Catatan tentang ajal, amal, dan hal-hal yang benar-benar berhenti ketika manusia diwafatkan.
Essai Mahar Prastowo
Ada satu kalimat yang sering diucapkan orang ketika mendengar kabar duka.
"Mungkin tugasnya di dunia sudah selesai."
Kalimat itu terdengar menenangkan. Kadang membantu keluarga yang kehilangan. Kadang menjadi cara paling sederhana menerima takdir.
Tetapi Islam mengajarkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar penghiburan.
Sebab banyak orang meninggal justru ketika urusannya belum selesai.
- Ada ayah meninggal sementara anaknya masih kecil.
- Ada ibu meninggal sebelum sempat melihat anaknya menikah.
- Ada ulama wafat saat kitabnya belum rampung.
- Ada pemimpin meninggal ketika pekerjaannya belum selesai.
- Ada orang miskin meninggal sebelum cita-citanya tercapai.
Kalau begitu, apa sebenarnya yang selesai ketika manusia meninggal?
Jawaban Islam mungkin mengejutkan:
Bukan urusan dunianya yang selesai. Tetapi kesempatan hidupnya.
Allah SWT berfirman:
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati…” (QS. Ali Imran: 185)
Ayat itu pendek.
Sangat pendek.
Tetapi seperti palu yang memukul kesombongan manusia.
Setiap.
Artinya semua.
Presiden. Menteri. Polisi. Pedagang. Wartawan. Konglomerat. Buruh. Orang saleh. Pendosa.
Tidak ada pengecualian.
Dan kematian tidak menunggu seseorang merasa siap.
Dunia ternyata hanya ruang ujian
Saya sering membayangkan hidup seperti ruang ujian sekolah.
Ada yang diberi soal mudah.
Ada yang diberi soal sulit.
Ada yang diuji dengan kekayaan.
Ada yang diuji dengan kehilangan.
Ada yang diuji jabatan.
Ada yang diuji penyakit bertahun-tahun.
Ada yang diuji dengan anak.
Ada yang diuji dengan kesepian.
Allah sudah menjelaskan sejak awal:
“Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang terbaik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)
Perhatikan ayat itu.
Bukan siapa paling kaya.
Bukan paling terkenal.
Bukan paling panjang umurnya.
Tetapi:
Siapa terbaik amalnya.
Maka saat seseorang meninggal, satu hal benar-benar selesai:
Ujiannya berhenti.
Tidak ada lagi kesempatan memperbaiki jawaban.
Sampai di sini kita disadarkan, yang paling mahal ternyata bukan uang, tetapi kesempatan beramal
Orang hidup sering merasa masih punya waktu.
- Besok salat lebih khusyuk.
- Besok sedekah.
- Besok minta maaf.
- Besok bertobat.
Padahal “besok” adalah rahasia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputus amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Hadis ini seperti peringatan keras.
Saat mati:
- Shalat tambahan berhenti.
- Puasa sunah berhenti.
- Sedekah baru berhenti.
- Taubat berhenti.
- Memperbaiki kesalahan berhenti.
Yang tersisa hanya hasil.
Seperti ujian nasional yang lembar jawabannya sudah dikumpulkan.
Kubur bukan akhir perjalanan
Barangkali ini bagian yang paling sering dilupakan manusia modern.
Kematian dalam Islam bukan lenyap.
Bukan hilang.
Bukan selesai.
Tetapi pindah.
Dari alam dunia menuju alam barzakh.
Allah SWT berfirman:
“…Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 100)
Ada fase setelah kematian.
Ada pertanggungjawaban.
Ada hisab.
Ada balasan.
Karena itu orang saleh dahulu tidak terlalu takut mati.
Yang mereka takutkan adalah:
bagaimana keadaan saat mati.
Yang ikut ke kubur ternyata sangat sedikit
Manusia bekerja puluhan tahun.
Membangun rumah.
Mengumpulkan aset.
Mengejar jabatan.
Menyimpan rekening.
Lalu Rasulullah ﷺ membuat kesimpulan sangat sederhana:
“Mayit diikuti oleh tiga hal: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Dua kembali pulang dan satu tetap bersamanya. Keluarga serta hartanya kembali, amalnya yang tinggal.” (HR. Bukhari-Muslim)
Kalimat ini seharusnya cukup membuat manusia lama diam.
Mobil tidak ikut.
Sertifikat tanah tidak ikut.
Pangkat tidak ikut.
Popularitas tidak ikut.
Yang ikut hanya:
amal.
Mengapa orang baik meninggal muda?
Pertanyaan ini selalu muncul.
Jawaban Islam tidak selalu memuaskan logika manusia.
Karena ukuran kemuliaan bukan panjang umur.
Tetapi keberkahan umur.
Ada orang hidup lama namun sedikit manfaat.
Ada yang wafat muda tetapi ilmunya hidup ratusan tahun.
Nama baiknya terus disebut.
Doanya terus mengalir.
Pahalanya terus bertambah.
Maka usia tidak selalu identik dengan keberhasilan.
Kematian sebetulnya sedang menasihati yang hidup
Setiap kali mendengar kabar duka, pesan terbesar bukan tentang orang yang pergi.
Tetapi tentang kita yang masih tinggal.
Bahwa antrean masih berjalan.
Bahwa suatu saat nama kita dipanggil.
Tidak ada yang tahu nomor urutnya.
Allah berfirman:
“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan seseorang apabila telah datang ajalnya.” (QS. Al-Munafiqun: 11)
Ajal tidak pernah terlambat.
Tidak pernah terlalu cepat.
Tepat.
Mungkin karena itu para ulama dahulu hidup dengan kesadaran sederhana:
Hari ini masih bernapas berarti Allah masih memberi kesempatan.
Kesempatan meminta maaf.
Kesempatan memperbaiki salat.
Kesempatan membahagiakan orang tua.
Kesempatan melunasi utang.
Kesempatan berhenti menyakiti orang.
Kesempatan meninggalkan ilmu.
Kesempatan menjadi manusia yang lebih baik.
Karena ketika kematian datang nanti, manusia tidak meminta tambahan kekayaan.
Al-Qur’an menggambarkan penyesalan itu:
“Ya Tuhanku, sekiranya Engkau menangguhkan kematianku sedikit waktu lagi, niscaya aku akan bersedekah dan aku termasuk orang-orang saleh.” (QS. Al-Munafiqun: 10)
Tetapi tambahan waktu itu tidak selalu diberikan.
Dan mungkin di situlah letak nasihat paling sunyi tentang kematian:
Selama masih hidup, jangan menunda kebaikan. Sebab yang habis lebih dulu bukan umur—melainkan kesempatan.
#
Berbuat baik janganlah ditunda-tunda....
Intro: (Bm D G F#) 2X G F# G F#
Gm G Bm Bm G Bm
Berbuat baik janganlah ditunda-tunda berbuat baik janganlah ditunda-tunda
G Bm F# Bm G Bm F# Bm F#
Membelanjai anak yatim menafkahi anak yatim menyantuni fakir miskin melindungi fakir miskin
Gm G Bm Bm G Gm
Sembahyang fardu janganlah ditunda-tunda sembahyang fardu janganlah ditunda-tunda
G Bm F# Bm G Bm F# Bm
Mulai subuh sampai dzuhur dari dzuhur sampai ashar dari ashar sampai maghrib dari maghrib sampai isya
Intro: (Bm D G F#) 2X G F# G F#
Gm G Bm Bm G B
Beramal shaleh janganlah ditunda-tunda beramal shaleh janganlah dtunda-tunda
G Bm F# Bm G Bm F# Bm
Menuntut ilmu yang tekun menuntut ilmu yang gigih mencari rizki yang halal mencari nafkah yang halal
Gm G Bm Bm G Bm
Beramal makruf janganlah ditunda-tunda beramal makruf janganlah ditunda-tunda
G Bm F# Bm G Bm F# Bm
Menghapus kemusrikan menghapus kemusrikan menyampaikan kebenaran menyampaikan kebenaran
Intro: (Bm D G F#) 2X G F#
G Cm G# Cm Cm G# Cm
Sembahyang fardu janganlah ditunda-tunda sembahyang fardu janganlah ditunda-tunda
G# Cm G Cm G# Cm G Cm G
Mulai subuh sampai dzuhur dari dzuhur sampai ashar dari ashar sampai maghrib dari maghrib sampai isya
Cm G# Cm Cm G# Cm
Beramal shaleh janganlah ditunda-tunda beramal shaleh janganlah ditunda-tunda
C Cm G Cm G# Cm G Cm
Menuntut ilmu yang tekun menuntut ilmu yang gigih mencari rizki yang hail mencari nafkah yang halal
Ending: (Cm D# G# G) 2X G# G Cm

0 Komentar