesalahan bisa menjadi tontonan nasional dalam hitungan menit.

Sebagai institusi publik, kritik tentu harus diterima. Transparansi harus terus diperbaiki. Pelayanan wajib semakin baik. Tidak ada ruang untuk arogan.

Namun, di balik sebuah institusi, selalu ada manusia.

Ada ribuan petugas yang bekerja di pelabuhan, bandara, perbatasan, hingga perairan terpencil. Mereka memeriksa kontainer, menghitung muatan kapal, mengawasi ekspor-impor, bahkan menghadapi cuaca buruk dan risiko kecelakaan yang jarang diketahui masyarakat.

Pekerjaan mereka tidak selalu dilakukan di balik meja berpendingin udara.

Kadang justru di tengah laut.

Kadang di sungai.

Kadang di malam hari.

Dan kadang, mempertaruhkan nyawa.


Kematian Aditya mengingatkan bahwa negara tidak hanya dijaga oleh mereka yang memegang senjata.

Negara juga dijaga oleh mereka yang memastikan setiap dokumen sesuai, setiap barang tercatat, setiap aturan dipatuhi. Pekerjaan yang sering dianggap rutin, tetapi sesungguhnya menjadi bagian penting dari menjaga kedaulatan ekonomi.

Mungkin publik tidak pernah mengenal namanya sebelum hari itu.

Justru karena ia bekerja tanpa sorotan.


Duka ini juga menjadi pengingat bahwa keselamatan petugas lapangan harus menjadi perhatian utama. Peralatan yang memadai, standar keselamatan yang ketat, serta evaluasi terhadap setiap operasi di lapangan adalah penghormatan terbaik bagi mereka yang masih melanjutkan tugas.

Sebab tidak ada penerimaan negara yang sepadan dengan hilangnya satu nyawa.


Aditya telah menyelesaikan pengabdiannya.

Yang tersisa bagi kita adalah doa, penghormatan, dan kesediaan melihat sesuatu secara lebih utuh.

Mengkritik institusi negara tetap perlu.

Tetapi jangan sampai kritik membuat kita lupa bahwa di balik seragam yang sering menjadi sasaran kemarahan publik, ada manusia yang bekerja dengan sungguh-sungguh. Ada ayah, anak, suami, atau sahabat yang setiap pagi berangkat dengan harapan dapat kembali ke rumah.

Tidak semuanya berhasil pulang.

Aditya adalah salah satunya.

Selamat jalan, Ksatria Bea Cukai.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahmu, mengampuni segala khilafmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin.