Essai Mahar Prastowo
Pagi itu halaman Masjid Al Ikhlas, tepat di depan Puskesmas Kebon Pala, tidak dipenuhi orang yang sedang menunggu salat Jumat. Mereka berkumpul untuk sesuatu yang ukurannya jauh lebih kecil: jentik nyamuk.
Jentik memang kecil. Nyaris tak terlihat. Tetapi sejarah kesehatan mengajarkan, persoalan besar sering bermula dari sesuatu yang dianggap remeh.
Di RW 10, Jumat (26/6/2026), pemberantasan sarang nyamuk bukan sekadar kegiatan rutin. Ia menjadi pintu masuk membicarakan masa depan kampung.
Tentang demam berdarah.
Tentang tuberkulosis.
Tentang sampah.
Tentang kebiasaan hidup.
Dan tentang gotong royong.
Ketua RW 10, H. Sukiman, tidak hanya mengajak warganya berburu jentik. Ia mengingatkan bahwa nyamuk tidak mengenal batas RT. Hari ini berkembang biak di satu halaman, besok sudah berpindah ke rumah tetangga.
Karena itu, melawan nyamuk tidak bisa dilakukan sendirian.
Harus bersama-sama.
RW 10 juga sedang bersiap menjadi tuan rumah Kampung Siaga TB. Sebuah amanah yang tidak ringan. Sebab membangun kampung sehat tidak cukup dengan baliho atau slogan. Yang dibutuhkan adalah perubahan perilaku.
Perubahan itu mulai diuji pada 1 Juli nanti.
Saat seluruh warga Jakarta, bersamaan juga sedang diwajibkan memilah sampah dari rumah masing-masing.
Di sinilah Ibu Lurah Kebon Pala, Dian Eka Harianti, mengajak dialog sederhana.
"Sudah mulai memilah sampah?"
Jawabannya serempak.
"Sudah, Bu Lurah."
Jawaban itu tentu menggembirakan. Tetapi pekerjaan sebenarnya baru dimulai setelah kata "sudah" diucapkan.
Memilah sampah bukan sekadar memenuhi aturan pemerintah. Lebih dari itu, sampah yang dipisahkan memiliki nilai ekonomi. Sampah bukan lagi barang buangan. Ia bisa berubah menjadi tabungan melalui bank sampah.
Bahkan menjadi tambahan penghasilan keluarga.
Sampah yang dahulu hanya memenuhi TPA, kini diharapkan menjadi sumber manfaat.
Di sisi lain, Kepala Puskesmas Pembantu Kebon Pala, dr. Benny, membawa kabar yang cukup menenangkan.
Kasus terakhir DBD terjadi pada Januari. Hasil penyelidikan epidemiologi menunjukkan hasil negatif.
Artinya, upaya pencegahan selama ini mulai menunjukkan hasil.
Namun dr. Benny mengingatkan satu hal penting.
PSN bukan pekerjaan kelurahan.
Bukan pula hanya tugas puskesmas.
Ia adalah pekerjaan setiap rumah.
Karena itulah gerakan "Satu Rumah Satu Jumantik" harus benar-benar hidup, bukan sekadar menjadi tulisan di spanduk.
Menariknya, pagi itu kesehatan tidak hanya dimaknai bebas dari nyamuk.
Dr. Benny juga mengingatkan agar keluarga tidak membiarkan para lansia hidup dalam kesunyian. Mereka perlu diajak berbicara, ditemani, dan diperhatikan.
Sehat ternyata bukan hanya soal tubuh.
Tetapi juga soal hati.
Sementara itu, dari sisi keamanan, Kanit Binmas Polsek Makasar, Subandi, menyampaikan pesan sederhana tetapi penting.
Kunci ganda kendaraan.
Waspada terhadap pencurian.
Jika ada gangguan keamanan, segera hubungi Bhabinkamtibmas atau Polsek.
Karena kampung yang sehat seharusnya juga menjadi kampung yang aman.
#
Kegiatan pagi itu mungkin tampak biasa.
Tidak ada panggung megah.
Tidak ada seremoni berlebihan.
Hanya kader Jumantik, pengurus RT/RW, FKDM, Puskesmas, aparat kelurahan, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Satpol PP, LMK, dan warga yang berjalan bersama.
Tetapi perubahan memang selalu lahir dari langkah-langkah kecil yang dilakukan terus-menerus.
Membersihkan bak mandi.
Menutup tempat penampungan air.
Memilah sampah.
Mengajak lansia berbincang.
Mengunci kendaraan.
Semua tampak sederhana.
Namun jika satu kampung melakukannya bersama, hasilnya bisa luar biasa.
RW 10 Kebon Pala sedang membuktikan satu hal.
Bahwa kampung sehat tidak dibangun oleh pemerintah semata.
Ia dibangun oleh warganya sendiri.
Dan semua itu bisa dimulai... dari seekor jentik yang tak lagi diberi kesempatan untuk tumbuh.
(mp)
Liputan kegiatan, penulisan artikel, kehumasan Klik DI SINI

2 Komentar
Terima kasih atas informasinya, Luar biasa 💪
BalasHapusSama², terimakasih support dan atensinya
Hapus