Catatan dari Hari Anti Perdagangan Orang Sedunia 2026

Grafis: Kolase ai



Essai Mahar Prastowo 


Ada sore yang tidak lahir untuk tepuk tangan. Ia lahir untuk mendengar.

Di sebuah kedai di Jalan Utan Kayu, Jakarta Timur, kursi-kursi dipenuhi anak-anak muda. Sebagian membawa ransel lusuh, sebagian menggenggam telepon genggam, sebagian lagi hanya membawa rasa ingin tahu. Mereka datang bukan untuk mencari jawaban yang selesai, melainkan untuk memastikan bahwa pertanyaan tentang keadilan belum kehilangan tempat.

Di dinding terpampang kalimat besar: "Kaum Muda Menuntut Perubahan dan Kerja Layak."

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, di negeri yang masih mengirim warganya menyeberangi batas demi pekerjaan, kata layak selalu lebih rumit daripada yang tampak.

Perdagangan orang sering hadir tanpa wajah. Ia menyamar sebagai lowongan kerja. Sebagai agen penyalur. Sebagai janji gaji dolar. Sebagai pesan singkat yang menawarkan masa depan. Lalu, di seberang sana, paspor disita, kebebasan dirampas, dan manusia berubah menjadi angka dalam laporan.

Di ruang diskusi itu, kisah-kisah tersebut kembali diberi nama.

Isti Nugroho berbicara tentang sejarah panjang perjuangan buruh. Bedjo Untung mengingatkan bahwa negara tidak boleh lupa pada mereka yang pernah dibungkam. Usman Hamid mengajak melihat perdagangan orang bukan sekadar tindak kriminal, tetapi juga persoalan hak asasi manusia. Yuli Riswati dan Ambrosius Mulait membawa cerita yang lebih dekat kepada kenyataan: tentang pekerja migran, tentang korban, tentang luka yang sering tak pernah masuk statistik.

Yang paling sunyi justru ketika penyintas berbicara.

Tak ada retorika. Tak ada metafora.

Hanya jeda-jeda yang membuat ruangan mendadak lebih kecil.

Sebab pengalaman tidak membutuhkan pengeras suara.


Di luar kedai, Jakarta tetap berjalan seperti biasa. Lampu lalu lintas berganti warna. Pengemudi ojek daring menunggu pesanan berikutnya. Orang-orang bergegas pulang sebelum hujan.

Tetapi di dalam ruangan itu, waktu bergerak lebih lambat.

Anak-anak muda mengangkat tangan. Mereka bertanya. Kadang sederhana, kadang naif, kadang justru sangat tajam.

Mungkin memang demikian cara perubahan bekerja.

Bukan melalui pidato yang berakhir dengan tepuk tangan panjang.

Melainkan lewat keberanian seseorang mengangkat tangan dan bertanya, "Mengapa ini masih terjadi?"


Ada poster bertuliskan #KamiBukanKomoditas.

Hashtag memang mudah ditulis. Namun kalimat itu sesungguhnya adalah gugatan.

Manusia bukan barang dagangan.

Bukan angka devisa.

Bukan komoditas yang dipindahkan dari satu negara ke negara lain demi memenuhi pasar tenaga kerja murah.

Kalimat itu sederhana. Tetapi sejarah menunjukkan, kesederhanaan sering kali merupakan hal yang paling sulit diterima.


Menjelang petang, diskusi selesai.

Orang-orang berfoto. Sebagian bersalaman. Sebagian masih melanjutkan percakapan di sudut-sudut kedai. Tidak ada kesimpulan besar yang diumumkan.

Barangkali memang tidak perlu.

Karena perubahan jarang lahir dari satu pertemuan. Ia tumbuh dari percakapan-percakapan yang menolak selesai.

Dan mungkin, seperti sore itu, harapan selalu dimulai dari sekelompok orang yang memilih datang, duduk bersama, mendengar, lalu pulang dengan satu kesadaran:

bahwa melawan perdagangan orang bukan hanya pekerjaan aparat atau aktivis.

Ia adalah pekerjaan sebuah masyarakat yang menolak membiarkan manusia diperlakukan sebagai barang.


Utan Kayu, 1 Agustus 2026