bakung-bakung itu tumbuh
dari tanah yang menyimpan
bau luka dan doa-doa kecil
yang lupa diucapkan manusia.
putihnya seperti rambut perempuan tua
yang semalaman tak tidur
menjaga musim
agar tidak sepenuhnya mati.
aku melihatnya mekar
di antara daun-daun panjang
yang seperti lidah waktu:
sunyi, hijau, dan tak selesai mengucap duka.
barangkali bumi memang terlalu letih
maka bunga-bunga itu
membuka tubuhnya perlahan—
serupa tangan kurus
yang menadahkan hujan
dari langit yang retak.
tak ada tepuk tangan.
tak ada pujian.
cuma angin yang lewat
membawa kabar dari akar-akar gelap:
bahwa setiap keindahan
selalu tumbuh
di dekat kebusukan.
dan bakung itu tetap hidup.
mengibaskan benang-benang putihnya
ke udara pagi
seperti perempuan yang menolak tunduk
meski berkali-kali
dikutuk usia
dan kalender yang mengelupas di dinding rumah.
aku mencium aroma tanah basah.
seperti membuka kembali
album hujan yang lama terkubur.
di sana
wajah-wajah yang pernah pergi
mengabut di kaca ingatan.
sementara bakung-bakung itu
diam saja.
diam
seperti rahasia Tuhan
yang tumbuh liar
di halaman dunia.
Stadion Madya GBK Senayan 21052026

0 Komentar