Sepatu larsku

hitam, berat,

menginjak lantai keramik yang dingin.


Di depanku

sebatang kaki meja berdiri

seperti prajurit tua

yang sudah lama lupa

apa arti perang.


Sepatu ini

pernah berjalan jauh—

melewati jalan tanah,

genangan hujan,

dan debu yang menempel seperti kenangan.


Tetapi malam ini

ia berhenti.


Berhadapan dengan kaki meja.


Diam.


Seperti dua orang asing

yang sama-sama tahu

bahwa dunia terlalu gaduh

untuk dijelaskan dengan kata-kata.


Kaki meja itu

kayu yang menua perlahan,

urat-uratnya seperti peta kehidupan:

retak,

namun masih tegak.


Sepatu larsku

menggesek pelan di lantai.


Ada bunyi kecil—

seperti keluhan yang ditahan

oleh orang-orang yang sudah terlalu sering

diperintah diam.


Aku duduk.

Sepatu larsku tetap di sana.

di bawah meja,

menunggu langkah berikutnya

yang mungkin tak pernah diberi pilihan.


Sementara kaki meja itu

tetap memikul beban di atasnya—

tanpa pernah bertanya

siapa yang menaruhnya.


Dan di antara keduanya

aku mengerti sesuatu:


hidup sering kali

hanya pertemuan sederhana

antara yang berjalan

dan yang harus tetap berdiri.



Posko Terpadu JagaJakarta 10032026


Puisi ini telah terbit di sini