"Verba volant, scripta manent."
Ucapan akan berlalu. Tulisan akan tinggal.
Ucapan akan berlalu. Tulisan akan tinggal.
Essai Mahar Prastowo
Ada saat-saat ketika hidup tidak lagi berjalan seperti yang kita bayangkan.
Anak-anak tumbuh, lalu pergi mengejar kehidupannya sendiri. Rumah yang dulu riuh perlahan menjadi sunyi. Waktu tidak lagi dikejar, justru sebaliknya: waktu seperti menunggu.
Barangkali di situlah usia mulai berbicara.
Bukan melalui angka.
Melainkan melalui ruang-ruang kosong yang tiba-tiba hadir dalam keseharian.
Namun kesunyian tidak selalu berarti kehilangan.
Kadang ia hanya sedang menunggu untuk diberi makna.
Itulah yang dilakukan Nina Tri.
Ia tidak melawan kesunyian. Ia tidak pula menyangkalnya.
Ia duduk, membuka komputer, lalu mulai menulis.
Mungkin benar bahwa buku ini bermula dari apa yang oleh Frans Padak Demon disebut sebagai sebuah "curhat pribadi."
Tetapi setiap karya besar sering kali memang lahir dari sesuatu yang sangat pribadi.
Yang personal.
Yang nyaris tak ingin dipertontonkan.
Namun justru karena kejujuran itulah, ia menemukan pembacanya.
Autobiografi sering dianggap sekadar kisah seseorang tentang dirinya sendiri.
Padahal tidak pernah sesederhana itu.
Sebab setiap manusia sesungguhnya hidup bersama zamannya.
Sebab setiap manusia sesungguhnya hidup bersama zamannya.
Ia menyimpan cara berpikir.
Cara mencintai.
Cara mendidik anak.
Cara menghormati orang tua.
Cara memandang kegagalan.
Dan semua itu perlahan berubah.
Yang berubah paling cepat justru bukan teknologi.
Melainkan ingatan.
Kita semakin mudah mengingat kata sandi telepon genggam daripada petuah kakek.
Semakin hafal notifikasi media sosial daripada nasihat ibu.
Barangkali itulah sebabnya buku seperti SakMadyoNomics menjadi penting.
Ia bukan sedang mengabadikan Nina Tri.
Ia sedang menyelamatkan ingatan.
Dalam peluncuran buku di Padang Golf Pangkalan Jati, suasana memang hangat.
Ada sambutan.
Ada tawa.
Ada lagu.
Tetapi yang sesungguhnya diluncurkan sore itu bukan hanya sebuah buku.
Melainkan sebuah keberanian.
Keberanian seorang perempuan untuk berkata,
"Inilah hidup saya."
Bukan untuk dipuja.
Bukan pula untuk dikasihani.
Melainkan agar pengalaman itu tidak ikut terkubur bersama usia.
Penerbit menyebut buku ini sebagai
bagian dari gerakan literasi dan upaya mewariskan nilai-nilai kehidupan kepada generasi penerus. Sebuah ikhtiar agar pengalaman para lansia tidak berhenti sebagai cerita lisan, tetapi hadir dalam bentuk tulisan yang dapat terus dibaca.
Frans Padak Demon menangkap sesuatu yang menarik.
Menurutnya, buku ini memang berangkat dari curahan hati seorang ibu.
Namun justru di situlah kekuatannya.
Ia bukan sekadar catatan harian.
Ia telah menjadi ruang tempat nilai-nilai berpindah dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Yang diwariskan bukan hanya pengalaman.
Tetapi juga cara memandang kehidupan.
Ada kasih sayang.
Ada kesetiaan.
Ada kesabaran.
Ada penerimaan.
Ada keyakinan bahwa hidup tidak selalu harus dimenangkan.
Kadang cukup dijalani dengan ikhlas.
Frans mengingatkan sebuah adagium Latin yang sederhana:
Verba volant, scripta manent.
Ucapan akan terbang.
Tulisan akan tinggal.
Verba volant, scripta manent.
Ucapan akan terbang.
Tulisan akan tinggal.
Kalimat itu telah hidup ribuan tahun.
Barangkali karena manusia memang pelupa.
Kita berbicara setiap hari.
Tetapi hanya sedikit yang bertahan.
Tulisanlah yang membuat ingatan mempunyai rumah.
Mungkin karena itu pula hampir semua peradaban besar dimulai oleh tulisan.
Bukan oleh pidato.
Bukan pula oleh percakapan.
Tulisan membuat pengalaman seseorang menjadi milik banyak orang.
Tulisan membebaskan ingatan dari kematian.
Dalam Islam, ilmu yang bermanfaat termasuk salah satu amal yang tidak terputus meskipun seseorang telah tiada.
Hadis Nabi tidak sedang berbicara tentang buku.
Tetapi buku mungkin menjadi salah satu jalannya.
Selama masih dibaca.
Selama masih dipahami.
Selama masih mengubah seseorang menjadi lebih baik.
Di zaman ketika semua orang berlomba berbicara, Nina Tri justru memilih menulis.
Pilihan yang tampak sederhana.
Tetapi sesungguhnya sangat sunyi.
Karena menulis selalu berarti berbicara kepada seseorang yang belum kita kenal.
Mungkin anak.
Mungkin cucu.
Mungkin orang asing.
Mungkin kita sendiri, bertahun-tahun kemudian.
Maka buku ini bukan sekadar autobiografi.
Ia adalah percakapan yang tidak mengenal batas waktu.
Dan seperti semua percakapan yang baik...
ia akan terus berlangsung,
bahkan ketika penulisnya telah lama menutup halaman terakhir kehidupannya.
ia akan terus berlangsung,
bahkan ketika penulisnya telah lama menutup halaman terakhir kehidupannya.
![]() |
| Signing book untuk seorang mahasiswa FIKKES UPN Veteran. |


0 Komentar