Essai Mahar Prastowo
Pagi itu bola kecil itu berdentam ke dinding kaca. Pop! Pop! Cepat. Tajam. Berulang.
Suara itu kini akrab di Jakarta.
Suara itu kini akrab di Jakarta.
Itulah padel. Olahraga yang lahir jauh dari sini, di halaman rumah seorang pengusaha Meksiko pada 1969, kini menjelma menjadi gaya hidup urban yang meledak. Ia bukan tenis. Bukan squash. Tapi meminjam keduanya. Dimainkan berpasangan. Lapangannya lebih kecil. Dikelilingi kaca. Bola boleh memantul dari tembok.
Dari sana semuanya berubah.
Dari Acapulco ke Jakarta
Padel lahir di Acapulco, Meksiko. Kini ia menyebar ke lebih dari 90 negara dengan puluhan ribu lapangan berdiri. Eropa menggila. Spanyol menjadikannya olahraga kedua setelah sepak bola. Timur Tengah membangunnya di kompleks elite. Amerika mulai mengejar.
Indonesia tidak mau tertinggal.
Di Jakarta, Bali, Surabaya, lapangan padel tumbuh seperti jamur musim hujan. Gudang bekas disulap jadi arena kaca. Lahan kosong diubah jadi klub eksklusif. Harga sewanya? Rp200 ribu sampai Rp550 ribu per jam. Itu belum termasuk sewa raket dan bola.
Sebulan bisa habis jutaan rupiah.
Tetapi anehnya, lapangan tetap penuh. Bahkan antre.
Mengapa?
Karena padel bukan sekadar olahraga. Ia jejaring sosial. Ia foto Instagram. Ia kopi setelah bertanding. Ia status.
Ketika Olahraga Menjadi Simbol
Padel disebut lebih mudah dari tenis. Tidak perlu teknik serumit servis Federer. Tidak perlu stamina maraton. Sekali main, banyak yang ketagihan.
Secara global, tingkat retensi pemainnya tinggi. Orang kembali bermain setelah mencoba pertama kali.
Namun di Jakarta, muncul pertanyaan lain: apakah ini olahraga rakyat, atau olahraga kelas menengah atas yang sedang mencari identitas?
Lapangan futsal di banyak tempat berubah fungsi menjadi padel. Investor masuk. Harga tanah naik. Komunitas lama tersisih.
Demam padel membawa uang.
Dan seperti biasa, uang selalu membawa persoalan.
Bunyi yang Mengganggu Tidur
Awalnya warga hanya penasaran.
Lalu mulai terganggu.
Suara bola memantul ke kaca terdengar seperti ketukan ritmis tanpa henti. Ditambah teriakan pemain. Ditambah musik. Ditambah kendaraan datang-pergi.
Lalu mulai terganggu.
Suara bola memantul ke kaca terdengar seperti ketukan ritmis tanpa henti. Ditambah teriakan pemain. Ditambah musik. Ditambah kendaraan datang-pergi.
Malam tidak lagi tenang.
Di beberapa kawasan Jakarta, warga protes. Grup WhatsApp RT ramai. Ada yang merekam kebisingan. Ada yang mengadu ke kelurahan.
Olahraga yang katanya sehat itu berubah jadi sumber konflik.
Jakarta pun bereaksi.
Aturan Baru: Rem Mendadak dari Balai Kota
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, akhirnya mengambil langkah tegas.
Mulai 24 Februari 2026, izin baru lapangan padel di zona perumahan dihentikan.
Mulai 24 Februari 2026, izin baru lapangan padel di zona perumahan dihentikan.
Tidak boleh lagi.
Lapangan baru hanya boleh dibangun di zona komersial atau area yang memang dirancang untuk kegiatan publik.
Ini keputusan besar. Karena sebagian ekspansi padel memang terjadi di tengah perumahan.
Tetapi itu baru satu poin.
Ada aturan lain yang tak kalah penting:
1. Pembatasan Jam Operasional
Lapangan padel di kawasan permukiman yang sudah terlanjur berdiri hanya boleh beroperasi sampai pukul 20.00 WIB. Tidak boleh lagi sampai larut malam.
2. Wajib Peredam Suara
Pemilik lapangan diwajibkan memasang sistem peredam kebisingan. Struktur baja dan kaca yang memantulkan suara kini harus dilapisi solusi akustik.
3. Persetujuan Teknis Dispora
Setiap pembangunan baru harus mendapatkan rekomendasi teknis dari Dinas Pemuda dan Olahraga sebelum izin diterbitkan.
4. Pengawasan PBG
Lapangan tanpa Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) terancam sanksi: penghentian operasional hingga pembongkaran.
5. Penataan Parkir
Keluhan warga bukan hanya soal suara. Kendaraan pemain yang memenuhi jalan lingkungan kini menjadi perhatian. Penyedia wajib menyediakan lahan parkir memadai.
Kota, Ruang, dan Tren
Padel mengajarkan satu hal penting: kota tidak pernah siap menghadapi tren yang datang terlalu cepat.
Jakarta bukan Madrid. Bukan Dubai. Ruang kita padat. Permukiman berhimpitan. Infrastruktur terbatas.
Ketika sebuah olahraga tumbuh tanpa kendali tata ruang, ia berubah menjadi konflik sosial.
Padel kini berada di persimpangan.
Apakah ia akan menjadi olahraga mapan seperti bulu tangkis, yang masuk kampung dan sekolah?
Atau ia hanya akan menjadi tren lima tahunan yang meninggalkan bangunan kosong ketika hype mereda?
Di Swedia pernah terjadi over-ekspansi. Banyak lapangan kosong setelah ledakan awal. Investor merugi. Gelembung pecah.
Jakarta belajar lebih cepat.
Antara Gaya Hidup dan Keadilan Ruang
Padel memang menyenangkan. Sosial. Energik.
Tetapi kota harus adil.
Ada hak warga untuk berolahraga.
Ada hak warga lain untuk tidur nyenyak.
Ada hak warga untuk berolahraga.
Ada hak warga lain untuk tidur nyenyak.
Di situlah pemerintah masuk.
Regulasi bukan untuk membunuh tren. Tapi untuk memastikan tren tidak membunuh ketertiban.
Pertanyaan Besarnya
Padel akan tetap dimainkan. Raket akan tetap berayun. Bola akan tetap memantul ke kaca.
Tetapi sekarang ia bermain dalam aturan baru.
Tetapi sekarang ia bermain dalam aturan baru.
Jakarta sedang menguji:
bisakah sebuah olahraga tumbuh tanpa melukai ruang hidup kota?
Jika bisa, padel akan bertahan lama.
Jika tidak, ia hanya akan menjadi cerita tentang satu masa ketika kelas urban Jakarta menemukan mainan barunya, lalu meninggalkannya.
Bola sudah dipukul.
Sekarang tinggal kita lihat: memantul ke mana ia berikutnya.
***
Artikel ini telah terbit di Kompasiana - platform blog Kompas Gramedia - dengan judul Padel: Raket, Kaca, dan Konflik Kota
Baca kumpulan artikel lainnya di https://muckrack.com/maharprastowo/articles

0 Komentar