Essai Mahar Prastowo
Saya membaca daftar itu sambil tersenyum getir.
🥇 Emas – Rp 2,7 juta per gram.
❄️ Kokain – Rp 3,4 juta per gram.
🥈 Heroin – Rp 4,2 juta per gram.
🐍 Racun ular – Rp 67,3 juta per gram.
☢️ Plutonium-239 – Rp 109,3 juta per gram.
🦂 Racun kalajengking – Rp 168,3 juta per gram.
💎 Benitoit – Rp 336,6 juta per gram.
💊 Soliris – Rp 353,4 juta per gram.
🧪 Tritium – Rp 504,9 juta per gram.
Lalu di bagian paling bawah, tanpa satuan gram, tanpa ukuran ilmiah:
🍚 MBG – Rp 1 triliun per hari.
Saya berhenti di situ.
Di atas adalah benda-benda langka, berbahaya, atau menyelamatkan nyawa. Emas jadi simbol kekayaan. Plutonium bahan bakar nuklir. Racun kalajengking dipakai riset medis. Soliris adalah obat untuk penyakit langka.
MBG?
Makanan Bergizi Gratis.
Program itu diniatkan mulia. Anak-anak sekolah diberi makan agar tidak lapar. Agar bisa belajar dengan perut terisi. Secara konsep, tak ada yang salah. Bahkan bagus.
Presiden Republik Indonesia ke-8, , menjadikannya salah satu program unggulan. Negara ingin hadir di piring anak-anak sekolah.
Tapi saya membayangkan sesuatu yang lain.
Satu triliun rupiah per hari.
Dalam hitungan kasar, itu Rp 365 triliun per tahun. Angka yang mendekati seperempat dari total anggaran pendidikan nasional dalam beberapa tahun terakhir. Angka yang bisa membangun ribuan sekolah baru. Angka yang bisa memperbaiki jutaan ruang kelas rusak. Angka yang bisa menaikkan kualitas guru honorer yang selama ini hidup antara idealisme dan cicilan motor.
Namun kita memilih nasi.
Saya teringat ruang kelas di pinggiran. Catnya mengelupas. Papan tulisnya kusam. Proyektor? Mimpi. Laboratorium? Apalagi.
Anaknya mungkin kenyang jika MBG datang. Tapi apakah ia mengerti matematika lebih baik? Apakah literasinya melonjak? Apakah gurunya mendapat pelatihan berkualitas?
Kenyang bukan jaminan cerdas.
Sejarah pendidikan dunia tidak pernah dimenangkan oleh program makan siang semata. Ia dimenangkan oleh kualitas guru, kurikulum, dan ekosistem belajar.
Lihat . Negara itu memang memberi makan siang gratis. Tapi yang membuat mereka melesat bukan nasinya. Melainkan seleksi guru yang ketat, otonomi sekolah, dan penghargaan tinggi terhadap profesi pendidik.
Di sini, kita seperti membalik prioritas. Perut dulu. Otak nanti.
Satirnya di sini:
Barang-barang termahal di dunia dihitung per gram. Karena langka.
MBG dihitung per hari. Karena massif.
Ia bukan langka. Ia justru membanjir.
Masalahnya, pendidikan kita bukan kekurangan nasi. Pendidikan kita kekurangan kualitas.
Kita punya gedung tanpa perpustakaan. Kita punya siswa tanpa buku bermutu. Kita punya guru tanpa pelatihan memadai. Kita punya kurikulum yang berubah lebih cepat dari pergantian kalender.
Namun yang disorot adalah menu hari ini: ayam atau telur.
Saya tidak sedang menolak anak makan.
Saya sedang bertanya:
Apakah negara sedang mengobati gejala, bukan penyakit?
Stunting harus dilawan, benar. Gizi penting, sepakat. Tapi apakah solusi pendidikan kita akan selesai dengan sendok dan kotak makan?
Jika satu triliun rupiah per hari dialokasikan sebagian untuk:
Digitalisasi sekolah terpencil,
Kenaikan gaji guru berbasis kompetensi,
Riset pendidikan berbasis data,
Beasiswa guru ke luar negeri,
mungkin efeknya tidak secepat kenyang.
Tapi dampaknya bisa satu generasi.
Ada ironi lain.
Emas mahal karena nilainya disepakati dunia.
Plutonium mahal karena energinya dahsyat.
Soliris mahal karena menyelamatkan nyawa.
MBG mahal karena kebijakan.
Dan kebijakan selalu punya pilihan.
Kita sedang mengajari anak-anak satu hal penting secara tidak langsung:
Bahwa solusi tercepat sering lebih menarik daripada solusi terdalam.
Padahal pendidikan bukan urusan cepat. Ia urusan sabar. Urusan sistem. Urusan mutu.
Bayangkan 20 tahun lagi.
Anak-anak itu mungkin akan berkata:
“Dulu kami sering makan gratis di sekolah.”
Tapi apakah mereka akan berkata:
“Dulu sekolah kami hebat. Guru kami luar biasa. Kami dibentuk jadi manusia unggul”?
Itulah pertanyaan satu triliun rupiah per hari.
Karena dalam dunia pendidikan, yang paling mahal bukan emas.
Bukan plutonium.
Melainkan masa depan yang salah kelola.
#
Artikel ini telah terbit di Kompasiana, platform blog kompas group (KG Media)

0 Komentar