![]() |
| Forum Rapat Koordinasi Lintas Sektoral Kecamatan Makasar Jakarta Timur |
Essai Mahar Prastowo
Pagi itu, Jakarta tidak bau.
Tapi bukan berarti bersih.
Sampah tetap ada.
Hanya saja, ia lebih rapi—disembunyikan dalam kantong plastik hitam, diangkut truk, lalu hilang dari pandangan.
Seolah selesai.
Padahal tidak.
Di sebuah rapat koordinasi lintas sektoral Kecamatan Makasar, di aula kantor lurah kelurahan Makasar, angka-angka dibacakan.
PBB rendah.
Stunting turun.
PKL ditertibkan.
Lalu satu kata muncul—pelan, tapi berat:
pilah sampah.
Bukan istilah baru.
Sudah lama.
Terlalu lama, malah.
Tapi baru sekarang terasa seperti kewajiban.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sedang mendorong perubahan cara berpikir.
Sampah tidak lagi sekadar dibuang.
Ia harus dipilah sejak dari rumah.
Organik.
Anorganik.
Residu.
Tiga kata sederhana.
Tapi bagi Jakarta—ini revolusi.
Masalahnya bukan pada aturan.
Jakarta sudah punya cukup banyak regulasi.
Dari perda, pergub, sampai program “Jakarta Sadar Sampah”.
Masalahnya ada di dapur.
Di ember kecil dekat wastafel.
Di kebiasaan ibu rumah tangga.
Di anak yang buang bungkus jajan sembarangan.
Sampah itu bukan soal sistem.
Ia soal perilaku.
Data nasional memberi peringatan keras.
Target pengelolaan sampah terus naik, menuju 100 persen pada 2029 .
Tapi tanpa pilah dari sumber—semuanya percuma.
Karena ketika sampah sudah tercampur,
ia tidak lagi bisa diselamatkan.
Ia berubah dari potensi menjadi masalah.
Di Kebon Pala, secercah harapan mulai terlihat.
Sampah dipilah.
Dikirim ke maggot.
Dikomposkan.
Bahkan muncul usulan sederhana lurah Kebon Pala:
lomba pilah sampah.
Ide kecil.
Tapi mungkin justru di situlah jawabannya.
Karena perubahan besar di Jakarta
tidak akan lahir dari balaikota.
Ia lahir dari gang sempit.
Dari RW.
Dari kebiasaan yang diulang setiap hari.
Gubernur boleh membuat aturan.
Camat bisa memberi instruksi.
Lurah bisa menggerakkan.
Tapi satu hal tidak bisa dipaksa:
orang memilah sampah di rumahnya sendiri.
Bahkan dalam isu kesehatan seperti HIV saja, pemerintah mengakui:
tes tidak boleh dipaksa.
Apalagi memilah sampah.
Jakarta sedang berdiri di persimpangan.
Tetap seperti sekarang—
mengangkut, menumpuk, memindahkan masalah.
Atau berani berubah—
memilah, mengolah, menyelesaikan dari sumbernya.
Karena pada akhirnya,
sampah bukan tentang apa yang kita buang.
Tapi tentang
apa yang kita biarkan.
Dan mungkin,
masa depan Jakarta tidak ditentukan di ruang rapat.
Melainkan di tempat sampah
di sudut dapur rumah kita.
Aula Kantor Kelurahan Makasar, 04052026

1 Komentar
Mantap ulasannya, saran masukan
BalasHapusMenerangi lingkungan...
Lanjutkan