Puisi Dian Eka Harianti


Aku tidak pernah diajari
bagaimana menenangkan ibu yang kehilangan dapur
bagaimana menjawab anak kecil yang lapar
dengan suara yang tidak bergetar

Di sekolah pemerintahan
tidak ada mata pelajaran tentang air
yang masuk tanpa salam


Pagi itu
aku berdiri di tengah genangan
rok dinasku basah sampai lutut
sepatu tak lagi penting

Seorang ibu memegang lenganku

“Bu Lurah, anak saya belum makan.”

Aku ingin memeluknya
tapi tanganku penuh
oleh daftar nama
yang terus bertambah seperti genangan


Namaku dipanggil berkali-kali
bukan sebagai diriku
tapi sebagai jawaban

“Bu, bantuan mana?”
“Bu, kapan datang?”
“Bu, kenapa belum?”

Aku belajar satu hal hari itu:
menjadi lurah
adalah menjadi tempat semua tanya
tanpa punya semua jawab


Di layar ponselku
pesan-pesan masuk seperti hujan kedua

koordinasi
laporan
permintaan data

Ah, data

Ia rapi
ia patuh
ia punya syarat

durasi genangan
ketinggian air
berapa jam rumah terendam

Aku membaca itu semua
sementara di depanku
seorang ibu hanya menghitung
berapa jam anaknya belum makan



Kadang
aduan warga tidak menjelma bantuan

Ia berhenti di meja-meja
di angka-angka
di batas minimal
yang tak pernah dipahami perut lapar

Aku hanya bisa melapor ke atas
mengirim angka
mengirim foto
mengirim harap

dan menunggu
seperti warga menungguku


Aku bukan gudang logistik
aku bukan pengambil keputusan

aku hanya simpul kecil
yang menahan derasnya tuntutan
agar tidak semuanya pecah sekaligus



Sore itu
aku berkata pelan
kepada beberapa yang datang

“Bantuan belum bisa turun, Bu...
belum memenuhi kriteria.”

Kalimat itu
terasa lebih berat
daripada air yang menggenang



Di luar kantor
ada tangan-tangan lain yang datang

dari komunitas kecil
dari orang-orang yang tak menunggu instruksi

dari mereka yang percaya
bahwa menolong tidak selalu perlu surat tugas

Aku melihat harapan
datang dari arah yang tak selalu resmi


Wahai sektor swasta
wahai partai
wahai ormas

jangan hanya datang
dengan spanduk dan tuntutan

datanglah dengan nasi hangat
dengan selimut
dengan tangan yang mau basah

saat bencana tiba
bukan saatnya bertanya siapa salah

tapi siapa mau ikut menolong

...

Malam datang
lebih sunyi dari biasanya

Di rumah
anakku mungkin bertanya
kenapa ibunya belum pulang

Aku ingin menjawab
tapi aku sedang menjadi ibu
bagi kelurahan yang kebanjiran



Aku duduk sebentar
hanya sebentar

lalu berdiri lagi

karena air belum surut
dan harapan tidak boleh ikut tenggelam



Jika esok air pergi
dan semua kembali biasa

mungkin tak ada yang mengingat
siapa yang berdiri paling lama
di antara aturan dan kenyataan


Tapi aku akan ingat

bahwa hari itu
aku belajar satu hal yang pahit:

bahwa negara kadang datang
dengan syarat

dan rakyat datang
tanpa pilihan


Dan aku
berdiri di tengahnya

seorang lurah perempuan
yang tidak boleh berhenti
meski bantuan belum tentu datang.




Kebon Pala, Januari 2025